Pemakaman

Faisal Syahreza
http://www.lampungpost.com/

NINA tak menyadari siang itu tak hanya dia sendiri sebagai perempuan yang menangisi jasad suaminya saat dikebumikan. Ibu suaminya yang sekaligus mertua Nina, malah bukan lagi menangis. Beberapa jam lalu sudah pingsan tak sadarkan diri. Juga seseorang di balik pohon kersen yang rimbun daunnya meneduhkan. Tak jauh dari upacara pemakaman, seorang perempuan menumpahkan air mata tak kalah hebat dari Nina dan mertuanya. Gadis mempunyai wajah yang manis dengan lesung pipi serta senyuman yang indah. Perempuan itu bernama Rengganis.

Rupanya kepergian Gito yang mendadak itu, tak hanya meninggalkan duka maha dalam bagi Nina, dan ibunya. Melainkan bagi Rengganis yang juga kekasihnya. Sungguh pemakaman yang berjalan memilukan, setidaknya bagi mereka bertiga yang merasa kehilangan. Tak melenceng dari perkiraan banyak orang, kematian Gito yang tak wajar, sebab seorang preman yang semasa hidupnya hanya meninggalkan permasalahan. Ketika pengumuman dari masjid mengabarkan berita kematiannya, dengan nada datar Ustaz Gufron terpaksa bersedia memandikan jasad sekaligus mengimami salat gaibnya. Belum lagi orang-orang di pasar yang biasa dimintai uang keamanan, dengan ogah-ogahan menutup toko untuk pergi melayat. Para tetangga yang malas pergi ke rumah Gito untuk sekadar tahlilan. Beberapa orang bahkan terlihat menghindar ketika dimintai bantuan. Hanya beberapa pesuruh yang pergi mengukur tanah untuk digali ke tempat permakaman umum, itu pun hanya kerabat dekat.

Gito ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, tergeletak di depan toko jamu di pasar. Mulutnya yang menganga mengalirkan cairan berbusa. Di sekujur tubuhnya berlumuran darah. Dan sisa sayatan yang memenuhi bagian-bagian tubuhnya. Matanya melotot merah menyala, seperti sedang menahan rasa sakit. Serentak subuh itu, para pedagang di sekitar pasar yang akan membuka toko-tokonya mengerumuni jasadnya. Memang malam itu ada sebuah jeritan panjang dari seorang perempuan.

“Mudah-mudah keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin,” Ustaz Gufron menutup doanya seperti terburu-buru. Ia mengusap keringat di wajahnya.

Orang-orang saling bertatapan di permakaman yang hambar itu. Kemudian mengingat-ingat lagi kejadian semalam.

***

Malam seperti compang-camping oleh sinar lampu jalanan yang remang. Udara yang berjalan lambat, dengan sisa-sisa debu yang diterbangkan sesekali oleh lalu-lalang jalan. Gito di persimpangan jalan, dengan lima kawannya yang tak dikenal, asyik menenggak arak. Mereka seperti sedang khusyuk menikmati terpaan sinar rembulan yang sebentar-bentar terhalang awan. Sebelumnya, Gito sedang siap-siap pulang setelah menghitung uang setoran dari beberapa tukang parkir dan uang keamanan toko-toko pasar. Di bawah terpaan lampu jalan yang remang, Gito terhenti melangkahkan kakinya setelah lima orang menghalangi tepat di hadapannya. Mereka kemudian terlibat dalam satu perbincangan. Setelah beberapa saat, mereka kemudian memutuskan kembali ke arah pasar, rupanya toko jamu yang mereka tuju.

Mereka sesekali tertawa keras, mengisi gelas yang terasa selalu kosong karena disambut oleh tegukan tanpa ragu. Baru ketika Rengganis yang sedari sore mencari-cari Gito menghampiri kerumunan, mereka terhenti sejenak.

“Kang pulang! sudah malam. Nanti istri dan anakmu nyari.” Suara Rengganis terasa menyusup di antara kelam malam. Angin terasa mengendap di sepanjang jalan.

Gito melirik, matanya sudah tak sempurna menangkap wajah siapa yang dilihatnya. Bayang-bayang perempuan itu terasa bercabang.

“Eh, Ganis. Akang mau ke kost kamu saja, ah.”

“Jangan, sebaiknya pulang saja!” Rengganis wajahnya sedikit cemas. Lima kawanan yang juga ikut memerhatikan, menelisik ke seluruh lekuk tubuhnya. Karena kesal, Rengganis pergi meninggalkan tanpa memedulikan lagi.

“Gito, siapa itu? Cantik sekali.” Seseorang bertanya pada Gito yang masih mematung memandang Rengganis pergi.

“Dia kekasihku. Dia adalah mata air di hidupku yang gersang.” Gito menjawab dengan tawanya yang renyah. Seperti sedang ngelantur. Dan kemudian mereka semakin terbenam ditangkup malam.

***

Rengganis sebenarnya tak seperti yang sering dibicarakan kebanyakan orang. Dia perempuan pekerja yang ulet dan tak gampang menyerah. Hatinya lembut, perhatian pada setiap orang. Ramah dan murah senyum, rupanya membuat dirinya jadi dicurigai banyak orang.

Dia hampir dikatakan tak punya teman, kesibukannya menjaga toko kue dan makanan di pasar membuat dirinya lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja. Dia hanya mempunyai kekasih, yaitu Gito. Rengganis tahu, Gito sudah mempunyai istri. Bukan sekali dua kali dia menolak ajakan untuk menjalin hubungan gelap dengan Gito. Namun berawal dari ancaman Gito sampai akhirnya Rengganis pun terbawa menikmatinya. Mereka saling sulang merayakan buaian kisah cinta yang menggairahkan. Setiap sore, Gito menyempatkan waktunya ke indekos Rengganis di ujung jalan menuju pasar, seberang kantor kecamatan. Tentu sehabis mandi di WC umum, Gito selalu datang dengan sekotak martabak dan sekantung gorengan hangat.

“Kang, silakan masuk,” suara Ganis lembut menyambut, suatu ketika Gito tiba menjelang malam. Di setengah pintu yang terbuka, Gito mengecup pipi Ganis. Sebelum akhirnya, mereka saling rangkul dan berpelukan cukup lama. Mereka bermuara di atas kasur yang tergeletak di lantai sudut kamar. Bergumul sampai melupakan waktu yang begitu saja lewat di sampingnya.

***

Upacara pemakaman pun selesai setelah Ustaz Gufron membacakan doa terakhir bagi Gito. Orang-orang mulai bergegas meninggalkan gundukan tanah yang baru saja di tancapkan kayu sebagai nisan. Taburan bunga dan kucuran air sebagai tanda bakti dari keluarga yang ditinggalkan telah selesai. Orang-orang dengan rasa pura-pura menyampaikan kembali rasa belasungkawa pada istri Gito.

Istrinya kemudian mengucurkan kembali air mata, setelah merasa dirinyalah sendiri yang tersisa di permakaman. Sambil meratapi, ia kemudian berbisik pelan dalam keheningan.

?Kang sudah saya maafkan semua kesalahan dan kurelakan kepergian. Akang bisa pergi dengan tenang.? Istrinya beranjak dari makam suaminya. Dengan tak henti-henti isak tangis menyela setiap langkahnya.

Hingga akhirnya istrinya menghilang dari pandangan Ganis yang sedari tadi memerhatikan. Baru Ganis pun berani melangkahkan kaki kesepiannya, menghampiri makam. Lantas, seakan-akan ia pun menuntaskan rasa kehilangan, Ganis meratapi sekencang-kencangnya tepat persis di samping makam.

“Akang sayang, maafkan aku. Semua ini hanyalah gara-garaku.” Ganis seolah-olah sedang menumpahkan penyesalan. Dengan mata yang tiada henti mengalirkan air mata.

“Tahukah Kang, orang-orang kini menganggap aku seorang pelacur? Tapi sudahlah itu tak penting lagi.” Rengganis seperti ingin menyampaikan isi hatinya. Tak tertahankan lagi, Ganis meratap sambil suara tangisnya tak terdengar.

“Mudah-mudahan Akang bisa pergi dengan tenang. Meski sekarang, Ganis tak tahu lagi dengan siapa harus berbagi kesepian.” Lantas ia menaburkan bunga yang dari tadi dibawanya dalam keranjang, tepat di atas makam kekasihnya.

Keluarga dan para warga yang menghadiri pemakaman Gito siang itu mempunyai pikiran yang sama. Di bawah terik matahari yang tiada ampun menyengati ubun-ubun kepala, mereka menggerutu dan menyumpahi perbuatan Gito. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah mereka masing-masing. Di dalam hati, mereka mencibir dan diam-diam bersyukur atas kepergian Gito. ?Mudah-mudahan dijauhkan, harus mati gara-gara rebutan seorang pelacur,? lirih hati mereka.

(Bandung, Maret 2010)

Faisal Syahreza, lahir di Cianjur, 3 Mei 1987. Karya Sekretaris Komite Sastra Dewan Kesenian Cianjur ini tergabung dalam berbagai antologi bersama. Berkali-kali memenangkan sayembara sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *