“Saya Sudah Menulis 40 Buku”

In Memoriam Ramadhan KH
Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

“Saya sudah menulis empat puluh buku”. Itulah pesan terakhir almarhum Ramadhan Karta Hadimadja kepada istrinya Salfrida Nasution yang bertugas sebagai Konsulat Jendral di Cape Town, Afrika Selatan. Ingat, jumlah itu belum termasuk buku-buku kumpulan puisinya. Terakhir almarhum menulis biografi Nazir, Dubes RI di Afsel. Sebenarnya masih ada empat buku dalam taraf penyelesaian Ramadhan KH, antara lain biografi mantan Gubernur DKI Tjokropranolo (alm).

Niat ini tidak kesampaian karena Tuhan telah memanggilnya pada 16 Maret 2006 persis di hari ulang tahun (HUT)-nya yang ke-79 pukul 08.45 waktu Cape Town atau pukul 13.45 WIB. Jenazah almarhum dibawa ke Jakarta, Sabtu (19/3) dan disemayamkan di rumah duka di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kemudian, jenazah dilepas Wagub DKI Ir Fauzi Bowo untuk dimakamkan di Tanah Kusir, Jaksel setelah shalat Ashar. Hadir ikut memberikan penghormatan terakhir, antara lain Riantiarno dan istrinya Ratna R, Titie Said, Rosian Anwar, Ajip Rosidi, pengacara Adnan Buyung Nasution, dan pengusaha Mien R Uno.

Almarhum meninggalkan 2 anak masing-masing Gumilang Ramadhan dan dramer handal nasional Gilang Ramadhan serta 5 cucu dari pernikahan dengan istri pertamanya, almarhumah Pruistin Atmadjasaputra (Ines). Ines meninggal April 1990 dalam tugas sebagai Konsulat Jendral di Bonn, Jerman. Setelah hampir tiga tahun melajang, Ramadhan menikahi Salfrida Nasution yang juga teman sekantor almarhumah.

Meskipun dalam keadaan sakit, almarhum terus menulis dan melakukan koreksi tulisannya. Di samping itu, almarhum sempat menyelesaikan sebuah lukisan bertemakan “bulan”.

Almarhum memang memiliki hobi melukis dan pernah pameran bersama Otto Djaja serta Agus Djaja di Sukabumi, Jabar. Ia juga melukis potret istri pertamanya, Pruistin (Ines). Almarhum pernah aktif di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1970-an dan kemudian terpilih sebagai anggota Akademi Jakarta.

Biografi Soeharto

Ramadhan KH dikenal sebagai penulis serba bisa. Selain novel, roman, cerpen, dan puisi, ia juga aktif menulis biografi. Diawali dengan penulisan biografi istri Bung Karno, Inggit Garnasih bertajuk “Kuantar ke Gerbang” (1981), ia kemudian menulis biografi beberapa tokoh, antara lain mantan Presiden Soeharto dengan judul “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”. Biografi Soeharto ditulisnya ketika penguasa Orde Baru ini masih berkuasa.

Salah satu novelnya yang cukup menarik berjudul “Ladang Perminus (Perusahaan Minyak Nusantara)”. Novel ini mengungkap fakta korupsi yang terjadi di tubuh Pertamina waktu di bawah pimpinan Ibnu Sutowo. Novel ini mulai dikerjakan tahun 1980, selesai tahun 1982 dan diterbitkan tahun 1990. Lamanya penulisan karena ia harus membaca referensi buku tentang korupsi, di samping meminta pertimbangan dari berbagai kalangan, seperti pejabat, pengusaha, wartawan dan seniman. Konon, pernah diisukan buku ini dilarang beredar.

Ide penulisan novel ini diilhami berita tentang penyelewengan atau korupsi yang dimuat di Harian “Indonesia Raya” (1970) di bawah Pemimpin Redaksi Mochtar Lubis (alm). Ramadhan KH yang waktu itu sebagai wartawan di kantor berita Antara tertarik menulis dalam bentuk fiksi. “(Saya) bukan saja menaruh perhatian. Tetapi, berita itu saya ikuti dan timbullah khayalan saya,” kata Ramadhan ketika ditemui SKM di rumahnya di Jalan Deplu Raya, Bintaro Jakarta Selatan tahun 1992. (SKM, Maret 1992).

Almarhum pernah menuturkan pengalamannya sebagai getting news bahwa membuat berita adalah modal yang sangat membantu untuk menjadi novelis. Karena, dengan membuat berita ia bisa melihat kenyataan yang ada. Untuk itulah, ia selalu menulis novel berdasarkan kenyataan yang dituangkan ke dalam bentuk fiksi. “Saya tak mampu menulis cerita khayalan yang bukan dari kenyataan,” ujar almarhum.

Pengalaman di bidang jurnalistik di berbagal surat kabar dan majalah sejak duduk di bangku SMA mengantarkan Ramadhan KH sebagai penulis cerpen, penerjemah karya-karya sastra, novel dan roman. Salah satu novelnya, “Royan Revolusi” bahkan memeroleh hadiah sayembara mengarang roman IKAPI-UNESCO (1967) dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Kemudian novel “Kemelut Hidup” (1976) memeroleh hadiah sayembara mengarang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang kemudian difilmkan oleh Asrul Sani (1977). Sementara kumpulan puisinya, antara lain “Priangan Si Jelita” juga memeroleh hadiah BMKN (Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional) sebagai kumpulan sajak terbaik (1957-1958).

Dalam perjalanan hidupnya, almarhum sering berpindah tempat di berbagai negara mengikuti istrinya yang berdinas sebagai diplomat. “Saya mengikuti nasihat Mochtar Lubis, jangan berpisah terlalu lama dengan keluarga.”

Selama berada di mancanegara, Ramadhan biasa memanfaatkan waktunya untuk menulis dan menulis. Pasalnya, selama mengikuti istri berdinas, ada peraturan bahwa suami tidak boleh bekerja. Namun istri pertamanya, Ines justru aktif mendorong sang suami agar terus menulis. “Kalau ingin jadi pengarang, harus mengarang,” demikian nasihat Ines kepada Ramadhan KH. Ternyata hingga akhir hayat Ramadhan, pesan almarhumah istrinya tak pernah diingkari. Selamat jalan Pak Ramadhan! ()

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply