Budaya Lokal dalam Sastra di Mata Cerpenis

Kolecer & Hari Raya Hantu
Eka Fendri Putra
http://www.suarakarya-online.com/

Cerita pendek sebagai salah satu genre sastra, kadang dianggap lebih mudah menuliskannya dibanding puisi, drama atau novel. Padahal menulis cerita pendek membutuhkan kepiawaian mengemas satu fragmen kehidupan yang dipadatkan dalam dunia kata yang lebih pendek. Pengamatan, pemahaman, pengalaman dan imajinasi itulah yang dimunculkan oleh 11 penulis dalam duapuluh cerita pendek. Continue reading “Budaya Lokal dalam Sastra di Mata Cerpenis”

PENGARUH SUREALISME DAN PUISI TERKINI

Indra Tjahyadi
terpelanting.wordpress.com

Membaca puisi-puisi karya W. Haryanto, Mashuri, H.U. Mardi Luhung, Muhammad Aris dan Zaki Jubaidi terasa sekali betapa kuatnya pengaruh wacana Surealisme di dalamnya. Pengaruh tersebut terlihat dari betapa banyaknya puisi-puisi mereka menggunakan ledakan-ledakan imaji yang sifatnya spontan dan tidak logis sekali.

Seperti pada puisi karya W. Haryanto yang berjudul ?Karnaval Hantu?. Pada puisi karya W. Haryanto tersebut, ledakan imaji yang begitu spontan menciptakan analogi-analogi yang tidak logis dalam kalimat-kalimat puisinya. Continue reading “PENGARUH SUREALISME DAN PUISI TERKINI”

Spirit Revitalisasi Dalam Mengungkap Teks

Agus Sulton
radarmojokerto.co.id

/1/
Kepulauan nusantara sejak kurun waktu yang lampau memiliki beragam sejarah peradaban dan peninggalan. Masing-masing daerah mempunyai ciri khas dalam bahasa dan jenis aksaranya. Lewat berbagai temuan dan analisis isi manuskrip diberbagai daerah di nusantara akhirnya dapat diketahui bahwa setiap daerah mempunyai kekayaan intelektual dalam berbagai dasar ilmu. Kekayaan inilah yang menarik perhatian para penjajah sumber budaya untuk memburu manuskrip di pelosok-pelosok nusantara. Tujuannya tidak lain adalah untuk lebih mengetahui adat istiadat dan mempelajari budaya nusantara masa lampau guna memperluas wilayah jajahan dan akhirnya pengakuan hak paten. Continue reading “Spirit Revitalisasi Dalam Mengungkap Teks”

Jejak Wallace di Jombang

Junaedi*
http://www.surya.co.id/

DALAM berbagai catatan sejarah, naturalis asal British, Alfred Russel Wallace, yang juga menciptakan sebuah garis imajiner sebagai batas pemisah fauna dan dikenal sebagai Garis Wallacea, pernah singgah sementara waktu di Jombang pada tahun 1861.

Setidaknya ada tiga kawasan yang tercatat dalam berbagai literatur yaitu Wonosalam, Japanan, dan Mojoagung. Letak geografis tiga kawasan ini berada di sisi timur Kabupaten Jombang memanjang ke selatan dengan jarak jika ditarik garis lurus kurang lebih 15 km. Tiga titik kawasan ini juga tak jauh dari Trowulan, yang diyakini menjadi salah satu pusat kejayaan kerajaan Majapahit. Continue reading “Jejak Wallace di Jombang”

Bahasa ยป