Nasionalisme Pasca-Mishima

Sunlie Thomas Alexander *
Lampung Post, 23 Mei 2010

SUATU pagi di tahun 1970, sastrawan Jepang Yukio Mishima bersama sejumlah anak buahnya yang terlatih secara militer menyerbu markas Kementerian Pertahanan di Tokyo. Usai berpidato tentang Jepang yang kehilangan keagungan klasik, di hadapan perwira tinggi yang disanderanya, penulis novel Senandung Ombak dan Kuil Kencana itu pun menjalankan seppuku. Seorang pengikutnya yang disebut khaisakunin kemudian memenggal kepalanya. Continue reading “Nasionalisme Pasca-Mishima”

Ragam Ekologi Sastra

Abdul Aziz Rasjid
http://www.lampungpost.com/

DENGAN adanya ragam ekologi yang bergeser dari penguasaan laut, ditembusnya desa, pembangunan kota yang melibatkan kontradiksi lembaga militer, agama sampai instansi pendidikan dan birokrasi politik; pada akhirnya, ragam ekologi sastra dapat dibaca sebagai bagian pembacaan kritis terhadap alur perkembangan konteks sosial historis bangsa pada suatu masa.

Dalam buku bertajuk Sastra Hindia Belanda dan Kita (Balai Pustaka: 1983) yang ditulis Subagio Sastrowardoyo dijelaskan bahwa terjadi pengulangan pola cerita desa di dalam sastra Hindia Belanda, sastra Melayu Modern, dan sastra Balai Pustaka. Continue reading “Ragam Ekologi Sastra”

Warna Muram Puisi-Puisi Dina Oktaviani

Oyos Saroso H.N.
http://www.lampungpost.com/

Lama tidak terdengar aktivitasnya di Lampung, penyair-cerpenis Dina Oktaviani ternyata sudah menyelam begitu dalam di lubuk sastra Yogyakarta. Akhir Mei 2010, Dina Oktaviani pulang kampung untuk meluncurkan buku puisi terbarunya bertajuk Hati yang Patah Berjalan (HPB).

Ini sebenarnya buku yang tak terlalu baru, karena sudah diterbitkan Broken Heart Walking, Yogyakarta, pada Agustus 2009. HPB ditulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Sebelumnya, pada 2006, Dina sudah menerbitkan buku antologi puisi bertajuk Biografi Kehilangan (2006). Continue reading “Warna Muram Puisi-Puisi Dina Oktaviani”

Upaya Membuat Kritik Sastra Indonesia

Judul buku : Darah-Daging Sastra Indonesia
Penulis : Damhuri Muhammad
Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan : 1, Maret 2010
Tebal : xii + 168 halaman
Peresensi : Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

JIKA kita sepakat bahwa esai, ulasan singkat, resensi buku sastra, yang tumbuh di koran-koran layak disebut sebagai kritik sastra, agaknya keresahan, keluhan, kecemasan sebagian kalangan pengamat dan praktisi sastra akan kelangkaan kritik sastra, menjadi tidak beralasan. Continue reading “Upaya Membuat Kritik Sastra Indonesia”

Bahasa ยป