Solilokui Kiamat Lawrence Joseph

Judul Buku: Kiamat 2012: Investigasi Akhir Zaman
Pengarang: Lawrence E. Joseph
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2008
Tebal: 287 halaman
Peresensi: Katamsi Ginano *
ruangbaca.com

ANAK ayam itu berlari, meraung ke seantero kota, ?Langit telah runtuh!? Tak ada yang peduli, bahkan ayahnya sendiri, sebab langit masih di atas sana. Biru jernih disaput kelompok-kelompok awan putih.

Di film Chicken Little (2005) besutan Mark Dindal, kita diharu-biru menonton lantaknya hati dan reputasi si ayam cilik. Lagipula siapa yang percaya pada ?bocah nakal? yang suka memanjakan imaji dan halusinasinya? Kalaupun langit bakal runtuh, entah karena serbuan alien atau kiamat memang sudah dekat, kebanyakan kita lebih suka bersikap seperti Kepala Suku Galia, Abraracourcix, di serial komik Asterix, bahwa, ?Langit belum akan runtuh menimpa kepala kita.?

Umat manusia, atheis sekali pun, percaya kiamat memang akan terjadi. Tapi siapa bisa meramal penyebab dan kapan tibanya? Penyebabnya bisa saja karena bumi ditumbuk komet, saling kirim hulu ledak dan bom nuklir antarnegara superpower, bencana biologi, atau akhirnya Tuhan memutuskan memang sudah waktunya melikuidasi planet ini.

Tapi kapan waktunya? Tidak seorang pun tahu. Satu-satunya jawaban, bila Anda cukup beragama, kiamat adalah rahasia yang hanya diketahui Sang Maha Pencipta.

Bermain-main ramalan waktu kiamat biasanya cuma berakhir tragis –kalau tidak dianggap konyol dan ?miring?– seperti yang terjadi pada 913 pengikut sekte kiamat The People?s Temple pimpinan Jim Jones. Pada 18 November 1978 mereka berombongan bunuh diri di Jonestown, Guyana, karena percaya kiamat sudah di depan mata. Nyatanya, hingga 2009 ini bumi baik-baik saja. Memang, di seantero jagad terjadi bencana dasyat, misalnya tsunami yang melanda Aceh dan kawasan sekitar pada 2004. Namun, dunia belumlah kiamat.

Karenanya, sungguh mengejutkan ketika penulis dan kolumnis ilmiah terkemuka, Lawrence E. Joseph, mempublikasi Apocalypse 2012: An Investigation into Civilization End (2007), yang diindonesiakan dengan tajuk Kiamat 2012: Investigasi Akhir Zaman. Di benak sontak terlintas: Apakah intelektual rasional yang juga Ketua Dewan Direksi Aerospace Consulting Corporation ini mendadak berubah jadi fanatik irasional ala sekte hari kiamat?

Memprediksi masa depan bukanlah tabu. Khasanah sejarah negeri ini, misalnya, mengenal manuskrip Jangka Jayabaya warisan Jayabaya (sekitar 1135-1157), yang antaranya meramal penjajahan Indonesia dan Perang Dunia Kedua. Di dunia, nama lain dari masa lalu adalah Michel de Nostredame –lebih dikenal sebagai Nostradamus. Banyak yang percaya nujum Nostradamus (1503-1566) yang dihimpun dalam Les Propheties terbukti kebenarannya ratusan tahun kemudian.

Di era modern ada John Naisbitt yang telah mempublikasi rangkaian prediksi masa depan manusia, mulai dari Megatrend (1982), Megatrend 2000 (bersama Patricia Abuderne, 1990), hingga Megatrend Asia (1996). Dan yang terkini, ramalan 10 tren yang akan membentuk ulang dunia 20 tahun ke depan oleh CEO dan Chairman Institute for Global Futures, James Canton, PhD, lewat The Extreme Future (2006) –edisi Indonesianya diterbitkan Penerbit Alvabet, Januari 2009.

Apa yang ditulis Lawrence tak beda dengan terawangan para futuris seperti Naisbitt dan Canton. Kelebihannya, Lawrence menyodorkan argumentasi kokoh, sangat ilmiah, masuk akal, serta komprehensif karena didukung hasil-hasil riset terakhir dari institusi ilmiah dan para ilmuwan kredibel. Selain fakta-fakta geofisika, astronomi, dan fisika tingkat tinggi, dia juga melintas-batas ke wilayah keagamaan. Maka, boleh dibilang buku yang ditulis dengan pendekatan outobiografi ini adalah soiulokui seorang ilmuwan kredibel, manusia biasa yang penuh takut dan khawatir, ayah dari dua anak, dan pemeluk agama –dia akui tak terlampau taat –yang tiba-tiba sadar kiamat adalah kekuasaan Tuhan yang valid secara ilmiah.

Riset Lawrence tentang kiamat bertolak dari ramalan bangsa Maya kuno yang dituang dalam bentuk kalender dengan akurasi tinggi berdasarkan observarsi astronomi selama dua milenia. Menurut bangsa Maya, zaman ini dikenal sebagai Zaman Keempat yang dimulai pada 13 Agustus 3114 sebelum Masehi, yang hari pertamanya dilambangkan dengan 0.0.0.0.1. Hari terakhir zaman ini jatuh pada 13.0.0.0.0 atau 21 Desember 2012. Ramalan ini sejalan pula dengan penafsiran The China Book of Changes dari filosof I Ching dan teologi Hindu.

Kabar buruknya, ramalan bangsa Maya ternyata berhubungan erat dengan perilaku matahari, planet, dan benda-benda angkasa lain, dan respons dari bumi yang kita huni. Lawrence lalu melakukan riset mendalam selama lebih dari satu tahun, berkeliling dari Guatemala menemui para ?dukun? Maya yang mampu menjelaskan kalender mereka; ke Hermanus Magnetic Observatory di Afrika Selatan; hingga ke International Scientific Research Institute of Cosmic Anthropeocology (ISRICA) yang dibangun di bawah tanah di Siberia, Rusia.

Hasilnya mencegangkan. Terdapat korelasi antara aktivitas bumi dan perilaku matahari. Dari 1940-an, dan terutama sejak 2003, Lawrence menyimpulkan, tingkah laku matahari lebih bergejolak dibanding kapan pun sejak zaman es terakhir 11.000 tahun silam. Dengan mencermati perilaku itu, para fisikawan surya menyimpulkan aktivitas matahari memuncak lagi, melampaui rekor sebelumnya, pada 2012.

Di saat yang sama, menurut para ahli geofisika Rusia, Tata Surya telah memasuki awan energi antarbintang yang mengaktifkan dan merusak keseimbangan matahari serta atmosfer antarplanet. Prediksinya, bumi akan berjumpa awan energi itu antara 2010-2020. Bukti lain bahwa aktivitas matahari berkorelasi langsung dengan bumi, salah satunya adalah gelombang besar topan Katrina, Rita, dan Wilma pada 2005 terjadi bersamaan dengan salah satu minggu paling penuh badai dalam catatan sejarah matahari.

Ancaman mega bencana terhadap bumi diperkuat para fisikawan dari University of California (UC) Berkeley, yang menyatakan dengan kepastian 99 persen bahwa punahnya dinosaurus serta 75 persen spesies lain di bumi akibat tumbukan komet atau asteroid 25 juta tahun lalu, seharusnya sudah terjadi lagi.

Bumi, di lain pihak, juga tengah berkontraksi. Medan magnet bumi, yang merupakan pertahanan utama terhadap radiasi surya yang berbahaya, mulai menipis dengan retakan sebesar California yang muncul secara acak. Fakta yang tak kurang seram adalah Supervulkan Yellowstone yang meletus setiap 600.000-700.000 tahun kini menggeliat, bersiap meledak. Letusan terakhir dengan kekuatan setara terjadi 74.000 tahun silam yang kemudian membentuk Danau Toba, ketika itu menewaskan lebih dari 90 persen populasi dunia.

Di antara sederet kabar buruk itu, Lawrence –sebagaimana kita –berharap yang terjadi adalah tafsir para ?dukun? Maya modern bahwa 2012 bukanlah kiamat, melainkan hanya kelahiran kembali peradaban baru. Kalaupun akhirnya yang tiba tetaplah kiamat, mengingat dia tak sedang berkotbah, Lawrence hanya mengkonklusi umat manusia harus melakukan persiapan dan tak berlaku ceroboh.

Konklusi Lawrence mirip apa yang dilakoni dosen Carnegie Mellon University, Randy Pausch. Kendati telah didiagnosis umurnya tak akan panjang akibat gerogotan kanker pankreas, Randy tetap hidup senormal mungkin –termasuk terus mengajar. Di akhir hidupnya, di usia hampir 48 tahun, kuliah terakhir yang dia berikan menjadi tontonan dan diterbitkan sebagai buku, The Last Lecture (2008), yang menginsiprasi jutaan orang untuk tak menyerah.

Usai membaca buku ini, saya sungguh berharap 2012 hanyalah adegan awal Chicken Little dengan akhir bahagia: di 2013 membaca buku Kiamat 2012 Batal yang juga ditulis Lawrence E. Joseph.

*) Praktisi komunikasi dan business development, juga pecinta buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *