Via Seni Senjakala Baru

Wahyudin*
http://www.jawapos.co.id/

Apa cerita Wimo Ambala Bayang kepada sepasang waria, tiga binaragawan, sekelompok ibu pesenam aerobik, dan tiga (orang berbaju) superhero Jepang sebelum dia mengambil gambar mereka? Bagaimana dia mengutarakannya sehingga mereka berkenan berpose beraneka gaya dengan menggegam, mengacung, dan menodongkan senjata mainan plastik di hadapannya?

Pertanyaan itu serupa tapi tak sama dengan pertanyaan sejarawan seni John Berger atas karya-karya fotografi August Sander yang bertajuk Man of the 20th Century, yang menari-nari dalam benak saya ketika saya melihat empat lembar foto karya Wimo Ambala Bayang dalam proyek pameran fotografi Cut2010: New Photography from Southeast Asia: Parallel Universe, yang diusung Valentine Willie Fine Art di Sangkring Art Space, Jogjakarta, pada 6 Agustus-11 September 2010.

Apakah Wimo mengutarakannya dengan bersilat lidah, membujuk rayu, atau mengiming-iming gambar mereka akan menjadi rekaman “sejarah pemikiran” fotografi kontemporer? Apakah salah seorang pentolan Mes 56 Jogjakarta itu merujuk “sejarah pemikiran” fotografi yang memungkinkan mereka menjadi pelaku aktivitas yang disadari, bukan sebaliknya, sehingga menatap kameranya sebagai tulisan cahaya yang akan menceritakan diri mereka dalam lakon yang dia rancang?

Saya tak tahu. Tapi, saya tahu pasti bahwa empat lembar foto itu pernah dipajang dalam pameran fotografi bertajuk Belanda Sudah Dekat, yang merupakan bagian dari program residensi Landing Soon pada 2008 di Rumah Seni Cemeti. Syahdan, pameran tersebut menjadi ajang Wimo memain-mainkan tamsil Belanda Masih Jauh, yang telanjur menjelma dalam tindakan sehari-hari kita yang cenderung “pelan-pelan asal selamat”. Helatan itu juga merupakan “uncang-uncang kaki” sebagai pelesetan penggeli hati untuk melipur hati nan lara, alih-alih merenung sembari tersenyum tentang penjajah dan penjajahan serta cara menyikapinya dalam politik ingatan kita saat ini.

Kalau kemudian terlihat sebagai sesuatu yang baru dalam khazanah fotografi Asia Tenggara, menurut saya, permainan itu berkenaan dengan pemikiran tentang fotografi sebagai hal yang disebut Susan Sontag seni senjakala, yang mengarak awan-awan fantasi dan informasi; melesatkan peluru-peluru hasrat dan pendapat; serta mengembuskan angin-angin pesan, makna, dan omong kosong.

Dengan begitu, bisa dipahami alasan pameran tersebut memajang karya Eiffel Chong, seniman foto dari Malaysia, I Will Let You Whip Me if I Misbehave (2008) dan She Used Her Hand to Slip Me Inside Her (2008), yang merupakan alam bawah sadar dan hasrat manusia kepada erotisme sebagai perkara laten yang bertukar tangkap dalam rupa boneka perempuan Jepang nan bergaya aduhai atau seronok.

Di sini, kamera Eiffel telah menjelma sebagai, pinjam istilah Don Slater, “perkakas massa representasi” untuk merepresentasikan tindakan “mengalami kesenangan visual sebagai produsen” dari citraan dan angan-angan erotis tentang ketelanjangan yang terbungkus produk budaya populer.

Dalam pemahaman yang lebih luas, sebagaimana pernah diutarakan oleh Roland Barthes, ketelanjangan, seperti halnya dengan politik, adalah kekosongan yang mengundang banyak makna, wilayah yang terbuka terhadap segala bahasa atau tafsiran. Demikianlah Frankie Callaghan, seniman foto Filipina, dalam karya-karyanya, misalnya yang bertajuk Guardian the Woods (2008) dan Seven (2008), memaknai kekosongan sebuah gedung dan hutan sebagai lanskap eksistensial makhluk-makhluk gaib berwujud cahaya.

Pada lanskap tak kasatmata itu, kamera memainkan peran dengan sempurna sebagai semacam mata batin yang mampu menangkap, menguak, dan merekam makhluk-makhluk hidup di “dunia lain”, seperti yang diperlihatkan Zhao Renhui dan The Institute of Critical Zoologists dari Singapura dalam serial karya fotografi tentang binatang-binatang di Pulau Pejantan, antara lain Day 61, Camera Trap No.168 (2009) dan Ghost Hare (2009).

Dengan perkataan lain, mereka percaya penuh terhadap kemampuan kamera mengungkap rahasia di balik “dunia lain” itu, sebagaimana ditegaskan oleh seniman foto Tanapol Kaewpring dari Thailand dalam seri karya kotak cahaya bertajuk Untitled (2010). Bahkan, seperti yang dipercaya Arya Pandjalu dan Sara Nuytemans, pasangan perupa Indonesia-Belanda, kamera memiliki kecakapan adikodrati untuk menyingkap yang asli dan tiruan atau yang nyata dan palsu dalam pikiran manusia.

Kita bisa menemukan kepercayaan itu mengejawantah dalam seri karya fotografi bertajuk Birdprayer (2007-2009) pada pameran yang diampu Eva McGoven, perempuan penulis dan kurator independen berwajah bening dari Kuala Lumpur, Malaysia, yang kebeningannya konon telah menikam mata hati seorang ahli semiotika dari Jogjakarta.

Dalam perkara tersebut, pada hemat saya, Arya dan Nuytemans memiliki benang merah pemikiran dengan Mintio, perupa foto dari Singapura, yang mengusung seri karya The Hall of Hyperdelic Youth (2010) sebagai serangkaian pengamatan dan pemahaman terhadap apa yang ada di balik laman pikiran, hasrat, dan imajinasi anak-anak muda Singapura kala berselancar di dunia maya.

Apa pun soalnya, yang riil atau artifisial dalam fotografi selalu berhubungan dengan hal yang disebut Victor Burgin sebagai kesadaran subjek, yaitu refleksi, introspeksi, dan memori. Maka, kita bisa berhenti sejenak untuk melihat karya Michael Shaowanasai yang berjudul Life of a Woman: Never Ending Journey (2005) dan Four Faces of Faith: A Girl in Rose Blouse (2005). Dalam karya itu, perupa Thailand tersebut memeragakan (acting out) diri sebagai perempuan untuk masuk serta menemukan permenungan tentang arti menjadi perempuan dalam peran dan status kultural yang berbeda-beda tapi tetap satu: perempuan yang patut di?hargai dan dihormati.

Pada titik itu, kita tak bisa menghindar dari karya Wawi Navarroza, Not Today (2010), yang merupakan peragaan fotografis akan kekerasan politik menjelang pemilihan umum di Maguindanao, Filipina Selatan, yang secara brutal menewaskan 59 orang, termasuk politisi, jurnalis, pengacara, dan masyarakat biasa yang tak berdosa.

Terinspirasi lukisan terkenal Goya, The Third of May (1808), Navarroza memeragakan pembantaian itu dengan kesadaran subjek yang, pinjam kata-kata Barthes, “berhasrat terhadap makna, menyukai tanda-tanda, dan sangat tergila-gila kepadanya” sebagai semacam tugas suci fotografi untuk melawan lupa, alih-alih menghadirkan informasi dan mengekalkan ingatan dalam tulisan cahaya.

Namun demikian, dengan kesadaran subjek masing-masing, tugas suci itu bisa juga berarti praktik artistik yang mengapropriasi gambar-foto yang sudah ada dengan sedikit variasi untuk membuka-menutup, mengungkap-menyembunyikan, menambal sulam, atau menyangkal-menyetujui nama-identitas, bahasa-sejarah, juga cerita-peristiwa yang dibayangkan, seperti yang dilakukan oleh Shooshie Sulaiman dari Malaysia melalui God Save the Queen (2009) dan Agan Harahap dari Jakarta lewat Neuschwanstein 1945 (2009).

Kalau memang begitu, apa arti menjepret? Apa makna melihat? Di manakah kamera? Pertanyaan-pertanyaan itu bisa jadi sudah kuno bagi mereka yang berambisi mengejar kebaruan dan kekontemporeran untuk berpikir dalam gambar lewat seni senjakala. (*)

*) Kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *