Dari Rubiyem sampai Angsa & Serigala

Ismi Wahid
http://www.tempointeraktif.com/

“Duh, haus banget, ya,” ujar pria berambut panjang dan mulai memutih itu. Sontak penonton yang memenuhi ruang Teater Salihara malam itu tertawa tanpa dikomando. Pasalnya, pria berkaus putih dan bercelana gombrong hitam ini mengatakannya dengan spontan kala membacakan fragmen sastranya berjudul Dinding Mawar.

Dia adalah Yanusa Nugroho, cerpenis. Rabu malam lalu itu, ia berlaga di depan puluhan audiens dalam serangkaian acara Biennale Sastra Utan Kayu 2009 di Salihara.

Cerpen yang dibacakannya mengundang imajinasi penonton. Bercerita tentang sepasang suami-istri yang sudah lama berumah tangga. Sang suami dianggap gila oleh istrinya karena memiliki keinginan untuk menembus kebun yang penuh mawar berduri. Sang suami nekat menembus kebun mawar itu. Tersayat kulitnya, berdarah, dan perih. Namun, ia tetap menikmati setiap sayatan itu sebagai sebuah kenikmatan.

Tema Biennale Sastra Utan Kayu 2009 adalah “Merandai” (Traversing). Merandai adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain pada bidang horizontal yang sama. Dengan tema ini, festival tersebut juga mengundang musisi dan perupa untuk menafsirkan karya sastra. Sebuah pameran seni rupa yang dikuratori oleh Wahyudin, kurator muda Yogya, digelar. Sejumlah buku baru juga diluncurkan. Antara lain kumpulan cerpen 9 dari Nadira karya Leila S. Chudori dan kumpulan puisi Gobang Semarang karya dua penyair, Timur Sinar Suprabana dan Beno Siang Pamungkas.

Novelis perempuan dari Itali, Dacia Maraini, Rabu malam lalu itu ikut berlaga. Ia membacakan petilan novelnya yang terkenal, Woman at War (1975). Dibacakan dengan bahasa Italia, ia menceritakan kisah ketika bersama keluarganya melarikan diri ke Jepang untuk menghindari fasisme pada 1938.

Dialah sebenarnya bintang malam itu. Maraini adalah tokoh utama dalam kesusastraan Italia sejak 1960-an. Akan halnya Reggie Baay dari Belanda yang memiliki darah Indonesia, malam itu ia membacakan salah satu fragmennya berjudul Aku Adalah. Sebuah monolog yang berisi tentang ketidakjelasan identitas seorang Belanda yang berdarah Indonesia.

Reggie juga membacakan karyanya, Rubiah, terjemahan dari nama Rubiyem. Setelah pembacaan, terjadi diskusi menarik. Penokohan Rubiah sebagai gundik bagi mandor kebun di zaman pendudukan Belanda dulu menjadi perdebatan. Rubiah ialah pribumi yang melahirkan anaknya secara sah dari suaminya yang berkebangsaan Belanda. Tapi ia kemudian tidak diperkenankan bertemu dengan anaknya setelah si mandor tak lagi bekerja di perkebunan. Seluruh anak-anak yang ia lahirkan menjadi “milik” suaminya di Belanda.

Pembacaan sastra juga diikuti oleh Lily Yulianti Farid dari Makassar. Perempuan berjilbab ini membawakan karyanya berjudul Makkunrai, yang bercerita tentang seorang kakek yang sangat mendominasi sebuah keluarga besar, hingga ia mampu berkuasa mengatur perjodohan bagi anak dan cucu-cucunya. Selain itu, ada penyair Wendoko yang membacakan karyanya: Dongeng Sebelum Tidur.

Setelah diskusi berakhir, acara disambung dengan musikalisasi dan bantingan puisi bersama Tika and the Dissidents. Bertempat di Kafe atap Salihara, band indie ini menafsirkan karya Hudan Hidayat dan Iyut Fitra dalam komposisi musik.

Hari ini, Jumat, 23 Oktober, pukul 7 malam, acara diskusi akan dihadiri cerpenis A.S. Laksana, penyair Warih Wisatsana dari Bali, Drisan Deborah dari St Martin Karibia, dan Vanni Vianconi dari Swiss. Mereka akan membacakan karyanya sekaligus diskusi mengenai sastra dan sejarah. Malam ini pula, Rampag Bedug Rumah Musik Harry Roesli bersama penyair Beno Siang Pamungkas dan Zeno Gabaglio akan berlaga di atas atap Salihara.

Adapun besok adalah penutupan acara. Diskusi akan menampilkan Sapardi Djoko Damono, Triyanto Triwikromo, Sandra Thibodeaux (Australia), dan Moon Chung Hee. Mereka akan membicarakan fenomena merandai dalam sastra. Malamnya, band alternatif Angsa & Serigala akan “mengaum” di atas atap. Sedangkan Jimmy Maruli Alfian dan Hasan Aspahani akan membacakan puisi-puisinya.

Mari ikut bergoyang bersama Angsa & Serigala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *