Puisi-Puisi Warih Wisatsana

http://www.jurnalnasional.com/
Puisi Ulang Tahun Bagi Paul Husner*

Bukan hanya di sanur, sebuah kisah
ingin selalu tak bersudah, Husner

Entah ini hari Rabu atau mungkin Minggu
entah hijau, biru atau bahkan serupa kelabu
Seekor kucing berjalan sendirian
sama seperti kita
memandang gunung di kejauhan
yang tak henti mengepulkan asap
Matanya murung digenangi cahaya
setengah iba
menyaksikan seekor ikan menggelepar hampa

Begitulah, hari-hari kita basah oleh warna
bertukar tawa dengan semua orang
berbagi cerita bahagia kepada siapa saja
Lihat, tanganku hijau oleh cahaya pohonan
matamu biru oleh riang ombak dini hari

Lihat, burung-burung putih seberang pulau
siulkan lagu bagi patung batu yang termangu
dan kepada kepiting yang sesat tak bisa pulang
mereka tembangkan doa pejalan jauh tak berumah

Ya, bukan di sanur, tapi hanya di kanvasmu, Husner
entah itu bening air mata ibu
gunung salju masa kecilmu
atau stasiun kota tua terlupa
Luluh semua dalam cahaya, dalam genangan warna
Sapuan sang waktu yang mengekalkan setiap benda
di mana rupa menyapa kata, melampaui segala suara
bukan sekadar jiwa yang terjaring hampa
bukan semata keindahan yang percuma

*Terinspirasi oleh karya Periode Sanur Paul Husner

Amsal Sebuah Patung

Setelah kepalaku dipenggal dan dipajang
di ruang bawah tanah
sebuah museum asing
Mataku yang retak sepanjang malam terisak
terbayang tubuh indahku yang berlumut
terkenang ribuan tahun lampau
saat orang suci itu khusuk bersujud di telapakku

Apakah gempa dahsyat telah meruntuhkan negeriku?
Orang suci dan umat baik hati, kemana pergi?
Ataukah mereka mati oleh keris keramat si khianat?

Segala tanya berpusar liar di rongga gelap kepalaku
Terdengar parau bagai suara burung hantu
atau bisik serak kapak
yang menghiba maaf sebelum menetak
pangkal lembut leherku;
Aku tersedu sepanjang malam
terbayang
terkenang tanah ibu yang jauh
Nasibnya kini tak beda dengan diriku
teronggok berdebu
dipajang jadi tawanan di negeri asing
di buku sejarah tua yang koyak
dikerat kawanan ngengat

Mataku yang retak terisak,
bagaimana mungkin negeri agung ini sirna,
lenyap dalam sekejap
seperti sebutir pasir dipusar angin topan

Tapi sejarah tak selamanya buta
tak selamanya bisu dan tuli
Mata dan telinga yang telah menyaksikan
bagaimana mungkin selamanya lalai
atau berpura tak tahu
Akan tiba seratus atau seribu tahun lagi
Akan tiba saatnya bagai derap kuda di kejauhan
seseorang datang
mengunjungi museum ini
menyusup ke ruang bawah tanah
Ia mendengar bisik serak dan isakku

Takjub aku terpesona
di senyap matanya
aku temukan belahan tubuhku
aku temukan
bayang-bayang negeri masa depan
dan sebarisan orang suci bersila semadi

Seratus atau seribu tahun lagi
akan tiba
akan tiba saatnya wujudku utuh sempurna
Maka di saat gaib itu akan kunyatakan kebenaran
yang selama ini aku rahasiakan.

Notre Dame
Kepada : Ali Sugiharjanto

..Kata siapa daging harus
menggenggam duri di bumi
agar paham lagu sorgawi..

Seperti sejengkal sesal dari ajal
gerbang lengang Notre Dame
kubuka perlahan dengan hening doa

Cuma debu, bisikku
Yaa, melulu debu
Tapi itu bukan daging waktu
bukan daging dan darah waktu

Seperti orang-orang
seperti harapan si miskin
dalam remang kuulurkan
dengan bimbang lilin redup10 francs

Aku raba segala yang dulu
ingin kuraba. Aku sentuh
semua yang dulu tak bisa kusentuh:

Oh, gigilnya bulu-bulu salju bulan Januari
Sia-sianya mantel kumal sepanjang musim!

Sepanjang musim tersalib aku di bangku kayu
jadi si tua rabun, senasib malaikat ingkar
yang terusir. Mengharap secercah
cahaya keramat memulihkan penglihatannya.

Cahaya langit menyilaukan yang terpantul
dari kubah kaca aneka warna
biru, hijau, bahkan mungkin tak berwarna
lurus menembus membasuh keruh mata

Menembus samar ingatan suatu senja — saat aku
merasa menyaksikan anak tuhan terpilih
tengadah pasrah; remang jadi bayang
jadi pahatan bisu dinding.
Ah, ngilunya, luka berkarat di lambung
di telapak kaki, di kedua belah tangan!

Pilunya aku, pilunya, semua kini melulu debu
Segalanya melaju cuma jadi remah waktu!

Tapi di katedral ini, raja-raja agung diurapi
orang-orang besar diberkati. Kusentuh kucium
harum wangi jubah mereka
Ujung lidahku terasa pecah, terasa getir
tercecap pahitnya takdir
tercecap amis asin tetes liur si miskin!

Oh, perjamuan terakhir–ratapan
yang dikekalkan sesal di tembok berlumut

Yang dikekalkan di langit
cucuran darah di kening yang berduri
mahkota sunyi sorgamu

Darah yang deras mengalir
menggenangi roti suci tak beragi
remahan nyeri
Bercampur baur di anggur
tetesan pilu tangisku

Suara parau lonceng tua sebelum ajal
memanggil kembali keluh sesal si penyangkal
Berdentang, berdentang lagi tiga kali
menggenapi amar ampunan sepagi ini;

Sakitnya lembut daging menggenggam duri
Nyerinya kini sayat hari digarami asin mimpi!

Maka di kamar kaca pengakuan dosa
Ingin kulunasi hutang piutang kehidupan
Bersamamu mati berkali-kali
bangkit berkali-kali.

Rue Normandie Niemen, Orly.

Kamar Kita
– Agam Wispi-

Rayakan dengan sedih kamarku ini
Semalaman kita tak bisa tidur
ranjang oleng
seperti sekoci mabuk ombak.

Atap langit lapuk.Tembok pucat retak
celah masuk hawa busuk
jalan rahasia tikus air.
Siapa tahu, hiburku, beratus tahun lalu
pernah ada rahib suci bermukim di sini.

Bila badai datang, kubujuk kau sembunyi
ke balik bantal guling
Menyelamatkan diri dari sayat ingatan
dari gores nyeri
jaring kawat berduri
pagar hari yang terentang hingga kini.

Tapi badai! badai dini hari tak kunjung usai!

Di kamar, tak ada cahaya samar mercu suar
hanya dingin lilin, leleh wajah letih di cermin
seperti mengutuk hari lahir kita yang buruk.

Cicit tikus ketakutan, berlarian
bagai derap sepatu
hantu masa lalu
memburumu mengepungku
hingga ke atas ranjang
berebut remah mimpi

Patung tembikar pun tersentuh jatuh
pecah terbelah di lantai tanah
Kepala anak tuhan terkasih itu patah
pasrah berpisah dari tubuhnya yang rapuh.

Seperti kelasi kehilangan sekoci, tak kuasa kita
menyelamatkan diri. Kecuali bersembunyi
menyamar sisa doa kemarin.
Di langit terlalu banyak isyarat
di bumi terlampau sedikit
yang paham akan nujuman ini.

Desis radio lepas gerimis, pesan dari negeri jauh:

Pemimpin besar kita mangkat, bukan karena sakit
bukan karena khianat, tapi direnggut desas desus.

Ke kuku biru ibu jarimu seekor kunang menghilang.

Tukang Es Gaib

Dering belnya riang, hari ke hari
terbangkan khayalku ke gunung salju
ke negeri es atas angin

Di depan pintu, selalu aku menunggu.
Satu teguk lagi, bisikku, jauh nian jalan
mendaki lereng terjal angan

Bila es cair di tangan, salju pun leleh
dalam lamunan. Lalu lari aku ke jalan
hingga petang di pematang, berulang
angankan terbang ke puncak gunung;

Oo, burung-burung kecil bermata lembut
tuntun kaki mungil ini menapak jejak setapak
tuntun si haus jawab ini agar tak tergelincir
bila kelak tiba di terik puncak.

.Bertahun ia kunanti, tak kunjung datang lagi
siang jadi lengang, terik kini mencekik
Oo, Nenek, susu keriputmu hangat jadi sandaran
biarkan kugenggam agar si pelamun ini
tak sesat berkali kehilangan jalan

Satu teguk angan lagi, dering belnya riang
bagai denging nyanyi kumbang
nikmat serupa jerit pipit terbang
Menuntunku mendaki sunyi diri, menapak
setapak jejak ke puncak
tempat tanya menemu jawab
tempat selubung gaib perlahan tersingkap

Oh, satu teguk lagi, jiwa murni si kecil
si riang akan berdering hening dalam diriku.

–Judul puisi ini terilhami ?Tukang Pos Gaib?
Karya Noriko Ibaragi, penyair Jepang

Taman Trocadero

Musim semi tiba
dengan payung merah jambu.
Lari kau di bawahnya. Lari kencang
seringan seriang burung-burung.

Payung lunglai diterbangkan angin. Kau tersipu
di tangga eiffel paling tinggi
tubuhmu luluh cahaya. Genangan cahaya.

Sebab takjub pada hidup, bahasa apa kuasa
mengisahkan rahasia pertemuan ini?
Semalam kudengar samar janji suci akar
menggali bumi dini hari
Meretakkan perlahan dinding purba candi
tempat kini kau kuimpikan bersandar
jadi patung jelita negeri timur

Engkau dongeng tetapi nyata menjelma
engkau wujud sekaligus remang bayang.

Di helai wangi rambutmu kutemukan
lebat hutan bakau. Liang kepiting hening
dan segenap hewan menguap jinak
Seperti ketika awal mula penciptaan
Tergerai aku ratusan tahun bersama angin
kau rinai bersama derai hujan.

Di sisimu kusaksikan monumen agung kenangan
benteng lumut keramat sang waktu
Pujian bagi para pahlawan dongeng tak dikenal
sarang singgahan cinta burung malam
Sebagian begitu nyata teraba letih mata
sebagian lain entah gaib di mana.

Engkau benih rekah di celah tanah basah
Aku napas suci pertama
yang disukmakan semesta.

Lihat, dengan satu kecupan lembut
dengan satu belaian hangat angan
Aku sesatkan dirimu gadis pualamku
ke rimbun liar belukar mawar
ke semak nikmat jalan sorga setapak.

Lihat, gaun tipismu jadi koyak
karena liuk jari dan onak duri
Celah indah tubuhmu basah oleh peluh
seharum aneh rempah-rempah
sederas wangi anggur merah yang tumpah

Kau bayang menjelma, benamkan lagi
kuku resahmu ke bahuku
Benamkan aku sepenuh gairah ke celah basah
Tak ada. Tak ada permainan rahasia
yang seagung
seliar ini
Kita serangga mabuk, bercumbu
mengembara jauh sekali
di taman kasmaran musim semi
Tempat semua yang hidup dan yang mati
saling menuai dan melunasi janji.

Akulah tawananmu yang tak terkalahkan
Kau pemenang segala sukma keindahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *