Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

PERTEMPURAN

kakikakimu pelahan melangkah
miris aku memandang hak sepatumu
semakin dekat semakin terlihat runcing
terbayang injakan yang menikam
lantai seperti berdetak suaranya teratur
seolah isyarat kemarau kepada rerumputan
angin kepada awan matahari kepada bunga

ah tidak ini lebih menyerupai kaki macan
saat mendekati anak menjangan
atau lebih tepatnya sebuah ancaman
dari naluri bertahan yang manaklukan

penuh waspada dengan sifatsifat binatang
dan malaikat yang saling mengutuk

barangkali hanya tak mau berhutang
sekalipun cuma sebiji bakal termungkinkan
tumbuh sebagai pohon besar
yang aroma daundaunnya
dapat terhirup dari jarak puluhan kilometer
meski udara bersih yang melegakan nafas
betapapun memang harus dibayar lunas

nyaris empat dekade yang siasia
bagaimana memahami janji yang pernah
terucap bersama pecah tangisan bayi
saat dilahirkan dari rahim suci

maka semesta adalah jejaring raksasa
bumi matahari dan rembulan
gugusan bintang hingga partikel cahaya
dan tiap makhluk yang bernafas di dalamnya
saling terkait dalam hidup yang maha luas
lantas apa yang mesti ditakutkan
kau aku tak lagi menunggu kematian
kerna semua adalah kepastian
dari kesadaran atas persaksian diri
melalui kehendak yang mesti diperjuangkan

14.03.2010

TERSERAH

kau tak mukim di neraka
pasti juga tidak di surga

tuhan jika boleh
ijinkan aku tak memilih keduanya

tapi akh terserah kau saja

12.03.2010

KUPUKUPU MATI DALAM TIDURKU

sementara di halaman depan
orang sibuk dengan pesta perkawinan
sejarak lima rumah sebuah keranda
siap diberangkatkan

isyarat apa entah
yang mestinya disampaikan
masih saja ada yang tersisa
selalu mengintai menunggu kita lupa

setelah menghisap madu
kupukupu jantan mati di pangkuan

seperti dongeng
yang menyelinap saat kita tidur nyenyak

saat malam di sepertiga akhir
mimpi tinggallah mimpi
berkelebatan tak pernah mampir
kau aku sepadan tanpa akal tanpa pikir

tanpa rasa
tak memiliki apaapa

11.03.2010

PERBINCANGAN BERHENTI

tiap kali tiba
pada perbincangan
tentang bahasa hujan kepada bumi

ada yang mendadak
keras berteriak
mulutmu
membuat telingaku tuli

boleh jadi
Mulut Telinga adalah arah
dari dan ke mana suara pergi

tapi kata hati
yang kau bilang seringkali menjelma kangen
nyaris selalu terselip di kelopak mata
yang pandangnya mempedaya
dan binarnya sungguh dusta

biar saja jika kemudian Mereka
saling mengaku lebih dulu memiliki
kerna aku tak lagi peduli

siapa yang paling sunyi

06.03.2010

SAMASAMA SEPERAHU

di atas perahu yang entah mau ke mana
udara diam laut tenang
tak ada kibar layar juga rambutmu
yang setahun ini kau biarkan memanjang

saat dayung tak cukup luas
untuk sebuah kayuh sekali rengkuh
seperti ada yang membungkam mercusuar
meski setitik nyala tak kepengin padam

pelayaran pada laut hitam
pelayaran pada seluruh malam

segenap penjuru adalah kenyataan arah
ke mana lalu yang bakal dituju
bahkan pantai terjalpun tak jua ketemu

setelah kepak sayapnya yang satudua
terlalu lelah mengingat letak daratan
seekor camar ikut menumpang

kepadanya kau hanya teman seperjalanan
mulai tergoda saling meneggelamkan

04.03.2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *