Matahari Telah Berpulang: Merenungkan Sufisme Gus Dur

Husein Muhammad
gusdurian.net

LANGIT DESEMBER YANG MURUNG

Jam 19.00, satu hari menjelang tahun 2009 berganti, HP berdering mengganggu makan malam gratis saya di rumah makan “Jepun”, milik N, sahabat saya. Jay, wartawan Koran Sindo mengkonfimasi kabar mengejutkan. “Bagaimana Gus Dur, aku dengar beliau wafat”, katanya tegang. Dengan dada berdegup, saya segera menghubungi A.W. Maryanto, teman yang selalu mendampingi Gus Dur di Rumah Sakit. Jawabannya tak meyakinkan. Katanya : “Aku baru saja istirahat dan sekarang sedang makan. Jam 17.00 tadi, 18 orang dokter khusus telah memeriksa kesehatan Bapak dan beliau sudah baik”. Tetapi saya penasaran. Yenni, putri kedua Gus Dur, saya kontak. “Bapak meninggal, mbak Yenni di dalam”, suara Innayah, putri bungsunya, lirih bergetar, tersekat. Dan saya terkulai lemas. Langit 30 Desember 2009 tiba-tiba menjadi muram. Saya segera sms Ibu Shinta, isteri tercinta Gus Dur : “Ibu, saya sangat menyesal tidak berada di samping bapak, seperti sebelumnya, mohon maaf”. Ya seperti sebelumnya ketika Gus Dur beberapa kali berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, saya menjenguknya sekaligus mendo?akan kesembuhannya dengan segera. Dan saya merasa mendapat kehormatan, ketika beliau meminta saya berdo?a bagi kesehatannya. Dengan tetap berbaring di tempatnya, di didampingi ibu dan orang-orang yang hadir, Gus Dur dan mereka mengamininya.

Sepanjang jalan dari Cirebon ke Ciganjur, sms dari teman-teman dari segala macam identitas diri; Kiyai, Santri, Abangan, Pendeta, Romo, Bhiku, penganut Konghuchu dan Ahmadiyah, terus berhamburan masuk ke HP saya. Mereka menyatakan duka nestapa teramat dalam dan rasa kehilangan atas kepergian orang yang dicintainya. Saya tak mengerti mengapa mereka mengirim sms, selain ingin mengabari saya tentang wafatnya Gus Dur dan mendoakan bagi orang yang mereka kagumi dan keluarga yang ditinggalkannya. Saya membalasnya singkat: “Dia yang selalu membagi kegembiraan, cinta dan harapan pada bangsa, Negara dan mereka yang tak berdaya, telah kembali kepada kekasihnya, dalam damai abadi”.

Dini hari yang sejuk, jam 03.00, ketika saya tiba, jalan Warung Sila sampai rumah duka, karangan bunga berwarna-warni, tanda duka cita, berjejer tak berjarak, berserak dan bertumpuk, bagi “Presiden ke 4”, bukan “Mantan Presiden”. Saya tak bisa menghitung jumlahnya. Beberapa jam sebelumnya jalan ini macet total. Ratusan kendaraan dan pejalan kaki seakan tak bergerak. Semuanya sengaja datang ke Ciganjur, ke rumah Gus Dur, menyambut kedatangannya dan menyampaikan ta’ziyah kepada keluarganya. Ketika saya tiba, ribuan orang masih berjaga di ruang-ruang di sekitar rumah. Masjid al Munawwaroh, tempat Gus Dur mengaji kitab “al Hikam”, karya Ibnu Athaillah, seorang sufi besar, dan kitab-kitab yang lain, masih gemuruh dengan bacaan ayat-ayat suci al Qur’an. Saya segera masuk rumah. Jenazah sudah dibaringkan. Wajah Gus Dur yang tertutup kelambu putih yang tipis, terlihat jelas, seakan-akan sengaja dibiarkan demikian agar para pelayat bisa melihatnya. Saya segera mendapat giliran entah untuk yang ke berapa kali, memimpin shalat janazah, tahlil dan berdo?a.

Di hadapan tubuh yang masih utuh itu, saya teringat kata-kata dalam sebuah buku tasawuf: “Ketika jiwa pergi dalam keadaan bersih, tanpa membawa serta bersamanya hasrat-hasrat rendah duniawi yang menciptakan ketergantungan, yang selama hidupnya selalu dihindari dan tak pernah dibiarkan menguasi diri; menjadi diri sendiri dan menempatkan perpisahan jiwa dari badan sebagai tujuan dan bahan permenungan? maka jiwa itu telah siap untuk memasuki wilayah kasat mata di mana para bijak tinggal”.

Ya, inilah jiwa yang telah matang. Ia yang hatinya telah menjadi hati orang-orang yang ditinggalkannya, yang dicintainya. Ia yang telah membagi cinta kepada mereka yang hatinya remuk-redam, tak berdaya dan tanpa gantungan. Ia yang bicara begitu bebas, tanpa beban, polos, karena tak punya hasrat rendah apapun dan tak tergantung pada siapapun, kecuali kepada Tuhan. Ia yang tak pernah peduli dengan gelar-gelar kehormatan yang dianugerahkan dunia kepadanya. Ia yang pikirannya mampu menjangkau masa depan dan melampaui zaman, tetapi yang tetap bisa bertahan dengan kokoh menjalani tradisinya. Ia yang tak pernah gentar untuk melawan setiap tangan tiranik dan korup. Ia yang tak mau kompromi terhadapnya dan peduli pada cibiran orang kepadanya.

Begitu usai, saya masuk ke bagian dalam rumah yang kamar-kamarnya sudah lama saya hapal. Ibu sudah di dalam kamarnya yang tampak remang, didampingi tiga putriya, tentu dalam rinai tangis yang mengiris. Saya tak bisa menemui beliau untuk ta’ziyah, membesarkan hatinya dengan kesabaran dan ketulusan. Saya hanya bertemu Lissa, putri pertamanya dan menyampaikan ta’ziyah itu. Matanya masih tampak lebam dengan wajah sendu, tak bergairah, meski tetap bisa senyum. Saya diminta mengantarnya untuk melihat ayahnya, membuka tirai yang menutup wajahnya, lalu membaca tahlil dan berdoa. Lissa tertunduk dan terisak-isak lirih. Kami melihat dengan jelas wajah Gus Dur, sungguh, tampak ceria, tenang dan teduh. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan tulus dan diridhai-Nya. Amin”. Ayat suci ini saya baca berulang.

Masih dalam posisi berdiri sambil menunduk, saya segera teringat kembali syair yang acapkali ditembangkan Gus Dur:

Ketika ibumu melahirkanmu, Wahai anak cucu Adam
Engkau menangis, sedang orang-orang di sekitarmu
Menyambutmu dengan riang
Maka, bekerjalah sungguh-sungguh untukmu sendiri
ketika engkau tak lagi bersama mereka selamanya,
mereka menangis tersedu-sedu
Sedang engkau pulang sendiri sambil tersenyum manis

Seperti bunyi syair di atas, ribuan orang di seluruh negeri, malam itu, berduka dan menangis tersedu-sedu. Sebagian histeris. Sementara Gus Dur memang pulang sendirian dengan riang. Beliau akan segera memasuki gerbang rumah abadi yang damai. Usai shalaat subuh dan ketika matahari beranjak naik, jenazah dibawa dengan kehormatan kenegaraan, menuju Pesantren Tebuireng, Jombang untuk diistirahkan selama-lamanya di samping ayah; K.H. Wahid Hasyim dan kakeknya; Hadratusyeikh K.H. Hasyim Asy?ari. Karena terlambat mendaftar, saya tidak bisa ikut mengantarnya sampai Jombang.

Di tempat peristirahatannya yang terakhir itu, sebelum tubuhnya diturunkan ke bumi, Gus Dur mungkin masih membagi kegembiraan dan pesan kepada para pengantarnya untuk tidak menangisi kepulangannya, seperti pesan Maulana Jalaluddin Rumi ini :

Jangan menangis: “Aduhai kenapa pergi!”
Dalam pemakamanku
Bagiku, inilah bahagia!
Jangan katakan, “Selamat tinggal”
Ketika aku dimasukkan ke liang lahat
Itu adalah tirai rahmat yang abadi! (D911)

Bila datang ke makamku
Untuk mengunjungiku
Jangan datang ke makamku tanpa genderang
Karena pada perjamuan Tuhan,
Orang berduka tidak diberi tempat

MEMPEREBUTKAN MAKNA GUS DUR

Gus Dur, nama yang akan dikenang rakyat Indonesia berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun tahun dan untuk rentang waktu yang panjang. Boleh jadi ia akan menjadi ikon dan legenda dalam sejarah bangsa muslim terbesar di dunia. Beberapa orang meramal Gus Dur untuk satu atau dua abad kemudian akan berubah menjadi pribadi yang dimitoskan. Mungkin ini pandangan yang berlebihan bagi manusia yang hidup hari ini, tetapi masa depan yang panjang adalah kemungkinan-kemungkinan yang tak terpikirkan. Ketika pikiran-pikiran ditulis sebagai babad, sejarah hidupnya didongengkan kepada anak-anak dan pesan-pesannya dipahat di mana-mana, maka ia sangat mungkin menjadi sarat makna mitis, menjadi Sang Legenda.

Lihatlah, hari ketika ia wafat. Puji-pujian dan kekaguman-kekaguman kepadanya mengalir begitu deras dari berbagai sudut, pojok, pusat lingkaran dan pinggir social yang tak terjamah oleh tangan kekuasaan. Bunga warna warni menebar dan berhamburan ke setiap jalan yang dilaluinya dan menumpuk bagai taman bunga di atas tanah tempat istirahnya yang terakhir dan abadi. Sangatlah terasa dan terlihat dengan kasat mata, pujian dan kekaguman yang disampaikan orang ketika Gus Dur pulang begitu besar, tak terbayangkan dan melampaui kematian orang besar siapapun di negeri ini. Ribuan orang di berbagai kota dan desa menangis tersedu-sedu, pada hari ditinggal Gus Dur dan hari-hari sesudahnya. Mereka berduka sambil komat-kamit memanjatkan doa ampunan dan rahmat baginya. Lihatlah, ribuan para peziarah, perempuan dan laki-laki, tua, muda dan anak-anak, dari berbagai kota datang ke tempat peristirahatan terakhirnya di Tebuireng. Latar pesantren dan masjid di sana tak lagi menampungnya. Masjid-masjid di seluruh negeri segera menyelenggarakan shalat ghaib, membaca al Qur’an surah Yasin dan Tahlil. Pahala bacaan-bacaan suci itu dihadiahkan untuk beliau. Gereja-gereja mendentangkan loncengnya, untuk menyelenggarakan ritual dan do’a khusus bagi Gus Dur. Kuil-kuil, Sinagog-sinagog, Vihara-vihara, Pure-pure, dan tempat-tempat penyembahan yang lain juga menyelenggarakan ritual dan do’a untuknya. Kata mereka, Gus Dur adalah orang suci, sang Santo. Di latar Tugu Proklamasi, sejuta lilin duka dinyalakan mereka yang mencintai Gus Dur, meski dalam rinai hujan. Mereka yang hadir malam itu memakai baju keyakinan yang berbeda-beda. Semua menunduk, berdo?a kepada Yang Maha Esa, tak peduli apa nama dan sebutan-Nya, untuk beliau. Orang-orang yang paling rasional dan mungkin tak pernah taat dalam ritual-ritual, tiba-tiba hanyut dalam emosi melankoli tak terkendali, termangu dan menunduk begitu khusyuk. Logika rasional tiba-tiba membeku dihadapan realitas kematian bapak bangsa itu. Lihatlah, para bikhu dengan pakaian khas mereka, kuning kunyit tua, bersimpuh di depan tanah liat tempat Gus Dur dibaringkan dan diistirahatkan, sambil menggumamkan doa-doa. Kita tak pernah menyaksikan pemandangan indah seperti ini. Lihatlah, bendera merah putih berkibar setengah tiang selama tujuh hari, memberi hormat padanya. Para pemimpin dari berbagai belahan dunia menyampaikan belasungkawa, terima kasih dan harapan agar cita-cita Gus Dur diteruskan oleh siapa saja. Doa-doa dan wirid-wirid mereka bergemuruh berhari-hari memenuhi ruang maya, menembus langit demi langit sampai ujung tanpa batas. Bukan hanya Yusuf Kalla, mantan wakil Presiden, yang bersaksi: “Sepanjang sejarah bangsa ini tak ada orang yang kematiannya diantarkan dengan kehormatan dan doa oleh beragam identitas orang dan dalam jumlah yang begitu masif, kecuali beliau”.

Bagaimana kita memahami fenomena kepulangan Gus Dur seperti itu? Suara apakah gerangan yang membisikkan dan menggerakkan nurani beribu dan berjuta orang untuk mengantar kepulangannya dan berziarah di pusaranya yang bersahaja itu?. Siapakah gerangan yang masuk dan menyentuh relung hati beribu orang termasuk para Pendeta, Romo, Kardinal, Bhiku-Bhikuni, penganut Kong Hu Cu, Ahmadi, pengikut kebatinan-kepercayaan dan lain-lain, sehingga mereka menangisi kepulangan Gus Dur?. Akal manakah yang sanggup menjelaskan fenomena kepiluan, kerinduan dan mabuk kepayang ini?. Tak ada jawaban rasional. Ia hanya bisa dijelaskan oleh para bijak-bestari, para sufi. Mengutip kata-kata Tuhan dalam bahasa Nabi:

Sungguh, jika Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia memanggil Jibril. Tuhan mengatakan: “Aku mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya.” Jibril memanggil penghuni langit. Kepada mereka Jibril mengatakan: “Tuhan mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka para penghuni langit mencintainya. Maka dia dicintai para penghuni bumi”.

Ya, gelombang manusia yang tak berhenti bergerak menziarahi dan mendoakan Gus Dur, adalah karena Tuhan mencintainya, karena Gus Dur mencintai lebih dulu. Mencintai Tuhan adalah mencintai semua dan segala ciptaan-Nya. Pikiran-pikiran dan perjalanan Gus Dur adalah kerinduan-kerinduan kepada Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya. Maka Dialah yang membimbingnya. Maka mereka mencintainya. Gus Dur menumpahkan cintanya kepada mereka dengan tulus. Maka getaran-getaran cinta itu menebar dan menembus jiwa mereka.

Segera sesudah itu, begitu reflektif dan tanpa diminta, ribuan orang berebut memberi makna padanya. Gus Dur adalah “Ulama Besar”, “Guru Bangsa”, “Bapak Pluralisme”, “Bapak Demokrasi”, “Sang Humanis Sejati”, “Pelindung kaum Minoritas”, “Pembela kaum Tertindas”, “Sang Pembebas”, “Negarawan Paripurna”, “Bapak Bhineka Tunggal Ika”, “Intelektual Sejati”, “Budayawan Besar”, “Waliyullah”, dan masih sejuta sebutan lainnya. Aku sendiri ingin menyebutnya “Sang Sufi Besar”. Gus Dur adalah “Matahari Dhuha” yang cahaya spiritualitasnya menebarkan kehangatan cinta, kesegaran, kegairahan sekaligus mencerahkan dan menyuburkan bumi manusia. ?Gus Dur bagaikan gunung berapi yang menyimpan magma spiritualitas begitu dahsyat. Magma itu tak pernah berhenti bergolak dan begitu aktif yang seringkali meletup-letup, menumpahkan lahar panas, mengaliri tanah kering-kerontang. Manakala telah dingin, tanah berubah menjadi subur, bumi menghijau menghasilkan bunga warna-warni, indah dan menebarkan wewangian?.

Sahabat saya Marzuki Wahid, penulis buku Beyond the Symbols, Jejak Antropoligis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, dalam sebuah moment refleksi 100 tokoh atas Gus Dur, di Cirebon, menyampaikan kata pamungkas yang mendebarkan: Gus Dur bukanlah “Guru Bangsa”, bukan “Bapak Pluralisme”, bukan “Ulama”, bukan “Seorang Humanis” bukan “Waliyullah”, bukan “Negarawan Paripurna”, dan bukan seterusnya. Sampai di sini, hati yang hadir berdegup-degup, tersekat-sekat. “Tetapi Gus Dur adalah semuanya”, katanya menuntaskan. Dan suasana berubah menjadi mengharu-biru.

Begitulah setiap orang telah dan akan terus memaknai Gus Dur dengan ungkapan dan cara yang berbeda-beda, berdasarkan pada apa yang dilihat, didengar, diingat dan dirasakannya. Pemaknaan atas sesuatu memang selalu lahir dari pengalaman masing-masing. Eskpresi-ekspresi intelektual dan idiom-idiom psikologis selalu merupakan produk dari ruang dan waktunya sendiri-sendiri, produk pengalaman diri pemberi makna. Tak ada seorang pun yang mampu menghadang pengalaman spiritual setiap orang. Pengalaman adalah kebenaran sejati, meski tak bisa diraba, tak bisa dianalisis dengan nalar. Ia melampaui kecerdasan nalar. Pemaknaan yang beragam atas Gus Dur telah cukup menggambarkan betapa di dalam dirinya sarat dengan makna besar.

Tetapi saya meyakini Gus Dur tak akan pernah meminta diberikan sebutan apapun. Ia akan mengatakan”?aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanyalah hamba Allah”. Ia tak pernah terganggu oleh sebutan-sebutan duniawi. Lebih dari 10 gelar kehormatan akademis tertinggi yang diterimanya dari berbagai universitas prestisius dunia, tak pernah dipakainya dan tak pernah disandangnya, bahkan bingkai-bingkainya tak dipasang di rumahnya. Ketika saya memasuki salah satu kamar di rumahnya, saya melihat, bingkai-bingkai bertulis kata ?penghargaan? tersebut, hanya ditata rapi di atas meja. Gus Dur tak seperti yang lain yang mengejar gelar-gelar kehormatan itu untuk membesarkan dirinya, bahkan meski dengan membayar berapapun. Gus Dur sudah besar dan terhormat, meski tak diberi sebutan kebesaran dan kehormatan apapun. Terhadap penyebutan kehormatan di atas, Gus Dur mungkin akan menyanyikan syair ini :

Masing-masing boleh saja mengaku kekasih “Laila”
Tetapi “Laila” tak mengakui semua itu

Gus Dur bebas dan bersih dari keinginan-keinginan rendah dan kini. Ia tak menginginkan apapun dan tak iri hati pada siapapun. Ia tak menginginkan dan meminta puja-puji apapun dan dari siapapun. Ia menerima apapun yang terjadi (ridha), yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Jiwanya tak ketergantungan pada apa-apa dan pada siapa-siapa. Gelar-gelar kehormatan tak menjadikannya lebih besar. Gus Dur hanya akan mengatakan: “Aku sudah bekerja. Aku sudah berjuang. Aku sudah “berperang”. Aku sudah membagi cinta? dan “Aku sudah memaafkan”. Itu sudah cukup. Selebihnya terserah Tuhan”.

Itu tentu karena Gus Dur telah membaca al Qur;an dan telah lama merenungkan maknanya: “Katakan (wahai Muhammad):” Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Lalu adakah orang yang memberi makna sebaliknya?. Adakah orang yang membencinya dan senang atas kematiannya, atau paling tidak orang yang tak ambil peduli atas kepergiannya?. Seperti kehidupan yang warna-warni, Tuhan juga menciptakan keanekaragam individu dengan sifat kualitatif yang berbeda-beda. Keragaman ini akan terus ada sepanjang kehidupan belum selesai, seperti yang sering disampaikan Gus Dur. Saya membaca di dunia maya beragam komentar sinis terhadapnya. Gus Dur yang sudah selesai menjalani hidup, tetap saja dicaci-maki dan dicemooh oleh sejumlah orang, seperti ketika ia masih dan sedang menjalaninya. Sebagian mereka mengatakan bahwa ia tak pantas dipanggil Gus, karena ini panggilan untuk anak kiyai yang saleh. Lebih tepat ia disebut “Mr. Dur” atau sebutan lain. Bahkan Mr. Dur, kata mereka, tak layak disebut-sebut namanya lagi. Ia telah melukai hati umat dan menjual agamanya. Mereka mengingat apa yang pernah diucapkan dan dilakukan Gus Dur semasa hidupnya yang begitu banyak mengandung kekafiran kesesatan (bidah) dan kemusyrikan. Kehadirannya di sejumlah gereja, pendapatnya agar Assalamu alaikum bisa diganti “Selamat pagi”, persahabatannya dengan Yahudi, Israel, pembelaannya kepada non muslim adalah bentuk-bentuk kekafiran dan melukai umat Islam, prakarsanya untuk mencabut TAP MPRS No. XXV/1966 tentang larangan Komunisme, Leninisme dan Marxisme, serta konsistensinya yang luar biasa untuk menghargai keberagaman keyakinan manusia (Pluralisme) dan sejuta soal lainnya. Ini semua, kata mereka, adalah cacat-cacat Gus Dur yang tidak bisa dimaafkan. Untuk soal Pluralisme, mereka mengangap bahwa ia adalah paham yang sesat dan menyesatkan bahkan merupakan kemusyrikan,karena pluralisme menurut mereka merupakan pengakuan atas kebenaran semua agama-agama dan semua keyakinan-keyakinan manusia. Dan ini dosa maha besar yang tidak akan diampuni.

Di kutub yang lain lagi, saya melihat ada sejumlah orang yang tak bicara apa-apa ketika Gus Dur wafat. Mereka diam, tanpa kata-kata, tanpa ekspresi dan seakan-akan membiarkan Gus Dur pergi. Kata-katanya tak usah didengarkan. Tindakannya tak perlu diikuti. Atau justeru mereka terperangah?, Mengejutkan? Tak lagi mampu mau bicara apa-apa.

Caci maki dan sumpah serapah terhadap Gus Dur, tidaklah membuatnya menjadi rendah. Sikap seperti itu justeru semakin menguatkan kebesarannya. Kita sudah membaca sejarah umat manusia, sejarah orang-orang besar. Orang-orang besar selalu mengandung dualitas yang paradok: dikagumi dan dicemooh. Ka’ab al Ahbar, seorang ahli tafsir, bilang : Ma Kana Rajul Hakim fi Qawmih Qathth Illa Baghaw Alaih wa Hasaduh (Tak ada tokoh bijak-bestari di sebuah negeri kecuali selalu ada mereka yang mencaci-maki dan mendengki. Jalal al Din al Suyuthi, ulama besar, mengatakan hal yang sama: Ma Kana Kabirun fi Ashr Qathth Illa Kana Lahu Aduww min al Safalah. Idz al Asyraf lam Tazal Tubtala bi al Athraf (Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicacimaki orang-orang bodoh. Orang-orang terhormat selalu diuji oleh orang-orang yang (secara intelektual dan spiritual) belum matang?.

Para tokoh bijak-bestari (Hukama) dalam sejarah mereka, memang, bukan hanya disumpah-serapah dan dibenci, tetapi juga dikafirkan, dibid?ahkan dan dizindikkan (dituduh atehis) oleh mereka yang tak matang secara intelektual dan spiritual, atau oleh mereka yang pikirannya tergantung pada bentuk-bentuk kredo formal dan teks-teks literal keagamaan atau oleh fanatisme pada kebenaran diri dan buta pada kebenaran yang lain. Imam al Ghazali menyebut mereka ?orang-orang yang memiliki pengetahuan terbatas?. Mereka boleh jadi sesungguhnya tak lebih dari orang-orang yang gelisah atas kondisi ketakberdayaan diri dan ketakutan yang berlebih.

Lihatlah, tokoh sufi legendaris Abu Manshur al Hallaj. Ia harus berdiri di atas tiang gantungan untuk mengakhiri hidupnya. Hukuman ini dijatuhkan terhadapnya menyusul fatwa sejumlah Ulama yang berkolusi atau berselingkuh dengan para penguasa. Mereka menilai pandangan al Hallaj tentang Wahdah al Wujud, sebagai kesesatan, kekafiran dan kemusyrikan yang nyata. Teorinya tentang Kesatuan Wujud pada dasarnya juga meniscayakan pengakuan terhadap eksistensi agama-agama dan keharusan untuk mentoleransi seluruh agama-agama yang ada di muka bumi. Ibnu Arabi, sang Guru terbesar kaum sufi (al Syaikh al Akbar), juga harus menerima beragam tuduhan : kafir, musyrik, murtad dan sebagainya. Ibnu Arabi mengemukakan pandangan pluralisme keagamaannya dalam sebuah puisi yang kemudian ditulis dalam kumpulan Puisinya (Diwan) yang terkenal: “Tarjuman al Asywaq; Agamaku adalah Cinta kepada-Nya”, katanya. Abu Yazid al Bisthami diusir dari rumahnya sampai tujuh kali dan disiksa. Dzunnun al Mishri digiring dan diseret dengan tangan dirantai dari Mesir menuju Baghdad. Mereka menuduhnya zindiq. Sahl al Tusturi diusir dari negaranya. Dia dituduh kafir. Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam al Syafii, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Jalal al Din al Rumi, Syuhrawardi al Maqtul, Abu Said al Kharraz, Abu Bakar al Syibli, Abu Bakar al Nablusi, Syeikh Abu Madyan, Syeikh Abu al Hasan al Syazili, Izz al Din bin Abd al Salam, Taj al Din al Subki dan lain-lain juga mengalami mihnah (inkuisisi) dengan cara yang beragam. Mereka, seperti diketahui banyak orang, adalah tokoh-tokoh legendaries, para maha guru, sufi besar, para Imam besar, para Ulama, kaum cendikiawan, para pejuang kemanusiaan.

Dengarlah puisi ini:

Mereka yang terbatas
begitu mudah mengkafirkan,
mensesatkan dan memusyrikkan
bila para bijak bestari mengajak

Dengarkan pula puisi elegi sang sufi ini:

Aduhai, betapa banyak mutiara pengetahuan
Andai aku sebarkan
Niscaya aku dibilang: “kau pemuja berhala!”
Niscaya mereka menghalalkan darahku
Mereka kira yang mereka lakukan
Adalah kebaikan

Meskipun para bijak-bestari itu harus mengalami nestapa akibat pandangan-pandangannya yang dinilai sesat oleh keputusan fatwa, atau vonis kekuasaan, mereka tetap tegar. Nama mereka tetap hidup sepanjang sejarah. Pikiran-pikirannya menjadi inspirasi bagi banyak cendekiawan sesudahnya guna membangun peradaban yang humanistik, buku-buku mereka terus dibaca, dikaji, dan didiskusikan atau diseminarkan, berabad-abad. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang masih dikunjungi dan diziarahi, sampai hari ini. Demi nilai-nilai yang luhur, demi kebenaran dan kejujuran, demi keadilan dan cinta, mereka melawan tirani dan melawan kesakitan.

Seperti mereka, begitulah eksistensi Gus Dur. Ia dimaknai secara beragam dan controversial, baik ketika ia hadir di muka bumi maupun sesudah ia menghilang untuk pulang dan tak kembali lagi. Ia dikagumi, dicintai dan dihormati oleh begitu banyak manusia dan mereka memperoleh inspirasi dari gagasan-gagasannya. Tetapi dalam waku yang sama juga disingkirkan, dikafirkan dan dimusyrikkan oleh orang-orang yang tak mengerti. “manusia memusuhi apa yang tak diketahuinya”, kata pepatah bijak.

PLURALISME GUS DUR, GAGASAN PARA SUFI

Gus Dur adalah Bapak Pluralisme, terserah jika ada orang yang tidak suka dengan sebutan ini, termasuk para pecintanya sendiri. Konon, Djohan Efendi, sahabat setia Gus Dur, pernah diminta Gus Dur agar jika ia kelak wafat, nisannya ditulis “Di Sini dikubur Sang Pluralis”. Terlepas pesan itu benar diucapkan Gus Dur atau tidak, dan tak peduli masyarakat memperdebatkan maknanya, tetapi beliau orang yang selalu ingin memandang manusia, siapapun dia dan di manapun dia berada, sebagai manusia yang adalah ciptaan Tuhan. Sebagaimana Tuhan menghormatinya, Gus Dur juga ingin menghormatinya. Sebagaimana Tuhan mengasihi makhluk-Nya, Gus Dur juga ingin mengasihinya. “Takhallqu bi Akhlaq Allah” (berakhlaklah dengan akhlak Allah), Kata pepatah sufi. Sejauh yang saya tahu, Gus Dur tak banyak bicara soal wacana Pluralisme berikut dalil-dalil teologisnya. Tetapi ia mengamalkan, mempraktikkan dan memberi mereka contoh atasnya. Pluralisme jauh lebih banyak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari Gus Dur dibanding diwacanakan. Kalaupun ia diminta dalil agama, ia akan menyampaikan ayat al Quran ini: “Wahai manusia, Aku ciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dan Aku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Sesungguhnya manusia yang paling mulia di antara kalian di mata-Ku, ialah orang yang paling bertaqwa kepada-Ku”.

Gus Dur bukan sekedar menghargai atau menghormati manusia yang berbuat baik, melainkan juga menyambutnya dengan rendah hati dan rengkuhan yang hangat. Sebaliknya, ia akan menentang siapa saja yang merendahkan martabat manusia, apalagi menyakiti, mengurangi dan menghalangi hak-hak mereka. Ia akan membela mereka yang martabat kemanusiaannya direndahkan, mereka yang hak-haknya dikurangi, dipasung, disakiti dan ditelantarkan. Ketika para pengikut Ahmadiah diusir dan masjid-masjid mereka dirobohkan, Gus Dur hadir bersama mereka. Ketika Gereja-gereja dilempari batu, ia berteriak “jangan”. Ketika Inul Daratisna dihujat ramai-ramai karena dia bergoyang-goyang dan meliuk-liukkan tubuhnya bagai bor, ia ?memeluk?nya dengan hangat. Ketika Dorce disoraki karena berganti kelamin, ia mengajaknya bicara dengan lembut dan penuh kasih. “Jika itu adalah dirimu, terulah bekerja”, katanya. Ketika urusan gambar tubuh polos perempuan (pornografi) hendak diserahkan kepada Negara, ia berdemonstrasi bersama isteri tercintanya; Shinta Nuriah dan bersama-sama yang menghargai kemanusiaan. Ketika orang-orang Thionghoa meminta hari raya Imlek dan Barongsae, ia memberikannya dengan tulus. Meski tak bisa melihat dengan matanya, ia hadir menyaksikan tarian-tarian singa itu dan bertepuk tangan.

Seringkali kita melihat sikap perlawanan dan pembelaan itu dilakukannya sendirian. Ia berjalan sendiri, meski ia harus mempertaruhkan jiwanya. Ia tak peduli. Dalam perlawanannya terhadap pembredelan tabloid Monitor dan pembelaannya terhadap Salman Rusydi dalam kasus bukunya Satanic Verses, yang bikin heboh itu, misalnya, Gus Dur tak menemukan mata lain yang penuh pengertian. Ia berjalan sendiri. Seorang sufi mengatakan “ia yang jiwanya telah mencapai kesadaran yang matang, bantuan eksternal tak lagi diperlukan”. Dan Gus Dur sanggup menjalaninya seorang diri dengan tegar, karena ia telah matang. “La Yakhaf Laumata Laa-im” (ia tak pernah takut pada mata yang membenci). Bagi Gus Dur semua manusia adalah sama, terlepas apa jenis kelamin mereka, warna kulit mereka, suku mereka, ras dan kebangsaan mereka. Yang Gus Dur lihat adalah bahwa mereka manusia seperti dirinya dan yang lain. Yang ia lihat adalah niat baik dan perbuatannya, seperti kata Nabi; “Tuhan tidak melihat tubuh dan wajamu, melainkan amal dan hatimu”. Gus Dur bukan tidak paham bahwa ada yang keliru, ada yang tidak ia setujui atau ada yang salah dari mereka yang dibelanya. Ia membela karena tubuh mereka diserang dan dilukai hanya karena warna bajunya yang berbeda, harta mereka dirampas semaunya, ekspresi-ekspresi diri mereka dihentikan secara paksa oleh negara atau direnggut dengan pedang oleh otoritas dominan. Bagi Gus Dur, ekspresi-ekspresi diri, personal, individual, yang dianggap sebagian orang sebagai tak bermoral, tak boleh melibatkan Negara, tak boleh diintervensi kekuasaan, tetapi harus diselesaikan sendiri oleh masyarakat dengan cara-cara yang mereka miliki dan dengan mengaji yang sungguh-sungguh dan dengan ketulusan.

Bagi Gus Dur, keyakinan dan pikiran tak bisa dinamai tak bisa diberi tanda. Pikiran adalah misteri yang tersembunyi. Ia bagaikan burung yang terbang di langit lepas. Tuhanlah yang menganugerahkan pikiran-pikiran pada hamba-hamba-Nya. Dialah Pemilik nafas setiap yang hidup dan Dialah yang akan menanyainya kelak, bila tiba masanya. Karena itu, hanya Dialah yang berhak menamainya dan menghakiminya, tidak yang lain. Kata Rumi dalam Fihi Ma Fihi :

“Tak ada kemampuanmu menjauhkan pikiran-pikiran itu meski dengan seratus ribu kali rekayasa berkeringat”.

Itulah sikap seorang yang telah memiliki batin yang bebas. Itulah sifat seorang sufi, seorang bijak-bestari yang jiwanya mampu menembus kedalaman makna kata-kata Tuhan. Karena kata-kata-Nya memiliki berjuta makna dan tak terbatas. Pemaksaan atasnya tak akan menghasilkan apa-apa, sia-sia, kecuali membuat orang dan keluarganya menjadi sakit, menderita, dan menghambat kemajuan peradaban manusia.

Tindakan dan sikap itu, menurut Gus Dur, sesungguhnya telah diajarkan oleh Islam sejak ribuan tahun lalu. Ia sering mengutip sumber literature Islam klasik yang bicara mengenai hak-hak individu. Salah satunya adalah Al Mustashfa, karya Imam Abu Hamid al Ghazali. Sufi besar ini mengatakan bahwa tujuan aturan agama adalah memberikan jaminan keselamatan keyakinan, keselamatan fisik, keselamatan profesi, kehormatan tubuh dan pemilikan harta. Al Ghazali menyebut lima prinsip dasar perlindungan ini sebagai al Kulliyyat al Khams. Orang sering menyebutnya Maqashid al Syariah (tujuan-tujuan pengaturan kehidupan). Lima prinsip ini merupakan pemberian Tuhan pada setiap manusia yang tak ada seorang manusiapun berhak mengurangi atau menghilangkannya. Inilah basis fundamental (al rukn al asasi) pikiran-pikiran dan langkah-langkah Gus Dur. Ia tidak mengutip pandangan atau sumber dari Barat atau Yahudi, seperti dituduhkan sebagian orang, melainkan menggalinya dari sumber tradisi Islam sendiri, dan ia mampu menginterpretasikan dengan cara-cara yang memukau dan genuine, sesuai dengan kehidupan yang selalu bergerak. Ia memang sangat kaya dengan referensi tradisi Islam klasik ini berikut perangkat analisisnya : bahasa, sastra, logika, filsafat sosial, dan metode-metode keilmuan.

Melalui penjagaan lima prinsip dasar kemanusiaan universal tersebut, Gus Dur memimpikan berkembang dan tersebarnya persaudaraan manusia tanpa dibatasi sekat-sekat primordial (ukhuwwah insaniyyah). Ini menurut saya sesungguhnya merupakan gagasan para sufi besar. Para sufi yang sejumlah namanya disebutkan di atas, adalah orang-orang yang paling vocal menyuarakan gagasan pluralisme dan persaudaraan universal itu. Tak ada keraguan sedikitpun di hati mereka pada prinsip utama agama bahwa tidak ada di alam semesta ini kecuali Tuhan Yang Satu yang kehadapan-Nya seluruh yang mawjud tunduk. Dan seluruh yang mawjud (ada) sejak ia ada sampai keberadaannya tercabut, selalu dan terus mencari-cari Dia melalui jalan dan bahasa yang berbeda-beda.

Bahasa kita beragam tetapi Engkaulah Satu-satunya yang Indah
Dan kita masing-masing menuju kepada Keindahan Yang Satu itu

Maka kebhinekaan realitas alam semesta ini seharusnya tidak menghalangi setiap manusia untuk memahami pikiran, bahasa dan kehendak-kehendak manusia yang lainnya. Para sufi memandang alam semesta yang beragam dan yang seluruhnya mengandung keindahan sebagai ?tajalli? Tuhan, perwujudan rahmat dan keagungan-Nya. Keberanekaan berasal dari Tuhan. Ibnu Athaillah, nama sufi besar dari Iskandariah yang sering disebut Gus Dur, banyak bicara soal Kesatuan Semesta. Ibnu Ajibah mengomentari gagasan itu dalam syairnya yang indah:

Lihatlah Keindahan-Ku
Tampak pada semua manusia

Air mengalir,
menembus
pokok dahan dan ranting

Engkau mendapatinya
Berasal dari satu mata air
Padahal bunga berwarna-warni

Nah, lagi-lagi di sini kita menemukan jalan yang ditempuh Gus Dur. Gagasan-gagasan dan tindakan-tindakan pluralismenya ternyata berangkat dari tradisinya sendiri. Ia tekun mengaji kitab-kitab klasik sampai khatam. Sayang, kitab-kitab ini amat jarang dibaca orang atau bahkan dilarang oleh orang-orang yang hanya bisa membacanya sampai kulit, yang tertulis (literal, harfiah) dan tak khatam.

SANG ZAHID DI RUMAHNYA

Sampai detik ini, dua belas tahun sudah saya mondar-mandir, datang dan pergi ke rumah Gus Dur, di Ciganjur-Jalan Paso-Ciganjur. Kedatangan saya ke sana tak pasti. Kadang sebulan sekali, kadang dua bulan dan kadang tak bisa dihitung dengan hari. Di rumah itu saya mengaji kitab kuning, bercanda-canda, tertawa riang dan tergelak-gelak, berdebat panjang, mendengar dongeng-dongeng, anekdot-anekdot dan cerita-cerita dengan Ibu Shinta, putri-putrinya, sahabat-sahabat dan orang-orang yang ada di rumah itu. Ketika belum ada kamar tamu, saya tidur di dalam rumah untuk satu atau dua malam. Hari-hari yang menyenangkan dan selalu merindukan. Tetapi saya jarang bertemu Gus Dur, hanya beberapa kali saja, karena beliau memang jarang tinggal lama-lama di rumah, meski selalu pulang untuk istirahat dua atau tiga jam, paling lama empat jam. Gus Dur sering datang dini hari, tanpa jam yang pasti. Kadang jam 24.00, jam 01 atau jam 02.00, tetapi beliau selalu bangun jam 04.00, sebelum subuh. Saya tak tahu pasti apa yang dilakukannya setelah bangun. Setiap saya keluar kamar dan turun, Gus Dur sudah tidak ada lagi di rumah itu. Entah ke mana, tetapi suara bacaan al Qur?an itu dibiarkan melantun-lantun merdu memenuhi ruang dalam rumah itu sampai cahaya matahari pagi menembus jendela kamar. Begitu indah, begitu sejuk. Memperdengarkan alunan ayat-ayat suci al Qur?an di rumah itu berlangsung setiap pagi. Gus Dur memang senang mendengar bacaan al Qur’an. Bukan hanya melalui kaset yang diputar setiap pagi, tetapi juga mengundang para penghafal al Qur’an. Hampir setiap bulan beliau mengundang mahasiwa-mahasiswi dari Perguruan Tinggi Ilmu al Qur’an dan Institut Ilmu al Qur?an untuk sema’an.

Sering, ketika tamu sudah pulang dan malam telah sepi, Gus Dur tak langsung masuk kamar untuk tidur, istirahat. Beliau lebih suka tidur di ruang depan. Jika pun sudah di dalam kamar ia acap keluar kamar sendirian, sambil meraba-raba, mencari kursi. Ia duduk-duduk atau mengambil tempat dilantai dan merebahkan tubuhnya begitu saja atau melingkar sambil memeluk bantal. Ia tak pernah memilih tempat. Tampaknya, bagi Gus Dur, tempat di mana-mana sama saja, sebab tubuh sangat tergantung pada jiwa. Tubuh mengikuti jiwa. Dengan begitu Gus Dur juga seakan-akan tak lagi memikirkan dirinya sendiri. Yang ada dalam pikiran dan jiwanya adalah manusia.

Sering saya melihat, Gus Dur di rumah hanya mengenakan kaos dan celana sebatas bawah lutut, dari bahan yang tak tampak berkualitas, persis seperti ketika beliau di depan istana, sambil melambai-lambaikan tangan kepada umatnya menjelang dilengserkan. Saya tak pernah melihat Gus Dur memakai sarung, seperti kiyai pada umumnya. Ia memang tak memikirkan atau tak lagi terpikikan soal bahan apa, warna apa dan bikinan siapa untuk pakaiannya. Ia menerima saja apa yang diberikan kepadanya. Tetapi tentu saja, ibu atau anak-anaknya memperhatikan apa yang pantas bagi suami atau bapaknya.

Kiyai A.Wahid Maryanto, santri Gus Dur ketika di Pesantren Tebuireng, bercerita kepada saya bahwa Gus Dur sering tak betah sendirian di rumah, baik ketika malam maupun siang. Ia sering mencari-cari teman untuk sekedar menjadi teman bicara ngalor ngidul tentang politik, partai, negara, dunia, bangsa, tentang NU dan umat, atau bercerita yang ringan-ringan dan tak ketinggalan joke-joke menyegarkan, sambil memijat tubuhnya yang kelelahan. Dia sendiri, terutama malam hari, jika ada di sana, sering dipanggil ?bapak? untuk keperluan yang sama. Bila ?bapak? telah tidur, dia pamit.

Jika Gus Dur tak bisa tidur nyenyak dan berlama-lama, saya paham. Bagi tubuh yang menyimpan magma spiritual yang bergolak, kesendirian kadang menyiksa. Ia selalu ingin menumpahkannya lalu mengaliri siapa saja yang ditemuinya. Dan ia selalu ingin menemui orang di mana saja untuk bicara apa saja atau sekedar untuk bercanda atau menumpahkan humor-humor segar-cerdas yang baru saja melintas dalam pikirannya. Ibu Shinta bercerita kepada saya, ?Sering pada malam-malam yang telah sepi, Gus Dur, meminta, setengah memaksa untuk pergi ke suatu tempat yang jauh, di Jawa Timur. Ketika disampaikan “mas, ini sudah malam dan tak ada pesawat, beliau baru berhenti meminta, meski tampak beliau kecewa”.

Saya sering makan di rumah itu, pagi, siang atau malam, baik usai mengaji atau tidak. Apabila sarapan pagi atau makan siang, ibu Shinta hanya menemani saja, tak pernah ikut makan bersama, karena beliau puasa tiap hari dan itu dilakoninya selama bertahun-tahun. Lauk-pauknya tak ada yang istimewa. Begitu sederhana; tempe, tahu, sambal, lalap, sayur bening atau lodeh atau rawon atau soto Lamongan, telor, daging kering dan kerupuk. Cuci mulutnya pisang, jeruk, es cendol, atau es campur. Begitulah isi meja makan di rumah itu, begitu bersahaja, tak ada kemewahan atau berlebih-lebihan.

Ada satu malam yang tak akan pernah saya lupakan. Itu adalah ketika saya diajak makan malam bersama Gus Dur dan keluarganya di rumah itu. Saya amat senang karena beliau ada di rumah dan berkumpul bersama keluarganya. Di meja makan itu saya adalah satu-satunya orang asing. Menu makanan yang dihidangkan tetap saja tak terlalu istimewa, seperti yang sudah disebut di atas. Gus Dur tak memilih-milih lauk apa yang diberikan kepadanya. Beliau menerima saja, memakannya dan menikmatinya. Tak ada makanan yang tak disukainya. Usai makan yang penuh berkah itu, dengan tetap berada di depan meja, Gus Dur mulai melemparkan cerita-cerita unik dan humor-humor baru yang membuat semuanya tergelak-gelak. Lemparan humor Gus Dur disambut dengan humor-humor dari yang lainnya, kecuali saya, dengan humor-humor yang tak kalah lucu dan sanggup meledakkan tawa yang tak habis-habis.

Jika Gus Dur tak pergi ke mana-mana, atau memang ada jadwal mengaji kitab kuning di masjidnya, beliau mengaji dan memberikan kuliah kepada para santrinya. Gus Dur biasanya menentukan hari Sabtu untuk mengaji kitab kuning. Banyak kitab yang sudah dibaca Gus Dur, di hadapan para santrinya, terutama kitab-kitab sastra klasik, kitab-kitab Tasawuf dan Ushul Fiqh atau al Qawa’id al Fiqhiyyah. Menurut Kiyai AW. Maryanto, yang biasa mendampingi atau membacakan kitab, Gus Dur sudah mengaji kitab Al Mu’allaqat al Sab, kumpulan puisi Imri al Qais, raja penyair Arab pra Islam. Secara literal al Mu’allaqat al Sab’ adalah tujuh puisi yang digantung di dinding ka’bah. Bila puisi sudah digantung di situ, maka ia adalah yang terseleksi dari sekian banyak puisi. Gus Dur juga membaca Diwan Al Buhturi, Maqamat al Hariri dan Diwan al Mutanabbi. Semuanya adalah kitab sastra Arab klasik. Yang lain adalah Al Asybah wa al Nazhair, sebuah kitab tentang kaedah-kaedah hukum (fiqh). Di tengah-tengah mengaji kitab-kitab tersebut beliau juga menyinggung dan bercerita tentang kitab lainnya. Misalnya Al Insan al Kamil (Manusia Paripurna), buku Tasawuf, karya sufi besar Abd al Karim al Jilli dan Nuzhah Alibba fi Thabaqat al Udaba (Taman Para Cendikia; Biofrafi Para Sastrawan). Buku yang terakhir ini, menurut cerita Gus Dur, ada di lemari kakeknya; hadratussyeikh K.h. Hasyim Asy’ari. Ia membacanya ketika masih sangat muda. Tetapi dari banyak sekali kitab klasik tersebut, Gus Dur tampaknya sangat terkesan pada kitab al Hikam (Kearifan-kearifan), karya Ibnu Athailla al Sakandari. Gus Dur sering mengulang-ulang kata-kata yang amat indah dari sufi besar itu :

Sembunyikan wujudmu pada tanah yang tak dikenal
Sebab Biji yang tak ditanam tak berbuah sempurna

Zaki Mubarak, sarjana Tasawuf terkemuka dari Mesir, mengatakan : “Syair Idfin itu amat memukau, begitu indah. Aku tak pernah menemukan yang sepertinya di tempat lain. Di dalamnya tersimpan gejolak yang amat kuat. Sang penulis, agaknya, menemukan maknanya ketika ia melakukan permenungan dalam sunyi, lalu merasuki jiwanya, maka ia menjadi kata-kata yang abadi, sepanjang zaman”. Puisi tersebut bicara soal perlunya menjauhkan hasrat dan ambisi akan popularitas, kemasyhuran diri. “Simpanlah hasratmu akan popularitas, karena hasrat demikian tak akan membuat dirimu tumbuh dan berkembang sempurna”. Hasrat akan kemasyhuran akan menyibukkan diri pada urusan-urusan yang tak berguna dan mengabaikan kerja-kerja yang bermanfaat. Cinta pada kemasyhuran mendorong orang untuk mengurusi dirinya sendiri dan tak peduli pada orang lain. Makna lain dari ini adalah perlunya ketulusan dan keikhlasan. “Sepilah ing pamrih, ramelah ing gawe”.

Puisi lain yang juga sering disampaikan Gus Dur yang dihafalnya dari kitab di atas adalah:

Tak usah temani orang yang tak membangkitkan tingkah-lakumu
Dan yang kata-katanya tak membimbingmu kepada Tuhan

Menurut Gus Dur, pada suatu hari, syair inilah yang mengilhami para ulama untuk memberi nama organisasinya menjadi Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama).
Setiap mendengar Gus Dur membaca kalimat-kalimat puitis di atas, saya tak tahan untuk menangis sendiri. “Pesan-pesan itulah rupanya yang menuntun dan membimbing Gus Dur sepanjang hidupnya”. Beliau selalu menyimpan hasrat-hasrat kemasyhuran diri dan lebih banyak bekerja daripada bicara. Beliau bicara jika memang harus bicara. Meskipun gemar humor, tetapi humor-humornya memberi makna. Gus Dur selalu ingin dan memang sering menemui orang-orang yang direndahkan dan disisihkan hanya karena mereka miskin, papa tak penting dan tak berharga. Tetapi tidak bagi beliau. Merekalah yang telah memberi makna, menginspirasi dan membangkitkan dirinya.

Jika begitu Gus Dur adalah sang Zahid. Dalam terma misitisisme Islam, ia adalah seorang yang bersahaja, yang selalu rela atas pemberian Tuhan, tak protes pada-Nya. Ia yang tak berhasrat pada hari ini dan bernilai rendah. Ia yang tak pernah gelisah ketika kehilangan kemegahan, kehormatan dan kenikmatan benda-benda. Ia yang tak pernah bergantung pada makhluk Tuhan.

TAREKAT DAN DOA-DOA GUS DUR

Orang-orang yang dekat Gus Dur, bercerita, bahwa jika tak ada teman yang diajak bicara dan beliau sendiri, maka dalam waktu yang sepi itu beliau membaca surah al Fatihah, entah berapa kali, lalu tawassul kepada Nabi dan berdoa untuk dirinya sendiri, untuk para wali dan ulama yang telah wafat. Itulah jalan sepiritual (thariqah)nya. Tawassul dan doa-doa Gus Dur itu kini telah menyebar. Beliau menyanyikannya dengan nada-nada elegi. Bait-bait Tawasul dan doa tersebut sesungguhnya tidaklah asing. Ia telah berabad disenandungkan di pesantren-pesantren dan surau-surau. Suara Gus Dur memang tak semerdu suara Hadad Alwi atau lainnya, tetapi jika beliau mengalunkannya, terasa memiliki makna keindahan mitis yang menghujam.

Inilah doa-doa yang selalu dibaca Gus Dur di samping doa yang lain. Semua orang mungkin sudah tahu doa-doa ini. Yang pertama doa ampunan yang diawali dengan tawassul kepada al Musthafa, Muhammad Saw. Yang kedua doa pertaubatan. Konon, ia ditulis oleh Abu Nawas, sang cendikia yang jenaka itu. Dengan doa-doa itu, kita tentu paham bahwa beliau selalu mohon ampunan kepada Tuhan. Para Nabi, orang-orang arif dan orang-orang yang rendah hati setiap hari mohon ampunan-Nya, ratusan dan ribuan kali.

Do’a 1

Wahai Tuhanku,
Anugerahi kedamaian dan keselamatan
Selama-lamanya
Pada sang kekasih-Mu
Ciptaan-Mu yang terbaik dari semuanya

Berkat al Musthafa, sampaikan maksud-maksudku
Ampunilah dosa-dosa yang lewat
Wahai Yang Maha Mulia

Al Musthafa, dialah sang kekasih
Pertolongannya diharap-harap
Bagi setiap kegelisahan yang memuncak

Do?a 2

Wahai Tuhanku
Aku bukan orang yang pantas tinggal di surga-Mu
Tetapi aku juga tak sanggup di neraka-Mu
Anugerahi aku kemampuan kembali pada-Mu
Dan ampuni dosa-dosaku
Karena hanya Engkaulah yang bisa memberi ampun

Dosa-dosaku bak jumlah butir pasir di bumi
Anugerahi aku kemampuan kembali pada-Mu
Wahai Yang Maha Agung

Umurku berkurang setiap hari
Tetapi dosaku bertambah-tambah saja
Bagaimana aku sanggup menanggunya

Wahai Tuhanku,
Hamba-Mu yang berdosa
Telah datang, telah datang
Sambil mengakui begitu banyak dosa
Dan ia telah sungguh-sungguh meminta-Mu

Bila Engkau mengampuniku
Karena hanya Engkaulah yang bisa mengampuni
Tetapi bila Engkau menolakku
Kepada siapa lagi aku bisa berharap

SANG PENGEMBARA: SELAMAT JALAN!

Gus Dur adalah satu dari sedikit para pengembara (ghuraba). Sebagaimana umumnya pengembara, ia sering menjadi subyek yang aneh, asing, dicurigai atau bahkan dimusuhi oleh mereka yang tak mengerti dan tak paham. Pengembara sering dianggap aneh oleh orang-orang di kampung, bukan hanya pakaian dan perilakunya, tetapi juga pikiran-pikirannya. Maka ia acap dianggap pribadi yang aneh atau ?nyleneh?. Jika ia kemudian mengungguli otoritas yang ada di sana dan menarik semakin banyak pengikut yang mengaguminya, maka ia akan segera dianggap mengganggu kenyamanan dan kemapanan sosial.

Kaum pengembara (Ghuraba) akan selalu hadir pada setiap situasi sejarah social yang menjelang runtuh atau ketika jalan sejarah tak lagi lurus. Mereka hadir untuk mendakwahkan kembali ide keasalan dan janji primordial manusia, ketika mereka belum mewujud; alastu, yakni “alastu bi rabbikum”. Qalu Bala (bukankah Aku Tuhanmu?. Mereka menjawb: Ya, Engkau Tuhan kami). Para pengembara tersebut memproklamirkan kembali Tauhid, tentang Kemahaesaan Tuhan kepada siapa semua yang ada di muka bumi harus menyerah dan menundukkan diri, dan Kehanifan (kejujuran, ketulusan dan jalan lurus). Di atas landasan itu, mereka, para pengembara itu, tampil untuk memberangus praktik-praktik kekuasan yang despotik, tiranik dan membodohi rakyat jelata dengan berlindung di bawah ketiak berhala-berhala yang disebutnya sebagai tuhan-tuhan. Pada saat yang sama mereka hadir untuk menancapkan kembali pilar-pilar kemanusiaan yang hilang atau diberangus. Ide-ide kemanusiaan itu tak pelak mengguncang dan merontokkan setiap otoritas politik, kebudayaan dan keagamaan yang diciptakan untuk kepentingan dan kenikmatan duniawi bagi dirinya sendiri atau bagi kelompoknya.

Gus Dur adalah salah satu sang pengembara itu. Ia seperti tak pernah lelah berjalan dan terus berjalan, mengembara ke mana-mana, ke gurun pasir yang kering dan mendaki gunung-gemunung yang terjal dan meliuk-liuk, menapaki jalan setapak yang lengang. Ia melihat keindahan sekaligus juga kengerian. Ia melihat banyak jalan yang tak lagi lurus dan yang belum selesai.

Dengarlah apa kata Nabi yang agung, Muhammad bin Abd Allah, Saw, tentang kehadiran para pengembara itu :

“Islam hadir bagai orang asing, aneh, bagai pengembara. Ia akan kembali asing, aneh, seperti awal. Maka berbahagialah wahai orang-orang yang mengembara”.

Ketika Nabi Islam hadir menyampaikan pesan-pesan suci Tuhan: kemerdekaan, kesetaraan, keadilan dan penghormatan manusia, beliau menjadi manusia pengembara, orang asing, diasingkan, diusir dan dianggap manusia gila, oleh orang-orang yang tak paham, tak mengerti, pimpinan Abu Jahal (bapak orang-orang bodoh).

Hari ini sang pengembara telah pulang, Selamat Jalan!.
Hari ini orang asing itu telah pulang, Selamat Jalan!
Hari ini orang hanif itu telah pulang. Selamat Jalan!
Dunia mengantarmu dengan do?a. Selamat Jalan!
Suara-suara riang di langit menyambutmu : Selamat Datang!

Cirebon, 22 Januari 2010
Disiapkan untuk memperingati 40 hari Gus Dur.
Sumber: http://gusdurian.net/opini/alissa/matahari-telah-pulang-merenungkan-sufisme-gus-dur/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *