Sajak-Sajak M. Harya Ramdhoni Julizarsyah

http://www.lampungpost.com/
Episode Tanah, Air, dan Api

/1/ episode tanah

tanah retak.
tanah pecah.
batubatu gumpil
oleh amunisi
dan besi.
pertama kali ku pijakkan
sepasang kakiku
pada tanah retak
dan pecah.
amis darah dan nanah
nyerbu tanpa permisi.
diekori belulang serta serpih
daging babi.
mereka nyeruak
dari ke dalaman
tanah tak terkira.
dan lelaki bertubuh
tambun di sampingku
menetak dalam
amarah yang bara.
disebab tanah yang
dipijaknya tak sewangi
tatkala ia remaja.
harum tanah cokelat
memadat oleh cacing
tanah dan tinja
hewan ternak.
harum tanah cokelat
ruapkan harum
air tanah ditanak.
oleh dedaun busuk
dan humus bumi.
harum tanah yang
telah pergi.
tersimpan dalam
kenang yang tersembunyi.

/2/ episode air
“air mengalir sampai
jauh akhirnya ke laut.”
bendungan telah dimampatkan.
perjalanan titik air telah dialihkan.
menuju rumah penguasa
silsilah dan pemilik seluruh zaman.
kita telah melupakan air.
sejak galangan kapal di
tuban, gresik, dan jepara
dihancurkan oleh
kuasa pedalaman.
kita telah melupakan air.
kita telah ditinggalkan laut.
juga angkatan laut yang
ditenggelamkan oleh kavaleri
tentara darat.
kita biarkan ikanikan
mengambang di bengawan
hingga kali kanta.
anyir bangkai berpusupusu
merobek seluruh indera.
sementara kita diam
saksikan arus berbalik
seraya pijakkan kakinya
di atas kepala kita
nan keramat.

/3/ episode api
telah ku katakan
kepadamu, kisanak.
jagalah keseimbangan
nyala api.
tak kau dengarkan
titahku, kisanak.
berhatihatilah pada
wajahwajah picik.
menunggu saatnya
tiba merobek
bara api.
tak kau dengar
pintaku, kisanak.
berhatihatilah pada
tariannya yang menggoda.
pada setiap bibit api
yang mengajakmu berdansa.
liuknya akan membuatmu gila.
likunya akan membuatmu merana.
tak kau simak
hibaku, kisanak.
api tak segan membakar
kesumat laknat.
perih! serupa prencah
lada yang mengkilikili
gelambir matamu.
dengarkan hibaku, kisanak.
nyala api takkan padam
jika muasalnya kau
tanak bersama bara dan abu.

Jambi, 23 Maret 2010

Hujan di Bulan Agustus

satu,
ia berjalan sendiri
susuri malam gelap
dan sunyi.
ia lewati jalan
basah di kampus bangi.
ia pompa irama
nafas yang berlompatan.
sembari serapahi
hujan yang
mulai rintik.
sesekali ia meracau
entah apa.
sesekali ia tatap
langit entah
menggugat siapa.
suara sengaunya
bagai sedan
lelaki sendu.
tetapi sekali pun tidak!
ia tak pernah bersedih
hati pada duka cita
yang termaklum.
ia berpuas hati
pada kemurahan Tuhan.
malam makin basah,
wingit dan mesum.
gairahnya sebagai lelaki
tibatiba berkejapan.
bagai lentera merah
yang tergantung pada
sebuah rumah angker
di ujung jalan.
ia merindu perempuannya
yang jauh di seberang.
ia ingin tandang kesana
ketika seluruh makhluk
luruh dalam
bungabunga malam.
ia ingin memanggil
sesekor elang
milik puyangnya
untuk membawanya terbang
ke bumi seberang.
ia ingin rengkuh
perempuannya sebagai
pelepas dahaga
seorang lelaki nestapa.
dua,
ia tak gentar pada
hujan yang rebak.
ia terus berjalan tinggalkan
jejak kaki di belakang.
kadang ia berjingkat.
adakalanya ia berlari.
diekori sekumpulan
malaikat dan iblis
yang tak henti bertempur
perebutkan hatinya.
ia selalu bertanya
mengapa kebaikan dan
kejahatan selalu sanding
di meja judi?
mengapa hambahamba
yang lurus selalu
dicundangi penguasa kegelapan?
ah, ia tak hendak
pikirkan galau itu.
ia berpuas hati
pada kemurahan Tuhan
yang selalu loloskan
dirinya dari lubang jarum.
tiga,
ia masih mengendap
susuri malam.
dunia di sekelilingnya
telah rebah
dipagut sepi.
ditingkahi embun
tak bersuara.
bagai sekawanan pencuri
di malam paceklik.
di sepertiga malam tibatiba
langkahnya terhenti.
kelebat sosok tubuh
tegak menghadang.
lelaki tua berusia
tak terhingga.
“siapakah engkau yang
berlindung di balik
wajah keriput?”,
lelaki muda bertanya.
“aku adalah engkau
berabad silam”,
tukas lelaki renta.
lelaki muda tertegun.
di malam ngungun
ia berjumpa dengan muasal.
disaksikan tembok bisu
yang enggan berbagi kisah
kepada sesiapa.
di suatu malam tatkala
seribu malaikat kabarkan
seribu kebaikan.
kepada lelaki muda
pecinta malam basah
di bulan agustus.

Masjid Universiti Kebangsaan Malaysia, Malam 1 Ramadhan 1430 H

——–
M. Harya Ramdhoni Julizarsyah, lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 15 Juli 1981. Kandidat PhD Ilmu Politik di Universitas Kebangsaan Malaysia ini merupakan staf Pengajar FISIP Universitas Lampung. Saat ini ia sedang mengikuti Fellowship Program pada Asian Graduate Program di National University of Singapore.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *