Watchmen dan Abnormalitas Superhero

Sigit T. Prabowo*
http://www.ruangbaca.com/

Sebuah dekonstruksi yang padat terhadap mitos superhero.

Komik superhero menyajikan sebuah dunia fantasi yang absurd: dunia dengan orang-orang berjatidiri alternatif, berkostum ketat (sebisa mungkin celana dalam diletakkan di luar), berkeliaran menghajar penjahat –entah dengan kekuatan super, perangkat berteknologi tinggi, atau sekadar kelihaian ilmu beladiri. Imaji yang sangat tepat bila kita sandingkan dengan memori publik tentang komik superhero, dengan gambaran hitam-putih yang jelas: jagoan selalu baik, penjahat selalu kalah, dan cerita diakhiri dengan seluruh jagoan berkumpul dan tertawa bersama.

Watchmen adalah komik superhero terbitan DC Comics –kandang Superman, Batman, dan Wonder Woman –karya Alan Moore (penulis), Dave Gibbons (pelukis), dan John Higgins (pewarna). Aslinya terbit dalam 12 jilid pada 1986-1987. Membuka komik ini ternyata membuat kita dihadapkan pada sajian visual dan tekstual yang barangkali tidak lazim untuk sebuah komik superhero. Simak kutipan kalimat pembuka berikut ini:

?Rorschach?s Journal, October 12th, 1985:

Dog carcass in the alley this morning, tire treads on burst stomach. This city is afraid of me. I have seen its true face. The streets are extended gutters and the gutters are full of blood and when the drains finally scab over, all the vermin will drown… ?

Secara visual, panel-panel awal menggambarkan sebuah lencana warna kuning bersimbah darah yang tergeletak di trotoar, dekat saluran drainase. Dengan pendekatan sinematik, ?kamera? lantas ditarik mundur untuk menggambarkan perspektif ketinggian yang nyata, bahwa genangan darah itu berasal dari tewasnya seseorang yang jatuh dari gedung bertingkat, sekian belas lantai di atas tempat lencana kuning tersebut tergeletak.

Halaman pertama Watchmen serta-merta membawa pembaca ke dalam suasana tidak nyaman, senada dengan jalan ceritanya yang secara gamblang menjelajah sudut-sudut kelam dalam konstruksi kejiwaan manusia. Cerita ini lahir dari benak Moore, penulis naskah komik kelahiran Northampton, Inggris, 1953.

Moore tumbuh dalam lingkungan keluarga miskin dan putus sekolah di usia 17 tahun lantaran tertangkap berjualan LSD. Setelah kurang berhasil sebagai pelukis komik, ia memutuskan berkonsentrasi sebagai penulis dan sukses lewat karya-karya seperti Miracleman dan V for Vendetta. Profil keberhasilan Moore di Inggris membawanya direkrut oleh DC Comics di Amerika. Karier Moore di DC diawali dengan kesuksesan mentransformasikan Swamp Thing, sebuah komik monster, menjadi komik dewasa yang sarat dengan isu-isu lingkungan tanpa melepaskan nuansa horornya, dilandasi pula dengan studi mendalam tentang budaya Voodoo dan Cajun di seputar rawa-rawa negara bagian Louisiana tempat cerita Swamp Thing digelar.

Pada saat DC mengakuisisi Charlton Comics pada 1985 dan mewarisi tokoh-tokoh seperti Captain Atom, Blue Beetle, dan Peacemaker, Moore mengajukan proposal bertajuk ?Who Killed the Peacemaker?, yang diposisikannya sebagai penafsiran ulang terhadap tokoh-tokoh Charlton, sebagaimana yang dilakukannya terhadap Miracleman dan Swamp Thing. Salah satu boss DC, Dick Giordano (yang turut mengerjakan crossover fenomenal Crisis on Infinite Earths), menganggap ide cerita Moore bagus, tapi menyarankannya untuk menggunakan tokoh-tokoh baru sehingga tidak ?merusak? karakter Charlton yang baru saja diperoleh DC. Moore kemudian merevisi proposalnya menjadi Watchmen.

Mengenai landasan pemikirannya, Moore berkomentar, ?Aku rasa aku cuma berpikir, ?Ini awal yang bagus untuk sebuah komik: seorang superhero terkenal ditemukan mati.? Selagi misteri terurai, kita akan dibawa semakin dalam ke jantung dunia superhero ini, dan menunjukkan sebuah realitas yang sangat berbeda dengan gambaran umum pubik terhadap superhero.?

Genangan darah dalam adegan pembuka Watchmen berasal dari jasad Edward Blake, yang memiliki jatidiri superhero sebagai The Comedian. Pelan-pelan terungkap Blake juga adalah agen pemerintah yang terlibat dalam banyak hal kotor: Perang Vietnam, pembunuhan JFK, hingga pembunuhan wartawan Woodward dan Bernstein, yang berakibat gagalnya pengungkapan kasus Watergate. Beginilah setting dunia Watchmen ala Moore –sebuah dunia yang memiliki kemiripan dengan dunia nyata, namun memiliki beberapa perbedaan kunci sehingga alur sejarah pun menempuh jalan yang berbeda.

Dalam lingkup science fiction, hal itu dikenal sebagai subgenre alternate history. Menurut alur sejarah Watchmen, pada akhir 1980-an Amerika telah menang dalam Perang Vietnam dan menjadikannya sebagai negara bagian ke-51. Richard Nixon tanpa tersandung Watergate terpilih lagi sebagai Presiden dan bahkan mengegolkan amandemen yang memungkinkannya terus terpilih ulang tanpa batasan.

Dunia juga terus terlibat dalam Perang Dingin yang kian memuncak, lantaran Amerika memiliki senjata pamungkas dalam sosok superhero Dr Manhattan. Superhero benar-benar ada dan terbagi dalam dua angkatan: The Minutemen pada 1940-an dan The Crimebusters pada 1960-an. Namun dalam perkembangannya, aktivitas superhero berkostum secara resmi dilarang dalam Keene Act yang lahir pada 1977. Dalam gambaran kanvas yang muram inilah cerita Watchmen bergulir.

Kematian Blake mengundang tanda tanya dari Rorschach, satu-satunya superhero berkostum yang masih tetap beroperasi dan menentang Keene Act. Walter Kovacs alias Rorschach –yang mengenakan topeng berpola mirip tes Rorschach Inkblot dalam psikologi –berkesimpulan bahwa ada upaya sistematis untuk membunuh semua superhero.

Ia lantas berusaha menyampaikan peringatan kepada para (mantan) superhero yang lain: Daniel Dreiberg alias Nite Owl, superhero yang menggunakan perangkat teknologi tinggi; Laurie Juspeczyk alias Silk Spectre, cewek jagoan beladiri yang hidup bersama Jon Osterman alias Dr Manhattan, satu-satunya superhero yang benar-benar berkekuatan super, akibat berubahnya jasad Osterman menjadi makhluk energi kuantum dengan kuasa nyaris tanpa batas; dan Adrian Veidt alias Ozymandias, superhero bertema Alexander The Great yang memiliki kecerdasan luar biasa dan semenjak pensiun dari karier superhero sukses sebagai konglomerat.

Kecurigaan Rorschach seolah terbukti dengan rangkaian kejadian berikutnya: Dr Manhattan didakwa sebagai penyebab kanker, Veidt nyaris dihabisi pembunuh bayaran, dan Rorschach sendiri terjebak tuduhan pembunuhan hingga akhirnya masuk penjara. Juspeczyk dan Dreiberg lantas terlibat dalam jalinan asmara dan aktif kembali sebagai duo superhero berkostum –Silk Spectre dan Nite Owl –sementara Dr Manhattan mengasingkan diri ke Mars, semakin tidak peduli dengan kehidupan umat manusia. Dalam petualangan superheronya, Silk Spectre dan Nite Owl menjebol penjara untuk membeb askan Rorschach, dan trio ini akhirnya sampai pada kecurigaan bahwa dalang di balik semua kejadian ini tak lain adalah Adrian Veidt sendiri.

Rorschach dan Nite Owl lantas menuju markas Veidt di Antartika, sedangkan Silk Spectre dijemput Manhattan ke Mars untuk berdebat mengenai layak tidaknya umat manusia diselamatkan. Argumen panjang di Mars mengungkap juga fakta bahwa Edward Blake alias The Comedian adalah ayah kandung Laurie Juspeczyk, walaupun selama ini Laurie membencinya karena Blake dikenal pernah memperkosa ibu Laurie, Sally Jupiter, penyandang nama Silk Spectre yang pertama. Manhattan akhirnya setuju bahwa umat manusia masih cukup penting, dan kembali ke bumi bersama Silk Spectre.

Sementara itu, Nite Owl dan Rorschach telah berhadapan dengan Ozymandias/Veidt, dan mendapatkan konfirmasi atas rencana Veidt. Lewat analisis mendalam terhadap berbagai rekaman kejadian dalam media, Veidt berkesimpulan bahwa ulah manusia sendiri akan menghancurkan bumi (teknik analisis yang mengingatkan pada Psychohistory-nya Isaac Asimov dalam rangkaian novel Foundation). Veidt berniat menyatukan umat manusia dengan pura-pura membuat serbuan makhluk alien yang diposisikan sebagai musuh bersama –sebuah rencana yang tak sengaja diketahui oleh The Comedian. Jika upaya ini harus membuat tiga juta rakyat New York mati, Veidt memandangnya sebagai harga yang wajar untuk menyelamatkan miliaran penduduk bumi lainnya.

Moore mengakhiri ceritanya dengan konsekuensi logis dari bangunan karakter yang dibangunnya sejak awal, sebuah akhir cerita yang lebih baik disimak sendiri dalam bukunya.

Secara kasat mata, tampak jelas bahwa Moore dalam Watchmen meruntuhkan mitos superhero. Para ?super? hero dalam Watchmen sesungguhnya adalah orang-orang yang menyandang abnormalitas dalam berbagai bentuk.

Tengoklah Rorschach, yang begitu membenci masyarakat, layaknya versi ekstrem dari Travis Bickle dalam film Taxi Driver. Sejak kecil hidupnya begitu tertekan karena fisiknya yang kecil, wajah buruk, dan status ibunya sebagai seorang pelacur. Dan Dreiberg bagaikan seorang yang kehilangan kepercayaan diri secara total bila tidak berkostum Nite Owl, sehingga berhubungan seks pun tidak mampu. Adrian Veidt merasa sebagai manusia terpintar berhak mengambil keputusan untuk menentukan nasib jutaan manusia. Jon Osterman dalam sosoknya sebagai Dr Manhattan kian lama kian tercerabut dari akar kemanusiaan, yang disimbolkan dalam pemakaian kostumnya: dari seragam lengkap pemberian pemerintah hingga hanya sekedar cawat dan akhirnya telanjang sepenuhnya.

Lewat gambaran tokoh-tokoh itu , Moore seakan ingin menyampaikan bahwa bila di dunia nyata ada superhero, pastilah mereka ini tidak waras, atau setidaknya abnormal.

Selain pernyataan dekonstruksi superhero, Moore dan Gibbons juga melakukan eksplorasi habis-habisan terhadap medium komik itu sendiri. Mereka seolah tak hanya ingin menegaskan bahwa bukan saja komik dapat disejajarkan dengan bentuk sastra lainnya, tapi komik juga memiliki sisi unik tersendiri yang tidak dapat ditandingi oleh format lain.

Setiap judul bab dalam Watchmen dikutip dari berbagai sumber: mulai dari Bob Dylan, Elvis Costello, Kitab Injil, Albert Einstein, William Blake, Friedrich Wilhelm Nietzsche, Eleanor Farjean, Carl Gustav Jung, Percy Bysshe Shelley, hingga John Cale. Bab-bab itu juga terus berulang alik dari pemaparan plot ke kilas balik asal-usul para tokohnya.

Penceritaan nonlinier itu mencapai titik ekstrem dalam Bab IV bertajuk ?Watchmaker?, yang menceritakan latar belakang Dr Manhattan. Judul bab ini bersumber dari kutipan Einstein: ?The release of atom power has changed everything, except our way of thinking … The solution to this problem lies in the heart of mankind. If only I had known, I should have become a watchmaker.?

Dr Manhattan sebagai makhluk kuantum murni tidak lagi mempersepsi waktu secara linier: baginya, masa lalu, masa kini, dan masa depan semua tersaji secara bersamaan, semuanya hanyalah faset yang berbeda dari sebuah realita yang sama. Teknik penceritaan di bab ini juga mencerminkan hal itu: melompat maju mundur, karena bagi Manhattan, semuanya sudah, sedang, dan sekaligus akan terjadi. Bisa dibayangkan bahwa Watchmen bukanlah bacaan ringan, kita perlu menyisihkan perhatian khusus untuk dapat mencernanya dengan baik.

Dari 12 bab dalam Watchmen, 11 di antaranya didampingi oleh teks pelengkap yang disajikan dalam konsep metafiksi. Teks ini beragam: kutipan biografi Hollis Mason, penyandang nama Nite Owl yang pertama, berjudul ?Under The Hood?, yang sekaligus memberikan latar belakang para Minutemen, superhero generasi pertama; telaah ilmiah terhadap pengaruh kekuatan super Dr Manhattan terhadap perimbangan politik negara adidaya; profil psikologis Rorschach; cuplikan koran New Frontiersman, hingga wawancara (tentu saja fiktif) dengan Adrian Veidt.

Tak cukup hanya itu, Moore dan Gibbons juga menyertakan ?komik dalam komik? –sebuah komik bertema bajak laut berjudul Tales of The Black Freighter –yang pada awalnya mungkin akan menimbulkan banyak pertanyaan, bahkan mungkin dilewatkan saat kita pertama membacanya. Namun setelah sampai pada akhir cerita, jelas bahwa cerita bajak laut ini merupakan tamsil bagi sosok Adrian Veidt: tokoh pelaut yang menggunakan mayat temannya sebagai pelampung dan bahkan memakannya agar bertahan hidup, cerminan karakter Veidt yang memilih mengorbankan tiga juta rakyat New York agar tujuannya menyatukan bumi dapat tercapai.

Tokoh di sekitar komik ini: penjual koran, bocah pembaca komik, dan supir taksi lesbian sekaligus merupakan perwakilan ?rakyat jelata? yang hanya dapat mengamati dan berkomentar saat berbagai kejadian besar berlangsung.

Puncak demonstrasi penguasaan Moore dan Gibbons terhadap format komik ditampilkan dalam Bab V, yang berjudul ?Fearful Symmetry?. Sesuai dengan judulnya, bab ini dirancang menggunakan simetri secara visual. Halaman 1 dapat disandingkan dengan halaman 28, halaman 2 dengan 27, dan seterusnya, bahkan panel demi panel. Jika diamati secara mendalam, tampak suatu simetri dalam pola visual, terang dan gelap, posisi tubuh, dan sebagainya. Simetri ini berkulminasi pada halaman 14-15, di mana pada panel tengah Veidt tengah bertarung dengan pembunuh yang mengincarnya, dalam posisi simetri membentuk huruf X.

Dibandingkan komik masa kini, secara tampilan visual sesungguhnya gambar karya Dave Gibbons dan pewarnaan John Higgins sudah terasa tertinggal. Maklum, Gibbons dan Higgins masih bekerja manual, tanpa bantuan komputer dan berbagai teknik pewarnaan canggih yang ada saat ini, seperti tampak pada komik-komik mutakhir macam Civil War dan Final Crisis. Namun, karya Gibbons dan Higgins masih tetap enak dinikmati dan dalam maknanya, karena ketelitian dan perhatian yang amat tinggi terhadap detail. Apalagi didorong dengan naskah Moore yang bisa mencapai 100 halaman ketik spasi tunggal untuk satu bab saja.

Dengan konstruksi maupun isi yang begitu padat, revolusioner, sekaligus kontroversial, tak ayal bila Watchmen begitu menyedot perhatian pada saat diluncurkan. Ia berhasil menyabet berbagai penghargaan, di antaranya dari majalah Time yang pada 2005 menempatkan Watchmen sebagai salah satu dari 100 novel terbaik sepanjang masa. Dari dunia Science Fiction, hingga kini Watchmen merupakan satu-satunya komik yang pernah mendapatkan Hugo Award. Hingga tahun 2008, majalah Entertainment Weekly masih menempatkan Watchmen sebagai salah satu dari 50 novel terbaik yang ditulis dalam 25 tahun terakhir.

Untungnya bagi DC Comics, sukses di mata kritikus itu dibarengi pula dengan sukses komersial. Watchmen bersama The Dark Knight Returns-nya Frank Miller merupakan perintis dalam membuka pasar ?graphic novel?, sebuah istilah yang seolah dibuat untuk mendewasakan komik dan memposisikannya sebagai sebuah pendekatan literer alternatif.

Kalau kita bertanya, kenapa di dalam komik ini tidak ada tokoh maupun kelompok yang bernama Watchmen, jawabannya terletak pada kutipan dari satiris Romawi bernama Juvenal, yang dikutip di akhir Bab XII. Watchmen tak lain merupakan label bagi posisi superhero yang seolah ditempatkan berada di atas manusia kebanyakan. Jika mereka boleh bertindak selaku pengawas, lantas siapa yang mengawasi mereka? Dan dengan demikian tulisan ini diakhiri dengan kutipan yang sama:

Quis custodiet ipsos custodes?
Who watches the watchmen?
— Juvenal, Satires, VI, 347

*) Penulis –38 tahun, menikah dan tinggal di Jakarta, adalah praktisi IT di sebuah BUMN yang tetap banyak menghabiskan waktunya untuk musik, science fiction, gitar, video game, komik superhero, dan makan-makan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *