Kuas Tebal Aan Arief

Afnan Malay*
http://www.jawapos.co.id/

Aan Arief, perupa kelahiran Jogja, 21 April 1973, yang belajar seni lukis secara akademis di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, setahun belakangan ini tampak kembali intens menggeluti seni rupa setelah vakum. Ketersendatan yang dialami Aan lebih diakibatkan faktor kecanduan alkohol (alcoholic) daripada kemampuan teknik melukisnya atau apresiasi yang minim atas karya-karyanya. Kawannya seangkatan di kampus ISI, S. Teddy D., yang dikenal paling intim dengan minuman beralkohol, konon pada masa-masa awal kuliah (1992) ”belajar minum” kepada Aan.

Kini sebaliknya, Aan berhenti mendekati alkohol dan mencoba suntuk melukis hingga mulai ”kecanduan kerja” (workaholic) seperti yang ditunjukkan Teddy. Figur-figur realis hasil sapuan kuas tebal Aan yang spontan pada lukisan-lukisannya tampak sangat ekspresif. Figur-figur yang semula dikonstruksikan secara realis itu ternyata tidak cukup bertahan untuk menampung energi Aan.

Dia tidak ingin serta-merta berhenti sebelum lukisan-lukisannya diselesaikan dengan cara eksekusi yang dekonstruktif menggunakan pisau palet dengan memainkan teknik blur. Karena itu, cat minyak bergoresan sapuan tebal-tebal di atas kanvas hanya memiliki jeda beberapa saat untuk akhirnya ditoreh-tebas horizontal oleh pisau palet Aan. Bagian-bagian yang tertoreh dan tertebas masih menyisakan tekstur tebal-kasar apa adanya.

Tebal-tipis akibat torehan-tebasan dan yang dibiarkan tidak tertoreh-tertebas menghadirkan sesuatu yang menarik, semacam permainan kontradiksi: yang tertoreh menawarkan kelembutan impresif, cat yang dibiarkan luput dari goresan menghadirkan gejolak ekspresif. Kontradiksi itu terkadang meninggalkan sesuatu yang langut, hampa: kosong. Tetapi, sekaligus tak bisa dimungkiri visual yang begitu kasat mempresentasikan gelora, asa: penuh.

Kemampuan Aan dengan teknik melukisnya menarik karena apa yang kita sangka ”kontradiksi teknik” itu sebenarnya mewartakan keberimbangan (balancing). Karena kerja serius, Aan mendapat kesempatan untuk kembali ke habitatnya dengan cara merambat aktif dalam sejumlah pameran.

Tahun ini tercatat dia berpatisipasi pada beberapa pameran bersama. Pada pameran ”Pluralisme: Masih Ada Gus Dur” (Langgeng Gallery, Magelang), dia menampilkan Gus Dur yang tengah tertawa lebar menyoal penyensoran terhadap keberagaman. Lukisan dua panel ukuran 200 x 180 cm itu diberi judul Jangan Ada Sensor di Antara Kita. Idenya terinspirasi Gus Dur yang dikenal pecandu film pernah terlibat aktif sebagai anggota Badan Sensor Film (BSF). Pameran ”Rehorny” (Jogja National Museum) membidik selebritas Victoria Beckham (The Real Supporter) dikombinasi kolase. Sedangkan pada pameran ”Soccer Fever” (Galeri Canna, Jakarta), Aan menorehkan lukisan Goal Celebration. Pada forum ART JOG 10 yang diselenggarakan Heri Pemad Art Management (TBY, Jogja), karya Aan yang dipajang adalah Loneliness in Crowd dan dua panel sepasang kekasih kelas atas yang larut beradegan French Kiss.

Hasil teknik penggunaan kuas tebal Aan sekilas mengingatkan pada karya-karya pelukis kelahiran Shanghai 1960: Yan Pei-Ming. Dikatakan sekilas karena kerja sapuan kuas Pei-Ming yang terkesan spontan membentuk subjek-objek garapannya. Sapuan kuasnya pada bagian-bagian tertentu memberikan kesan dekonstruksi.

Misalnya, tampak pada lukisan Mao Zedong, Self-Potrait, atau Pope. Aan justru bergerak pada paradigma yang berlawanan, karya-karya realis digarap dulu, baru kemudian didekonstruksi ditoreh-tebas. Pei-Ming membentuk efek (penekanan pada subjek-objek), sedangkan Aan bekerja menemukannya (penekanan pada jelajah kanvas). Berbeda dengan Pei Ming, pada setiap karya Aan tercipta bagian yang rata-datar dan kasar-bertekstur.

Perbandingan lain untuk karya-karya Aan adalah Iswanto dan Monika Ary Kartika. Pada Iswanto terutama torehan-tebasan pisau paling, tetapi pada subjek-objek lukisan sangat berbeda. Pada karya Iswanto, subjek-objek terbentuk oleh sapuan langsung pisau paling dan figur-figurnya tidak realis seperti yang dikerjakan Aan.

Pada Monika, lukisan Aan memiliki kesamaan pada efek bergerak yang ditimbulkan. Tetapi, pada Monika, gerakan itu bersifat teknologis. Gerakan adalah kecepatan yang merujuk pada paradigma efisiensi-efektif (memburu waktu). Sedangkan pada Aan, gerakan itu -lagi-lagi ditemukan- akibat torehan-tebasan pada bidang kanvas, paradigmanya tidak melulu -memburu waktu.

Itu bisa dirasakan pada karya Aan French Kiss. Gerakan itu justru membuat hanyut dan cenderung merupakan slow motion (irama, gelombang) atau adegan yang ingin selalu direpetisi. Bahkan, pada karya Monroe, yang menampilkan Marylin yang tertawa lepas (bibir merekah, tetapi kedua mata meredup), Aan berhasil merajut ihwal yang kontrakdiktif: sapuan kuas tebalnya mewartakan karakter yang ekspresif sekaligus kehampaan yang mendera. Pada lukisan Marylin Monroe ditorehkan tulisan, Dogs never bite mo…Just humans. Kalimat itu ungkapan Marylin yang dicuplik dari buku bertajuk Marylin Monroe, A Life In Picture yang diedit Anne Verlha dan dikatapengantari David Thomson (2007).

Torehan-tebasan Aan yang karya-karya awalnya terpesona garapan maestro Hendra Gunawan dengan subjek-objek kaum proletar ala Djoko Pekik ini, tentu dengan kerja keras (dari alcoholic menuju workaholic, ucapan penyemangat yang diberikan kawan-kawannya termasuk Dipo Andy), akan tercatat makin menemukan posisi pijaknya dalam dunia yang sempat tidak digelutinya itu. (*)

*) Afnan Malay, kurator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *