Sajak-Sajak A Muttaqin

cetak.kompas.com

Kuda Cahaya

Dia hanya kelebat, secepat kilat, tapi rambutnya yang panjang dan pekat, membebat kakiku yang jadi ungu setelah menyebut namamu: Kau yang lebih tinggi dari mimpi, lebih senyap dari sepi, lebih rinai dari bunyi. Dan dengan semua yang berakhir /i/ yang tak juga sampai

di watas wiru ini, ia memenuhi panggilanmu. Mencuci luka juga bunga-bunga yang tak jadi madah. Continue reading “Sajak-Sajak A Muttaqin”

Kirana Kejora, Penulis Indie yang Rela Tinggalkan Pekerjaan Mapan

Jawab Protes Keluarga dengan Karya
Puji Tyasari
http://www.jawapos.com/

Acara bedah buku yang berlangsung di kawasan Ngagel awal Mei lalu berlangsung sederhana. Pengunjung yang umumnya kalangan seniman duduk di gelaran karpet. Mereka membedah novel Elang karya Kirana Kejora.

ELANG berkisah tentang saudara kembar bernama Elang Timur dan Elang Laut. Elang Timur merupakan pria sukses, cerdas, dan punya jabatan tinggi. Dia juga ilmuwan yang peduli terhadap nasib kaum terpinggirkan. Sementara Elang Laut seorang seniman sederhana yang terkesan lemah dan tak berpendirian. Dua bersaudara itu sama-sama mencintai perempuan bernama Jora. Continue reading “Kirana Kejora, Penulis Indie yang Rela Tinggalkan Pekerjaan Mapan”

Norman Edwin Dulu dan Kini, Catatan Sahabat Sang Alam

M. Latief
http://oase.kompas.com/

Saat banyak orang di Tanah Air, baik secara sendiri-sendiri maupun atas nama kelompok tertentu, berkoar-koar mengumandangkan rencana pendakiannya ke Tujuh Puncak Tertinggi Dunia atau The Seven Summit, rasanya ada yang “hilang”, bahkan hambar lantaran tidak menyebut sama sekali nama Norman Edwin. Pasalnya, memang, kali pertama ide ini muncul di Indonesia datang dari dia, tepat di tengah ingar-bingarnya gairah pendakian gunung salju di kalangan pencinta atau klub pendaki gunung di seluruh penjuru Tanah Air. Continue reading “Norman Edwin Dulu dan Kini, Catatan Sahabat Sang Alam”

Hari Tak Punya Siang

iLenk rembulan
http://oase.kompas.com/

Nyanyian dalam kelam, demikian judul kumpulan puisi Sutikno Wirawan Sigit, dalam kemasan cover hitam kelam bergambar burung Colibri. Penyair Lekra , kelahiran Cilacap tahun 1939 ini tetap eksis dengan puisi-puisinya yang mungkin kita semua belum begitu akrab, mengingat sejak peristiwa G30S PKI tahun 1965 meletus , karya-karya penyair Lekra seakan menjadi barang haram untuk dibaca dan dinikmati di jaman Orde Baru. Continue reading “Hari Tak Punya Siang”

“Elang”: Potret Buram Indonesia Timur

Handoko F. Zainsam
http://oase.kompas.com/

Tak banyak mengalami kesusahan. Itulah yang pertama kali terbersit dalam pikiran saya saat membaca Novel ?Elang? karya Kirana-Kejora. Begitu mengalir, lancar, dan tak tersendat kisahnya. Sepertinya saya dihadapkan kepada seorang penulis sangat piawai dalam merangkai kisah, memainkan alur, dan menyodorkan ?robekan? nilai-nilai kemanusiaan. Continue reading ““Elang”: Potret Buram Indonesia Timur”

Bahasa ยป