Memaksa Anak Baca Buku Sastra

Igk Tribana
http://www.balipost.com/

SEBAGAI guru bahasa dan sastra, saya (penulis) menyampaikan bahwa setiap siswa wajib membaca sekurang-kurangnya tiga buku sastra tiap semester. Hal ini disampaikan lebih awal agar nantinya tugas siswa tidak menumpuk.

Seperti diduga sebelumnya, anak pun kurang percaya apa yang penulis katakan. Setelah salah seorang siswa bertanya, penulis tegaskan lagi bahwa tiap siswa wajib membaca minimal tiga buku sastra pada semester itu — entah novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, atau naskah drama. Setelah membaca buku sastra, siswa terus menulis resensinya. Cara menulis resensi pun dipaparkan. Tugas itu dikumpulkan dua bulan kemudian.

Sangat terasa, sebagian siswa kurang ikhlas membaca, sepertinya terpaksa menerima tugas itu. Penulis pun memahami mengapa mereka kurang bersemangat ketika ditugaskan membaca buku sastra. Sangat berbeda pula semangatnya ketika mereka mau mendengarkan kisah-kisah yang secara langsung disampaikan para guru mereka. Setelah satu-dua minggu berlangsung, sejumlah siswa berkonsultasi tentang resensi yang ditulisnya sebelum diketik.

Belum dua bulan, sekitar satu setengah bulan, tugas itu diselesaikan oleh siswa. Selanjutnya, presentasi resensi dan diskusi kelas dilaksanakan. Dalam diskusi, ternyata wajah anak-anak mulai bergairah. Mereka melupakan kekurang-ikhlasannya saat ditugaskan membaca buku sastra maupun lupa pula akan rumus-rumus matematika, fisika, kimia, dan istilah biologi yang sering mereka geluti.

Walaupun mereka “diformat” menjadi kelas IPA, kelas yang diharapkan siap mempelajari MIPA (matematetika dan ilmu pengetahuan alam), terasa pula gairahnya berdiskusi tentang sastra. Kata-kata pengarang yang sangat bernilai pun diingatnya, misalnya kata-kata Mochtar Lubis yang dikutip oleh anak yang bernama Ellen dalam diskusi — sekadar contoh, “Sebelum menundukkan harimau yang sesungguhnya, tundukkanlah terlebih dahulu harimau yang ada pada dirimu sendiri”.

Sejumlah Alasan

Diskusi kadang melebar kepada persoalan nyata, namun masih berkaitan dengan tema buku. Jelas para siswa merasakan memperoleh nilai-nilai yang bermanfaat dalam kehidupan ini maupun dapat memperluas wawasan berpikirnya setelah membaca karya sastra.

Selesai presentasi dan diskusi, penulis mengajukan beberapa pertanyaan dan kesan secara tertulis kepada anak selama membaca dan menulis resensi buku sastra — sebagai evaluasi. Jawabannya, hampir semua siswa mengatakan akan membaca buku sastra terutama novel dan kumpulan cerpen, hanya sekitar 5% yang mengatakan akan membaca buku kumpulan puisi, sementara naskah drama tidak ada yang memilih.

Melihat minimnya siswa memilih buku puisi, wajarlah apa yang pernah dikatakan oleh penyair Isbedy Stiawan (peserta “Ubud Writer & Reader Festival 2007”), karya-karya puisi jarang dibidik oleh penerbit buku.

Sejumlah alasan yang dikemukakan siswa, mengapa ia memilih judul buku tertentu. Dalam presentasi resensi tampaknya mereka menangkap apa yang dikemukakan oleh kawannya. Winda, misalnya, akan membaca buku kumpulan cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis. Winda telah mendengar dari kawanya yang meresensi bahwa dalam karya sastra ini ada pesan moral bagaimana kita beragama dalam kehidupan nyata. Kemudian Ledyari Noviati mengatakan bahwa ia akan membaca buku “Getaran Getaran” karya Haryati Subadio. Alasan Ledyari, ia mendengar buku ini bercerita tentang misteri yang belum terungkap. Ia ingin tahu misteri-misteri yang tersembunyi dalam buku ini.

Khusus buku kumpulan puisi, hanya Ade dan Anis yang memilihnya. Ade ingin membaca buku “Aku Ini Binatang Jalang” karya Chairil Anwar sedang Anis ingin membaca buku Antologi Puisi “Perempuan Bersayap” karya Mila. Alasan Ade adalah hanya ingin tahu lebih banya karya Chairil Anwar, karya yang dikagumi penikmat sastra. Anis memberi alasan bahwa ia tertarik tentang puisi yang mengangkat masalah perempuan. Memang kurang seimbang antara siswa memilih karya sastra berupa prosa dan karya sastra berupa puisi.

Peroleh Manfaat

Dari paparan di atas, anak-anak dari progranm IPA tidak diragukan lagi kesungguhannya dalam mengapresiasi karya sastra. Hal ini nampak dari apa yang dikatakan oleh anak ketika ditanyakan manfaat yang diperoleh membaca karya sastra.

Kata anak-anak umumnya, dengan membaca buku sastra ia dapat memahami sisi lain dari sebuah kehidupan. Ada juga yang berkata bahwa dengan membaca karya sastra, ia dapat memahami berbagai karakter manusia lewat penokohan cerita, nilai moral, membantu mencari jati diri sebagai seorang manusia. Secara tidak langsung dirinya diajak berpikir lebih dewasa oleh pengarang lewat karya sastra, menambah wawasan berpikir, mengerti budaya masyarakat, lebih memahami bagaimana kita menjalani kehidupan beragama yang sesungguhnya.

Memperhatikan pendapat para siswa berkaitan dengan tugas meresensi buku sastra yang mulanya dipaksakan, ternyata hasilnya boleh dikatakan lebih dari cukup, bahkan membanggakan. Artinya, minat membaca karya sastra siswa setelah membaca dan menulis resensi buku sastra terasa tumbuh. Buktinya, mereka memilih sendiri buku sastra yang akan dibaca. Benar kata peribahasa, “Karena tak kenal, maka tak sayang”.

Joni Ariadinata dalam majalah Horison (Edisi III 2007) mengatakan bahwa membaca karya sastra akan mudah jika sudah terbiasa. Jadi, guru tidaklah salah kalau memaksa anak untuk membaca buku karya sastra sebagai strategi. Joni juga mengatakan, jika anak belum tumbuh minat bacanya, maka tak ada jalan lain kecuali memaksakan agar membaca. Sejalan dengan paksaan itu, guru sendiri harus menularkan perilaku suka membaca buku sastra.

Untuk sementara, memaksa anak agar membaca buku, boleh dikatakan sebagai strategi dalam pembelajaran aprsiasi sastra. Jika kebiasaan membaca tumbuh, tentu bukan cara yang baik lagi jika anak dipaksa. Anak cukup dibimbing untuk memilih buku kesukaannya. Guru maupun orangtua hendaknya memposisikan diri sebagai fasilitator. Joni juga yakin kalau anak sudah terbiasa membaca, maka akan sulit menghentikannya. Kondisi ini ditemukan di International School di Jakarta. Di sekolah itu anak kelas III SD telah membaca minimal 120 buku dalam rentang delapan bulan. Sayang, mereka rata-rata bukan anak warga Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *