MENGHIDUPKAN DUNIA LIAR MIMPI

Rieza Fitramuliawan
http://www.ruangbaca.com/

Hari itu ratusan orang mengantre di toko buku Kinokuniya Singapura. Sekelompok remaja terlihat memakai kostum mirip para tokoh dalam serial The Sandman. Para remaja putri memakai kostum baju kawinan warna hitam dengan rok panjang menjulur ke lantai. Wajah mereka dicat putih. Sementara para remaja pria memakai jubah panjang dan rambut jingkrak dengan muka bermaskara hitam Hajatan apakah yang membetot perhatian ratusan orang bahkan lebih dari seribu orang dalam dua hari pada pertengahan tahun lalu itu?

Siapakah lelaki 45 tahun yang sibuk memberi tanda tangan pada mereka yang antre itu? Lelaki itu adalah Neil Gaiman yang diundang dalam acara promosi film Mirror Mask. Gaiman adalah penulis naskah cerita. Tapi ribuan orang itu sebagian juga datang dari Indonesia mengerubuti Gaiman lantaran ia lebih dikenal sebagai pengarang novel dan penulis cerita novel grafis ternama. Beberapa novel seperti American Gods (2001) dan Neverwhere (1997) memang terbilang best seller di salah satu toko buku internasional terkenal di dunia.

Tapi dunia lebih mengenalnya sebagai penulis cerita novel grafis saga legendaris The Sandman. The Sandman telah mencapai 75 seri, dimulai dari 1989 dan tamat pada 1996. Pada saat mencipta The Sandman sebelumnya sudah ada komik dengan judul serupa karya Wesley Dodds. Bedanya, karya Dodds bercerita tentang seorang detektif pembasmi kejahatan. Sementara rekaan Gaiman bercerita mengenai sebuah dunia dari seorang (atau sesuatu) yang merupakan personifikasi (anthropomorphic personification;) dari mimpi: tentang seorang (atau sesuatu ) bernama Dream aka Morpheus.

Cerita yang dikembangkan Gaiman dalam saga The Sandman, menurut para pengamat dan kritikus komik, menjadi populer, dicintai dan ditunggu oleh para pemerhati komik karena sifatnya yang accesible bagi semua lapisan pembaca komik. The Sandman adalah pelarian bagi para pembaca komik dewasa yang ingin membaca komik yang lebih mature dan berkelas. Gaiman mencampur berbagai tema antara lain horor, komedi, seks, paham agama, kepercayaan, berbagai cerita rakyat dari seluruh dunia, dan alam sureal sebagai adonan utama cerita serial tersebut.

Beberapa cerita bahkan mengusung tema sangat kontroversial dengan menabrak pakem yang sudah menjadi kepercayaan bagi aliran agama tertentu. Gaiman, misalnya, pernah menulis cerita nabi Adam dan Hawa versinya sendiri yang cukup kontroversial. Salah satu cerita, masih dalam serial The Sandman, yang banyak dipuji oleh kalangan pemerhati komik dunia adalah yang berjudul Ramadan, cerita simpati Gaiman bagi kota Bagdad yang pernah menjadi kota pusat kebudayaan dunia untuk kemudian harus hancur akibat perang teluk.

Gaiman juga pernah menulis satu kisah cerita misteri pembunuhan berjudul Murder Mysteries dengan latar surga. Cerita kasus pembunuhan seorang malaikat di surga akibat satu intrik yang kemudian melibatkan Tuhan dan para malaikatnya sebagai tersangka. Ini tema yang sangat kontroversial untuk ukuran masyarakat Indonesia.

Serial yang diterbitkan dalam 10 edisi TPB (Trade Paper Back;) itu meraih sembilan penghargaan dari Will Eisner Comic Industry Award (ajang paling bergengsi bagi para kreator komik), empat kali penghargaan sebagai penulisan cerita terbaik, tiga Harvey Awards, dan penghargaan World Fantasy Award untuk penulisan cerita pendek, sekaligus menjadikan The Sandman sebagai komik pertama yang mendapat penghargaan dunia untuk kategori sastra! Gaiman juga dicantumkan namanya sebagai One of the Top Ten Living Post-Modern Writers dalam Dictionary of Literary Biography, satu referensi cukup bergengsi bagi pemerhati berbagai karya literatur.

Gaiman menjadi komikus sejak usia 15 tahun. Ia memulai kariernya di bawah arahan Alan Moore, nama legendaris di dunia komik mainstream Inggris dan Amerika. Ia turut menyumbang cerita untuk serial komik Alan Moore: Swamp Thing, berjudul Jack in the Green. Pertemuannya dengan Karen Berger, Executive Editor Vertigo DC Comic, pada 1986, membukakan jalannya sebagai penulis cerita komik /novel grafis utama Amerika. Setelah sebelumnya pernah bekerjasama dengan Dave Mc Kean dalam komik Violent Cases pada 1984, Gaiman berhasil meyakinkan Berger untuk bekerjasama dalam satu cerita komik yang ditulisnya, dan terbitlah Black Orchid pada 1988 yang memakai format yang saat itu masih belum lazim dalam dunia komik.

Black Orchid bercerita tentang masalah ekologi pencemaran lingkungan. Cerita Black Orchid nampak sangat diilhami oleh sosok Swamp Thing, satu karakter komik Amerika yang diakuinya juga sebagai salah satu favorit. Walau karakter dalam Black Orchid cukup kompleks dengan berbagai kemungkinan pengembangan, Neil rupanya merasa karakter itu masih terlalu sempit untuk menjadi tokoh utama dalam alam cerita yang ingin diciptakannya. Pada 1989 barulah Neil menulis dan menciptakan sebuah universe dengan karakter lengkap sebagai medium yang sesuai dan cocok bagi tema dan gaya menulisnya: The Sandman.

Di Indonesia, sampai saat ini baru novel anak-anak Coraline yang sudah diterjemahkan. Tema-tema cerita Gaiman memang sangat sensitif untuk sebagian masyarakat Indonesia yang dikenal masih puritan. Belakangan ini Gaiman sibuk dalam produksi beberapa film berdasarkan atas cerita-cerita komik yang dikarangnya.

Sebelumnya, komik Neverwhere juga pernah diangkat menjuadi sebuah film mini seri televisi di Inggris. Kesibukan lain Gaiman adalah menulis di situs web www.neilgaiman.com untuk berkomunikasi dengan para penggemarnya. Situs web Gaiman dikunjungi lebih dari 400 ribu orang setiap bulannya pada 2004, dan meningkat menjadi 600 ribu pengunjung pada 2005.(komik_alternatif@yahoogroups.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *