Salah Mendayung, Patah Dayung di Tangan

(Catatan untuk Moh. Wan Anwar dan Jamal D. Rahman)
S. Sinansari Ecip
http://www.infoanda.com/korantempo

Pertama-tama, saya minta maaf, menggunakan kata “saya” untuk tulisan kali ini. Tokoh Daeng Ngintang diistirahatkan, meski tulisan tanggapan pertama saya (Koran Tempo, 26/1) tentang Kitab Horison memakai tokoh tersebut. Saya jarang menggunakan kata “saya” untuk tulisan pribadi (by line) di surat kabar.

Dalam menulis kolom, saya menggunakan tamsil, berumpama. Dengan berumpama, kita bisa hadir dalam bentuk apa pun, termasuk tak berbentuk nyata. Dalam konteks itu pula mengapa saya menulis di Koran Tempo (26/1) berjudul “Malu Bertanya Sesat di Horison” tersebut. Memang diperlukan filter kedua untuk menangkap apa makna yang tersirat. Kalimat tersebut tidak harus diartikan seperti adanya. Di dalamnya ada makna lain.

Jamal D. Rahman menulis di Koran Tempo (21/2) “…. Lebih terkejut lagi karena, setelah minta maaf itu pun, ecip menulis dengan judul yang amat keras….” Menurut struktur kalimat, subyeknya Anda atau saya? Saya tidak meminta maaf, Anda yang meminta maaf kepada saya.

Baik Wan Anwar maupun Jamal sama-sama mengaku kecewa tidak dapat memperlebar (atau mempertajam?) hasil guntingan segi empatnya atas pelangi sastra yang warna-warni. Secara alami kita paham, pelangi ada karena ada butir-butir air hujan halus dan adanya sinar matahari yang menerpanya. Tidak semua orang dapat melihat adanya pelangi jika tempat berpijaknya di lokasi yang berbeda. Sudut pandangnya terhadap obyek akan lain dan pelangi itu tidak dapat dilihatnya.

Saya tidak mengulas tuduhan Jamal kepada saya, yang menyebut situasi psikologis saya yang “gawat”. Penilaian yang sama dapat dikembalikan kepada Jamal, yang bak Pak Guru yang sedang marah.

Di Republika memang saya dikutip sebagai mengatakan, saya tidak mengenal sebagian penyunting Kitab Horison. Wan Anwar menulis, saya mengaku tidak kenal mereka. Maafkan saya, memang empat orang di antara Anda berdelapan, saya tidak kenal, sedikitnya saya tidak pernah ingat peristiwa yang berakibat saya ingat kepada yang empat. Anda mengatakan, sejumlah penyunting justru dengan baik kenal saya. Sejumlah penyunting yang kenal baik saya itu mungkin sisanya, yang memang saya kenal baik. Bisa juga Anda mengenal baik saya di bidang jurnalistik, tidak di bidang seni sastra.

Itu ada buktinya, Jamal menulis, amat terkejut mendapati fakta itu (bahwa saya ikut memenangi tiga sayembara naskah roman Dewan Kesenian Jakarta). Ketika saya meneleponnya, dia memang beberapa detik tidak menyahut saat saya sebutkan saya tiga kali ikut sayembara dan tiga kali pula ikut memenangkannya. Seorang teman dekat membisiki saya, sebelum terbit kitab-kitab itu, para penyunting memang tidak tahu hal tersebut. Para juri sayembara DKJ orang-orang yang sangat terpandang karena kualitasnya.

Persoalan inti yang saya kemukakan sebenarnya bukan saya menggugat, mengapa tidak dimasukkan ke dalam antologi (bunga rampai) kitab sastra Horison. Saya juga tidak kecewa berat karena tidak dinobatkan sebagai sastrawan oleh Horison. Penobatnya yang paling berhak adalah karya sastra itu sendiri, bukan? Memang bisa terjadi, orang ketiga mendapat tempat dan perhatian, tapi orang kedua tidak, dan seterusnya.

Dalam kaitan itu pula, tidaklah penting bunga rampai. Tidak penting undangan-undangan resmi sebagai peserta ini peserta itu, kecuali jadi pembicara. Tidak penting buku. Tidak penting majalah. Lalu untuk apa menulis kalau tidak untuk dikomunikasikan? Secara pribadi, mungkin itu betul, tapi sebuah bunga rampai haruslah dikomunikasikan melalui publikasi yang matang dan bertanggung jawab.

Sebagai orang yang selalu berkecimpung di perguruan tinggi, menyangkut karya tulis, menyangkut penelitian atau seleksi, saya selalu berhadapan dengan adanya pertanyaan terpenting. Apa dan bagaimana metodenya? Metode akan menentukan kualitas.

Metode yang reliable (andal) akan mendapati hasil yang valid (sahih). Metode yang digunakan oleh para penyunting itu apa menurut tataran keilmuan? Tentu saja jawabnya tidak sekadar menggunting segi empat pada pelangi sastra Indonesia yang warna-warni. Jawaban yang demikian kurang kena, mengambang, dan tidak jarang, sulit dimengerti. Celah untuk mendebatnya sangat terbuka. Celah untuk menjawabnya pun sangat terbuka. Kemudian, sulitlah didapat persamaan.

Dalam penelitian, jika metodenya sama dan pelakunya berkemampuan kurang lebih sama, maka yang dihasilkan kurang lebih akan sama. Jika metodenya bukan menggunting segi empat pelangi, maka tidak akan tercecer nama-nama Suparto Brata, Usamah, Mochtar Pabottingi, Andre Hardjana (profesor doktor), Jos Rizal Manua, Ima Suwandi, Zatako (Zainuddin Tamir Koto), Totilawati, dan lain-lain. Pramudya Ananta Toer dipilih, mengapa Sitor Situmorang tidak? Kabarnya, Sitor menolak dimasukkan. Bila itu benar, akan baik bila disinggung dalam pengantar penyunting berikut apa alasan Sitor.

Jika metode yang dipakai para penyunting andal, maka hasilnya akan lebih baik. Apa dan siapa yang tersaring akan lebih baik. Jika ada pihak lain yang menanyakan, jawabannya mempunyai nilai kesahihan yang tinggi. Orang membuat sesuatu tentu ingin hasilnya cukup baik. Alasan keterbatasan teknis yang dipakai Jamal menjadi tidak relevan, apalagi bila diulang-ulang.

Khotbah panjang di atas bukit dari Jamal patut dipahami sebagai penjelasan tentang perbukuan dan dunia penerbitan serta bagaimana memahaminya. Bagi orang lain, itu mungkin pengetahuan baru, misalnya untuk pengantar kepada calon pembaca Kakilangit yang memang khusus untuk anak-anak SLTA. Kepada laut (para sastrawan yang cendekia), layakkah digarami? Bisa juga itu dimaknakan bagian dari ikra.

Pelaut-pelaut Madura bersaudara dengan pelaut-pelaut Bugis-Makassar. Mereka tidak sekadar berenang-renang di tepian. Mereka berbantal ombak dan berselimut angin (dari lagu Madura Ole Olang). Jamal, seperti saya, akan paham dengan tamsil dari kampung kami itu.

Orang yang terbiasa di daratan bila melihat sejumlah burung terbang berputar-putar di langit akan menyimpulkan, di bawahnya ada bangkai. Burung-burung tersebut siap mencabik-cabik dan melahapnya. Jika mereka di laut, lalu menyaksikan serombongan burung terbang berkeliling, lalu menyimpulkan, di bawah burung-burung ada bangkai, akan salah besar. Di bawah burung-burung itu terdapat komunitas ikan tuna dan sejenisnya. Bagi pelaut yang sesungguhnya pelaut, itulah rezeki yang diturunkan untuknya.

Menarik memperhatikan perumpamaan tentang pelaut oleh Wan Anwar. Memang benar menurut Aspar Paturusi (Koran Tempo, 18/2) ada dua jenis pelaut. Ada pelaut yang melautnya berminggu-minggu mencari nafkah, ada pula pelaut yang sekadar berenang-renang di tepian. Pelaut pertama memang untuk kehidupannya, pelaut kedua sekadar untuk bersenang-senang. Bukan tidak mungkin, cara mendayung pun tidak bisa. Dayung bisa-bisa patah di tangan.

*) Dosen Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *