Hari Tak Punya Siang

iLenk rembulan
http://oase.kompas.com/

Nyanyian dalam kelam, demikian judul kumpulan puisi Sutikno Wirawan Sigit, dalam kemasan cover hitam kelam bergambar burung Colibri. Penyair Lekra , kelahiran Cilacap tahun 1939 ini tetap eksis dengan puisi-puisinya yang mungkin kita semua belum begitu akrab, mengingat sejak peristiwa G30S PKI tahun 1965 meletus , karya-karya penyair Lekra seakan menjadi barang haram untuk dibaca dan dinikmati di jaman Orde Baru.

Padahal, karya-karya mereka juga sama bagusnya dengan para penyair Manikebu dan lainnya. Apalagi puisi puisi ini dibuat pada saat penyair Sutikno menjalankan masa tahanan karena dituduh perbuatan makar, oleh pemerintahan Orde Baru tanpa adanya pengadilan, dan pembuktian adanya keterlibatan itu. Sejarah suram boleh dibungkam, namun karya tetap akan cemerlang. Oleh Penerbit Ultimus, Bandung, kumpulan puisi ini dapat dinikmati kita bersama.
Buku ini terdiri dari dua bagian, bagian pertama diberi nama Hari-hari tak punya siang. Terdiri dari 16 Puisi.

Dari judul saja , maka pembaca sudah bisa menebak seperti apa kira-kira puisi yang ditulis oleh Sutikno ini. Masa-masa di penjara Salemba , tidak menyurutkan kegiatan menulis yang sudah tertanam dalam diri penyair ini, untuk tetap menggoreskan kelu hati dan luka itu dalam syair-syair, baik bentuk puisi pamflet ataupun lyris dan sonata juga lainnya.

Tema yang diusung kebanyakan sebagai protes atas ketidakadilan pemerintah jaman Soeharto, juga ada puisi yang ditujukan pada anaknya, teman seperjuangan.

Kata-kata yang dirangkum mempunyai daya magnit sebagai penggugah, tidak putus asa , walau itu dipenjara, juga harapan. Sutikno tidak mengumbar kata dalam mengemis atau mengiba, walau dia dalam keadaan nestapa. Ini yang menggugah perasaan saya, bahwa dalam keadaan tertindas dan terlunta di negri sendiri, penyair ini masih lantang menggoreskan penanya dengan martabat. Saya katakan kata-katanya sangat ?bermartabat?. Dia berusaha bangkit, menyuarakan kegelisahan hatinya tanpa merasa dia hina. Ini penting bagi harga diri. Bagaimanapun kita ini tertindas, harga diri harus tetap ada dan dipertahanan. Dan seorang Sutikno, penyair Lekra ini telah membuktikan dalam syair-syairnya.

Di halaman pertama bagian I tersebut , saya sudah merasakan tembok penjara dalam puisi yang berjudul Dari Jendela Ini. Kutipannya sebagai berikut :
masih juakah suara ini akan hilang menepi
tenggelam di balik dinding kusam berdebu?

o, bunga hati
kalaulah langit tinggal sepotong ini saja
kujalin mati di sayap-sayap meganya yang sunyi
manisnya seuntai puisi senja

(1970 ? Salemba)

Dari larik pertama , penggambaran akan penjara yang kusam berdebu akan menghilangkan suara, menepi. Di bait keduanya , sepertinya penyair ingin menyampaikan ,kalau seandainya dia mati, dia masih berharap bisa meninggalkan puisi untuk si buah hati. ?Kalau langit tinggal sepotong ini saja? rangkuman kalimat yang luar biasa untuk menggambarkan sepertinya dia tak ada waktu lagi untuk menghirup udara bebas. Namun dia ingin mengenangnya lewat goresan puisi dengan ditutup kalimat ?manisnya seuntai puisi senja?. Puisi itu dibuatnya ketika dalam penjara Salemba.

Ada lagi saya kutipkan puisi sebagai berikut :

Engkau dan aku
Kepada Puni
aku dan diriku
engkau dan dirimu
terkepung waktu
-perpisahan

engkau dan aku
anak-anak sepi menunggu
usapan tangan
dan keinginan dipagut rindu

engkau dan aku
ah tak tahu bila
penjara bagimu
kerangkeng bagiku
lepas terbuka

aku dan diriku
engkau dan dirimu
dan anak-anak yang menunggu
sama mengukur waktu
ambang hari baru

(1970 ? Salemba)

Puisi kegelisahan, yang mungkin ditujukan untuk istrinya. Betapa penjara mungkin bagi orang , tapi kerangkeng bagi dirinya. Yang memisahkan dia dan keluarganya. Betapa sendu kata-kata yang disusun pada bait-bait kerinduhan akan kebebasan. Aku dan diriku, engkau dan dirimu, dan anak-anak yang menunggu, sama mengukur watu, ambang hari baru. Walau dirasakan dia terpenjara, namun ada harapan untuk suatu hari akan berjumpa dengan keluarganya. Itu ditandai dengan kalimat akhir ?ambang hari baru?. Harapan dalam syair?syair Sutikno selalu hadir, sehingga memberikan pencerahan bagi pembacanya.

Penjara juga tak membuat Sutikno menjadi kehilangan keromantisanya. Ada satu sajak yang berjudul Puisi Pagi, saya kutipkan sbb :
Puisi Pagi
Untuk niek

kutulis di daun-daun bunga
nama
serta warna cintamu

tapi pun kutulis di dasar hatiku
kenangan
serta kerinduan akanmu

(1970 ? salemba)

Puisi sederhana, namun begitu dalam, saya merasakan akan cinta yang tidak cengeng diungkapkan, seperti lazimnya anak-anak muda dengan puis-puisi jadul.

Pengambilan kata yang sederhana namun disusun dengan keindahan, sehingga saya merasakan puisi dengan dua bait ini begitu meresap. ?Tapi pun kutulis di dasar hatiku kenangan serta kerinduan akanmu?. Kata padamu yang biasa dipakai , diganti dengan akanmu. Akanmu disini menyiratkan kepemilikan yang kuat dari bentuk perkataan kamu.

Dalam sajak yang berjudul Yang Kita Rebut dan Nyanyikan Ini, bait-bait yang begitu kuat menceritakan arti persahabatan walau itu ada di penjara. Saya kutipkan sebagian :
sudah lama kita membagi duka
terkepung antara lapar dan kesangsian

baju pun sama koyak dimakan ubin
wajah renta-kulit bernanah disobek kurap
tapi apa lebih indah dari persahabatan
yang mekar direlung cita?

Bait pertama yang menceritakan duka yang dirasakan bersama antara lapar dan sangsi. Ya, hidup dipenjara tentu menimbulkan kesangsian. Akankah kelak bisa bebas? atau terkurung sampai mati. Bait ke dua juga sama kuatnya , bagaimana baju sampai terkoyak yang menempel di ubin. Dalam penjara yang tak ada tempat tidur, hanya beralaskan ubin , maka lama-lama baju ini akan menempel. Di sini penyair melukiskan dengan kata ?dimakan ubin?. Derita yang mereka alami tetap membuat persahabatan itu indah.

Hampir semua sajak yang ada dalam bagian ini sama kuatnya. Masing-masing bisa bicara dengan pemahaman sederhana, karena penyair bisa menyusun demikian indah, walau dirasa kata yang diambil adalah kata yang sederhana.

Saya merenung lagi pada sajak yang berjudul Pesta. Kutipannya sebagai berikut :

Pesta

asin kehidupan
kucoba sisipkan
dalam ini segenggam nasi

ah dinding-dinding ini
di dalamnya manusia berkaca
pada perjalanannya sendiri

selembar sinar
jatuh di atas ubin
sebuah salam
dari dunia yang lain

dan nasipun hanyut
sekejap
dalam regukan penghabisan
sampai esok
hari menjelang pagi

(1971-salemba)

Betapa syair itu indah sekaligus mengandung kesedihan yang tak ada lagi tetesan airmata, karena sudah kering. Betapa arti segenggam nasi itu ,dilukiskan seperti pesta saja. Sejak awal, penyair sudah membawa arti kehidupan yang terasa seperti garam. Pada dinding penjara, setiap narapidana seperti berkaca, berkaca pada diri sendiri tentang mengapa dia ada di sana. Dalam penjara kadang ada celah untuk masuknya sinar yang dia rasakan itu merupakan kesadarannya, bahwa ada dunia di luar sana, sedangkan dia terkurung di sini, dalam penjara Salemba.

Disamping itu, ada juga beberapa puisi yang ditulis agak panjang, salah satunya adalah Nyanyian dalam Kelam. Saya kutipkan sebagian

tangisilah bumi ini dengan yang letih dan sengsara
merunduk dalam lecutan siksa dan kesakitan
tangisilah kehidupan ini di mana kuncup-kuncupnya
layu diserap mainan kepalsuan
tetapi jangan kami
orang-orang yang tersisih namun tidak kehilangan hati
untuk mencinta dan mensenyumi dunia
dan bukan kami
anak-anak yang melata di luar sayap induknya
berkubang di tengah musim
meneguk pengap udara
dalam keramahan lagu dan tutur kata

Sepaham juga dengan apa yang dikatakan penyair Asep Sambodja dalam pengantar buku ini, bahwa penyair yang notabene adalah yang dicap terlibat pemberontakan PKI, tidak mau dikasihani. Dia menempatkan dirinya secara terhormat sebagai manusia Indonesia, walau merasa tersisih tapi masih punya hati untuk tetap mengakui sebagai orang Indonesia. Sebaliknya dia menyuruh ?tangisilah bumi ini dengan yang letih dan sengsara?.

Pada bagian ke dua yang diberi nama Hari-hari bermandi Matahari, terdiri dari 13 puisi. Semua ditulisnya saat penyair berada di pengasingan pulau Buru antara tahun 1973 ? 1975.
Tema puisinya semuanya menceritakan tentang kesepian, kesendirian, juga kerinduan akan kebebasan yang entah kapan akan terjadi.

Namun sekali lagi kekuatan puisi Sutikno adalah dia tidak berusaha menjadi cengeng penuh belas kasihan mengiba tentang kondisinya yang terpenjara, jauh di pulau kecil di Maluku sana.

Sajak Matahari di atas Padang yang cukup panjang , namun tidak melelahkan untuk dibaca. Terdiri dari 4 bagian yang masing-masing bagian terdiri beberapa bait. Pembaca tidak merasa letih karena susunan yang kaya akan rima dan makna, sehingga setelah selesai membacanya, kita dibuatnya merenung dalam. Saya kutikan bagian terakhir syair tersebut,

4.
buru
dan kiranya inilah namamu
o pelabuhan dari segala kesengsaran
tempat di mana yang dilupakan
yang tersisih dan lumpuh
menampi hanya setumpuk pasir
dari peradaban kini yang bernama kebusukan

buru ya
dan kaulah itu mengamang laksana tinju
tapi pun inilah pula warna yang membias dari selubungmu
o kehitaman yang pekat seperti jelaga
bumi di mana kasih
persahabatan dan keteguhan
menjalani segenap hati
dan mataharipun
mari meniti di atas tubuh-tubuh ini
kayu api yang menyala bagi tanah air dan hari depannya

(1975 ? Buru)

Di sini jelas, dalam puisi ini , penyair menggambarkan pulau buru dan penghuninya yang tersisih dan terlupakan. Namun demikian, masih ada persahabatan dan keteguhan hati , untuk tetap bertahan walau harus dengan susah payah, untuk kelak dapat mencapai hari depan yang kemungkinan adanya pembebasan dari pulau terpenjara ini.

Lain lagi dengan puisi yang berjudul Nyanyian Malam, yang menyiratkan akan kerinduan tentang keluarganya, yang jauh terpisah. Saya kutipkan sebagian :

dan pelan kuketuk pintumu
ketika bintang surut
dan maam tidak lagi bernyanyi

o alangkah manis rasanya rumah
di mana terukir goresan-goresan lama
tentang engkau dan tentang anak-anak
tentang duniaku yang belum sudah

(1974 ? Buru)

Ada lagi puisi yang berjudul Kidung-kidung Kedamaian yang merupakan puisi rindu untuk anak-anaknya. Terdiri dari 3 bagian , ditulis tahun 1975 ? Buru. Saya kutipkan sebagian :

2
adakah nyanyi dan gurau sendu
menabur keremajaanmu
ketika malam turun
bulan menyapa halaman?

manis kalaulah bisa bertiwikrama
betapa kumau
mengusap halus rambutmu

Di akhir buku ditutup dengan Puisi yang berjudul Di Ladang, terdiri dari dua bagian, puisi ini kuat sekali menggambarkan tentang situasi juga hari-hari yang dijalani selama di pulau Buru. Lukisan tentang penjagaan yang sangat ketat bahkan tertulis serdadu, menggambarkan layaknya kamp tahanan militer yang pasti selalu ada siksa. Tak ketinggalan baris sajaknya selalu ada rima.

Saya kutipkan sebagian :

1.
sudah lama
mata sangkur mengintai
di balik rumpun

oi hatihati
hari ini
mereka akan siksa kita lagi

jangan berpaling
jangan lupa mengerling
sebab burung-burung pun tahu
kita kerja ditunggu serdadu

asin keringat, bah
terasa betapa pekat
membasuh bibir pecah-pecah
dibakar teriknya hari

(1975 ? Buru)

Perasaan puas dan sangat membekas, ketika saya sudahi membaca kumpulan puisi ini. Beberapa waktu lalu sempat bertemu dengan penyair Lekra ini. Dari tutur kata yang lembut dalam bicara, saya tak mengira menyimpan bara cipta yang luar biasa.

Bogor, 29 Juni 2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *