Matinya Penjual Bubur Ayam

Hendry Ch Bangun
http://www.suarakarya-online.com/

SAMA sekali tidak ada yang menyangka Tatang mengambil tindakan yang dilarang Allah, bunuh diri. Lagipula tampaknya tidak ada alasan kuat pemuda berusia 30 tahunan itu harus mengakhiri hidupnya dengan cara meminum racun serangga. Tetangganya di daerah Jakarta Barat bahkan hampir tak percaya ketika Saman, yang bersebelahan di rumah kos-kosan dekat pasar itu berteriak-teriak sehabis subuh.

“Kang Tatang bunuh diri. Kang Tatang bunuh diri tolong tolong.” Orang-orang sekitar, baik yang baru pulang dari mushola kampung maupun yang masih mengantuk karena baru menyelesaikan aktivitas di jalan besar tak jauh dari sana, bergegas berlari ke arah Saman.
“Kenapa, kenapa?” kata mereka
“Kang Tatang bunuh diri.Ia minum obat nyamuk.”
“Ah, yang benar saja.”
“Itu lihat. Saya hampir nggak percaya kalau nggak melihat sendiri,” kata Saman masih dengan gemetaran.

Kerumunan orang mulai mendatangi rumah dengan banyak kamar kecil ukuran beberapa meter yang merupakan tempat tinggal pedagang-pedagang kecil. Mereka itu umumnya pemukim sementara, hanya untuk sekadar tidur, melepas lelah sehabis berjualan, entah itu bakmi, soto mie, bubur ayam, ketoprak, rujak, rokok, atau apa saja yang laku di jual di tepi jalan di wilayah bisnis dan hiburan yang hampir 24 jam selalu ramai itu.

“Masak sih Kang Tatang bunuh diri. Kan orangnya saleh, baik sama teman, tetangga, dan disenangi orang?,” ujar Prapto, pedagang mie pangsit yang menetap di rumah sama cuma beda kamar, dengan nada heran.
“Ia, saya bingung. Apa ada yang tahu, mungkin Kang Tatang ada masalah?”

“Nggak tahu juga, sih. Tapi setahu saya dia tidak pernah punya utang dan musuh. Malahan dagangannya selalu laris dan untung,” kata Herman.

“Iya, malah sama saya pernah cerita, waktu terakhir pulang ke Garut dia senang karena keponakannya masuk SMP, panen di sawahnya bagus,” kata Saman lagi.
“Barangkali dia diperas di tempat dagangnya? Atau Diancam preman yang suka mabok?”

“Itu mah sudah nggak bikin pusing Kang Tatang. Dia sudah siapkan dua-tiga bungkus Jie Sam Su atau Djarum di lacinya tiap hari. Kalau diminta, dia memang rela karena dianggap bagi-bagi rejeki. Karena baik, malah Kang Tatang nggak pernah ada yang ganggu.”
“Terus apa yang bikin Kang Tatang bunuh diri?”

“Iya, ya. Jadi bingung juga kita. Tapi memang beberapa hari ini biar dagangannya laris dia nggak segembira biasanya. Nggak tahu ada apa.” Beberapa orang lalu berinisiatif masuk ke dalam kamar ukuran 2 X 3 meter berlantai vinyl itu. Di atas tilam lipat jasad Kang Tatang terbujur kaku, namun wajahnya bersih dan tenang. Dia masih memakai celana panjang yang dipakainya kemarin, katun hitam, dengan kaus oblong bergaris-garis kecoklatan. Di dekat kepalanya ada rak kecil, tempat tersusun dua celana, dua baju, tiga, sarung, dan juga peci. Ada juga perlengkapan makan, dan gelas kaleng yang ada pegangan tangannya, juga teko air minum. Sebuah radio kecil. Ada satu tas plastik dengan merk toko retail terkenal di sana. Isinya seragam sekolah SD lengkap dengan topinya.

Ketika rak kecil itu dibuka ada juga beberapa buku tebal yang sudah lusuh, serta bolpoin. Rak itu dua tingkat, alasnya diberi lapisan koran. Di baliknya terselip beberapa lembar uang. Tidak ada semacam surat yang bisa menunjukkan mengapa Kang Tatang bunuh diri.
“Kita tunggu Pak RT saja, deh.”
“Iya, lagi pula kita jangan sampai merusak TKP,” sahut yang lain.
“TKP apaan sih?”
“Itu lho, Tempat Kejadian Perkara?”
“Oh. Iya. Kalau gitu kita keluar deh. Nanti kalau ada sidik jari kita, bisa berabe nanti,” ujar yang lain, yang tampaknya penggemar berita kriminal.

* * *

Beberapa hari sebelumnya di jalan utama Ibu Kota yang ramai. Waktu menunjukkan sekitar setengah pukul tujuh. Lalu lalang manusia dan kendaraan sudah ramai. Kang Tatang asyik melayani pelanggan bagai tak putus-putusnya. Sejak dia mendudukkan gerobaknya satu jam yang lalu, sulit baginya untuk istirahat. Ini hari Kamis, ramai sekali. Sebab rumah judi, diskotik, panti pijat, banyak yang buka sampai subuh. Supir taksi, tukang parkir, satpam, pegawai rumah judi, karyawan yang tidak sempat sarapan di rumah, dan tentu saja perempuan-perempuan yang baru menjual jasa, bergantian memesan dan menyantap bubur ayam hangatnya. Hanya tiga ribu rupiah untuk semangkok makanan hangat yang mewah.

Kang Tatang memang suka menyenangkan pembelinya. Walau BBM baru naik, dan harga belanja beras di pasar mulai naik, dia tidak mengurangi porsi. Mangkok tetap penuh, berisi bubur, kedele, kaldu ayam, kecap, daun seledri, bawang goreng, dan kerupuk yang mencuat sampai tinggi. Bahkan cubitan ayam goreng serta jeroan tetap sebesar biasanya. Gurih dan nikmat. Kang Tatang senang bila saat melirik pelanggannya mereka tampak bernafsu untuk segera mengganyang makanan di pagi yang baru beranjak terang itu.

Entah sudah berapa kali Kang Tatang mencuci mangkok dan sendoknya di dua ember yang dia taruh di bawah gerobak. Lupa menghitung karena banyaknya. Uang yang masuk ke kantongnya pun terasa sudah menyodok, membuat Kang Tatang lalu segera memindahkannya ke laci. Kalau sedang laris begini, biasanya jam sembilan dagangannya habis. Bubur di dandang yang kira-kira bisa untuk 60 porsi itu sudah benar-benar ludes. Artinya hari itu dia bisa menyisihkan uang Rp 50 ribu dan sisanya untuk belanja di pasar dan tabungan untuk bayar sewa kamar.

Saat mulai menyusun piring untuk dimasukkan ke dalam bagasi gerobak, mata Kang Tatang melihat anak yang kerap makan buburnya, Sobari, datang mendekati. Seperti biasa dia memesan bubur dengan harga khusus.
“Mang minta bubur?” kata pengamen itu sambil menyodorkan uang seribu rupiah.
“Wah, kehabisan, Bar. Kok kamu baru datang.”
“Iya, saya tadi nggak punya uang. Malu.”
“Kan bayarnya bisa kapan saja.”
“Nggak ada sisanya ya.” Kata Subari dengan wajah memelas.
“Iya, habis bis. Ya udah gimana kalau Mang Tatang pesankan pangsit saja. Mau?”
“Nggak, saya nggak suka. Saya mau bubur ayam.”

Subari lalu memasukkan uang seribu rupiahnya ke kantong lusuhnya dan bergerak menjauh ke arah lampu merah. Kang Tatang merasa tidak enak hati, meskipun dia sama sekali tidak salah. Kalau saja Subari datang rutin tiap hari, dia pasti menyisihkan barang satu mangkok pada anak yang disukainya karena bertampang baik itu. Tetapi Subari kadang datang kadang tidak, walaupun rumahnya juga tidak jauh dari situ, sehingga Kang Tatang tak bisa memperhitungkan kehadirannya. Padahal dia rela, menyisihkan semangkok, hitung-hitung beramal apalagi sama orang susah seperti dirinya.

“Bar, sini dulu,” kata Kang Tatang yang tiba-tiba prihatin membayangkan perut keroncongan Subari yang akan sulit diganjal dengan uang seribu rupiah. “Ini Mang tambahin, buat beli sarapan .”

Namun sodoran beberapa ribu rupiah yang diberinya ditolak Subari. “Terima kasih, ini cukup kok. Nanti dari ngamen dapat duit lagi,” katanya sambil berlalu.

* * *

BAGI Subari hidup tidak pernah mudah. Lahir di kawasan kumuh dari orangtua yang tidak punya pendapatan cukup, bisa bertahan hidup sampai usia sekarang saja mungkin sudah patut disukuri. Sekolah sudah lama ditinggalkannya, sejak dia mestinya duduk di kelas 2 SD. Angka-angka di rapornya bagus tetapi orangtuanya sudah tidak punya minat lagi menyekolahkan dia.

Sebagai tukang parkir liar, tidak berseragam seperti pegawai resmi, pendapatan Roban sebenarnya kadang lebih dari cukup. Rata-rata dia bisa mendapat Rp 30.000. Tapi kebanyakan uang itu habis untuk mabuk.

Sumah, ibu Subari, cuma bisa marah-marah kalau suami pulang mabok dan tidak membawa uang. Bekas pelacur jalanan ini cuma bisa mengandalkan hidup dari mencuci piring di restoran Padang dekat stasiun kereta. Pendapatannya pun paling Rp 15.000 sehari. Jauh dari cukup untuk melengkapi rumah sewa dengan barang-barang. Cuma ada tikar untuk tidur. Tidak ada kursi tamu, apalagi televisi.

“Udah, lu brenti sekolah saja. Nggak sanggup gue nyekolain,” kata ayahnya suatu kali. Subari yang masih kegirangan karena angka dan tulisan di rapornya biru semua, cuma bisa diam. Dia tahu, untuk iuran bulanan Rp 25.000 saja dia kerap menunggak sehingga beberapa kali distrap di depan papan tulis atau disuruh pulang.
“Katanya sekolah gratis. Apaan, mesti bayar uang komite lah, uang buku lah. Brengsek,” kata Roban.
“Ia, lagian buat apa sekolah. Mending cari duit. Jadi bisa beli baju pake duit sendiri,” timpal Sumah.
“Iya, mak. Subari ngerti.”

Sejak itu Subari mencari uang dengan mengamen. Pada awalnya cuma bermodal tepuk tangan saja. Mula-mula di stasiun kereta api, lalu naik kereta sampai ke Bogor, kadang ke Serpong. Dia bertekad selalu membawa pulang uang bagi ibunya.
“Bu, nih, Bari dapat dua pulu rebu.”
“Nah, gitu baru pinter. Lu udah makan belom?”
“Udah, mak. Tadi di warung tegal.”

“Ya udah. Tidur sana.” Tapi hidup sebagai pengamen juga bukan hal mudah. Bulan demi bulan makin banyak orang yang mencari hidup dengan meminta-minta seperti itu. Saking banyaknya saingan kadang sampai siang Subari cuma dapat dua ribu rupiah, itupun berupa uang logam.

Itu sebabnya beberapa hari ini Subari agak malas pergi. Sekeluar dari rumah dia duduk saja di dekat stasiun kereta. Dia merasa kesal pada dirinya tidak dapat memberi uang banyak buat emaknya, tetapi mau dikata apa kalau memang kenyataannya begitu.
“Kalo bawa duit, gue kasi makan enak. Kalau nggak, lu cari makan sendiri,” kata ibunya.

Kalau sudah begitu dia pun mencoba berusaha cari uang dulu baru sarapan. Dan sarapan itu dilakukan dengan makan bubur ayam Kang Tatang, seperti sudah beberapa minggu dilakukannya.
“Ya udah, kamu makan saja dulu. Bayarnya gampang,” kata Kang Tatang yang mengetahui cerita sedih Subari.
“Nggak, Mang. Saya mau makan kalau punya uang.”
“Saya rela kok.”
“Nanti kalau kenyang duluan, saya jadi malas.”

Hubungan mereka semakin mendekat karena bagi Kang Tatang, Subari seperti keponakannya Hasan yang berusia 11 tahun di Garut sana. Kang Tatang sendiri tidak punya anak karena istrinya tidak ingin lantaran memilih menjadi TKW di Malaysia. Kini statusnya tidak jelas, suami tak beristri, duda tapi tidak bercerai, bujangan tetapi masih terikat perkawinan. Jadi dia rindu membelai anak seperti Subari.
“Bari, kamu mau sekolah nggak?”
“Mau sih, tapi nggak punya uang buat bayaran.”
“Kalau Mang Tatang bayarin, mau nggak?”
“Memangnya Mang Tatang ayah Bari. Nggak mau ah.”
“Anggap saja ayah sendiri.”

Bujukan semacam itu terus dilakukan Kang Tatang karena baginya menyumbang Rp 25.000 perbulan bukan hal yang memberatkan. Ataupun kalau ditambah uang macam-macam sampai Rp 50.000. Untuk adik dan keponakannya saja dia memberi Rp 200.000 tiap bulan.

* * *

KANG Tatang baru akan bergerak membawa gerobaknya ketika dia mendengar suara decit ban mobil dan benturan benda keras di lampu merah sekitar 50 meter dari tempat berdagangnya. Tak lama kemudian terdengar teriakan orang-orang. Lalu orang-orang berlarian ke jalan.
“Ada tabrakan, ada tabrakan” kata mereka sambil berlari.

Sebuah mikrolet yang berlari kencang rupanya tak bisa menghindar ketika sebuah bus besar berbelok tanpa mengurangi kecepatannya di perempatan itu. Simpang empat itu sudah lama menjadi ajang pelanggaran lalu lintas karena berdekatan dengan halte. Bis-bis dan mikrolet suka mengetem di sana, kadang memanjang sampai melewati batas lampu merah.
“Ada yang ketabrak. Dia tergeletak tuh, tubuhnya masih bergerak,” kata seseorang.
“Angkat-angkat.”

Kang Tatang entah mengapa merasa perlu untuk mendekat ke kerumunan di jalan yang mulai macet karena kejadian itu. Supir mikrolet sudah dikepung, supir bus lari meninggalkan bisnya begitu saja di pinggir jalan. Keneknya sempat dipukul meski lalu diamankan ke pos hansip yang ada di mulut gang. Pelahan-lahan tubuh itu diangkat ke pinggir jalan. Nafasnya masih ada satu-satu. Ternyata dia Subari yang luka-luka akibat ditabrak mikrolet yang melenceng akibat berbenturan dengan bus. Subari mental ke jalan dan kepalanya berdarah karena menghantam aspal.
“Bawa ke Husada kata seseorang.”
“Cegat mobil, taksi aja yang gampang.”
“Saya ikut, saya kenal dia,” kata Kang Tatang sambil membopong anak yang sudah lemah karena banyaknya kucuran darah dari kepalanya.

Hanya beberapa menit Subari sempat dibaringkan di atas velbed ruang gawat darurat rumah sakit itu. Setelah itu dia mati.

* * *

SAMPAI akhirnya polisi datang, memeriksa seluruh ruangan, bertanya ke kanan dan ke kiri, dan membawa jenazah Kang Tatang ke RSCM untuk diotopsi sebelum diserahkan ke keluarga. Tidak ada yang tahu penyebab kematiannya. Tetangga pun hanya bisa menerka-nerka. Namun menurut koran yang terbit keesokan harinya, seorang polisi mengatakan Kang Tatang meninggalkan surat di dalam tas plastik berisi seragam SD. Dia amat bersedih dan serasa kehilangan jiwa ketika Subari yang dianggap anak sendiri, yang ingin disekolahkan bahkan dibelikan seragam, meninggal akibat tabrakan. Apalagi sebelum kejadian Kang Tatang mengecewakan Subari karena bubur ayamnya habis.
“Aneh juga Kang Tatang. Masak anak orang yang mati, malah dia yang bunuh diri.”
“Jakarta memang aneh.”

* Olimo, 5 April 2005

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply