Lelaki Dan Air Mata
Kugenggam erat tangan ibu
lemas tubuh di bale-bale
menangis adik penuh segala
o, ibu
kubayang mega suria menepi
adanya ibu tangis kusimpan
kututup rapat pada ajaran
tabah tawakal berpintu surga
o, ibu
durinya hati ku takut masa
pamali nak lelaki sedu sedan
dulu serumpun memantik ilmu
jeda mag’rib nyanyikan lagu bulan
tetangga kumpul merangkai zikir
o, ibu
digelut zaman ku fakir ilmu
mencari arah, di arah-arah
benar salah saling menujah
o, ibu
digerus umur ku rindu Tuhan
2008
Cerita Pohon Kamboja
Setia berdiri di ujung sepi
Pagi siang malam sepi
Bahkan burung hantu pun menepi
Hanya wangi bunga mengiris ngeri
Sekali datang berderap kaki
Beriring tangis mengiris nyali
Tubuh pohon bisu terpatri
Di antara lubang yang tergali
Derap kaki melangkah pergi
Tinggalkan dia sepi sendiri
Dalam tanah taburan melati
Menunggu tanya terjawab pasti
Sepi bisu ciutkan nyali
Wangi bunga tersaput ngeri
Bila kini aku mengerti
Hidup sekali harus berarti
2008
Aku dan Kamu
Terbang setinggi burung melayang
bernyanyi suka berdecak kenang
bertatap-tatap, o, hati riang
selayang sayang kasih terbentang
Kulambai tangan kutatap dunia
bersama pujaan ciptakan suka
berharap harap asa rasa sejiwa
melantun tembang asmaradahana
Duhai jelita bibir delima
terbuai aku sepenuh segala
kutabuh asmara
berdetam—bergelora
aku
kamu
jatuh cinta
2008
Jangan Dikira Aku Perempuan Bego
Kisah mula pertemuan di toko
Kau dekati aku dengan wajah melo
Bertutur lembut ala romeo
Membuatku melayang ribuan kilo
Oh, aku terharu kau beri kado
membuatku melongo berkata lho
Tapi disayang cintamu cinta libido
aku terhenyak saat tahu dirimu gigolo
Ini rasa bagai suara sumbang piano
Jadi jangan kau kira aku bego
Bisa kau permainkan seperti burung beo
Temaram senja berteman radio
Kudengar lagu bengawan solo
Itulah kenanganku di kota Solo
Kala diriku berstatus jomblo
2008
Tobat
Buta jiwa tanpa penghulu
Terejam binasa aib kupangku
Melipat lidah unjungnya sembilu
Nikmat kurasa terkumur dosa
Timang-timang bertuah kata
Beruluk salam meruah bara
Menumpuk-numpuk berkah fana
Gelap sepetak jadilah siksa
Gadai iman demi harta
Niat sembayang tinggallah bayang
Luas benar pintu neraka
Pintunya surga sempit kupandang
Duhai Tuhan jauh sesatku
Syukur nikmatMu kusekap nafsu
Timpakan duka sebelum azalku
Biar kurasa jalan tobatku
2008
Di Pusara Cinta
Aku masih di sini
Di antara puing-puing hati
Kupaksa diri tuk bernyanyi
tak selamanya cinta hilang menepi
Air mata o airmata, lajulah berderai
Biar hangatnya kuresapi
Hingga kupahami segala terjadi
Aku masih disini
Di antara puing-puing hati
Merenda syukur dengan duri
Tuhan, ternyata aku belum mati
2008
Hikayat Kelana
Adalah kisah seorang kelana
Tinggalkan desa muda usia
Merantau ke hulu seberang samudra
mencari tiara segala asa
Kelana muda tinggalkan desa
Desa kecil damai sentosa
Membawa kenangan berlaksa rasa
kala suka-suka dengan teman sebaya
musim terus silih berganti
Berpuluh purnama pun merencah jiwa
Kecamuk rindu kelana di rantau
Tergurat kenang burung yang kicau
Kelana berkemas sepenuh semangat
Tak lupa bawa upah keringat
Oleh-oleh juga tak luput
membayangkan senyum sanak kerabat
Namun apa hendak dikata
Sesampai kelana tiba di desa
Sanak kerabat tiada bersua
Teman sebaya pun sirna pula
Bingung kelana tanya sesiapa
Tentang desa damai tercinta
kenapa kini berubah rupa
kanan kiri asing di mata
Itulah kisah kelana muda
Pergi merantau tinggalkan desa
Kumpulkan harta terbuai lupa
Hilang sodara juga
Kawahanan rentas merana
2008
Cermin yang Retak
Tindih menindih saling berpaut
Pedih tersembilu di sudut kelu
Tatas merentas doa kusebut
beribu kata tersekat membisu
Duhai Tuan apalah sebab?
Jiwa Negeriku hancur terburai
Airmata juga deras merinai
Mengajak bulan bertudung sepi
Lihat Tuan debu mengabu
tanpa sungkan melabur terang
Jadilah sulit memilah sirupa jalang
Juang lara pun resah bergelimpang
Inikah tanda hujah* imanku
Luruh meretak cerminan rupa
Gelap kupandang cermin akhlakku
Benar salah mengalir tak bermuara
2008
Mihrab Di Kening Kekasih
Saat kurangkai sair puisi
Tidak cukup samudra airmata
Untuk ceritakan hujah cinta
Melebur dalam pertalian jiwa
Kala kasih bermunajat
Syahdu, o, syahdu bait syurgawi
Di antara leluka jiwa nan landai
Ada harap benih di rahim suci
O,bayu di altar asmara
Semilirmu hempaskan lara
Bagaikan buluh perindu di awal muara
Ritus doa adanya pembasuh nestapa
Hingga lalu segala ada
Memercik wangi aroma kesturi
Menyatu pada liatnya tanah syurgawi
Pada satu tiupan
Pembuat Cinta
9 November 2009
Ku-temukan Cinta Di Titik 0
.
Bila cinta menjelma
dengup jantung tiada terkira
gelora cinta melebur sukma
hati gembira tiada terkata
Bila cinta bersayap asmara
bunga berduri tiada tampak di mata
semua indah semua tiada cela
Tapi jangan tanya asmara nestapa
gemeretak tulang lepas di raga
gelap terasa gelora di jiwa
pikiran resah juga
tiada henti mulut meracau
Tuhan
Tolong aku
2008
Nah, Lho
Cinta ala tarian poco-poco
Kadang liar bak rodeo
Demi puaskan namanya libido
Satu cinta, dibilang kuno
A ha, ingat petuah Joyo Boyo
Nafsu shahwat, orang pintar bisa jadi keseleo
Politisi,Publik figur, bahkan dibuat melongo
Lihat siseksi bibirnya membentuk huruf O
Ai ai, soal kerjaan bisanya membeo
Pening kepala pikiran porno
Berdalih siri,nyatanya kumpul kebo
Para ulama pun hanya bisa bilang lho
Ini sajak bukan torpedo
Sengaja dibuat berakhiran O
Bila tersindir jangan berlagak bego
Tobat nasuha mohonlah Ridho
2008
Langit Merah Saga
Saat langit merah saga
Nafsu meraja membakar jiwa
Belas kasih tiada tersisa
Terejam segala angkara durjana
Di antara kemerlap dunia,rentan
Ribuan cawan cinta berserakan
Meretak, pecah; terinjak kesesatan
Bersulang api memuja setan
Demi mengejar ambisi
Mata hati terpejam mati
Akidah iman dianggap duri
Tiada segan dikorbankan jadi sesaji
Langit merah saga membara
Matahari menjilat ganas jiwa nestapa
Dan engkau di sana
Inginku bersama—
membenam dalam beningnya doa
2009
