Penolakan Kembali Hampiri Penghargaan Achmad Bakrie 2010

Aguslia Hidayah
http://www.tempointeraktif.com/

Memasuki tahun ke delapan, Penghargaan Achmad Bakrie 2010 (PAB), kembali membidik lima ?pejuang? yang berdedikasi tinggi. Mereka adalah Daniel Murdiyarso untuk bidang sains, Daoed Joesoef dari bidang pemikiran sosial, Sitor Situmorang sebagai perwakilan bidang kesusastraan, Sjamsoe’oed Sadjad dalam bidang teknologi, dan S. Yati Soenarto di bidang kedokteran.

Kali ini, penghargaan tersebut kembali mendapatkan ?perhatian lebih? dari beberapa penerimanya. Adalah Sitor dan Daoed, dua dari penerima penghargaan menolak menerima anugerah berhadiah Rp. 250 juta itu. Aksi Sitor dan Daoed ini mengingatkan publik kepada dua tokoh nasional lainnya, yaitu Romo Franz Magnis Suseno dan sastrawan Goenawan Mohammad yang lebih dulu mengembalikan penghargaan itu karena alasan tidak setuju dengan sikap Aburizal Bakrie.

?Saya rasa mereka yang menolak itu karena salah persepsi. Ini sebuah penghargaan murni, sebaiknya jangan mencampurkan nilai penghargaan itu dengan dinamika politik dan bisnis dari keluarga Bakrie sebagai sponsor utama,? ujar Rizal Mallarangeng, Direktur Eksekutif Freedom Institute, dalam jumpa wartawan di Wisma Proklamasi, Rabu (28/7) siang tadi.

Namun seperti lazimnya, PAB tidak mencari pengganti Sitor dan Daoed. ?Sikap ini sebagai wujud penghormatan kami pada keputusan yang mereka ambil,? ujar Ulil Absar Abdallah, perwakilan juri. Menurut Ulil, surat penolakan dari Sitor yang kini berada di Belanda disampaikan melalui surat yang dikirim secara langsung. ?Kami menerima keputusan itu sebulan sebelumnya,? ujarnya.

Rizal mengatakan ada nuansa politis di balik penolakan tersebut. ?Saya rasa ada nuansa politis yang membuat mereka merasa belum sreg menerima itu,? kata Rizal. Meski begitu, Rizal menyatakan hal itu tak mempengaruhi citra penghargaan ini. ?Seperti halnya Nobel sajalah,? ujarnya. Penghargaan Nobel lalu jatuh kepada Barack Obama sebagai ikon penyuara perdamaian. ?Keputusan terhadap Obama itu saja banyak kontroversinya karena dia dinilai belum berbuat apa-apa, meski begitu tetap saja nama Nobel harum dan positif,? jelasnya. Bagi Rizal, justru dengan adanya penolakan ini, PAB jadi terlihat semakin penting. ?Kalau tak penting, untuk apa repot-repot menolak,? katanya.

Tahun ini, bekerjasama dengan Freedom Institute, PAB menambahkan kategori baru sebagai ciri khas penghargaan–selalu ada penambahan di tiap tahunnya. ?Kategori itu adalah Hadiah Khusus yang diberikan kepada peneliti muda di bawah usia 40 tahun,? ujar Rizal. Penghargaan itu diberikan pada Ratno Nuryadi, yang berhasil membuat mikroskop gaya atom untuk pengukuran material berskala nanometer.

Malam penganugerahannya akan disiarkan langsung oleh ANTV dan TVOne pada Kamis malam, 5 Agustus 2010. Acara ini akan dimeriahkan oleh penampilan sejumlah artis tenar, seperti Rossa, Andien, Gita Gutawa, Nidji, dan Darius Sinathrya.

3 Replies to “Penolakan Kembali Hampiri Penghargaan Achmad Bakrie 2010”

  1. Seandainya saja, menerima PAB itu, maka bisa juga dikatakan bernuansa politis, yang notabene akan mengarah pada paradigma politik tertentu, kasih juga yang mendapatkan PAB kalau hanya “mencitrakan” tanpa disadari oleh pihak penerima.

    Lain halnya, kalau menolak, Bakrie, juga mengatakan ada nuansa politis di balik penolakan dan pengembalian PAB.

    Terus bagusnya bagaimana? Setidaknya, setiap pihak memiliki jalan pikiran yang berbeda-beda, kepala dan perut yang berbeda, dan kalau memang toh, dengan penolakan PAB, seperti yang diungkapkan Bakrie, bahwa tidak mempengaruhi citra dari PAB, berarti bukan soal, tidak usah menyatakan ada nuansa politis atau tidak dibalik penerimaan atau pengembaliannya.

  2. Sastra-Indonesia.com sampai kiamat tidak kepincut uang koruptor bung, setujunya para koruptor dihabisi secepatnya, sebab sudah menyengsarakan rakyat dengan hutang bertumpuk dan sebangsatnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *