Setelah Empat Tahun Cak Nur Wafat

Gugun El-Guyanie
http://www.suaramerdeka.com/

?Tuhan akan mengutus seorang pembaharu pada pembukaan abad? (Al-Hadist)
Dari hadist di atas bisa ditangkap secara epistemologis, kelahiran seorang pembaharu sosial, mengikuti siklus seratus tahunan. Dalam konteks ini Nurcholis Madjid, yang tepat 29 Agustus diperingati haul ke-4, adalah seorang pembaharu yang diutus Tuhan dalam siklus seratus tahunan.

Cak Nur yang menyandang gelar guru bangsa bukan sekadar pembaharu (mujaddid) dalam bidang keagamaan semata, namun beliau melakukan pembaharuan pemikiran di berbagai bidang, termasuk sosial dan kebangsaan.

Artinya kebangkitan nasional memiliki satu garis nasab yang dekat dengan sang pioner Nurcholis Madjid yang ide-idenya sangat berpengaruh dalam kehidupan berbangsa dan beragama di abad ke-21. Jika seabad yang lalu Tuhan mengutus Sutomo dan kawan-kawannya yang mendirikan Budi Utomo 20 Mei 1908, maka Cak Nur dipilih Tuhan untuk menjebol kebuntuan dibidang keagamaan, demi perubahan-perubahan hidup di dunia, dalam skala nasional maupun global.

Untuk konteks sekarang, ukuran waktu seratus tahun sudah sangat tidak relevan lagi, mengingat faktor kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dahsyat. Perubahan dan pembaharu yang diutus Tuhan tidak menunggu skala waktu seratus tahunan, namun setiap tahun, setiap bulan, setiap hari bahkan setiap detik Tuhan akan mengutus seorang pembaharu di segala bidang kehidupan.

Cak Nur adalah salah satu pilihan Tuhan, yang juga berperan dalam melakukan pembaharuan nasional dan membangkitkan kehidupan nasional. Di dalamnya terdapat komponen agama, politik, ekonomi, budaya dan yang lainnya.

Yudi Latif mengibaratkan Cak Nur seperti Socrates kepada kita semua Cak Nur meninggalkan sebuah warisan berupa the empire of mind. Seperti halnya sejarah perjalanan orang-orang besar, berbagai gagasan yang dihasilkan Cak Nur pun telah menyulut berbagai polemik di tengah-tengah masyarakat.

Terasing

Para nabi, ulama, mujtahid, reformis dan pembaharu selalu lahir dari keterasingan, dan akan kembali terasing. Tetapi delegasi Tuhan itu adalah orang-orang yang beruntung karena terasing dari kesesatan yang diikuti mayoritas manusia. ?Bada?a ghoriiban wa saya?uduu ghoriiban?. Demikian pula dengan kemunculan pemikiran pembaharuannya Cak Nur yang melahirkan polemik, fitnah dan kontroversi panjang.

Melalui butir-butir pemikirannya yang tertuang dalam dua tema besar, yaitu ?Keharusan Pembaharuan Pemikiran dan Masalah Integrasi Ummat? dan ?Menyegarkan Paham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia?, Cak Nur sudah membuka pintu polemik.

Pada dasarnya, dalam makalah yang pertama Cak Nur mengangkat dua gagasan utama, yakni perihal jargon Islam Yes, Partai Islam No dan konsep tauhid sebagai titik pangkal dari sekularisasi. Sedangkan dalam makalah yang kedua ia menyatakan sikap atas ketidaksetujuaannya terhadap ide negara Islam.

Tiga gagasan besar itulah yang kemudian menempatkan Cak Nur sebagai pemikir Islam Indonesia pertama yang berikhtiar secara sungguh-sungguh guna memisahkan antara Islam sebagai sebuah agama dan Islam sebagai sebuah institusi.

Islam sebagai agama tauhid, adalah meyakini bahwa hanya Tuhan yang memiliki hak untuk disembah dan ditempatkan dalam koridor sakral. Sementara Islam sebagai institusi, sepenuhnya bersifat profan. Jadi ketaatan seorang muslim tidak bisa diukur berdasarkan komponen institusional, misalnya seorang yang memilih parpol Islam berarti muslim yang baik.

Produk pemikiran inilah yang memberikan kontribusi terhadap kehidupan berpolitik di tanah air, yang bercita-cita membangun persatuan dan kesatuan tanpa membeda-bedakan agama dan etnis apapun. Karena kehidupan politik adalah wilayah profan yang harus diselesaikan dalam metabolisme hubungan sosial horizontal, tanpa ada intervensi keagamaan.

Dalam konteks ini, Cak Nur kemudian memberikan respons terhadap falsafah Bhinneka Tunggal Ika sebagai sistem monolitik. Akan tetapi monolitisme itu tidak demokratis, yang menjadi dasar-dasar kediktatoran adalah praktek-praktek monolitik, sebagaimana yang secara besar-besaran dipraktekkan di negara-negara komunis.

Bagi Cak Nur demokrasi tidak mungkin tanpa sikap saling menghargai antar berbagai kelompok. Dalam pengertian tersebut, beliau berpendapat bahwa sektarianisme adalah suatu kesalahan prinsipil dari segi agama, yang dalam istilah lebih khasnya adalah musyrik. Sektarianisme adalah suatu faham yang mengatakan bahwa sektenya sendiri yang paling benar. Sekte ini pengertiannya bisa diperluas menjadi kelompok atau golongan.

Gegap-gempita

Dalam catatan Kyai Yudian Wahyudi, mantan anggota American Association of University Professors, Cak Nur menawarkan Pancasila sebagai kalimatun sawa (titik temu) di tengah gegap gempita asas tunggal bagi bangsa Indonesia. Kyai Yudian mencatat bahwa Cak Nur dikritik banyak tokoh setelah melontarkan ide bahwa semua agama itu sama.

Gus Dur salah satu tokoh yang merespons statemen Cak Nur dan memberikan komentar; Cak Nur mestinya tetap menekankan bahwa ada perbedaan esensial dari segi teologis antara Islam dan agama lain. Setelah menerima saran Gus Dur, Cak Nur mengatakan bahwa pluralisme merupakan kehendak Allah, sehingga tidak mungkin menganggap semua agama adalah sama.

Sebuah kegelisahan kembali mengemuka, di tengah spirit kebangkitan nasional, ternyata masih saja muncul sikap radikalisme dan fundamentalisme Islam yang merongrong cita-cita kebangsaan. Fatwa-fatwa MUI yang memicu anarkhisme kelompok beragama, formalisasi syari?at Islam dan juga menguatnya kelompok Islam puritan, yang pernah digelisahkan Cak Nur harus kembali diperhatikan.

Cak Nur juga sering mengingatkan tentang kebangkitan agama-agama di dunia pada era pasca-agama (post-religion) yang menimbulkan ironi menguatnya fundamentalisme. Kebangkitan semangat ideologis itu melahirkan eksklusivitas dalam beragama yang tercermin dalam tindakan militan, keras, dan cenderung tidak toleran dengan kelompok lain.

Dalam kasus radikalisme agama Islam di Indonesia, Sydney Jones dari International Crisis Group, pernah menyebutnya sebagai recycling militans, yang merupakan daur ulang militansi gerakan Darul Islam di Indonesia, yang dalam banyak hal menginspirasikan radikalisme dan fundamentalisme Islam ideologis itu sendiri.

Salah satu wasiat Cak Nur, apresiasi terhadap khazanah Islam klasik itu sangat relevan untuk pengembangan pemikiran keislaman yang kontekstual dengan problem-problem kebangsaan.

Kebangkitan Cak Nur adalah kebangkitan Islam, dan kebangkitan Islam adalah kebangkitan nasional. Inilah satu sumbangan reflektif untuk haul ke-4 wafatnya guru bangsa kita, ditengah arus deras industrialisasi agama. (80)

?Gugun El-Guyanie, staf peneliti Kantata Research Indonesia Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *