Sajak-Sajak Imron Tohari

Lelaki Dan Air Mata

Kugenggam erat tangan ibu
lemas tubuh di bale-bale
menangis adik penuh segala

o, ibu
kubayang mega suria menepi

adanya ibu tangis kusimpan
kututup rapat pada ajaran
tabah tawakal berpintu surga

o, ibu
durinya hati ku takut masa

pamali nak lelaki sedu sedan
dulu serumpun memantik ilmu
jeda mag’rib nyanyikan lagu bulan
tetangga kumpul merangkai zikir

o, ibu
digelut zaman ku fakir ilmu
mencari arah, di arah-arah
benar salah saling menujah

o, ibu
digerus umur ku rindu Tuhan

2008

Cerita Pohon Kamboja

Setia berdiri di ujung sepi
Pagi siang malam sepi
Bahkan burung hantu pun menepi
Hanya wangi bunga mengiris ngeri

Sekali datang berderap kaki
Beriring tangis mengiris nyali
Tubuh pohon bisu terpatri
Di antara lubang yang tergali

Derap kaki melangkah pergi
Tinggalkan dia sepi sendiri
Dalam tanah taburan melati
Menunggu tanya terjawab pasti

Sepi bisu ciutkan nyali
Wangi bunga tersaput ngeri
Bila kini aku mengerti
Hidup sekali harus berarti

2008

Aku dan Kamu

Terbang setinggi burung melayang
bernyanyi suka berdecak kenang
bertatap-tatap, o, hati riang
selayang sayang kasih terbentang

Kulambai tangan kutatap dunia
bersama pujaan ciptakan suka
berharap harap asa rasa sejiwa
melantun tembang asmaradahana

Duhai jelita bibir delima
terbuai aku sepenuh segala
kutabuh asmara
berdetam—bergelora

aku
kamu
jatuh cinta

2008

Jangan Dikira Aku Perempuan Bego

Kisah mula pertemuan di toko
Kau dekati aku dengan wajah melo
Bertutur lembut ala romeo
Membuatku melayang ribuan kilo

Oh, aku terharu kau beri kado
membuatku melongo berkata lho

Tapi disayang cintamu cinta libido
aku terhenyak saat tahu dirimu gigolo

Ini rasa bagai suara sumbang piano
Jadi jangan kau kira aku bego
Bisa kau permainkan seperti burung beo

Temaram senja berteman radio
Kudengar lagu bengawan solo
Itulah kenanganku di kota Solo
Kala diriku berstatus jomblo

2008

Tobat

Buta jiwa tanpa penghulu
Terejam binasa aib kupangku
Melipat lidah unjungnya sembilu
Nikmat kurasa terkumur dosa

Timang-timang bertuah kata
Beruluk salam meruah bara
Menumpuk-numpuk berkah fana
Gelap sepetak jadilah siksa

Gadai iman demi harta
Niat sembayang tinggallah bayang
Luas benar pintu neraka
Pintunya surga sempit kupandang

Duhai Tuhan jauh sesatku
Syukur nikmatMu kusekap nafsu
Timpakan duka sebelum azalku
Biar kurasa jalan tobatku

2008

Di Pusara Cinta

Aku masih di sini
Di antara puing-puing hati

Kupaksa diri tuk bernyanyi
tak selamanya cinta hilang menepi

Air mata o airmata, lajulah berderai
Biar hangatnya kuresapi
Hingga kupahami segala terjadi

Aku masih disini
Di antara puing-puing hati
Merenda syukur dengan duri

Tuhan, ternyata aku belum mati

2008

Hikayat Kelana

Adalah kisah seorang kelana
Tinggalkan desa muda usia
Merantau ke hulu seberang samudra
mencari tiara segala asa

Kelana muda tinggalkan desa
Desa kecil damai sentosa
Membawa kenangan berlaksa rasa
kala suka-suka dengan teman sebaya

musim terus silih berganti
Berpuluh purnama pun merencah jiwa
Kecamuk rindu kelana di rantau
Tergurat kenang burung yang kicau

Kelana berkemas sepenuh semangat
Tak lupa bawa upah keringat
Oleh-oleh juga tak luput
membayangkan senyum sanak kerabat

Namun apa hendak dikata
Sesampai kelana tiba di desa
Sanak kerabat tiada bersua
Teman sebaya pun sirna pula

Bingung kelana tanya sesiapa
Tentang desa damai tercinta
kenapa kini berubah rupa
kanan kiri asing di mata

Itulah kisah kelana muda
Pergi merantau tinggalkan desa
Kumpulkan harta terbuai lupa
Hilang sodara juga
Kawahanan rentas merana

2008

Cermin yang Retak

Tindih menindih saling berpaut
Pedih tersembilu di sudut kelu
Tatas merentas doa kusebut
beribu kata tersekat membisu

Duhai Tuan apalah sebab?

Jiwa Negeriku hancur terburai
Airmata juga deras merinai
Mengajak bulan bertudung sepi

Lihat Tuan debu mengabu
tanpa sungkan melabur terang
Jadilah sulit memilah sirupa jalang
Juang lara pun resah bergelimpang

Inikah tanda hujah* imanku
Luruh meretak cerminan rupa
Gelap kupandang cermin akhlakku
Benar salah mengalir tak bermuara

2008

Mihrab Di Kening Kekasih

Saat kurangkai sair puisi
Tidak cukup samudra airmata
Untuk ceritakan hujah cinta
Melebur dalam pertalian jiwa

Kala kasih bermunajat
Syahdu, o, syahdu bait syurgawi
Di antara leluka jiwa nan landai
Ada harap benih di rahim suci

O,bayu di altar asmara
Semilirmu hempaskan lara
Bagaikan buluh perindu di awal muara
Ritus doa adanya pembasuh nestapa

Hingga lalu segala ada
Memercik wangi aroma kesturi
Menyatu pada liatnya tanah syurgawi

Pada satu tiupan
Pembuat Cinta

9 November 2009

Ku-temukan Cinta Di Titik 0
.
Bila cinta menjelma
dengup jantung tiada terkira
gelora cinta melebur sukma
hati gembira tiada terkata

Bila cinta bersayap asmara
bunga berduri tiada tampak di mata
semua indah semua tiada cela

Tapi jangan tanya asmara nestapa
gemeretak tulang lepas di raga
gelap terasa gelora di jiwa
pikiran resah juga
tiada henti mulut meracau

Tuhan
Tolong aku

2008

Nah, Lho

Cinta ala tarian poco-poco
Kadang liar bak rodeo
Demi puaskan namanya libido
Satu cinta, dibilang kuno

A ha, ingat petuah Joyo Boyo
Nafsu shahwat, orang pintar bisa jadi keseleo
Politisi,Publik figur, bahkan dibuat melongo
Lihat siseksi bibirnya membentuk huruf O

Ai ai, soal kerjaan bisanya membeo
Pening kepala pikiran porno
Berdalih siri,nyatanya kumpul kebo
Para ulama pun hanya bisa bilang lho

Ini sajak bukan torpedo
Sengaja dibuat berakhiran O
Bila tersindir jangan berlagak bego
Tobat nasuha mohonlah Ridho

2008

Langit Merah Saga

Saat langit merah saga
Nafsu meraja membakar jiwa
Belas kasih tiada tersisa
Terejam segala angkara durjana

Di antara kemerlap dunia,rentan
Ribuan cawan cinta berserakan
Meretak, pecah; terinjak kesesatan
Bersulang api memuja setan

Demi mengejar ambisi
Mata hati terpejam mati
Akidah iman dianggap duri
Tiada segan dikorbankan jadi sesaji

Langit merah saga membara
Matahari menjilat ganas jiwa nestapa
Dan engkau di sana

Inginku bersama—
membenam dalam beningnya doa

2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *