Sajak-Sajak Mardi Luhung

PACINAN

Hanya ada lanskap: sebuah warung rujak. Pesanggrahan yang disanggah pilar kokoh. Pintu-pintunya terkunci. Gudang beras apak. Jajaran beringin. Dan kengerian yang kerap timbul ketika bulan purnama melintas. Selebihnya: tak ada jisim. Tak ada kuncir dipotong. Dan tak ada sepasang kupu-kupu yang selalu terbang di atas bong. Kupu-kupu yang bertelur di kitab yang dilisankan di pinggir kelenteng.

Sebab pagi itu: laut di belakang menggeram. Jukung ditiris. Seseorang memukul kentongan. Ikan-ikan pun menyembul: ?Hai, hai, boleh dilihat, tak boleh dipukat!? Dan di punggung ikan-ikan itu ada garis. Putih menyala. Katanya: ?Dulu, si naga sipit telah menitipkan jalur kapalnya di situ. Tapi, sayang, malah tersesat. Menabrak karang. Menangis. Jadi pulau!? Ya, ya, Pulau Menangis dengan mata semakin sipit.

Dan saat pulang: langit pun tertutup perada. Geraknya dihitung simpoa. Dan sebuah kecapi di petik persik. Persik yang seliat giok. Tapi sekejap. Kemudian tersedot ke atap surau. Dari seribu surau yang bertaburan: ?Bunda yang manislah yang telah mengajar si kanak mengaji di surau. Sebab, si bapak merantau ke negeri ringgit. Negeri para pantun dan datuk!?

Lalu malamnya: sambil minum air mineral. Seorang lelaki tua berwajah lokal. Tanpa senyum. Berjalan di bukit. Di belakangnya biji-biji lembayung berbaris. Mengekor panjang. Meliuk seperti liukan ular. Dan dari kejauhan, siapa saja pasti bertanya: ?Itu pagebluk atau seluk-beluk pulung?? Memang, ada yang selalu tak terlihat di porselin Ming. Yang remukannya terpungut diam-diam. Dari pesanggrahan tadi pagi.

(Gresik, 2007)

KETAM

Jika bapakmu berani bermain-main di luaran,
bundamu pasti menyiapkan sepucuk gunting.
?Sepucuk gunting?? Untuk apa? Diamlah!
Hanya bundamu yang tahu cara mengenal
gunting. Termasuk cara menggunting dan
menjahitnya balik.

Dan paginya, sambil minum kopi dan mengernyit,
bapakmu berujar: ?Ternyata, semalam bundamu
begitu luar biasa,? Begitu telah membawa semaket
kapal. Yang punya pintu tak terhitung. Yang
kamar-kamarnya begitu benderang.

Dan di antara kamar itu, bundamu sibuk
menggunting dan menjahit balik perut bapakmu.
Seperti perajin yang cakap, bundamu pun
menaburkan benih matang. Doanya:
?Aku ingin benih ini tumbuh di perutmu: lelaki.
Seperti kau tumbuhkan benih di perutku:
perut perempuan!?

Jadinya, seperti pantai, perut bapakmu akan penuh
dengan bakau. Bakau yang saling berjalin. Dan saling
menyiapkan diri untuk segera ditebang dan dilelang.
Seperti ketika dulu para pendatang menebang
dan melelang setiap yang ada. Dengan hasutan meliuk.

Sambil sesekali bercerita tentang kisah yang
dibakar. Kisah yang di tengahnya, setiap yang
bertelanjang lehernya selalu diikat, dan keningnya
dirajah dengan patokan harga yang begitu murah.
Begitu membuat mereka tertekuk.

Dan membuat mereka tak lagi tahu:
?Mengapa perut bapakmu begitu menjelmakan memar.
Menjelmakan malam dan siang yang tak lagi tumbuh.
Dan menjelmakan gores sial yang bangkit dari ketam!?

(Gresik, 2007)

BUWUN
ketemu abi

?Tuan-tuan memintamu membikin jukung!? Dan si tukang jukung tak membikinnya. Tapi menulisnya. Seperti bait-bait skema yang ditulis di pasir. Dan dilarungkan ke laut. Saat matahari tenggelam. Dan saat para pemuka memasang obor. Sedang di bukit yang mulai gelap, tak ada yang melihat jika pekuburan orang lama itu terbuka: ?Kami ingin jadi penyaksi!? Dan seekor rusa yang tak berjalan. Tapi mengambang. Menegak di atasnya: ?Apa rusa itu juga melolong??

Dan segenap isi pulau menahan napas. Dan nyiur pohon seperti diam tak bergerak. Seperti sebuah lukisan yang dikakukan. Yang di sela-selanya, ada goresan merah menyala: ?Jukung telah siap, Tuan-tuan hendak kemana?? Tak ada jawaban. Cuma semua bergegas ke tangga. Kulit mereka berkilat. Baju dan udeng mereka membebat. Bisik seseorang: ?Kabarnya mereka ingin berniaga. Atau bertualang. Atau berburu lumba-lumba…?

Dan segenap isi pulau pun kembali menahan napas. Dan lewat tatapan yang hidup. Yang dihidupkan. Yang ganjil. Yang genap. Jukung itu meluncur ke tengah. Sekian ribu tongkol mengiringi. Dan sekian ribu kunang-kunang memutari. Apa yang lebih indah dari ini? Lepas dari semuanya, si tukang jukung memotong telinganya. Katanya: ?Aku telah melepas jukungku. Kini, aku tak mau mendengar kabar baik dan buruk darinya!? Dan pelan-pelan segenap isi pulau pun melenyap.

Dan sekian ratus ke depan. Lewat sebuah piknik yang sederhana. Ada si remaja menemukan telinga si tukang jukung itu di sebuah hutan. Dan ketika telinga itu dipasangkan ke telinganya, si remaja pun mendengar sebuah jeritan yang begitu lirih. Dan begitu membuat dia merasa: ada sebuah langit yang bolong. Ada sebuah jukung yang memanjat. Dan ada sebuah perkelahian yang tak pernah dimenangkan. Perkelahian yang tak pernah dilihat.

Dan malamnya, di kamar yang penuh peta, si remaja menentukan arah lintang dan bujur. Wajahnya gugup. Keringatnya membutir. Tapi, dari sorot matanya, siapa saja yang melihat tahu, jika ada seekor anjing yang berlarian. Ekornya terbakar. Dan dengusnya selalu mengarah ke sebuah bukit. Ke seekor rusa yang menegak. Yang mengambang. Dan yang sesekali melolong. Seperti lolong serigala. Ketika pekuburan orang lama itu terbuka.

?Meski tak pernah sampai, mereka tetap ingin jadi penyaksi!?

(Gresik, 2007)
*) Dari kumpulan puisi Mardi Luhung bertitel ?BUWUN? diterbitkan PUstaka puJAngga, 2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*