Chairil Anwar dan Senja di Pelabuhan Kecil


Fathoni Arief
kompasiana.com

Dalam sebuah sajak Chairil Anwar pernah bercerita tentang “Senja Di pelabuhan kecil”. Satu sajak yang ia persembahkan buat Sri Ayati.

Pelabuhan kecil yang ditulis menurut Sri Ayati adalah Sunda Kelapa. Senja di Sunda Kelapa bersitkan satu hal bagi seorang Chairil Anwar. Satu tempat dimana ia curahkan isi hati akan kekagumannya atas seorang Sri Ayati, wanita idamannya. “Saya tahu Chairil mencintai saya namun tak pernah mengatakan bahwa ia suka pada saya,” kata Sri Ayati di sebuah wawancara yang sempat di unggah di Youtube.

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut,
(Senja di Pelabuhan Kecil)

Menurut Sri Ayati, Sunda Kelapalah pelabuhan kecil yang dimaksud dalam puisi Chairil. Dalam Sajak itu dengan satu imajinasi bisa dibayangkan indahnya pelabuhan saat itu. Membayangkan Chairil yang sedang kasmaran berjalan diantara perahu-perahu yang tertambat tidak berlayar dan dari kejauhan nampak elang yang terbang mengitarinya.

Ada beberapa nama yang pernah disebut dalam puisi Chairil Anwar-Sri Ayati bukanlah satu-satunya. Namun puisi Chairil pada Sri Ayati berbeda. Ada perasaan tersembunyi sesuatu yang tak mampu ia katakan secara langsung. Seorang Chairil mungkin tak bisa katakan sesuatu secara blak-blakan aku suka, aku benci, atau yang lainnya. Keinginan ungkapkan segala sesuatu disalurkannya melalui segala puisi hasil karyanya.

Memiliki Kepribadian Unik

Dalam pandangan Sri Ayati Chairil memang pribadi yang unik. Ia adalah sosok yang selalu haus untuk mengungkapkan sesuatu yang ia pendam dalam hatinya lewat tulisan-tulisanya. Dalam kesehariannya dimana-mana ia tak jauh dari buku. Sri Ayati sering melihat Chairil dengan mata merah karena kurang tidur, rambut yang acak-acakan serta penampilan yang terkesan asal dan awut-awutan.

Pernah suatu ketika saat bertemu Sri Ayati Chairil. Chairil Anwar mengatakan ia baru saja pergi ke rumah seorang yang cantik bernama Sri. Pada suatu hari ia datang. Saya duduk di kursi rotan dan ia duduk di sebelah saya. Ia cerita katanya baru datang dari temannya yang bernama Sri, -Namun Sri Ayati mengira yang dimaksud Chairil adalah Sri yang lain-ada banyak teman Chairil memiliki nama Sri- maka ia pun tak merasakan apa-apa.

Begitulah semuanya berjalan cerita. Cinta Chairil yang bertepuk sebelah tangan. Saat Sri Ayati sadar semuanya sudah terlambat. Chairil sudah tak lagi tinggal di Jakarta dan Sri sudah bersuamikan orang lain-Chairil Anwar tetap sendiri.

Begitulah kisah Chairil termenung dalam sendiri di pelabuhan kecilnya. Ia terus berjalan menyisir semenanjung dengan harap yang tak lagi bisa diharapkan. Ia terus melangkah hingga akhirnya lelah dan ucapkan selamat jalan lewat hembusan nafas terakhir membawa cintanya dalam sunyinya.

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta.

Nisan (Chairil Anwar)

Dalam kesendirian perlahan TBC terus menggerogoti tubuhnya dan apalah daya ia harus mati muda, dan benar-benar enggan berbagi dengan cerminnya. Ia lelah dan istirahat dalam diamnya di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Saat kekuasaan sang Ilahi membuat ia sadar waktunya benar-benar telah tiba, “Aku tak mau tak seorang kan merayu, Tidak juga kau,”.

Chairil telah kehilangan jiwanya namun ia layak tersenyum. Lewat karya dan semangatnya ia masih hidup hingga saat ini. Seperti yang pernah diharapkannya dalam satu sajaknya “kenang kenanglah Aku”. Semangat seorang Chairil memang mampu menginspirasi dari generasi ke generasi dalam lahirkan berbagai karya sastra. Chairil kehilangan orang yang dicinta namun dicintai banyak orang yang mengagumi karyanya.

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

(Senja Di Pelabuhan Kecil, Chairil Anwar)

Istirahatlah Chairil, hingga nanti kita bakal bersua…

Tulungagung, 3 Juli 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *