Simpang Jalan

Imron Tohari

Lelaki paroh baya itu masih bersimpuh di bawah pohon rindang, didekap erat di pangkuannya kantong kulit yang tidak terisi penuh anggur. Beberapa kali kepala mendongak ke atas, menatap burung bertengger di ranting pohon yang tengah asyik berkicau.

Seakan ingin melepas segala beban yang tengah menindih otaknya, Lelaki paroh baya sandarkan tubuh pada batang pohon yang semenjak tadi hanya diam membisu. Ia, lelaki paroh baya itu, menghela nafas dalam-dalam.

Adalah angin tengah mencumbu dedaunan hijau,membawa pandangan lelaki tersebut pada anggur yang terlihat rimbun menggiurkan di seberang pematang sungai yang tidak begitu lebar. Anggur dengan sari-sari manis yang selama ini sangat diharap anak istrinya di rumah. Anggur yang menjadi mitos raja-raja romawi sebagai simbul kemenangan dan kemewahan, simbul dari segala symbol kemakmuran.

Masih dengan tubuh bersandar pada pohon,tangan kanannya mengambil secarik kertas dari dalam kantong pakian, oh, tersurat berita; buah hati memanggil merindu sakit.

Wahai Tangan Tak Berujud? kenapa ini kau timpakan padaku? Bukankah selama ini aku sudah banyak melakukan kebaikan??! Kesah lelaki separuh baya datar.

Tiba-tiba, gelegar suara tak berujud mengkoyak langit jiwa.

“Kebajikan apa hingga Aku tidak harus timpakan ini padamu?!”

“A(a)ku bangun puluhan tempat ibadat, A(a)ku nafkahi para fakir, A(a)ku cukupi kebutuhan anak istriku,dan A(a)ku ceramahi pengikutku tentang kebajikan,” katanya lirih hampir tidak terdengar telinga,dan seperti itulah ia (aku) tanpa A yang sebenarnya.

“Hai manusia? Itukah yang kamu katakan kebajikan”… Lalu dirimu meratap dengan bahasa halusmu agar dipuji, bahkan dengan tangismu yang tiada berurai air mata, kau berharap semuanya menjadi mudah sesuai dengan kehendakmu. Apakah dengan begitu dirimu baru mau mengatakan bahwa Tuhan dari segala Tuhannya manusia adalah dzat yang maha adil??! Sedangkan dirimu merasa agung dengan baju riya’-mu!” keras membentak suara tanpa ujud di gendang telinga batin.

Lelaki paruh baya itu masih bersandar lemas, secarik kertas di tanganya,jatuh tepat di antara dua kaki, dan alam pun kembali membisik seperti panasnya api atau mungkin malah seperti bekunya air di musim dingin, hingga tak sadar surya tenggelam berganti malam, dan di sana, gelap malam tanpa desiran angin, kecuali suara-suara para musafir dari Barat dan Timur yang tawar menawar tanya hati lelaki kembara jiwa itu.

“hal apa yang kamu anggap paling utama?!”
Hati lelaki paroh baya tanpa ragu berucap; Nafas-ku!?
“lalu apa lagi yang kamu anggap paling utama?!”
“Mihrab-ku!”
“Masih adakah selain yang kau sebut tadi?!”
“Anak-ku lalu istriku!”
“Kenapa bukan istrimu dulu,baru anakmu?!”

Hening…

Dingin malam mulai terasa mencocok ngilu tulang.
Desah berat nafas kembali memecah.

“Karena anak-ku adalah amanat Tuhan-ku, dan mereka nanti yang akan meneruskan ajaran sunah rassul,setelah aku dan istriku tiada,”
“Apakah kamu yakin akan istrimu ikhlas bila mengetahui akan hal ini?!”
“Bukankah sudah jelas istriku yang telah mengandung 9 bulan 10 hari, dan mempertaruhkan nyawanya demi kelahiran sang jabang bayi?”
“lalu kenapa kau masih menjawabnya dengan kata-kata puitis dan tidak kau jawab iya saja?!”
“untuk saat ini kurasa jawaban seperti itulah yang bijaksana,”
“Baiklah aku tak mempermasalahkan lagi jawaban yang menurutmu bijaksana tadi. Tapi adakah hal lain yang membuatmu ragu saat ini?!”
“Ada”
“Apa itu?”
“Harta?”
“Hanya itu?”
“Tahta?”
“Hanya itu?”
“Sahwat…”
“Hanya itu?”
“O, suara tanpa ujud, kenapa kau lempar padaku pertayaan yang terdengar laksana Guntur di keramaian?”
“Sudahlah tak perlu berpuisi kata dengan-Ku, sebab kaupun tak akan pernah menemu bila kutanya: untuk apa kau hambur-hamburkan doa pada-Ku.”

Tersentak, lelaki tersebut pergi sambil menenteng kantong kulitnya yang
tidak penuh berisi anggur.

Entah mau dibawa ke mana jiwanya yang kini tengah dibakar Cinta.

3 juli 2006 /rev. 14 Feb 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *