100 haiku Tengsoe Tjahjono untuk thalia

/1/
coklat retina
melenggang dalam angin
menyergap pandangan

/2/
mata sewarna hujan
gerimis dalam jantung
penuh debur

/3/
cahaya bianglala
mengoyak rambut pantai
kilaunya tiba ke jiwa

/4/
bibir mawar
mengembangkan kelopak basah
mengaduh pada gigitan pertama

/5/
siapa berselancar pada pipi
ciuman sekeping hati
dari pantai

/6/
pada leher
dikalungkan mimpi
“katak membakar matahari”

/7/
belakang kuping
tersembunyi gelisah
tiupan nafas lepas

/8/
disandarkan harapan
remang pundak
lembut amat

/9/
puting waktu
digigit pelan-pelan
pemburu mencari jalan pulang

/10/
bukit tanpa rumputan
pendakian pertama
embun beku pada lidah

/11/
sembunyi di sela bukit
cuaca mengirimkan gerimis
basahlah waktu

/12/
dari pusar
dimasukinya rumah rahasia
penuh warna musim

/13/
dalam pusar
labirin abu-abu
mencari jendela

/14/
lembah menganga
sebuah pintu terbuka
siapa berlabuh sesubuh ini?

/15/
sepasang kaki
menjepit musim
ketika sepi

/16/
perahu kertas
tak koyak oleh air
mengalir dari jantung

/17/
5 cm lagi
kita sampai
gerbang pertama

/18/
tinggalkan tempurung
menarilah di panggung
ballerina, ballerinaku

/19/
berciuman di bawah hujan
dibaca dalam remang
“pisau itu selalu menusukku”

/20/
centhini menutup pintu
desahnya tak terdengar
oleh telinga hari

/21/
sebuah meja
sepasang donat
laut pada mulut

/22/
sebuah kursi
20 jemari
merapat pada punggung

/23/
sebuah lampu
tanpa cahaya
wajahmu mendekam dalam jiwa

/24/
halaman 109
dibaca pagi-pagi
sungai menemu muara

/25/
gerimis dari shower
sepasang ikan telanjang
tanpa sirip mereka berenang

/26/
ranjang ungu
bunga ungu
tangan kita meremas lalu

/27/
bayang-bayang pada dinding
cahaya dari jendela
persetubuhan kupu-kupu

/28/
selat, feri, angin
melepas kita
ke tanah merdeka

/29/
tembakau tinggal batang
di ladang tanpa hujan
kuhirup bau tubuhmu semalaman

/30/
daging siwalan
kukecap pada senja
kutulis pada cuaca

/31/
gurita bakau
tak bisa sembunyikan kau
ke sejuta akar

/32/
ladang garam berkilat
tak bisa kita bercermin
pada keruh

/33/
alun-alun cuma hiruk
tak segemuruh jantung
pada bilik sendiri

/34/
semangkuk mie ayam
pedasnya menyengat malam
oleh dekapan

/35/
trotoar dan akasia
lampu jalan dan kata-kata
mengalir bersama

/36/
pada bab 04
barisan semut melabrak martabak
saat kita sibuk membaca

/37/
ruang klas, diskusi, perbincangan
terasa asing
di tengah belukar tanpa nama

/38/
dengan becak
dikelilinginya dunia
sekejap hanya

/39/
siapa tertidur
di atas bukit-bukit
sehabis mendaki

/40/
rak buku, kipas angin pada dinding
diciumnya rambut
pada halaman sampul

/41/
mangrove abu-abu
menyergap retinamu
cuaca gelisah selalu

/42/
kepiting warna-warni
lumpur pasir
mengajakmu kembali

/43/
seribu akar
membelit jantung
tersadap perlahan

/44/
burung-burung sederhana
berbondong dari laut utara
menyerbu lindap bakau

/45/
perahu tanpa nakhoda
membelah sendiri rawa-rawa
jemari kita lekat bersama

/46/
di dapur
angin telanjang
terbujur pada penampang meja

/47/
di kursi
detik bercumbu
kaki bertumpu

/48/
di lantai
permadani bulu
terasa hingga ke hulu

/49/
pintu terbuka tanpa salam
laut melebur pada dada
menaburkan percik ombak

/50/
hujan menyemaikan amarah
pada rindu
pada beku

/51/
padat jalanan melahirkan umpat
pada gelisah
pada istirah

/52/
seliat jas hujan
tersedia
pada cuaca

/53/
dalam selimut
ada yang menggigil
oleh kabut

/54/
dalam ruang
ada yang meremang
oleh ciuman

/55/
dalam pagi
ada yang menari
meremas jemari

/56/
jauh-dekatnya jarak
hanya hati
yang mengerti

/57/
panjang-pendeknya waktu
hanya cinta
yang tahu

/58/
bersembunyi pada kota
menemu labirin
tanpa jendela

/59/
ca jamur kita kunyah pada gunung
kabut turun dari pucuk
meminta dekapan

/60/
ke dalam jaket
dibenamkan rindu
hingga dasar

/61/
di pasar agro
ruang mengembang
pada selayar

/62/
sekeranjang buah
seikat sayur
merenangi kecipak matahari

/63/
seribu gerutu
terpelanting dari bibir
dahaga dirajam jarak

/64/
pada terminal
sungai menanti
kunjungan muara

/65/
roda berputar
menjinjing gelisah
menuju kota

/66/
seiris pizza
pandangan asing
tersaji bersama

/67/
sebuah kamera
memanah bayang-bayang
sebutir apel di atas kepala

/68/
akar bakau di jalan raya
membangun ketakutan sempurna
menuju pulang

/69/
ciuman pada pipi
di udara terbuka
sejuta mata menganga

/70/
siapa melesat kelu
memburu waktu
bawah jembatan

/71/
selalu tak rela
menerima jarak
saat bersua

/72/
dicarinya helm
di rumah sebelah
diamput! tak ada

/73/
membaca bersama
kisah-kisah kemarin
dalam kabut senja

/74/
pesan menyalak
“kamu di mana?”
tersesat pada ketiak

/75/
semangkuk bakso
segelas es buah
tanpa bicara

/76/
gazebo berpintu
kolam ikan
kita kunyah siang-siang

/77/
bypass bawah terik
sate jamur
hanyalah kisah

/78/
segelas air putih
nasi urap
diaduk guyur tatapan

/79/
es degan
tanpa sedotan
mengembun tepi jalan

/80/
lampu merah
pengumuman menyergap
telinga pejalan

/81/
papan tulis, penyejuk udara
seribu wajah
gugur padamu

/82/
sepasang hp
mencatat kisah
pada angkasa

/83/
jalan kecil penuh lubang
pagar bambu, ladang pisang
berhenti pada pintu

/84/
kucing kecil
menyergap kotak pensil
dengan pita merah muda

/85/
dua matahari
bergumul
pada jantungmu

/86/
kali kecil
selingkung pohon pisang
gadis sendiri menulis sepi

/87/
tak menangis
pisau mengiris
kersik hati

/88/
kamar mandi mendaraskan
wangi parfum
kupu-kupu telanjang
menyambut gayung

/89/
ada yang menangis
di seberang
lirih tertahan

/90/
sebuah prasasti
dipahatnya di dada
saat pagi

/91/
ruang karaoke
ac membeku
tanpa lagu

/92/
sepiring rujak
di kafe
kukunyah retina

/93/
di mana disembunyikan tubuh
di ruang terbuka
tak teduh

/94/
pada sofa rambut menjuntai ke jantung
laut bergelombang
riuh berlabuh

/95/
tas hitam, tangga lantai dua
labelnya terjatuh
pada bibir

/96/
sepasang sepatu
menyeru namamu
dari etalase terbuka

/97/
menghalau terik
dari tempat parkir
tak sampai-sampai

/98/
memburu kucing
dari sudut ke sudut
bertemu di rak buku

/99/
berdiri di bus
menyeberang selat
menanti duduk

/100/
haiku pertama
tak kan berakhir
pada ujung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *