Bercengkrama dalam Kolaborasi Seni

Nuryana Asmaudi SA
http://www.balipost.co.id/

APA yang terjadi jika seni rupa “bercengkrama” dengan sastra dan teater? Bagaimana rasanya berasyikmasuk dalam “romantisme” pergumulan seni yang berbeda karakter dalam satu event? Tentu saja menarik, asyik, dan mengesankan. Begitulah yang terlihat di panggung kolaborasi seni “Melintas Cakrawala”, yang dilakukan oleh Made Budhiana dan para “kolega”-nya, Sabtu malam (3/7) lalu. Sebuah hajatan seni yang spektakuler, digelar di Maha Art Gallery, Jl. Hang Tuah 58, Sanur, Denpasar. Pelukis eksentrik itu menggandeng seniman sastra dan teater, serta perupa lain, sebagai teman kolaborasi. Sejumlah penyair, aktor teater, pecinta sastra, bercenkrama dalam hajatan seni yang menarik. Tidak hanya kalangan seni, masyarakat umum pun tercuri perhatiannya dan dibikin gayeng.

Budhiana melukis bersama Gede Gunada, juga dengan sejumlah anak sekolah dasar. Kolaborasi lukis Budhiana-Gunada menggunakan kanvas berukuran 145 cm x 350 cm, sementara kolaborasi lukis dengan anak-anak SD menggunakan kertas duplek. Sebuah peristiwa yang menarik dan asyik ditonton. “Ini peristiwa seni yang jarang terjadi dan patut patut duacungi jempol. Pelukis sekelas Budhiana mau berkolaborasi dengan anak-anak SD.”. Kolaborasi menjadi kian menarik ketika para penyair mulai beraksi. Mereka membaca puisi secara bergantian. Ada gaya tampilan penyair yang teatrikal, menyorongkan diri ke depan kanvas, memeluk-bersandar-menggelayut ke tubuh Budhiana dan Gunada yang sedang melukis.

Seniman sastra dan perupa bercengkrama-berasyikmasuk: para penyair memanggungkan puisi, Budhiana dan Gunada meresponnya dalam lukisan, menggambar sosok dan aksi para penyair dan seniman lain, di atas kanvas dan di kertas duplek yang dibentang di lantai di bawah-depan kanvas. Para penyair yang ikut berkolaborasi antara lain Wayan Sunarta, Muda Wijaya, Pranita Dewi, Mas Ruscitadewi, Tan Lioe Ie, serta para penyair dari Studio Snerayuza Budhiana sendiri. Aktivis teater Yuanita Ramadhani juga membacakan puisi. Pun, pecinta sastra, Gayatri Mantra.

Kolaborasi dilengkapi dengan pentas monolog oleh Ayu Putu Indah Yuniorika. Peraih Juara Umum Lomba Monolog Olimpiade Sastra se-Bali 2009 itu membawakan naskah “Terkapar”, karya W. Hermana HMT, disutradarai Yuanita Ramadhani. Mengisahkan seorang perempuan keturunan Tionghoa, korban kerusuhan tahun 1989, yang kehilangan suami, rumah, dan harta benda, serta jadi bulan-bulanan tindak kekerasan fisik dan psikologis, hingga terganggu jiwanya.

Melintas cakrawala yang dimaksud Budhiana adalah proses pergulatan berkesenian tanpa henti, seperti orang melakukan perjalanan menuju cakrawala yang dari tempat berpijak nampak jelas dan menggoda untuk dicapai, namun setelah ditempuh ternyata cakrawala masih tetap terlihat jauh di depan sana, tak pernah ketemu, tak ada ujung-akhirnya.

Tidak Dipola

Karena saking suntuknya bercengkrama, berasyik-masyuk dalam kegayengan hajatan seni bersama yang mengasyikkan, kolaborasi baru dihentikan pada pukul 22.00 Wita. Acara tersebut nampaknya memang sengaja dibuat mengalir, spontan mengikuti naluri seni dan suasana hati, tanpa dibatasi dan dipola, sampai mereka merasa puas dan ingin menyudahi aksinya sendiri. Sayangnya, seniman sastra yang ikut berkolaborasi hanya beberapa orang, karena tidak semua sastrawan yang hadir bersedia nimbrung. Ada satu-dua penyair yang tampil berulang-ulang, sehingga terkesan kurang bervareasi. Andai ada seni lain, semisal tari dan musik, yang ikut berkolaborasi, tentu lebih menarik lagi.

Kolaborasi berpuncak dengan adegan seni yang mengejutkan. Wayan Sunarta yang sedang membacakan puisi panjang, tiba-tiba dipegang dan dibuka bajunya. Lalu, dengan adegan teatrikal, rambut gondrong Sunarta digelung, tubuh dan wajahnya ditorehi cat warna-warni oleh Gunada. Budhiana menyusul melukis tubuh-wajah penyair bertubuh mungil itu, “Hai, apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian cat aku,” pekik Sunarta sambil terus membaca puisi, membuat suasana gempar. Jadilah Sunarta model body-face painting dadakan. ‘Pekarangan Tubuhnya’ (pinjam judul buku antologi puisi Sunarta, pen) “ditanami” lukisan. Wajahnya menyerupai badut, sekujur tubuhnya bergelepotan cat warna-warni, serupa lukisan abtrak.

Ide itu muncul spontan dari salah seorang penyair, kolega Budhiana di studio Snerayuza; ia membisiki Budhiana dan Gunada saat sedang melukis, dan disetujui. Sunarta yang tak tahu rencana itu, bersedia dibuka bajunya saat sedang membaca puisi. Maka, terjadilah “tragedi” seni yang bikin gempar itu. “Saya dikerjai. Untung celana saya nggak ikut dilepas, ha-ha-ha. Tapi, saya senang dan puas. Performen spontan yang menarik. Seandainya ide itu dirancang dari awal, tentu hasilnya lebih bagus” komentar Sunarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *