Supersemar: Surat Pusaka Para Penguasa

Gugun El Guyanie
http://www.bernas.co.id/

SIMPANG siur sejarah surat pusaka “Supersemar” tanpa tersadari oleh seluruh elemen bangsa telah berusia 44 tahun. Surat Perintah Sebelas Maret 1966 yang menjadi penanda beralihnya singgasana kekuasaan dari Orde Lama yang dibintangi Soekarno, ke Orde Baru dengan Soeharto dan militernya. Sejarah memang telah menjadi milik penguasa. Terbukti rezim Orde Baru menancapkan taring kekuasaannya, dokumen tentang surat pusaka yang sakti Supersemar tidak pernah dikupas legitimasinya. Sejarah penguasa pula yang membungkam dan membodohkan masyarakat kita tentang kejujuran, keadilan dan kepahlawanan. Supersemar ternyata menjadi jimat yang membius ingatan kesadaran kritis seluruh elemen bangsa. Dari sini pula penindasan, ketidakadilan, korupsi, kebobrokan bangsa dimulai. Kini kita bertanya, siapa yang meramu dapur sejarah, atas kepentingan kekuasaan apa, dan dalam setting sosial yang bagaimana.

Asvi Warman Adam (2000), seorang peneliti sejarah dari LIPI memberikan penilaian tentang beberapa kontroversi Supersemar. Dengan mengeksplorasi data?data dan kesaksian para tokoh?tokoh yang terlibat, Asvi melakukan analisis?historis yang memberikan pemahaman sejarah terhadap publik, sehingga kebohongan sejarah (falsehood of history) bisa terungkap.

Kontroversi pertama, tentang proses penyusunan dan penyerahan surat tersebut yang terkesan tidak wajar. Surat tersebut dibuat bukanlah atas inisiatif dan kemauan Soekarno sendiri. Tahun 1998, anggota Tjakrabirawa Letnan Dua (purn) Soekardjo Wilardjito mengaku bahwa Jenderal Panggabean menodongkan pestolnya kepada Presiden Soekarno, dengan kata lain penugasan tersebut (baca: pengalihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto) diberikan dalam keadaan terpaksa. Pada gilirannya, orang bisa menduga bahwa pada bulan Maret 1966 itu terjadi semacam kudeta.

Disinilah kita semua melihat kecerdikan Jenderal Soeharto yang memposisikan dirinya sebagai “satria piningit” – pahlawan yang muncul ketika kondisi sedang kacau dengan membawa amanah kebenaran – yang memporak porandakan struktur G30S dan seluruh gerakan kiri dengan PKI sebagai sasaran utama, sekaligus menghabisi Presiden Soekarno beserta ajarannya, ia juga memposisikan diri sebagai Semar Yang Super, setingkat dengan Sang Dewata. Atau dalam istilahnya Harsutejo (2004), Supersemar adalah Semar yang super – tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa yang dianggap sebagai penasihat para punggawa – yang bisa membuat Soeharto menjadi dewa Orde Baru selama 32 tahun.

Jenderal Soeharto telah mengeksploatir budaya Jawa untuk membangun feodalisme baru bagi kepentingan rezim militernya. Selama lebih dari 30 tahun rezim militer Orba telah mendongkel hampir seluruh ajaran Bung Karno, di antaranya tentang persatuan nasional, tentang “Trisakti” yakni bebas dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Akhirnya kondisi kebangsaan yang mengalami krisis kebudayaan, krisis ekonomi dan politik menjadi warisan rezim militernya Soeharto kepada anak cucu bangsa ini.

Kontroversi kedua adalah tentang pengetik Supersemar. Pengakuan dari Letkol (Purn) TNI AD Ali Ebram, staf Asisten I Intelejen Resimen Cakrabirawa, dia yang mengetik surat tersebut. Surat tersebut diketik dalam waktu satu jam dengan didiktekan oleh Bung Karno. Ia mengetik dengan gemetar dan mengatakan bahwa konsep itu berasal dari Soekarno sendiri. Yang diingatnya sekarang bahwa “dalam surat itu disebut ajaran, koordinasi, terus laporan dan menyangkut empat pokok : soal keluarga, melindungi keluarga yang tidak ada. Yang keempat itu memberi laporan”. Sebagai orang yang tidak biasa mengetik, ia mengerjakannya dengan gemetar dan berkata kepada Soekarno, “Pak, saya mohon ampun kesesa (Pak, saya mohon tidak tergesa?gesa).” Sebelum ditandatangani diketik kotanya yaitu Bogor.

Dalam buku terbitan Sekretariat Negara 30 Tahun Indonesia Merdeka jilid 3, termuat dua macam fotokopi Supersemar yang penampilan fisiknya amat berbeda (Sekneg 1994:77, 91). Yang pertama diketik satu spasi dengan tampilan lebih rapi, mengesankan asli. Sedang yang kedua diketik satu setengah spasi, mengesankan kurang rapi, bahkan amatiran. Agaknya kedua arsip inilah yang kini disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Jelas ini menunjukkan adanya manipulasi yang tak bisa disangkal. Buku yang diterbitkan Sekneg secara resmi disahkan oleh pemerintah Orde Baru dengan Sudharmono SH, Menteri Sekretaris Negara sebagai penanggungjawabnya, sedang isinya pada Brigjen Prof Dr Nugroho Notosusanto. Terbit pertama kali pada 1977 dengan sambutan Presiden Soeharto. Buku ini sama sekali tidak memberikan keterangan apa sebabnya sampai ada dua macam teks Supersemar.

Kontroversi ketiga, yang disampaikan oleh Ben Anderson, pakar Amerika yang tidak boleh masuk Indonesia selama Orde Baru berkuasa. Ia mengutip pengakuan seorang tentara yang mengaku waktu itu bertugas di Istana Bogor. Tidak dijelaskan nama dan pangkat tentara tersebut tetapi Ben Anderson merasa yakin dengan keterangannya bahwa mungkin saja surat perintah yang asli itu dihilangkan karena diketik dengan kop Markas Besar Angkatan Darat. Sungguh sangat tidak logis surat kepresidenan menggunakan kop surat MBAD. Itulah yang menjadikan alasan dokumen surat dimusnahkan agar jejaknya tidak dapat dilacak, bukan karena isi tetapi kopnya yang mengundang pertanyaan interogatif.

Kontroversi lainnya yang orang awam pun bisa mengenalinya adalah tanda tangan Soekarno yang tidak sama. Orang awam dapat membandingkan tanda tangan Bung Karno yang tertera pada kedua fotokopi dokumen itu dengan tandatangan Bung Karno yang tercantum dengan jelas pada 8 fotokopi surat dan catatan pribadi Bung Karno yang ditulis pada tahun 1957 sampai 1968 termasuk surat wasiatnya yang termuat dalam buku susunan Gayus Siagian, Wasiat Bung Karno (Berdasarkan Bahan?Bahan dari Haji Masagung), 1998. Jika kita perhatikan dan kita bandingkan dengan saksama, tandatangan yang tertera pada kedua teks Supersemar itu tidak mirip dengan tanda tangan Bung Karno yang asli.

Pada akhirnya kepalsuan sejarah terbongkar dengan sendirinya oleh perjalanan waktu yang tak abadi. Kebenaranlah yang berbicara di hadapan rakyat Indonesia. Rekayasa sejarah kekuasaan yang dilakukan Orde Baru memang telah membuat silau pandangan bangsa ini akan keadilan. Sehingga kekacauan analisis membuat kita tidak peka terhadap sesama saudara, perpecahan antar kelompok, suku dan antar kepentingan politik. Dengan menemukan kepalsuan Supersemar, marilah kita bangkit menata bangsa yang sedang terperosok dalam jurang kehancuran ini. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *