Pangeran Air

Hary B. Kori’un
http://www.lampungpost.com/

AKU tahu, kau suka gerimis. Hujan yang tak terlalu deras. Kau pernah mengatakan itu bertahun-tahun lalu ketika kita kedinginan setelah hujan membasahkan kita.

“Aku lahir dari hujan,” katamu. “Dalam tubuhku mengalir segala air…”

“Apakah setiap hujan melahirkan orang-orang sepertimu? Aku ingin dilahirkan lebih banyak, biar setiap diriku itu bertemu dengan dirimu yang lain itu…,” kataku.

“Tidak, akulah satu-satunya anak hujan,” kamu menjawab.

Kemudian kau menghilang di tikungan dalam hujan yang masih membasahkan kota. Kau memang selalu muncul di hadapanku saat hujan tiba. Itulah kenapa kemudian aku selalu mengharapkan hujan datang setiap saat dan kau akan datang kepadaku. Aku akan tersiksa jika musim kemarau tiba dan hujan tak pernah datang yang membuat dirimu juga tak pernah datang kepadaku lagi. Aku kehilangan udara yang menghidupkanku, kehilangan air yang menghilangkan dahagaku, kehilangan cahaya yang menerangi langkahku, kehilangan nadi yang mendenyutkan jantungku. Dan aku akan mati…

“Jangan mati…,” katamu suatu saat.

“Jika tak ingin aku mati, tetaplah berada di dekatku…”

“Aku tak bisa selalu dekat denganmu… Musim selalu berganti, dan itulah hukum alam…”

“Mengapa?”

“Ada api dalam hati dan pikiranmu, dan itu akan membunuhku…”

“Api selalu ada di hati dan pikiran siapa pun,” kataku.

“Tapi tidak dalam hati dan pikiranku. Sebab jika ada api, aku akan mati…”

“Seperti dongeng H.C. Andersson tentang Putri Air dan Pangeran Api?”

“Hemm… bukan, aku adalah Pangeran Air…”

“Dan aku Putri Api? Tidak, aku Putri Air, aku mencintai hujan…”

***

AKU berjumpa pertama kali dengannya ketika berhari-hari hujan membasahkan kotaku. Kotaku dibangun tidak dengan perencanaan yang baik, dari kaum urban yang selalu datang dan tiba-tiba kota mungilku berubah menjadi kota raksasa yang siap memakan siapa dan apa saja. Drainase yang buruk membuat danau muncul di mana-mana saat hujan tiba. Lucu, kadang aku melihat kotaku mirip danau dengan rumah dan gedung-gedung terlihat di atasnya.

Dia muncul ketika itu seperti keluar dari salah satu danau itu dengan segalanya yang basah pada dirinya: celana jinsnya, kaus oblong hitamnya, rambut gondrong sebahunya. Tepat di depan jendelaku dia berdiri. Aku mengamatinya dan sesaat agak terpana.

“Apakah aku mengenalmu?” tanyaku.

Dia menggeleng pelan. Air pada rambutnya ikut bergerak seperti gambar slow motion di televisi. Aku sedang menikmati hujan yang sudah dalam bentuk gerimis saat itu.

“Lalu, mengapa kau tiba-tiba ada di sini dan seolah kau mengenalku?”

“Aku selalu datang kepada setiap gadis yang menikmati hujan,” kata dia, seolah tahu apa yang kulakukan.

“Setiap gadis?”

“Ya…”

“Banyak gadis yang menyukai hujan…”

“Tapi tak banyak yang mencintainya, menikmatinya… Kamu melakukan itu…”

“Hujan akan menenggelamkan kotaku…”

“Jangan salahkan hujan.”

“Kadang hujan membuatku putus asa dan marah karena banyak yang mati karenanya. Tapi aku tetap menunggunya, mencintainya…”

“Jangan salahkan hujan…” suaranya terdengar lunak, seperti memelas.

“Seluruh anggota keluargaku mati karena hujan berhari-hari menjebol tanggul sebuah waduk. Sialnya, ketika aku pindah ke kota ini, aku masih tetap mencintai hujan…”

“Oh, aku ikut berduka.”

Beberapa saat kemudian gerimis sudah mulai berhenti dan cahaya matahari hampir setengah hari tertutup mendung, mulai terlihat. Dia kemudian pamit untuk pergi, dia takut kepanasan katanya. Kulitnya akan mengelupas kalau terkena sinar matahari. Setengah bercanda kukatakan apakah dia sebangsa drakula, dan dia hanya tersenyum amat manis.

“Aku belum tahu namamu…,” kataku kemudian.

“Aku akan selalu datang di saat kau menikmati hujan, kau tak perlu namaku seperti aku juga tak perlu namamu. Tetap cintailah hujan…”

Dia kemudian berjalan ke kiri jendela dan hilang dari pandanganku karena terhalang tembok.

***

BERTAHUN-tahun kemudian, musim kemarau datang berbulan-bulan hingga hitungan tahun. Banyak hutan terbakar, lahan terbakar, kota terbakar, hati terbakar…Kabut dan asap datang dari segala penjuru mata angin, dari setiap celah tanah. Kotaku, juga daerah lainnya, dikepung asap dan jerebu. Banyak anak sakit, bahkan mati. Rumah sakit tak bisa lagi menampung jumlah mereka. Kejadian ini seperti wabah. Dan aku selalu merindukan lelaki itu, yang selalu datang dengan segala basahnya. Tetapi dia tak pernah datang lagi. Aku maklum, karena dia akan datang bersama hujan, seperti di setiap musim hujan.

Di sebuah senja, seseorang, entah siapa, datang dan tanpa kata-kata memberikan sebuah surat kepadaku. Surat bersampul muram, warna putih kekuning-kuningan.

“Untukku?” tanyaku.

Dia mengangguk.

“Dari siapa?” kubertanya lagi.

Dia menggeleng, kemudian pergi menembus kabut.

Aku menangis dua hari tiga malam setelah membaca surat itu. Katanya: “Maafkan aku. Aku tak bisa menemuimu hampir setahun ini saat kemarau yang membuat kotamu dikepung kabut dan jerebu. Aku ingin sekali menemuimu, ingin sekali melihat matamu, rambutmu, dan ketulusan hatimu, tetapi aku akan mati jika memaksakan diri. Aku akan mati oleh panas dan jerebu. Aku tak mau mati karena itu, sebab jika aku mati, aku tak akan bisa menemuimu lagi. Aku sedang mencari negeri di mana hujan bisa turun di sana, karena di sanalah aku bisa hidup. Aku berjanji akan datang kepadamu saat hujan kembali datang ke kotamu…”

Namun, hingga bertahun-tahun kemudian, hujan tak pernah turun lagi di kotaku. Wabah kelaparan di mana-mana, hutan-hutan habis terbakar, sungai-sungai mengering kehilangan sumber air, angin yang membawa hawa panas datang setiap hari. Kematian menjadi kabar yang terlalu biasa di setiap waktu. Tiba-tiba, aku kini sudah berubah menjadi tua dan keriput, namun herannya, berpuluh-puluh tahun kemudian, bahkan beratus tahun, aku tak mati-mati. Aku tetap hidup, dan melihat dunia berubah dengan segala bentuknya.

Aku sangat ingin mati. Tetapi jika aku mati, pasti aku tak akan bisa bertemu denganmu saat hujan datang. Aku sangat rindu… n

——-
Hary B. Kori’un, jurnalis. Menulis cerpen yang tersebar di berbagai media dan dibukukan dalam berbagai antalogi. Enam novelnya sudah terbit, yang terbaru Nyanyian Kemarau (2009).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *