Cerita Rabelais dalam Huruf Arab-Melayu

Hasan Junus

http://www.riaupos.com/

CERITA karya pengarang Prancis Fran?ois Rabelais (1494-1533) itu dalam bahasa aslinya berjudul ??Le pauvre et le rotisseur?? yang teks lengkapnya dapat dijumpai antara lain dalam buku Promenades en France yang disusun oleh Ren? Bell? dan Andr?e F?nelon Haas terbitan Holt, Rinehart and Winston, Inc., 1957 halaman 18-19. Kaki-dashi atau kalimat(-kalimat) pembukaan cerita itu dalam istilah bahasa Jepang ialah sebagai berikut: A Paris, un jour, il y a tr?s longtemps, au moyen ?ge, probablement au temps du roi Louis XI, un pauvre se tenait dans la rue devant un r?tisserie. Il ?tait triste ey il avait froid, car il faisait mauvais tempas. Beaucoup de gens passaient dans la rue sans faire attention au pauvre.

Kaki-dashi ini dapat diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi: Pada suatu hari pada abad pertengahan di Paris, agaknya pada masa pemerintahan Raja Louis XI, ada seorang miskin yang sudah lama berdiri tercegat di pinggir jalan depan sebuah kedai roti. Hatinya sedih dan badannya kedinginan. Orang-orang lalu-lalang keluar masuk kedai roti itu sedangkan ia menahan perut yang lapar.

Cerita yang berasal dari pengarang Prancis, Fran?ois Rabelais, itu diterjemahkan, sebenarnya diadaptasi, dan dialih-aksarakan ke bahasa Melayu (Indonesia) dan dalam huruf Arab-Melayu menjadi ??Bau Dibayar dengan Bunyi??. Adaptasi dan alih-aksara karya Rabelais itu dimuat dalam buku bacaan yang terbit di masa lalu setelah Perang Dunia Kedua yang menjadi bacaan di sepanjang Pulau Sumatra. Rupanya tanpa disadari sudah sejak dulu Sastra Dunia sudah memasuki bahan bacaan untuk murid-murid sekolah rendah di negeri kita pada suatu masa dulu. Cerita ??Bau Dibayar dengan Bunyi?? sebenarnya semacam ambilan atau pengambilan paksa tanpa menyebutkan sumbernya yang sama artinya dengan pencurian. Bahan bacaan untuk murid-murid sekolah rendah pada masa kolonial yang berasal dari Khazanah Sastra Dunia lainnya cukup banyak dan hal ini seyogianya diteliti secarah ilmiah karena pencurian khazanah budaya sedang ramai-ramainya pada masa ini. Salah-satu karya yang diterbitkan dengan adaptasi dan alih-aksara ke hurud Arab-Melayu ialah ??Batu Menjadi Saksi??. Cerita ini sebenarnya merupakan salah-satu bagian dalam Zadig ou la Destin?e yang telah diterjemahkan oleh Ida Sundari Husen menjadi Suratan Takdir terbitan Pustaka Jaya, Jakarta, 1989.

Baik ??Bau Dibayar dengan Bunyi?? maupun ??Batu Menjadi Saksi?? serta cerita tentang seorang saudagar Yahudi yang bernama Shylock yang berupaya menipu Antonio dalam karya Shakespeare Merchant of Venice yang merupakan salah-satu dari telur Kolumbus. Cerita seperti ini seperti lautan dalam yang jernih dan bening sehingga dasarnya seperti mudah digapai. Tapi hanya seperti. Karena begitu kau menggapainya kaupun tenggelam.

Demikianlah banyak karya Sastra Dunia yang secara pacifique meresap di dalam bahan-bahan bacaan untuk anak-anak sekolah rendah. Malam ini saya baru menerima sebuah SMS dari sahabat saya yang belajar di Mesir yaitu Ahmad David Kholikulrahman yang menyatakan bahwa ia baru mendapat bahan-bahan lama yang tertulis dalam bahasa Turki dengan aksara Arab. Saya yang ingat pada buku-buku yang tertulis dalam huruf Arab-Melayu dan huruf Pegon mengirim pesan agar ia dapat mencarikan saya contoh tertulis buku atau bahan bacaan dalam huruf Arab yang berbahasa Swahili. Demikianlah perjuangan melintasi batas-batas dunia.

Siapakah Rabelais?

Fran?ois Rabelais yang juga memakai nama analgramatik Alcofribas @ Alcofribas Nasier lahir kira-kira tahun 1494 di Poitu dan meninggal-dunia di Paris 9 April 1553. Namanya menjadi junjungan buih dalam sejarah kesusastraan Perancis terutama terjadi pada akhir abad keduapuluh berkat penerokaan seorang sastrawan terkemuka bernama Milan Kundera.Karya Rabelais yang terkenal di antaranya Pantagruel (1532) dan Gargantua (1534). Kedua karya ini mengisahkan pengalaman seorang raksasa yang bernama Garagantua, dengan anaknya bernama Pantagruel dan rekan si anak yang bernama Panurge; semua itu sebenarnya merupakan pantulan dari pengalaman rohani kita semua.

Cerita ??Le Pauvre et le Rotisseur?? karya Francois Rabelais diakhiri dengan keadaan yang dialami oleh si Tukang Tambosa atau si Tukang Pastel putusan yang dibuat oleh juru damai yang mengatakan, ??Bagi Anda, bukankah Anda sudah mendengar dencing bunyi mata ketika jatuh ke lantai. Dan dengan demikian Anda pun sudah dibayar dengan baik.?? Kalimat penutup cerita itu ialah sebagai berikut:

?En entendant ces paroles si justes, tous les gens ?clat?rent de rire et trouv?rent que l?affaire avait ?t? jug?e d?une mani?re admirable.? Terjemahannya ke dalam bahasa kita lebih kurang: Sambil mendengar perkataan yang adil itu, seorang ketawa segelak-gelaknya dan mengetahui bahwa kejadian itu sudah dihakimi dengan cara yang mengagumkan.

Sastra Dunia bukanlah sebuah terra incognita dalam kehidupan sastra kita sejak dulu lagi. Di samping kegiatan politiknya yang penuh kesibukan Haji Agus Salim masih sempat menerjemahkan karya peraih Hadiah Nobel 1907 yang bernama Rudyard Kipling (1863-1936). Namun semua itu tak akan meninggalkan kesan yang mendalam apabila tak diimbangi dengan masuknya sastra kita ke lingkaran Sastra Dunia. Untunglah keadaan yang terjadi cukup menggembirakan. Selangkah demi selangkah sastra modern kita ikut bergerak ke sana sampai-sampai diterjemahkan ke bahasa bukan Inggis yang biasa itu tetapi juga ke bahasa Portugis.

Semua itu mempunyai makna tunggal yaitu berkaryalah dengan lebih cemerlang dan tak kalah dengan orang dari dunia lain memerikan diri kita yang berbeda maupun yang sama dengan mereka. Pelajaran tentang Sastra Bandingan antara kita dengan orang lain, siapapun dia harus terus dilakukan, termasuk dengan karya-karya Fran?ois Rabelais dan lain-lain siapapun dia.

Rabelais ialah seorang anti agelaste. Kata ini memang berasal dari perbendaharaan dirinya sendiri. Punca sosok agelaste ialah kebudayaan Hellas atau Yunani Lama yang dimaksudkan kepada orang yang tak tergelitik sedenyutpun oleh kelakar alamiah, tak pernah bisa ketawa, tak memiliki rasa dan resa humor. Dalam kebudayaan Melayu tokoh seperti agelaste itu disebut sebagai orang yang bermuka dan berhati seperti penunggu neraka.***

Leave a Reply