Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

MENIPU KALBU

kaukah itu yang mengerak
terpedaya pada torehan di sayapsayap perak
yang kau sangka sebagai syair dan sajak

bukan sayang, sama sekali bukan

ungkapan itu bukan lahir dari kalbu
ia hanyalah pergerakan akal yang menipu
betapapun mungkin telah dapat menetaskan rindu
kepada yang selama ini bikin tentram sekaligus ngilu

begitu halus
tak terasa mengelus segenap indera
yang mulai pupus perlahanlahan

kian menjauhkan jarak antara hidup dan mati
padahal hanya butuh di satu titik untuk berhenti

: kau, di rasa memati

desember 2008

MUSIM MULAI SALAH

kamilah sepasang iblis
cantik tampan meliukliar di atas altar
bernyanyinyanyi di tiap mimbar
yang purapura tersipu
saat para pengkhotbah menyingkap
rok mini yang mereka kenakan

matahari yang layu
peradaban yang mabuk
inilah kerja otak dan pemahaman akal

para lelaki membiarkan bakal keturunannya mati
jauh sebelum mereka memilih dilahirkan
sisanya yang tak sengaja menemukan jalan
terbunuh oleh para perempuan
yang entah kekasih entah istri para tuan

tibatiba mual perut mulas
pengin muntah sekaligus berak
tapi mendadak lenyap semua tempat yang pantas

sepertinya ada yang salah dengan musim dan cuaca
di tiap helaan nafas yang kian bekarat
kemarau penghujan rapat bergantian
airmata mulai merah warnanya
mulai terasa manis mulai bikin miris

dan birahipun tak terbendung
saat sepotong rembulan ikut nimbrung
padahal malammalam sesudahnya ia melengkung
seperti perahu tanpa layar tanpa dayung

di atasnya kini kami terombangambing
tak tahu lagi menjadi apa atau siapa

16.05.2010

TERKUTUKLAH MALAM

kulit mulai menghitam
begitulah jejak siang
tegas menggemuruh
deru segala rupa mesin
dan bising jual beli
masih terngiang
lalu pelahan menghilang

pandang mata
dan langkah kaki tetap setia
ke arah matahari
yang merindukan bumi

aku sudah tak melihatmu
engkau yang telah bosan
atau mungkin kerna senja
mengaburkan pandang

memang sudah tak tertahan
kangen kepada riuhnya sunyi
yang membuat hati betah
mukim di sini
di detak nadi yang bernyanyi
tentang noktah
tentang setitik cahaya
yang bergegas ke asal mula

tidakkah kau lihat
makin lama makin dalam
makin tenggelam
ke puncak malam
yang dikutuk rembulan
dan bintangbintang

09.05.2010

MENJEMUR CUCIAN

ia tertawa mulutnya bergerak
merapal mantra sekenanya
dan lelaki tua kepalanya mengangguk
aku di antara keduanya
terjadilah kehendak atas kehendak

lalu angin bertiup kencang
hujanpun menderas
dan tanah dan rumput dan wajah
basah oleh segala yang cair
yang bergelombang
yang bikin ngilu tulangtulang

seperti saat menjemur baju
celana dalam dan kutang
selain air sabun dan anyaman benang
ada yang menguap ikut mengering
keringat dan air mata
juga lendir tubuh lainnya

sudah lama bukan kita tak butuh doa
kata si datuk utara tanpa tertawa
meninggalkanku terpaku
melihat laku si anak dewa

08.05.2010

DI SEBUAH TEMPAT
SAAT JAUH DARI RUMAH

dari seberang aku melihat kecemasan
adalah korek api saat memandang
wajah renta yang lelah dengan peradaban

lelaki mulutnya terselip sebatang rokok
tak peduli terus memantik
sementara tanpa disadari di sampingnya
belasan jerigen bensin menyeringai

akankah kali ini tetap menyala

semalam matamu gagal membakar tubuh
yang telah basah oleh keringat dingin
meski seluruh kamar pekat oleh nafas
dan ranjang telah bosan
menjadi sekedar tempat untuk tiduran

pejamkan mata sayang pejamkan
sampailah di batas ambang kesadaran

selain kecemasan tak ada yang memuncak

setelah sekali menghisap rokok
dan mengantongi korek apinya
lelaki renta melangkah entah ke mana

di sini secangkir kopi resah sendiri
saat aku berdiri dan beranjak pergi

02.05.2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *