Pendidikan Estetika yang Menghilang

Happy Widiamoko
http://edukasi.kompasiana.com/

Ada dua hal yang menjadi tantangan bagi para kalangan yang peduli pada perkembangan seni dan sastra saat ini. Pertama, kondisi masyarakat yang tidak kondusif bagi perkembangan seni dan sastra saat ini; Kedua, sejauh mana pendidikan seni dan sastra membumi dalam kondisi masyarakat seperti sekarang ini.

Yang pertama berkaitan dengan fakta bahwa basis perkembangan sosial yang ada saat ini menciptakan kondisi di mana kebutuhan masyarakat yang secara mendasar belum terpenuhi. Produk-produks seni komunitas dan kegiatan seni masyarakat tingkat basis semakin tersingkir oleh nilai-nilai estetis dan etis globalisasi kapitalisme (pasar). Selain itu, kesulitan hidup masyarakat akibat krisis ekonomi yang belum terselesaikan membuat rakyat harus sibuk mempertahankan hidup, kegiatan dan ekspresi yang bersifat estetispun tak dapat dilakukan.

Kurangnya peran kesenian dalam masyarakat akhir-akhir ini belum disadari sepenuhnya oleh masyarakat, pengamat, dan terutama pemerintah. Kemandulan kreativitas manusia juga tidak lepas dari perkembangan budaya pasar bebas yang membuat potensi estetika manusia terserap ke dalam budaya populer yang berbasiskan ekonomi pasar. Hal ini lah yang menjadi tantangan bagi kalangan yang meresahkan hilangnya potensi seni dan sastra dalam membentuk watak manusia dan menurunkan perannya dalam mentransformasikan masyarakat yang bermartabat dan berkebudayaan.

Ketertekanan ekonomi menyebabkan kebutuhan lain yang bersifat aktualisasi diri, kebutuhan akan intelektualitas dan ilmu pengetahuan, serta estetika menjadi terabaikan. Seorang ahli psikologi terkemuka Abraham Maslow memberikan gambaran berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia. Bagi Maslow kebutuhan manusia itu berjenjang yang pemenuhannya dituntut dimulai dari kebutuhan yang terendah yaitu kebutuhan jasmani seperti rasa haus dan lapar (physiological needs). Dari kebutuhan mendasar, setelah dapat dipenuhi, kebutuhan seseorang selalu meningkat menuju kebutuhan akan keamanan (safety needs), kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan (belongingness and love needs), kebutuhan prestis (prestige needs), keberhasilan dan harga diri (esteem needs), lalu menuju kebutuhan yang tertinggi yaitu kebutuhan untuk merefleksikan diri (self-actualization).

Kebutuhan estetik (kesenian) dalam diri manusia sangatlah penting, bahkan hal ini bisa mencirikan kesehatan mentalnya. Ketidakmampuan untuk mengekspresikan diri dalam hal estetika ini berarti akan membuat orang frustasi. Kita bisa melihat fenomena kriminalitas dan kekerasan akhir-akhir ini. Kita dapat menyimpulkan bahwa aspek estetik masyarakat saat ini sedang tersumbat. Paling tidak kebutuhan akan keindahan bagi sementara orang sangatlah mendalam. Bahkan kita selalu merasakan dalam kehidupan sehari-hari bahwa keburukan selalu menimbulkan kejemuan serta melemahkan semangat. Abraham Maslow berani menambahkan, dalam arti biologis?sama seperti kebutuhan akan kalsium dalam makanan?setiap orang membutuhkan keindahan. Seni dan sastra membuat orang lebih sehat.

Dalam kondisi tersebut, peran pendidikan sangat diharapkan dalam memberikan tekanan pada pembentukan karakter estetik pada masyarakat. Dunia pendidikan harus berjalan bersama dengan para pegiat kesenian. Kerjasama ini harus ditegaskan karena di berbagai sekolah pendidikan kesenian kurang berkembang karena banyak para pendidik (guru) yang tidak berjiwa seni dan tidak memiliki kemampuan mengajarkan kesenian baik secara teknik maupun tematik. Bersama pegiat seni di luar lembaga pendidikan (sekolah), pengambil kebijakan di sekolah harus bergandeng tangan dengan pegiat dan aktivis seni untuk menciptakan gerakan yang dapat merangsang terciptanya kondisi yang memungkinkan kampanye pentingnya seni-sastra dalam kehidupan baik melalui tulisan, seminar, diskusi, acar-acara seni, dan perluasan komunitas atau sanggar-sanggar seni. Tetapi pada saat yang sama juga harus dipetegas dan diangkat muatan seni yang kritis, menguak luka masyarakat, dan mengontrol pembuat kebijakan politik.

Sebenarnya upaya untuk merangsang kebutuhan estetika di kalangan rakyat justru lebih cepat dan meluas jika para seniman dan peminat seni menegaskan komitmen sosial yang kuat, juga berpihak secara tegas kepada suara rakyat yang terkena kontradiksi dalam struktur kekuasaan. Memang masih banyak kelemahan-kelemahan tentang keterlibatan seniman dalam politik. Namun fakta sejarah menunjukkan bahwa keterlibatan mereka dalam politik masih lebih baik, dibanding seniman yang tidak mau paham sama sekali tentang politik yang dalam pemilu 2009 yang lalu bukan bermodalkan konsepsi seni dan komitmen sosial, tetapi hanya jual tampang, keseksian, popularitas, jual dandanan menor, dan lain sebagainya.

Sejak hilangnya Widji Tukul, meninggalnya Pramoedya Ananta Toer dan rendra praktis Indonesia kehilangan seniman dan sastrawan yang progresif. Dalam hal ini juga berarti bahwa hilangnya suara melalui kesenian yang keras, tegas, dan berpihak, ternyata juga diiringi dengan hilangnya kesadaran seni dan sastra di masyarakat. Artinya, kalau saat ini seni dan sastra kelihatan mundur, maka bisa jadi hal itu disebabkan oleh tidak adanya simbol kesenian yang secara personal kreatif dan vokal terhadap kondisi sosial, yang akan membawa kesadaran masyarakat bahwa seni adalah suara yang cukup signifikan untuk meneriakkan tuntutan mayoritas rakyat, yang ketika tidak dipelopori tidak akan tahu apa yang harus dilakukan. Pendidikan kesenian kepada rakyat, dengan demikian, semakin kehilangan tokoh-tokoh yang dapat dijadikan contoh.

Yang jelas ada potensi objektif bahwa suara-suara rakyat saat ini butuh terekspresi melalui seni. Kebutuhan untuk berkesenian akan tumbuh jika ada rangsangan dari para seniman avant garde yang berani bekerja keras baik dari segi aktivisme maupun muatan sosial yang dibawanya. Saat ini, di sati sisi rakyat tidak memiliki kesempatan untuk berkreasi dan menyalurkan kebutuhan estetisnya karena himpitan ekonomi yang masih belum diberikan oleh rejim politik. di satu sisi belum ada kepeloporan di tingkatan gerakan kesenian dan kesusastraan di luar kubu estetika populer yang terkomodifikasi dan bersifat menyerap sisi kreatifitas rakyat menuju banalitas kehidupan sehari-hari. Maka para seniman dan sastrawan harus segera menegaskan strategi taktik yang paling efektif dan kuat untuk menggugah kesadaran estetik yang tidak lepas dari kebutuhan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *