In Memoriam “Gitu Aja Kok Repot…”

Agus Fathuddin Yusuf, Ainur Rohim
suaramerdeka.com

BAGI Gus Dur urusan di dunia ini seolah-olah tidak ada masalah berat. Semuanya dianggap enteng dan simpel meski buat orang lain dirasa kiamat.

Kalimat “gitu aja kok repot” yang sering kali dilontarkannya menegaskan hal itu. Begitu populernya “gitu aja kok repot” menjadi trade mark seorang Abdurrahman Wahid. Lihatlah bagaimana Gus Pur (dr Handoyo) dalam Republik Mimpi menirukan kalimat itu sambil sekali-sekali tangan kanannya menepuk-nepuk sesuatu.

Ketika menjabat presiden, “gitu aja kok repot” tetap menjadi ciri khas ketika menyampaikan pengarahan di berbagai acara, sekalipun acara resmi kenegaraan.

“Memang kalau di tangan Gus Dur, semua persoalan yang sulit dan rumit bisa menjadi cair,” tutur Drs H Slamet Effendy Yusuf MSi, mantan Ketua Umum PP Gerakan Pemuda Ansor. “Jadi, gitu aja kok repot itu sudah biasa diucapkan sejak dulu,” katanya.

Ketika terjadi perbedaan pandangan antara Gus Dur dengan Mustasyar PBNU KH As’ad Syamsul Arifin. Hampir semua kiai dibuat bingung. Sampai pada puncaknya Kiai As’ad menjelang Munas dan Konbes NU di Pesantren Ihya Ulumuddin, Kesugihan Cilacap, menyatakan mufarraaqah dengan cucu Hadratussyaih KH Hasyim Asy’ari. Meski begitu, sebagai santri dia tetap rajin sowan ke Kiai As?ad di rumahnya kompleks Pesantren Salafiyah Safi’iyyah, Asembagus, Situbondo.

Menjelang Muktamar Ke-27 NU, 8-12 Desember 1984, di Jakarta muncul “Kelompok G” yang antara lain anggotanya Gus Dur (GD), Said Budairi, Fahmi D Saefuddin, Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) dan Slamet Effendy Yusuf (SEY). Dikenal “Kelompok G” karena rapat-rapatnya lebih sering di Gang G Pasar Minggu, Jakarta, rumah Said Budairi yang akhirnya menjadi Bendahara PBNU. Mereka bertugas membantu merumuskan konsep Khittah 1926 yang akhirnya disepakati di Situbondo. “Ya biasa, Gus Dur selalu mengatakan, gitu aja kok repot. Memang semua masalah akhirnya ya selesai,” kata Slamet.

Darah Biru Secara genetis KH Abdurrahman Wahid merupakan keturunan darah biru. Darah biru bukan dalam arti kebangsawanan, melainkan bekal dari Allah Subhanahu Wataala berupa kecerdasan luar biasa.

Dia anak seorang tokoh besar umat Islam, khususnya NU. Lahir di Denanyar, Jombang, 4 Agustus 1940. Ayahnya, KH Wahid Hasyim, anak pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia, bernama Hasyim Asy?ari. Ibunya, Hajjah Sholehah, juga keturunan tokoh besar NU, KH Bisri Sansuri.

Nama lengkapnya Abdurrahman Addakhil, artinya Abdurrahman “Sang Penakluk”. Nama yang diambil ayahnya dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol (Andalusia). Belakangan kata Addakhil tidak cukup dikenal dan diganti nama Wahid, nama awal bapaknya, yang merupakan anak sulung KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU Ayahnya menjadi menteri agama pertama Indonesia. Dengan demikian, baik dari garis ayah maupun ibu, Gus Dur merupakan sosok yang menempati strata sosial tinggi dalam masyarakat Indonesia. Namun, sejarah kehidupannya tak mencerminkan kehidupan seorang ningrat. Dia berproses dan hidup sebagaimana layaknya masyarakat kebanyakan. Gus Dur kecil belajar di pesantren. Dia diajar mengaji dan membaca Alquran oleh kakeknya, Hasyim Asy?ari, di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim.

Panggilan “Gus” merupakan tradisi di kalangan pesantren untuk menyebut atau memanggil anak kiai. Di beberapa daerah Jawa Barat, sebutan Gus diganti “Kang” atau “Ning”. Karena namanya Abdurrahman Wahid, dia lebih populer dipanggil Gus Dur. Sama dengan orang memanggil Gus Munif, Gus Baqoh, Gus Kharis, Gus Ubed, Gus Mik, dan lain-lain.

Al-Zastrouw dalam buku Gus Dur Siapa Sih Sampeyan menulis, pada tahun 1949, ketika clash dengan Pemerintah Kolonial Belanda berakhir, dan ayahnya diangkat sebagai menteri agama,keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Gus Dur menyelesaikan sekolahnya di Jakarta. Untuk menambah pengetahuan dan melengkapi pendidikan formal, ia dikirim ayahnya mengikuti les privat bahasa Belanda. Dia menempuh pendidikan itu dengan naik sepeda.

Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam dan mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran bahasa Belanda, Buhl selalu menyajikan musik klasik Barat yang biasa dinikmati orang dewasa. Itulah kali pertama persentuhan Gus Dur kecil dengan budaya Barat.

Menjelang lulus SD, dia memenangi lomba karya tulis dan menerima hadiah dari Pemerintah. Pada april 1953, beberapa bulan sebelum kelulusan, dia pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobil yang dikendarai mengalami kecelakaan. Gus Dur terselamatkan, tetapi ayahnya meninggal dunia. Kematian Wahid Hasyim merupakan pukulan berat bagi keluarganya. Ibu Gus Dur Dur, Ny Sholehah, saat itu mengandung tiga bulan dan menanggung lima anak.

Ingin Jadi ABRI Mungkin tak pernah dibayangkan Gus Dur saat kanak-kanak, remaja, bahkan setelah menjadi Ketua Umum PBNU selama tiga periode. Ketika kecil dia sebenarnya ingin menjadi ABRI. Namun, karena sejak umur 14 tahun dia harus mengenakan kacamata minus, cita-cita itu kandas. Kendati harus berkacamata, Gus Dur justru tekun membaca buku. Berbagai buku dibacanya. Selain itu, ia sangat menyukai sepakbola, seni, catur, bahkan nonton film. Ketika sekolah di SMEP di Yogyakarta, nilainya jeblok, bahkan tinggal kelas. Ini karena ia terlalu menggandrungi banyak hal, terutama buku dan bioskop.

Kesenangannya pada buku membuat kawan-kawannya sesama santri kaget. Sebab, Gus Dur telah melahap buku-buku seperti filsafat Plato, Das Kapital karya Karl Marx, karya Thalles, novel-novel William Bochner, dan masih banyak lagi. Tidak banyak anak sebayanya yang saat itu mempunyai kegemaran seperti Gus Dur.

Pertama di Yogyakarta dia tinggal di Pesantren Krapyak. Namun tidak betah dan merasa terkekang. Atas bantuan ibunya, dia memilih kos di rumah Haji Junaedi, seorang pemimpin lokal Muhammadiyah. Di tempat itu dia kerasan. Sebagai anak kiai, tentu saja ia sangat menekuni ilmu agama. Hal ini sangat cocok dengan cita-cita ibunya yang menginginkan sang anak mewarisi kakek dan ayahnya untuk mengembangkan pesantren dan ilmu agama secara luas.

Gus Dur muda adalah sosok yang sangat rajin belajar, apa saja. Saat menimba ilmu di pesantren, dia tidak mau terkungkung oleh budaya di sana, tetapi ingin lebih banyak lagi memperoleh ilmu. Hal itu terbukti saat tiga tahun menjadi santri di Pesantren Tegalrejo Magelang asuhan KH Chudlori, Gus Dur masih ingin menambah ilmu dari pesantren lain seperti Pesantren Denanyar Jombang asuhan kakeknya, KH Bisri Syanusi.

Selama di pesantren itu, ia banyak menghabiskan waktunya dengan menimba ilmu dari para gurunya. Waktunya benar-benar dimanfaatkan untuk memperoleh sebanyak mungkin ilmu di sana. Pagi-pagi buta telah mengaji tiga kitab dengan seorang kiai pengasuh pesantren, seperti KH Fatah. Siang gantian dia mengajari para santri. Sehabis salat zuhur melanjutkan kembali menimba ilmu kepada kiai lain, seperti KH Masduki, kemudian mengaji kitab lain lagi dengan ustad sang kakek, KH Bisri Syansuri.

Ketekunan dan kegigihan yang luar biasa membuatnya banyak berbeda dari santri lain. Bahkan pada usia yang masih relatif muda, Gus Dur telah fasih dalam penguasaaan gramatika bahasa Arab. Itu tentu sangat membantunya saat Kuliah di Mesir Tahun 1960 Gus Dur berkesempatan menimba ilmu di Mesir melalui sebuah beasiswa yang diperoleh dari Departemen Agama. Saat itu usianya 23 tahun. Di sana ia menimba ilmu dengan mengambil spesialisasi bidang syariah yang dilaluinya selama tujuh tahun. Namun karena terlalu aktif berorganisasi, ia tidak berhasil menyelesaikan kuliah.

Dari Kairo ia pindah ke Baghdad, Irak, dengan mengambil spesialisasi sastra dan ilmu humoris. Di sinilah Gus Dur berkenalan dengan pemikiran tokoh-tokoh seperti Emile Durkheim. Sebagai anak muda, Gus Dur yang penuh aktivitas belajar itu tidak melupakan urusan asmara. Hanya, model bercinta Gus Dur agak berbeda dari remaja saat itu. Hanya akibat tidak mau dilangkahi adiknya yang segera akan melangsungkan pernikahan, Gus Dur meminta tolong kakeknya, KH Bisri Syansuri, untuk melamar gadis pujaannya yang tak lain adalah bekas muridnya ketika Gus Dur mengajar di Pesantren Tambakberas.

Tidak hanya itu, Gus Dur meminta tolong sekaligus mewakili dirinya naik ke pelaminan. Gadis itu adalah Siti Nuriyah, putri H Abdulah Syukur, pedagang daging terkenal. Seorang gadis yang memang sebelum pergi ke Mesir telah ?dipesan? melalui orang tua gadis itu. Ia kemudian tidak pernah bertemu lagi dengan gadis itu. Komunikasi hanya melalui surat. Dan ternyata Gus Dur langsung menikahinya dengan cara yang unik pula: nikah jarak jauh. Nikah jarak jauh yang cukup unik itu berlangsung di Tambakberas, 11 Juli 1968. Sebagaimana permintaan dia, wakil pengantin laki-laki adalah Kiai Bisri Syansuri. Perkawinan unik dan langka ini membuat suasana perkawinan betul-betul istimewa, bahkan sempat membuat geger tamu undangan. Bagaimana tidak, pengantin laki-laki sudah tua. Namun kesalahpahaman itu hilang setelah pada 11 September 1971, pasangan Gus Dur-Nuriyah melangsungkan pesta pernikahan. Pernikahan yang unik itu menghasilkan empat putri. Mereka adalah Alissa Munawwarah, Arifah, Chyatunnufus, dan Inayah.

Ilmu Laduni Di kalangan warga NU, Gus Dur dinilai memiliki ilmu laduni, yakni ilmu yang diberikan Yang Maha Kuasa hanya kepada umatnya yang dikehendaki. Tak hanya warga Nahdliyyin, umat Islam, warga Indonesia, komunitas internasional juga sangat mengagumi pemikiran-pemikiran cemerlang Gus Dur. Demokrasi, pluralisme, antidiskriminasi, antikekerasan, Islam moderat, humanisme, dan lainnya adalah di antara banyak tema besar yang diperjuangkan Gus Dur sejak kepulangannya dari belajar di Universitas Al Azhar Mesir dan Universitas Baghdad Irak.

Bukti konkret bagaimana Gus Dur sangat tak menyukai kekerasan bisa dilihat dari kejadian politik yang berujung pada turunnya Gus Dur dari kursi presiden RI pada tahun 2001 lalu. Kendati memiliki massa pendukung fanatik berjumlah puluhan juta, mengingat NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia, Gus Dur melarang massa pendukungnya memakai cara-cara kekerasan ketika dia dijatuhkan dari kursi kepresidenan pada SI MPR 2001.

Begitu pun yang terjadi saat konflik PKB. Gus Dur bersama KH Ilyas Ruchiyat (Pondok Cipasung Tasikmalaya, Jabar), KH Moenasir Ali (Mojokerto, Jatim), KH Mustofa Bisri (Rembang, Jateng), dan KH Abdul Muchit Muzadi (Jember, Jatim) adalah pendiri dan deklarator PKB. Namun ketika konflik PKB memuncak dan terjadi dualisme kepemimpinan dan berujung terdepaknya Gus Dur dari kursi ketua umum dewan syuro, Gus Dur tak memakai cara-cara inkonstitusional, seperti kekerasan, untuk merebut kembali kepemimpinan puncak PKB.

Ya itulah Gus Dur, tak ada satu pihak pun yang meragukan komitmen dan kecintaan Gus Dur kepada bangsa dan negara yang berdasar Pancasila ini. Contohnya, ketika rezim Orde Baru (Orba) mulai mengharuskan semua parpol dan ormas menggunakan asas Pancasila, NU adalah organisasi nonparpol yang pertama kali menerapkan kebijakan itu.

Itu salah satu prestasi dan karya besar Gus Dur untuk bangsa ini terkait penanaman ideologi bangsa. Gus Dur berhasil mengegolkan itu berkat dukungan banyak kiai dan tokoh reformis di NU, seperti KH Achmad Siddiq (Jember), KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), KHMA Sahal Mahfudh, Fahmi Syaifuddin Zuhri, Said Budairy, dan lainnya. Keputusan NU pada Muktamar ke-27 itu dinilai Menteri Agama waktu itu, Munawir Sjadzali, sebagai kompromi cemerlang. Banyak kalangan memberikan respek dan apresiasi atas keputusan itu. Langkah NU itu di kemudian hari diikuti ormas lain.

Gus Dur itulah pribadi dan tokoh tanpa dendam. Komunikasinya sangat cair. Pada Maret 1991 mendirikan Forum Demokrasi (Fordem) bersama sekitar 45 intelektual terkemuka di Indonesia. Fordem dilatari kegelisahan dan banyak kalangan kritis di Indonesia atas kemungkinan menguatnya politik sektarian di Indonesia. Gus Dur ingin mengingatkan bahwa Indonesia itu plural kendati kalangan Islam merupakan kekuatan mayoritas.

Tentu saja, pendirian Fordem sangat mengejutkan dan mengundang perhatian khusus pemerintah Soeharto. Kegiatan Gus Dur terus diawasi ketat. Puncaknya pada Muktamar NU di Pondok Cipasung, Tasikmalaya, Jabar, tahun 1994 terjadi intervensi luar biasa di forum muktamar. Gus Dur menang atas pesaingnya Abu Hasan. Organisasi NU diobrak-abrik oleh kekuatan eksternal, misalnya dengan berdirinya KPPNU yang dipimpin Abu Hasan.

Tapi, kekuatan arus bawah NU masih merapat dan melingkari Gus Dur. Mantan Presiden RI Ke-4 ini tetap dikukuhkan dan didukung sebagai orang pertama NU, ormas Islam Tradisional yang didirikan dua kakeknya: KH Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syamsuri. Gus Dur tetap berjalan dan bergerak kekuatan demokratis yang diyakininya. Pada tahun 1996 di Pondok Genggong, Probolinggo, Presiden Soeharto bersalaman dengan Gus Dur. Momentum politik itu menandai meredanya hubungan antiklimaks antara NU dan pemerintahan Orde Baru. Kejadian itu dikenang dengan sebutan Salaman Genggong.

Dalam kaitan Islam dan demokrasi, Douglas E Ramage dalam buku Tradisionalisme Radikal (Persinggungan NU-Negara), antara lain melukiskan bagaimana konsistensi yang begitu kuat dari Gus Dur dalam memperjuangkan demokrasi.

Ia terpilih sebagai ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Pondok Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, dengan dukungan kiai-kiai NU yang menghendaki NU kembali ke khittah 1926, seperti KH Achmad Siddiq, KH As’ad Syamsul Arifin, KHMA Sahal Mahfudh, dan lainnya. Munculnya Gus Dur di puncak kepemimpinan NU diawali dengan konflik cukup tajam antara kubu Cipete dengan tokoh utama KH Idham Chalid dan kubu Situbondo dengan tokoh puncak KH As’ad dan KH Achmad Siddiq.

Demikian pula pada Muktamar ke-28 NU di Pondok Krapyak Yogyakarta tahun 1989, Gus Dur terpilih secara aklamasi. Pondok Krapyak memiliki hubungan khusus dengan Gus Dur, karena yang bersangkutan pernah lama nyantri di pondok yang di bawah pimpinan KH Ali Maksum selain Pondok API Tegalrejo, Magelang di bawah pimpinan KH Chudlori. Adalah KH Ali Maksum yang menjadi Ketua Sementara PBNU dan Rais Am PBNU sekaligus ketika terjadi pertentangan di antara kubu Situbondo versus kubu Cipete menjelang Muktamar Situbondo dan pascapemilu 1992. Gus Dur menyerahkan tongkat kepemimpinan NU kepada KH Hasyim Muzadi pada Muktamar Lirboyo Kediri tahun 1999.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *