Akhir Trilogi Knights of Apocalypse

Surjorimba Suroto
http://www.ruangbaca.com/

Komik multilini asli buatan anak bangsa Indonesia.

Penantian lebih dari dua tahun terbayar sudah. Trilogi komik Knights of Apocalypse usai juga. Janus von Drache, satu dari keempat Ksatria Akhir Zaman (Apocalypse), menemukan kembali ingatannya dan alam semesta kini kembali damai. Kaisar Garibaldi berhasil dikalahkan, Wolfenstein dan Jagger, dua ksatria yang terlambat sadar telah diperalat Garibaldi, gugur; Ilumina alias Yang Tak Tertandingi, satu-satunya wanita dari ke-empat ksatria, kembali bersanding dengan Janus von Drache. Happy ending.

Kisah akhir bahagia itu tak begitu saja tercapai. Para tokohnya, juga pembacanya, menempuh jalan rumit dan berliku. Alkisah, di Planet Terra pecah perang nuklir dan menghancurkan ekosistem. Ragdash tetap tinggal di Terra, sementara Turkamabad eksodus ke planet Ares. Liberte yang netral sempat meninggalkan Terra sebelum bom nuklir diledakkan, membangun koloni luar angkasa. Kini beberapa ribu tahun mendatang ketiga pihak berseteru kembali. Ragdash, kini bernama Black Sun, menyerang Turkamabad dan Liberte (kini bernama Freedom), di mana keduanya tak juga bersekutu. Di tengah kekacauan inilah hadir para ksatria Apocalypse setelah menghilang selama seribu tahun. Namun kini ingatan mereka terdistorsi dan berada di pihak berseberangan.

?Fokus utama cerita memang pada Janus, dan ketiga ksatria lainnya, termasuk para tokoh protagonis lain, dibuat untuk melengkapi cerita dan latar belakang keseluruhan,? ungkap Is Yuniarto, ilustrator dan cerita Knights of Apocalypse.

Is Yuniarto tidak sendiri. Ia membangun Knights of Apocalypse bersama dua orang temannya, John G. Reinhart dan Aswin Agastya. Saat itu tahun 1999, ketika ketiga sahabat ini duduk di bangku sekolah menengah atas di Semarang, Aswin menulis cerita, Is membuat desain karakter dan pesawat, dan John membuat sketsa desain latar. Konsep cerita mengambil model kerangka cerita role playing game (RPG), di mana tokoh utama kehilangan jati diri. Dalam pencariannya ia bertemu kawan dan lawan, lama maupun baru.

Naskah Knights of Apocalypse terpendam selama tujuh tahun dan baru dibongkar kembali setelah mereka lulus kuliah. Menyadari naskah sudah kadaluarsa, ketiga sahabat itu sepakat untuk memperbaruinya hingga ke desain karakter dan latar. Masing-masing membuat ide cerita, lalu menggabungkannya menjadi satu alur cerita utuh. Mereka belajar banyak dari Wind Rider, komik mereka yang meraih sukses dan diterbitkan oleh Elex Media pada 2005; judul ini termasuk dalam sejumlah komik yang dianggap monumental sepanjang kurun 1997-2007, dan ikut dipamerkan di Komik Indonesia Satu Dekade (KONDE!) 2007. Waktu efektif dalam pembuatan setiap jilid Knights of Apocalypse empat hingga enam bulan. Ketelitian dan kecermatan setiap halaman menjadi bukti waktu dan tenaga tidak terbuang percuma.

Pembangunan cerita tergolong baik. Sejak awal pembaca diperkenalkan dengan jagad cerita dan tokoh-tokoh utama. Ada sisipan potongan kisah latar belakang untuk setiap peristiwa penting. Sisipan ini sangat penting sebagai penjelasan latar peristiwa, dan juga untuk menghemat waktu, sebab tak mungkin semua informasi relevan dapat dimuat dalam tiga buku. Ada kendala ruang dan waktu. Pendekatan sisipan ini terbukti sangat efektif dan membuat pembaca tidak kebingungan.

Namun Knights of Apocalypse lebih dari sekadar komik. Ia merupakan tema yang beranak-pinak menjadi banyak derivatif produk. Di dalam tiap komik terdapat papercraft replika pesawat tempur Knights of Apocalypse. Pesawat tempur baru terbentuk utuh setelah kita menggabungkan ketiga potong papercraft. Ada juga paper figure, lengkap dengan petunjuk perakitan, yang dijual terpisah. Sebuah permainan kartu dan figurine dari tanah liat tersedia. Game komputer dan media promo berupa animasi trailer dapat diakses di http://www.windriderstudio.com dan http://www.youtube.com/windriderpro. Sambil menyaksikan animasi trailer dan bermain game komputer, penggemar juga dihibur dengan musik soundtrack Knighst of Apocalypse yang sangat memikat. Luar biasa!

Rasanya hingga hari ini belum ada komik Indonesia yang membuat konsep sedemikian lengkap. Umumnya hanya terbatas pada komik dan merchandise, tidak merambah ke permainan kartu, papertoys, bahkan musik soundtrack. Industri komik Jepang mungkin sudah beberapa langkah lebih maju, tapi di Indonesia tak banyak komikus dan studio yang berani dengan konsep ini. Sudah barang tentu investasi berupa waktu, tenaga, teknologi dan uang sangat dibutuhkan.

?Saya ingin pembaca setelah selesai membaca komik KoA, tidak langsung menutup buku dan menyimpannya di lemari. Masih banyak yg dapat pembaca lakukan sehubungan dengan KoA,?ucap Is Yuniarto.

Bagi mereka yang ingin mengetahui lebih banyak tentang asal usul keempat Ksatria Akhir Zaman, terutama ketika mereka dibentuk untuk melawan bangsa asing Draxonian, sangat dianjurkan bermain game komputernya yang bisa diunduh gratis. ?Konsepnya saya buat bersama Aswin. Saya ilustratornya dan Aswin sebagai programmer-nya. Game KoA dibuat agar pembaca bisa lebih dalam mengenal tokoh dan cerita dalam jagad KoA. Cerita dalam game tersebut mengambil tempat dan waktu tepat sebelum komik KoA jilid satu. Jadi bisa dibilang cerita dalam game ini adalah prequel atau KoA jilid 0.?

Seperti halnya film Star Wars, yang juga diidolakan Is Yuniarto, Knights of Apocalypse menyimpan banyak pertanyaan. Sebagian di antaranya terkait dengan kisah prequel KoA, sama seperti masa lalu Anakin Skywalker pada trilogi pertama Star Wars. ?Kami sedang menyusun Melas Helios, novel grafis prequel dari KoA,?ungkap Is.

Keberadaan musik tema menjadi keunikan tersendiri. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa di Jepang, musik tema film animasi dan permainan komputer menjadi produk yang punya daya jual tinggi. Is Yuniarto dan teman-temannya menyadari hal ini dan mengadaptasi strateginya. ?Ada beberapa rekan komposer yang mengerjakannya. Ada juga yang kami minta secara khusus. Bahkan ada juga yang mengirim tanpa kami minta,? Is menjelaskan. Ilustrasi musik animasi trailer dibuat oleh Des Kharisma. Musik soundtracknya, Ne! , dibawakan oleh The Felinecomplex dan dapat disimak di http://www.myspace.com/thefelinecomplex.

Dedikasi is Yuniarto, John G. Reinhart, dan Aswin Agastya sangat pantas mendapat pujian. Tidak hanya karena kreativitas mereka telah melahirkan satu set produk Knights of Apocalypse. Semuanya dilakukan secara indie, alias modal sendiri. Tentu saja ada bantuan beberapa sponsor. Jika mereka bisa melakukannya, kenapa kita tidak?

www.komikindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *