Puisi-Puisi Imron Tohari

Se-siapa

Jaka, malam gulita bulan memancar
berkayuh sampan di telaga bening
adakah salah hati bersandar
pada ikrar di sudut kerling

Duhai engkau dara remaja
gerangan apa yang kau rasa
hingga asa terejam binasa
terkubur hasrat gundah merana

Duhai jejaka pelipur lara
bagaimana hati tak gulana
saat asmara memekar bunga
pahit lidah merusak paksa

Dara, ada asap karena api
kalau saja nafsu terkendali
bilakah itu akan terjadi
pada asmara suci berseri

Jaka,sedih luka kuratapi diri
langit berjelaga hujan berlari
pada sesiapa aku menanti
ini hari ku harus kembali

2009

MANIKAM

Kala masa datang menyapa
Asa cinta seterang suria
Mengikat janji sepenuh segala
Seia sekata mestitah terjaga

Dalam rampaian puji puja
Kupu dan bunga berkecup mesra
Mematri rasa asmara bergelora
A ha, inginnya hidup sepanjang masa

Tapi!, bila cinta pergi menepi
Aiai, lara nian sesali diri
Sedih pilu bersulam sepi
Debar jantung tergetar nyeri

Apatah kini segala arti
Yang terjadi tak guna disesali
Hendaknya insan kian sadari
Ujian hidup: pada ketabahan hati

2009

TEPAS

BERSAMA kekasih saling bercerita
Tentang rindang pohon cinta
Segala ada indah dipuja
Terbuai syahdu manisnya kata

Cinta o cinta, bila luka
Gejolak asmara percikkan prahara
Menista kekasih tiada berjiwa
layuh rindu, hujat kala

Duhai Tuhan Khalikul alam
Kenapa sebab Kau sulam cinta
Bila tercerai mesti mendendam

O waktu o, lestari jua
Suka derita adanya ketetapan

Bila luka
Mabuklah anggur Ulul Azmi

2009

layuh = lumpuh
3tepas n arah (penjuru, batas)

Istiqomah Dalam Cinta

Terjal berliku ujian cinta
Kuharap hati tiada layu
Biar rasa sakit di jiwa
Kuanggap sebagai batu ujianku

Dalam kumbangan madu cekat
Gelora asmara terkungkung sekat
Tiada lagi nada kasih
Yang dulu terdengar indah

Kini airmata berderaiderai
Harap tersisa di cawan bestari
Istiqomah dalam kedalaman nurani
Bermohon pada Illaihi Robbi

Pada satu mushaf suci
Tertabur segala doa surgawi
Terlebur dendam dan benci
Semata adanya ridho Illahi

2009

Nyanyian Pelangi

Berlatar indah warna mejikuhibiniu
Kupeluk mesra hangat tubuhmu
Oh,merah mu tersipu malu
Kala keningmu kukecup syahdu

Lembut nafas menyatu seirama
Berbagi cerita indahnya dunia
Gembira hati bersama pujaan
Jiwa melayang serasa ke awan

Bergandeng tangan riang gembira
Merampai asa taburkan cinta
Saat hati bertaut asmara
Indah dunia penuh makna

Haru menitik airmatamu, dara
Larut luruh di cawan hati
Kulaung Dewa berkidung asmaradahana
Bertali kasih seindah pelangi

2009

Duhai

Awal bersua dara jelita
Meluah rasa bahagia semata
Jiwa jiwa menembang asmara
Bercarita dewa dewi swargaloka

Hamba lihat membatas cakrawala
Bahana petir merejam gulana
Kulepas dara terbawa bayu
Sepuluh jari melambai kaku

Duhai engkau, Tuhan Sang Kholiq

Kenapa jua kau cipta duka
Saat asmara merenda suka
Kau belah jiwa tersembilu rasa

Pada kekasih nun jauh di mata
Surya berkabut berselendang mega
Menggumpal awan legam mustika
Kurentang gendewa, kupupus nestapa

Pada Tuhan segala abadi
Ku petakpetak rasa gulana
Ku suluh kenang, ada segala

: Di kanvas langit kutitip bianglala

2009

Wangi Kesturi

Harum bunga di taman sepi
Tidak rugi setia pada janji
Bila hati mesti menanti
Pastikan diri tahan diuji

Biar dia tak kunjung datang
Jangan pupus dirundung malang
Esok menjelang bisa kau ulang
Semai benih untuk tersayang

Oo,wangi asmara laksana bunga
Terbawa terbang ke batas nirwana
Lembut mengalun menggurat sayang
Membuai jiwa melayang layang

Oo, penuang anggur-anggur cinta
Kaul perindu rapuh kaca
Mabuknya aulia mencari anasir
Sauk sair berkaca sair

2009

# sauk: keluh; erang; keluh dan tangis

Samsara Dalam Cinta

Bersembunyi keajaiban di ilalang yang diam, pasrah
Tiada bening getah menawarkan apapun lagi
Kecuali sayat tajam ilalang pada degupdegup hati
Hingga darah mengucur,nurani masih berkata: hikmah

Ilalang adalah ilalang, angin itu pejalan alam, mematik: nada
Jangan berharap desau membuat ilalang bersiul
Ah, ambil ilalang itu, biar gemetar bibir menyiul kekal
Bila tidak sumbang, pertanda kematian bereinkarnasi pada (r)asa

Kala ilalang menjadi roh aksara pujangga
Duka; lara, suka; cita, menjelma berlaksa bait
Ah, makan ilalang itu, bila semanis nira, berarti sajak: surga

Sudah berhenti berkatakata
Bakar ilalangilalang itu,kala masa memberi tumbuh
Pertanda bumi masih berputar pada porosnya

2009

Dikulum rindu

Seruling bambu alunkan nada
Menyisir ilalang melambai sendu
Diantara penggembala puluhan domba
Seruling mengalun merdu mendayu

Oh angin khatulistiwa merayu
Mencubit manja dewi lestari
Merias diri di alam ilusi
Pikirku tertawan di cawan rindu

Duhai yang membelah jiwa
Pisau senyummu guratkan aksara
Jantung pun berdegub laksana lonceng
Terbawa terbang angan melayang

Pada jemari hasrat bersuka
Meliuk, menghampar, titian asmara
Berlapis madu bertaring empedu
Bersolek aku pada yang Empu

2008

Terali Hati

Kala cinta mendayu dayu
Hitam putih melebur abu
Saat cinta terbakar nafsu
Petuah kata jadi sembilu

Rapat merapat cinta membenam
Bertemu pandang bertaut senyum
Lupa waktu merangkak malam
Bunda di rumah di ujung kelam

Memang bukan jaman nurbaya
Iringi cinta dengan rebana
Namun apa arti asmara
Syurga sesaat di pintu neraka

Bulan indah saat purnama
Kanan kiri bintang kejora
Indah sempurna gita asmara
Sahwat terbina sentosalah jiwa

2008

Sair Cinta

Dari Jogja sampai di Bombai
Sepanjang itu cerita cinta teruntai
Merajuk suka lara hati
Hanyalah bunga rampainya hati

Bila diri masih cinta
Kenapa peduli akan lara
Bukankah cinta lara adanya
Menggoda insan mereka-reka

Saat bibir terkecup mesra
Debar hati genderang asmara
Berpeluh-peluh cinta mendahaga
Tiada sempat berpikir derita

Tidaklah jiwa akan bertanya
Hangat nafas kian bergelora
Meliuk, meradang, berlaksa rasa
Ciptakan jalan rindu menyiksa

Jangan, janganlah engkau menangis
Kala cinta hanyut terkikis
Bagaimana nanti kembali melukis
Sedang warna di kanvas kian menipis

Tidakkah ingat pernah kau kata
Beragam coba asa terbina
Tiada peduli bara mendera

Kekuatan cinta padamkan apinya

2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *