Tentang Pistol dan Bunga dalam Budaya Masyarakat Bali

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Bali adalah sebuah kosmologi yang punya interaksi antardua budaya, peradaban modern dan tradisi. Fenomena sosial dan budaya di masyarakat Bali bisa terjadi akibat efek dari akulturasi, asimiliasi atau bahkan berupa perbenturan budaya yang bisa memelihara, atau bahkan menghilangkan budaya lainnya.

Pameran yang dibentangkan di Pusat Kebudayaan Prancis (Centre Culturel Francais) Jakarta dan berlangsung hingga 22 Februari mendatang, ibarat tumpahan kegelisahan para perupa muda itu tentang kondisi masyarakat Bali yang ditumpahkan dalam karya yang berbagai medium. Tengok saja satu karya I Wayan Suja yang berjudul Litle Boy in The Ironic Land. Selain fokus berupa objek remaja yang sedang asyik menyedot Coca-cola (agak samar diperlihatkan), kaos Donald Bebek, yang menjadi ikon produk kapitalisme, huruf little boy in the ironic land digurat di atas media kanvas.

Tidak hanya sampai di situ kesinisan yang diperlihatkan seorang putra Bali (dari namanya), I Wayan Suja, pada karya yang lain, berjudul ?Tanda Mata?, dia memperlihatkan enam panel yang memperlihatkan objek yang berbeda, sebagai ikon yang terasa ambigu. Dengan ikon itu, Suja seakan ingin menekankan betapa paradoksnya ?pulau yang ironis? ? mengacu pada karya di atas. Plastik transparan, tulisan ?100 % spirit bali? di atas kanvas, objek ikan, pisau, bunga dan pistol, menghasilkan sebuah metafora dari wujud ikon yang bertolak belakang, bunga dan pistol, apakah makna yang terjadi di pulau yang dipandang oleh I Wayan Suja sebagai ?ironi? itu sebenarnya?

Identitas Kultur

Pameran ini merupakan program keempat cARTe Blanche, yang diberi tajuk Alerte! (Waspada), yang menurut keterangan di katalogus pameran mengangkat gaya hidup orang Bali yang menyelaraskan agama Hindu dengan seni budaya ? sebenarnya, plus pengaruh budaya kontemporer (tak disertakan dalam pameran).

Judul ini tidak berarti menyederhanakan persoalan bertumpuk yang dibawa oleh kuratornya, I Ngurah Suryawan, yang pernah digagas dan diekplorasi di pameran perdana Klinik Seni Taxu Art Space pada 25 Januari hingga 8 Februari yang lalu ?yang kemudian dipindahkan ke ruangan di Jl. Salemba Raya 25 Jakarta.

Selaku kurator, Suryawan menyebutkan latar tentang kondisi sosial-budaya yang dihadapi masyarakat Bali termasuk reaksi dari satuan pengamanan tradisi Bali dan Hansip (Pertahanan Sipil) di Bali untuk persoalan prostitusi, kondisi pascabom Bali, bahkan sikap masyarakat Bali saat menghadapi sejarah pasca-1965 tentang chaos politik, dari wilayah pusat Jakarta yang berimbas di tiap daerah termasuk Bali.

Bagi Suryawan, pameran ini memperlihatkan karya-karya keras (dimiringkan oleh Suryawan, keras bisa jadi berarti simbol atau semiotika verbal soal kondisi sosial yang direspons si senimannya). Tema Waspada (Alerte), adalah membincangkan penguatan budaya dan konflik internal yang dihadapi oleh masyarakat atau orang Bali sendiri.

Lewat karya, para perupa tidak membuat simbol sederhana dan verbal tentang dunia mikro dan makronya tentang alam Bali, berupa ?gempuran? (bila budaya luar dipandang negatif) yang terjadi dari budaya ?luar? berupa pemikiran, produk, gaya hidup, baik dari global ataupun di luar lokalitas tradisi Bali.

Seperti I Wayan Suja, Made Muliana (Bayak) memperlihatkan cara penyampaian yang sama. Lewat objek kain loreng tentara (yang bisa jadi dimaknai dengan kekerasan) yang menyelubungi media berbentuk payung tertempel di tembok, sekali pun ada semangat untuk bertahan dari seekor kupu-kupu yang hinggap dalam karya Painting Number Three: Comouplage Series (2005, media campuran). Atau tiga lampu teplok yang dua lampu teplok lainnya bukan kenyataan tapi berupa ?lukisan lampu teplok? dan ?foto lampu teplok?. Dua lampu teplok adalah kepalsuan yang tak lagi berupa kenyataan tapi citra yang kelima lampu itu terhubung oleh satu pertalian menuju televisi.
Menyitir pendapat Suryawan, bahwa penggugatan akan identitas, tradisi dan modern adalah sebagian kecil ironi yang harus ditanggung manusia Bali, adalah cenderung berupa kegamangan yang disikapi oleh seniman ? termasuk kuratornya sendiri.

Walaupun menyisakan pertanyaan di benak, benarkah tradisi Bali dalam kondisi semacam itu, bila nyatanya kearifan tradisi itu masih terasa bahkan menjadi model buat berbagai masyarakat Indonesia di wilayah lainnya? Ataukah sebenarnya, di balik pengaruh budaya asing itu, Pulau Bali punya ?pura? dan ?pecalang?nya sendiri, yang menyortir atau memfilter budaya yang masuk? Seperti karya Putu Sumiantara (Kacrut) yang masih mampu memperlihatkan gemuruh upacara ritual Bali, terlihat lewat simbol Canang # 1 dan Canang # 2 (sesaji dari janur dan bunga) yang bermedium cat minyak, memperlihatkan objek alam janur dan bunga sebagai ritual?

Walau kerap dijadikan sebagai bulan-bulanan industri, atau kitsch, kenyataan juga membuktikan bahwa canang masih dimuliakan sebagai prosesi ritual di dalam tembok pura di Bali. Lewat media lima seniman (dengan dua seniman lain yaitu I Gde Puja dan Komang Agus Purnama Santi), juga pandangan kurator I Ngurah Suryawan, anjuran kewaspadaan bisa jadi sebuah kalimat yang bertuah. Walau tak pelak, tetap menyisakan pertanyaan, benarkah masyarakat Bali yang kerap dijadikan model wilayah yang teguh pada budaya sendiri namun terbuka pada budaya masyarakat asing, harus waspada, pada modernisasi yang telah berbiak di tengah peradaban tradisinya? Jangan-jangan, sejak dahulu masyarakat Bali sebenarnya selalu waspada dengan persiapan ?filter budaya?nya di kebudayaan asing juga globalisasi.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply