Sajak-Sajak Laila Awalia

http://www.lampungpost.com/
Di Liang Cerita

Di mana kan kukubur duka?
di liang ceritamu yang kau pesan beberapa hari yang lalu
di pekuburan luka tempat kau biasa memetik kamboja:
bunga mati yang tak bisa diam melihat sejarah
selalu ada kisah sebelum kamboja jatuh ke tanah

Natar, 10 Maret 2010

Jangan Menangis

Ketika Aku Tak Ingin Mendengarmu Berpuisi
: dinda
Aku tak ingin lagi mendengarmu berpuisi
simpan sajalah kata-katamu sebagai warisan untuk masa ketika aku tak lagi bisa melihatmu
atau untai saja sajak-sajakmu itu jadi hujan agar bisa kupajang sebagai tirai tepat di depan pintu ruang hatiku
jangan pernah menangis di depanku ketika aku bilang aku tak suka puisimu
untuk apa uraikan air mata?
simpan sajalah sebagai mutiara untuk masa ketika aku tak lagi bisa bersamamu,
dinda

Natar, 1 Maret 2010

Hari Ini, Ayah

-untuk rindu
Terhempas kenangan
tentang ayah
kasih yang membayang dalam perjalanan
rindu yang terhatur di setiap tutur
cinta yang terikat tanpa paksaan
berhembusnya, lembut seperti bayu di pucuk rumput
melagunya, syahdu
o, waktu yang membawa kenangan
mengabadilah dalam doa-doa diri, selepas berserah diri

Natar, 20 September 2009

Senja dan Jendela

Pada bola matamu
kupahat senja dari jendela
yang setiap hari selalu jadi teman tanpa keluh
– tak ada senja yang abadi –
selalu kulihat dari matamu
yang entah sejak kapan
bisa mengerti bahasaku
– maka kupahat ia dari jendela
sebab tak ada lagi yang bisa kuabadikan untuk sebuah kenangan
bersama waktu yang sebentar jua akan senja ?
Sedang kau terus pula memahatku
dalam pandanganmu
hingga tak ada saat ku bisa mengelak
ketika matamu mengajariku bahasa berbeda
bahasa senja yang lain
yang bisa lahirkan warna yang lain
untuk jadi teman bermain
bagi hari-hari di jendela
yang selalu terbuka

Natar, 22 April 2008

Ini Rumah Kita
: Adhitya

Ini rumah kita, Adhitya
tempat dulu cinta melahirkan kita dalam selimut sejarah
lalu membesarkan kita dalam asuhan katakata
dan mendewasakan kita dengan berjuta kisah
ini rumah kita, Adhitya
tempat kita menuang air mata ke dalam mangkuk-mangkuk cerita
ketika tak lagi ada obat untuk tawarkan duka
tempat kita mengobati luka dengan bahasa
ketika cinta ternyata mampu mengkhianati kita
ini rumah kita, Adhitya
tempat bunda selalu ajarkan berbagi rasa
tempat ayah selalu tunjukkan bahwa kita bisa
ini rumah kita, Adhitya
tempat dulu kita diberi nama:
Cinta

Natar, 3 Maret 2010

—-
Laela Awalia, lahir di Natar, 5 April 1986. Puisi dan cerpen anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung ini dimuat beberapa media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *