Dosa Sebuah Iklan

Wahyu Utomo
http://www.jurnalnasional.com/

IKLAN adalah sebuah medium yang polos tanpa dosa. Iklan bisa baik atau buruk tergantung pada apa yang diklankan, siapa yang mengiklankan, dan bagaimana mengiklankannya. Iklan bisa penuh pahala jika menyampaikan kabar baik, jujur nan teduh. Sebaliknya iklan berlumur dosa jika ia adalah kebohongan, kepalsuan, kosmetik, topeng.

Celakanya, di tengah kepolosannya, iklan memiliki daya pikat dan energi memengaruhi yang luar biasa dahsyat. Itu sebabnya kepolosan iklan bisa berubah menjadi keculasan mengerikan begitu ia dikuasai tangan-tangan kotor berlumur darah. Keperawanan iklan bisa sirna begitu ia diobok-obok kepentingan uang dan nafsu purba. Wajah paling muram sebuah iklan, adalah ketika ia diperalat menjadi medium kebohongan publik, ketika ia disulap menjadi pupur dan gincu yang menenteramkan.

Saya sedang marah!!! Kalau saya marah pilihannya cuma dua: umpatan atau merangkai kata-kata indah. Karena forum ini adalah forum publik yang sangat terhormat, lebih baik saya merangkai kata-kata indah dari pada mengumpat-umpat beberapa dari Anda yang saya marahi. Itu sebabnya dua paragraf pertama saya, tak seperti biasanya, berisi puisi-puisi indah. Kata orang kata-kata indah, puisi, sajak lebih elegan… walaupun saya percaya, belum tentu tak lebih menikam ketimbang umpatan.

Saya sedang marah karena gemerlap pentas iklan-iklan pilkada/pilpres kita di televisi dan koran makin hari makin keterlaluan, makin memalukan, makin menjijikkan. Keterlaluan karena dengan bekal pupur, ginju, dan tentu modal multi-miliaran rupiah seseorang bisa menjadi badut ?presiden-presidenan?, ?gubernur-gubernuran?, atau ?bupati-bupatian? yang menyihir jutaan kalayak. Itu dimungkinkan oleh media lugu nan perawan bernama: iklan.

Bagaimana tidak menjijikkan, orang-orang yang bahkan tidak pernah kita dengar namanya, tak kita tahu track record-nya, sekonyong-konyong nongol di layar-layar televisi kita, di lembar-lembar koran kita, dengan menebarkan kata-kata bijak, puisi-puisi indah, janji-janji mulia. Betapa mulia dan bijaksananya mereka di layar-layar kaca: murah senyum, taat beragama, menyantuni orang miskin, pemikir bangsa, bercengkerama demikian akrab dengan anak-anak, peduli petani-nelayan, setia pada istri jauh dari kesan peselingkuh ulung. Sekonyong-konyong mereka menjadi malaikat.

Ini hebatnya iklan. Ada jenderal yang dulunya berlumur darah dengan urusan pelanggaran HAM sekonyong-konyong menjadi malaikat yang begitu peduli dengan petani dan kaum papa. Ada pemimpin partai-pebisnis yang bergelimang harta sekonyong-konyong menjadi malaikat yang peduli kebangkitan bangsa. Ada aktor/artis populer yang tak pernah tahu apa itu hidup susah sekonyong-konyong menjadi malaikat yang menjadi penyambung lidah orang susah. ?Kamalaikatan? mereka sekonyong-konyong meluncur mulus tanpa cacat lewat scene-scene layar kaca kita di rumah. Ingat! Semuanya serba sekonyong-konyong oleh media lugu nan perawan bernama: iklan.

Sebuah iklan berdosa sampai ke ubun-ubun: jikalau ia menyulap bandit dan maling menjadi malaikat; jikalau ia menyulap pembunuh mahasiswa menjadi malaikat; jikalau ia menyulap koruptor menjadi malaikat; jikalau ia menyulap pengutil gaji guru SD Inpres pedalaman Papua menjadi malaikat. Sebuah iklan berdosa sampai ke ubun-ubun jikalau ia menjadi perangkat pembohongan publik.

Saya marah!!! Sedih!!! Balas dendam!!!… campur aduk… karena iklan kita kian banyak yang jadi pembohong. Karena iklan kita kian banyak yang culas. Karena iklan kita kian banyak yang topeng. Karena iklan kita kian banyak yang berlumur dosa. Mengakhiri tulisan ini saya benar-benar marah, memuncak sampai ke ubun-ubun!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *