Segores Kisah Kelam di Bali

Judul : Ladang Hitam di Pulau Dewa
Pembantaian Massal di Bali 1965
Pengarang : I Ngurah Suryawan
Penerbit : Galang Press
Tebal : 264 halaman
Tahun : Cetakan I, 2007
Peresensi: Made Suardana
http://www.balipost.com/

DALAM pelajaran sejarah generasi Orde Baru pasca-1966, baik PMP (Pendidikan Moral Pancasila) ataupun PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa), sama sekali tidak dijelaskan tentang pembantaian massal setelah peristiwa G30S. Yang ada adalah kudeta yang dilakukan PKI (Partai Komunis Indonesia) terhadap pemerintahan yang sah pada dini hari 30 September 1965. Ini dibuktikan dengan penemuan jenazah tujuh jenderal di kawasan Lubang Buaya yang disiksa dan dibunuh oleh organisasi underbow PKI, yaitu Pemuda Rakyat dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).

Ritual lain yang tak terlupakan adalah upacara bendera memperingati Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober), dilanjutkan dengan mengunjungi monumen Tujuh Pahlawan Revolusi untuk mengutuk kekejaman PKI dan mengenang tujuh pahlawan revolusi yang gugur, kemudian rombongan sekolah menonton film “Pengkhianatan G30S/PKI” di gedung-gedung bioskop sehingga wacana “Hantu Komunis” terus tercipta yang dijadikan senjata untuk menghabisi gerakan-gerakan kritis dan istilah “Ganyang PKI” menjadi begitu dikenal.

Siapa yang tahu bahwa sesungguhnya ada cerita lain di balik peristiwa itu, yang hanya diketahui oleh para survivor dan saksi-saksi sejarah pembantaian massal di seluruh bumi pertiwi Indonesia, khususnya di Bali yang memilih senyap meski hati mereka berteriak memohon ruang bebas untuk bercerita? Buku ini menjadi satu sarana mereka untuk bertutur dan akhirnya terkuaklah bahwa di rentang tahun 1965-1969 Pulau Bali telah menjadi sebuah “Ladang Hitam”.

Saat meletusnya G30S, Bali menjadi salah satu daerah dengan “penyembelihan” terganas terhadap orang-orang yang dituduh simpatisan dan anggota PKI, penuh dengan jejak darah pembantaian dan kuburan massal yang ada di hampir semua jengkal desa-desa di Bali. Soe Hok Gie dalam sebuah essainya di Zaman Peralihan, menuliskan gambaran tentang Bali saat hari-hari mencekam 1965-1966 di Bali sbb.;

“Bali menjadi sebuah mimpi buruk pembantaian. Jika di antara pembaca ada yang mempunyai teman orang Bali, tanyakan apakah dia mempunyai teman yang menjadi korban pertumbuhan darah itu. Ia pasti akan mengiyakan, karena memang demikianlah keadaan di Bali. Tidak seorang pun yang tinggal di Bali pada waktu itu yang tidak mempunyai tetangga yang dibunuh atau tidak dikuburkan oleh setan hitam berbaret merah yang berkeliaran di mana-mana pada waktu itu.”

Atau simaklah sebuah pengakuan dan penuturan seperti ini;

“Saya berasal dari Bangli. Konon katanya pada waktu itu banyak orang yang diculik dan dibawa ke suatu tempat untuk dibunuh. Saat itu kakek saya adalah seorang Jero Mekel dan juga polisi pamong praja yang mempunyai banyak pengayah yang harus menjaga kestabilan, keamanan dan ketenangan di wilayahnya. Kakek sering bercerita bahwa pada waktu itu situasi sangat gawat dan genting sekali. Banyak kepala keluarga yang ditangkap dan diculik kemudian dibunuh, bahkan ada yang langsung dibunuh di depan rumahnya sendiri dengan digorok, diklewang atau ditembus dengan timah panas, disaksikan oleh anak dan istrinya.

Orang yang bertugas menculik dan membunuh ketika itu dikenal dengan istilah tameng. Istilah ini begitu terkenal di desa saya dan sampai sekarang masih melekat. Para tameng yang masih hidup sekarang kebanyakan hidupnya tidak karuan dan terlunta-lunta, bahkan ada yang sangat menderita. Mungkin itu karena karma yang harus mereka tanggung akibat membunuh orang-orang yang tidak berdosa.”

Sebuah Referensi

Buku “Ladang Hitam di Pulau Dewa” karya I Ngurah Suryawan ini, setidaknya bisa menjadi sebuah referensi bagi masyarakat yang ingin mengetahui sejarah G30S PKI, apa yang terjadi di balik Gerakan Satu Oktober, di mana saja orang-orang dibantai pada saat itu dan siapa saja yang terlibat di dalamnya. Referensi ini sangatlah penting, terutama bagi para pemuda zaman sekarang, karena minim sekali sejarah yang menceritakan secara rinci kejadian yang sebenarnya.

Dalam buku ini juga dibicarakan mengenai politik ingatan. Dikatakan demikian karena akan diuraikan kesaksian seorang mantan Bupati Jembrana pada tahun-tahun genting dan hilang dalam sejarah politik Bali. Ia adalah IB Gde Dhoster yang yang akrab dipanggil Pak Dhoster. Ia mantan Bupati Jembrana Tahun 1960-1967. Segudang kesaksian dan ingatan Pak Dhoster ini diharapkan akan memberikan perspektif baru dalam pengetahuan sejarah di Bali.

Pembantaian massal pasca G30S PKI 1965, merupakan sejarah buruk yang terjadi di negeri ini. Ratusan ribu jiwa manusia yang di-PKI-kan melayang tanpa memperoleh keadilan. Tragedi ini sungguh merupakan kisah kelam, bukan hanya bagi para korban tetapi juga bagi bangsa ini. Buku ini merekam beragam kisah pedih yang terjadi di Bali, salah satu wilayah di mana pembantaian itu terjadi.

Dengan perspektif studi antropologi kekerasan, buku ini membongkar mitos tentang kekerasan yang terjadi di Bali pada tahun 1965 sebagai proses alamiah, argumentasi keseimbangan alam, dan mitologi letusan Gunung Agung yang meminta korban. Mitos-mitos itu tak lebih sebagai sebuah rekayasa yang sengaja diciptakan oleh para penguasa saat itu.

Jadi, buku sangat penting untuk generasi muda kini. Dapatkan buku ini hanya di Gramedia Pusat Kota Denpasar, Matahari Duta Plaza Lt. Basement.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply