FAKTA-FIKSI DALAM NOVEL SENJA DI JAKARTA*

Maman S Mahayana **
mahayana-mahadewa.com

Adanya pendekatan sosiologis dalam kritik sastra sebenarnya dimungkinkan karena kesusastraan berurusan dengan dunia manusia, atau dunia simbolik yang mengacu pada kehidupan manusia. Karya sastra adalah produk pengarang yang hidup di lingkungan sosial. Dengan begitu, karya sastra merupakan dunia imajinatif pengarang yang selalu terkait dengan kehidupan sosial. Pengarang sebagai anggota masyarakat, dilahirkan, dibesarkan, dan memperoleh pendidikan di tengah-tengah kehidupan sosial. Oleh karena itu, ia juga, secara sadar atau tidak, telah menjalankan peranannya sebagai anggota masyarakat sejak ia lahir.1

Pengarang sebagai anggota masyarakat, hanya mungkin dapat berinteraksi dengan anggota masyarakat lainnya, jika ia mengerti dan memahami bahasa yang digunakan masyarakat yang bersangkutan.2 Sebagaimana dikatakan Peter L. Berger dan Thomas Luckman,3 sepanjang menyangkut hubungan sosial, bahasa ‘menghadirkan’ bagi saya tidak hanya sesama manusia yang secara fisik tidak hadir hari ini, melainkan juga yang dikenang atau yang dikonstruksikan kembali dari masa lampau, maupun yang diproyeksikan sebagai orang-orang khayalan di masa depan.?4

Di samping itu, bahasa tidak cuma mengintegrasikan berbagai bidang pengalaman sehari-hari dan memindahkan kenyataan yang tidak nyata ke dalam kenyataan sehari-hari, tetapi juga merekam, mencatat, menafsirkan dan memaknai kehidupan manusia ini dalam agama, mitos, ilmu pengetahuan, norma, seni, dan termasuk juga karya sastra yang secara khas memanfaatkan bahasa secara hampir maksimal.5 Dengan demikian, konsepsi mimesis yang dikedepankan Plato,6 mesti dimaknai secara lebih luas, yaitu bahwa sastra merupakan catatan, rekaman, rekaan, dan ramalan yang bersumber dari kehidupan manusia. Dalam hal ini, karya sastra bolehlah dikatakan sebagai representasi kehidupan sosial.

Pengarang ?lewat karyanya mencoba mengungkapkan fenomena kehidupan manusia, yakni berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. Karena karya sastra berisi catatan, rekaman, rekaan, dan ramalan kehidupan manusia, maka pada gilirannya, karya sastra, sedikit-banyak, acap kali mengandung fakta-fakta sosial.7 Malahan, seperti yang diungkapkan Grebstein,8 karya sastra dapat mencerminkan perkembangan sosiologis atau menunjukkan perubahan-perubahan yang halus dalam watak kultural.9

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, novel, sebagian besar, dianggap paling mendekati gambaran kehidupan sosial dibandingkan puisi atau drama.10 Konflik yang dapat kita tangkap dalam novel adalah gambaran ketegangan antara individu dengan individu, individu dengan lingkungan sosial, dengan alam, dengan Tuhan, atau bahkan ketegangan individu itu terjadi dengan dirinya sendiri. Ketegangan-ketegangan itu, sering kali justru dipandang sebagai cermin kehidupan masyarakat, yang di dalamnya terkandung juga akar budaya dan semangat zamannya. Karya sastra menjadi semacam dunia alternatif sebagai hasil reaksi-evaluatif yang dapat berupa rekaman atau catatan.11 Dalam hal ini, sastrawan dapat saja bertindak sebagai ?pencatat dan pengamat? peristiwa-peristiwa; atau sebagai ?peramal? yang mengungkapkan peristiwa yang bakal terjadi di masa mendatang sebagai reaksi dari peristiwa yang dicatat dan diamatinya pada masa kini. Benar-tidak ramalannya itu, bukanlah persoalan.12
***

Guna melengkapi pembicaraan ini, saya akan mencoba mengungkapkan ‘rekaman dan catatan’ sastrawan kita mengenai peristiwa tahun 50-an, betapapun sebenarnya dapat saja kita mengacu pada peristiwa mana pun. Sudah banyak novel yang mengangkat peristiwa yang terjadi pada dasawarsa tahun 1950-an itu. Namun, novel Senja di Jakarta,13 Mochtar Lubis serta Jalan Terbuka, Ali Audah,14 kiranya mewakili gambaran peristiwa pada dasawarsa itu.

Peristiwa yang digambarkan dalam kedua novel itu berkisar pada keadaan masyarakat Jakarta menjelang menghadapi pemilu pada tahun 50-an. Pemaparannya mengenai peristiwa pada masa itu, memberi kesan yang kuat, bagaimana keadaan masyarakat kita pada periode itu. Dengan demikian, kedua novel itu laksana ‘potret’ sosial zamannya; semacam ‘rekaman dan catatan’ Ali Audah dan Mochtar Lubis dalam bereaksi terhadap situasi social?politik negeri ini yang terjadi pada masa itu.

Ali Audah dalam Jalan Terbuka mempertentangkan sikap tokoh Kamal, seorang tokoh yang senantiasa gelisah mencari pegangan hidup ‘semacam dengan tokoh Hasan dalam Atheis karya Achdiat Karta Mihardja’ dengan sikap tokoh Marno yang teguh-konsisten berkiblat pada ajaran agama. Di belakang konflik itu, peristiwa-peristiwa sosial politik menjelang Pemilu 29 September 1955, menjadi latar sosial novel itu. Dengan demikian, fakta-fakta sosiologis yang terdapat dalam novel itu dapat kita kembalikan pada peristiwa sosial yang terjadi di sekitar tahun-tahun itu.

Perhatikanlah kutipan berikut ini:

Jakarta, 25 September 1955

Malam itu ibukota seperti berpesta. Penduduk di kampung, tua-muda, lelaki dan wanita, bahkan anak-anak ramai-ramai keluar rumah dan pergi ke jalan-jalan besar. Di sana-sini terdengar suara-suara orang yang hiruk-pikuk, bercampur baur dengan suara-suara yang ke luar dari pengeras-pengeras suara yang dibawa lari oleh kendaraan bermotor. ‘Pilihlah partai ini, tusuklah tanda gambar anu’? teriak pengeras suara dari sebuah mobil. Pengeras suara yang lain berteriak dengan propaganda lain lagi. Poster-poster dan tanda-tanda gambar bergantungan di mobil-mobil, di tepi-tepi jalan dan malang melintang di atas jalan-jalan raya, direntang dari tiang ke tiang dan dari pohon ke pohon.

Makin malam orang makin banyak ke luar rumah. Malam itu ada tontonan gratis yang baru sekali itu mereka alami selama hidup.

Malam itu partai-partai politik dan mereka yang berhasrat mencalonkan diri untuk pemilihan umum mengadakan kampanye dan propaganda besar-besaran.

(Jalan Terbuka, hlm. 183).

Betapapun Ali Audah memusatkan persoalannya pada konflik tokoh Kamal, gambaran latar sosial dalam novel itu, sedikitnya mengungkapkan fakta sosial yang terjadi di seputar peristiwa

pemilihan umum tahun 1955 itu.
***

Masih dengan latar sosial yang sama, Mochtar Lubis dalam Senja di Jakarta mengangkat peristiwa-peristiwa itu seperti layaknya seorang wartawan. Pusat perhatiannya tidak tertuju pada

satu tokoh saja, sebagaimana yang terdapat dalam Jalan Terbuka, Ali Audah, melainkan pada peristiwa-peristiwanya itu sendiri. Jadilah novel itu laksana fragmen-fragmen yang dibingkai oleh

peristiwa sekitar tahun 1950-an selama sembilan bulan (Mei 1956-Januari 1957)15 yang menyangkut, antara lain, jatuhnya kabinet, sepak terjang partai-partai, berita-berita pers, manipulasi dan kolusi pejabat dengan partai, masalah Irian Barat, dan berbagai peristiwa lainnya yang menyangkut masalah sosial-politik-ekonomi-kebudayaan.

Perhatikan kutipan berikut:

Kemudian pada tanggal 30 Desember perdana menteri mengembalikan mandatnya kepada Presiden, karena dua buah partai pemerintah yang lain memutuskan tanggal 29 Desember untuk menarik menteri-menterinya karena sudah tidak dapat lagi ikut mempertanggungjawabkan kebijaksaan pemerintah.

Kabinet jatuh.

(Senja di Jakarta, hlm. 345).16

Kutipan tersebut di atas mengingatkan kita pada peristiwa pengunduran menteri-menteri. Nahdalatul Ulama pada tanggal 20 Juli 1955 menarik menteri-menterinya yang duduk dalam kabinet. Sebelumnya, partai-partai pendukung pemerintah, yaitu Parindra, PSII, PRN dan Partai Buruh mendesak kabinet untuk mengundurkan diri. Akibatnya, perdana menteri mengembalikan mandatnya kepada presiden. Begitulah jika peristiwa yang dikenal dengan jatuhnya kabinet Ali Sastroamidjojo itu terjadi tanggal 24 Juli, dalam Senja di Jakarta peristiwa itu terjadi tanggal 29 Desember.

Peristiwa lain yang juga mengacu pada fakta sosial-politik menyangkut sepak terjang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dalam Senja di Jakarta dinyatakan sebagai Gerakan Kebudayaan Rakyat (Gekra). Dalam novel itu, kelahiran Gekra digambarkan sebagai reaksi keadaan kebudayaan Indonesia yang dipegang oleh kaum borjuis. ?Kaum borjuis yang mengaku jadi pendukung kebudayaan Indonesia, menjadi ahli waris manusia universal, tersangkut macet dalam main teori-teori? mereka puas dengan mengeluarkan manifes-manifes?? (hlm. 243).17

Bandingkan dengan alinea pertama ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’ berikut ini:

Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang-banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.18

Pada awalnya pendirian Lekra, 17 Agustus 1950 di Jakarta, tidak secara tegas hendak menentang para pendukung pernyataan ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’. Hal tersebut tampak dari butir-butir yang termuat dalam Mukadimah Lekra sebagai konsep dasar yang menjadi sikap lembaga ini. Perhatikanlah beberapa butiran isi Mukadimah Lekra yang saya kutip berikut ini:

‘Lekra membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa terlepas dari masyarakat.’ Lekra berpendapat bahwa secara tegas berpihak pada rakyat dan mengabdi kepada rakyat adalah satu-satunya jalan bagi seniman-seniman, sarjana-sarjana, maupun pekerja-pekerja kebudayaan lainnya untuk mencapai hasil yang tahan uji dan tahan waktu.’

Dalam perkembangannya, ketika Lekra merasa telah mempunyai kekuatan, mereka tidak hanya menentang, tetapi juga melakukan teror, intimidasi dan berbagai bentuk pengganyangan lainnya. Hal tersebut sesungguhnya dilatarbelakangi oleh sikap politik Lekra yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sikap politik Partai Komunis Indonesia (PKI).19

Perhatikan juga kata-kata tokoh Akhmad mengenai Gekra dalam Senja di Jakarta pada kutipan berikut ini:

‘kita telah menyediakan fonds perjuangan yang cukup besar, dan usaha ini akan kita mulai dengan mendirikan Gerakan Kebudayaan Rakyat dan ‘Gekra’ ini akan mengeluarkan majalah kebudayaan yang bersifat militan sekali? kita akan berusaha mendirikan cabang-cabang ?Gekra? di mana-mana di seluruh tanah air, mengadakan pameran-pameran buku, seni lukis, sayembara-sayembara mengarang, organisasi sandiwara rakyat, menciptakan tari-tarian dan musik rakyat.’

Akhmad kemudian melanjutnya keterangan, bahwa setiap aktivis akan diberi sokongan ‘secara teratur akan dikirim meninjau daerah-daerah di tanah air, dan kemudian diusahakan pula supaya diundang mempelajari cara-cara organisasi kebudayaan rakyat di RRT, Rusia, Cekoslovakia’ (hlm. 249?250).20

Gambaran tersebut dapat kita hubungkan dengan sikap dan aktivitas Lekra. Sebagaimana tercantum dalam mukadimahnya, Lekra mengecam konsep humanisme universal yang dinyatakan dalam Surat Kepercayaan Gelanggang. Pada tahun 1951, Lekra telah berhasil mendirikan cabang-cabangnya di berbagai kota di Indonesia. Lekra juga mengirimkan para senimannya ke berbagai negara komunis atau sosialis, seperti RRC, Rusia, dan Cekoslovakia.

Salah seorang seniman yang kerapkali dikirim ke luar negeri adalah Pramoedya Ananta Toer. Seperti dinyatakan Darsjaf Rahman, ‘Pada tahun 1956, Pram diundang ke Republik Rakyat Tiongkok’ Kemudian ia menghadiri Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Tashkent, Uni Sovyet dan mampir untuk kedua kalinya di Tiongkok. Sejak itu entah berapa kali Pram ke luar negeri, umumnya ke negeri-negeri sosialis.21

Selanjutnya Darsjaf Rahman menyatakan:

PKI yang memperhatikan Pram, melihat kesempatan dan waktu yang baik untuk membina Pram. Popularitasnya sebagai pengarang, kekecewaannya tidak mendapat penghargaan yang semestinya dari masyarakat serta ambisinya yang besar dan tidak mendapatkan penyaluran tempat dan kedudukan yang tinggi serta yang menurutnya pantas, adalah faktor-faktor yang menghembusnya ke atas dan mendorongnya ke depan ?

Dalam usaha agitasi, propaganda dan aksi massa Lekra/PKI, pribadi Pram cocok sekali bagi rangka perjuangan PKI menguasai massa seniman dan cendekiawan yang masih bebas dan merdeka. 22

Betapapun dalam Senja di Jakarta tidak dinyatakan tokoh-tokoh Lekra yang dikirim dan dibina PKI, penyebutan aktivitas ‘Gekra’ jelas mengacu pada fakta sosial yang dilakukan Lekra.

Mengenai situasi politik dalam Senja di Jakarta, kita dapat mengetahuinya melalui gambaran kehidupan pers yang diceritakan dalam novel itu. Disebutkan, bahwa koran-koran oposisi banyak melakukan kritik terhadap penyalahgunaan wewenang, penyelewengan dan kolusi atau manipulasi pejabat pemerintah, dan praktik kotor partai-partai yang berkuasa. Perhatikan kutipan berikut ini:

‘Pada hari-hari akhir bulan Desember itu kelihatan memuncaknya ketegangan antara pemerintah dengan partai partai oposisi dan antara koran-koran yang menyokong kabinet dan koran-koran yang dicap beroposisi’ sebuah koran oposisi telah membongkar main-main yang dilakukan oleh menteri partai Husin Limbara, menyebut nama Sugeng sebagai pegawai kementerian itu yang tersangkut dalam manipulasi-manipulasi istimewa ‘skandal ini ditambah lagi dengan skandal baru tentang seorang menteri yang disebut menjual tanda tangannya untuk memasukkan orang asing ke Indonesia’.

(Senja di Jakarta, hlm. 337?338).23

Kita mengetahui bahwa pada tahun 1953-1957, kehidupan pers Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh politik yang terjadi pada masa itu. Pers Indonesia boleh dikatakan terbagi ke dalam pers yang mendukung pemerintah dan pers yang bertindak sebagai oposisi yang begitu gencar menyuarakan kritiknya terhadap kekacauan kehidupan politik. Pers pada umumnya menjadi organ partai. Akibatnya, hubungan pers dengan pemerintah saat itu tidak berjalan secara sehat, melainkan justru saling menyerang. Surat-surat kabar yang dianggap sebagai koran oposisi oleh pemerintah waktu itu, antara lain, Indonesia Raya, Abadi, Sumber, dan Pedoman. Belakangan, setelah memasuki tahun 1960-an, PKI beserta organ-organ persnya makin memanaskan kehidupan pers nasional kita. Memasuki tahun 1960-an, gaya bahasa pers kemudian makin penuh dengan sloganisme dan caci-maki.24
***

Demikianlah, novel Senja di Jakarta, salah satu novel di antara sekian banyak novel Indonesia yang mengungkapkan peristiwa seputar tahun 50-an, sebenarnya dapat pula dianggap sebagai ‘potret’ zamannya. Dalam hal ini, Mochtar Lubis telah ‘merekam dan mencatat’ peristiwa sosial politik yang terjadi pada dasawarsa 50-an itu ke dalam sebuah novel, betapapun ada beberapa perubahan yang menyangkut tanggal, nama suratkabar, nama partai dan nama orang. Oleh sebab itu, lewat pendekatan sosiologis kita dapat menempatkan novel itu sebagai ?rekaman dan catatan?, sekaligus menempatkan peristiwa yang digambarkan itu di dalam konteks sosial zamannya.

Beberapa tokoh yang disebutkan dalam novel itu, sangat mungkin pula merupakan tokoh-tokoh faktual.25 Jadi, tokoh-tokoh Raden Kaslan dan Husin Limbara atau Pranoto dan Suryono yang dicap sebagai golongan borjuis, atau tokoh Yasrin dan Akhmad yang mengklaim diri sebagai pejuang proletar, atau juga tokoh wong cilik, Saimun-Neneng dan tukang beca, Itam, sangat mungkin merupakan tokoh faktual. Meskipun demikian, terlepas dari tipisnya jarak antara fakta?fiksi, secara keseluruhan, peristiwa yang disajikan dalam novel Senja di Jakarta, boleh dikatakan sebagai representasi sebuah peristiwa yang terjadi pada zamannya. Ia merupakan potret sosial-budaya yan terjadi pada masa tertentu. Dengan demikian, novel itu juga memperlihatkan semangat zamannya, bagaimana pengarang menyikapi karut-marut persoalan politik dan kepincangan kehidupan sosial pada saat novel itu ditulis.

Pertanyaannya kini: apa makna segala peristiwa masa lalu itu dalam konteks kehidupan sekarang? Di situlah catatan (dan ramalan) Mochtar Lubis seperti memperoleh kontekstualisasi jika dikaitkan dengan karut-marut persoalan perpolitikan di Tanah Air serta terjadinya kepincangan dalam kehidupan sosial dewasa ini. Dengan begitu, makna novel itu masih sangat relevan dengan kondisi sosial-politik-budaya yang terjadi sekarang ini. Di situlah karya sastra memperlihatkan fungsinya untuk memberi penyadaran kepada pembaca!

* Diskusi Novel Senja di Jakarta karya Mochtar Lubis (Edisi ke-2, Cetakan ke-2, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009), diselenggarakan Penerbit Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 12 Agustus 2009, jam 9.00?12.00.

**) Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
___________________________________________________
1 Dalam sosiologi, hubungan dan interaksi individu-individu, individu?masyarakat atau individu dengan kelompok sosial adalah hubungan dasar anggota masyarakat yang kaitannya dengan persoalan pembentukan karakter, norma, etika, dan segala aturan sosial. Dalam konteks ini, masyarakatlah yang dianggap membentuk tata nilai dan sikap budaya individu dalam menjalankan hubungan sosialnya. Jadi, yang membentuk perilaku, norma atau etika pada individu adalam masyarakat. Tetapi ada individu yang dapat mempengaruhi norma atau perilaku masyarakat, dan itu terjadi pada individu yang kuat, karismatik, dan berwibawa dalam kehidupannya di tengah masyarakat. Hubungan individu?masyarakat ini juga kerap ditempatkan dalam konteks status dan peran individu. Semakin banyak status yang dimilikinya, semakin beragam pula peranan yang dimainkannya.

2 Bahasa adalah alat komunikasi antar-anggota masyarakat. Melalui bahasa, setiap anggota masyarakat, tidak sekadar dapat mengekspresikan diri dan saling berinteraksi, melainkan juga dapat saling mempengaruhi. Karya sastra yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya, sesungguhnya dapat juga berfungsi mempengaruhi, menanamkan nilai-nilai, menciptakan pencitraan dan legitimasi, bahkan stigmatisasi. Karya-karya sastra yang agung selalu akan menjalankan fungsi itu secara meyakinkan. Maka, karya sastra, selain memberi hiburan, juga menanamkan pendidikan. Itulah sebabnya, fungsi sastra dikatakan sebagai memberi hiburan yang mendidik, atau menyamiakan pendidikan yang menghibur (dulce et utile).

3Berger, Peter L. dan Thomas Luckman. Tafsir Sosial atas Kenyataan. Terj. Hasan Basari. Jakarta: LP3ES, 1990, hlm. 56.

4 Fungsi bahasa yang seperti itu melekat pada bahasa tulis yang interaksinya tidak dilakukan secara bersemuka (tatap muka), melainkan secara tidak langsung melalui sebuah teks. Kehadiran penulis diwakili oleh teks. Maka, ketika terjadi kesalahpahaman, kesalahpahaman itu akan terus melekat pada diri si pembaca. Begitu juga, ketika si pembaca memahami sesuatu, pemahaman itu akan mengeram dalam benak si pembaca sampai entah kapan. Kelebihan karya sastra dibandingkan teks lain adalah usaha menciptakan dunia dengan kata-kata, melalui bahasa. Maka, dunia yang dihadirkan dalam karya sastra ‘apalagi pada karya-karya agung’ akan terus hadir dan mengeram dalam memori si pembaca. Di situlah, penanaman nilai-nilai terjadi. Jadi, teks sastra, baik sastra lisan maupun sastra tulis, tanpa disadari si pendengar atau pembaca, mempunyai kekuatan menanamkan nilai-nilai kemanusiaanmengingat karya sastra mengangkat dunia manusia dengan segala permasalahannya.

5 A. Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, Jakarta: Pustaka Jaya, 1988, hlm. 218, et seqq. Dalam konteks kehidupan keseharian itu, karya sastra sering juga dikatakan menghadirkan peristiwa biasa menjadi peristiwa luar biasa, menghadirkan sesuatu atau peristiwa tertentu yang khas, unik, dan berkaitan dengan kultur tempatan, tetapi dapat berlaku universal, sepanjang masa, dan di mana pun juga.

6 Konsepsi mimesis yang dimaksud adalah bahwa sastra tidak lain sebagai tiruan. Posisi sastrawan atau seniman adalah sebagai peniru, bukan pencipta. Dengan demikian, sastrawan?seniman kedudukannya tidak lebih tinggi dari tukang, karena tukang mencipta ‘sesuatu’ yang lain setelah Tuhan menciptakan dunia dan seisinya. Itulah gagasan Plato yang kemudian ditolak oleh muridnya, Aristoteles. Menurutnya, seniman-sastrawan lebih tinggi kedudukannya daripada tukang, karena seniman?sastrawan menciptakan sesuatu melalui ide-ide. Dunia ideal itulah yang lebih berharga daripada dunia real, dunia material.

7 Sastra kerap juga diperlakukan sebagai potret sosial yang menggambarkan juga semangat zamannya. Itulah sebabnya, menelusuri khazanah karya sastra masa lalu, sering diperlakukan sebagai usaha yang tidak hanya hendak melihat potret masa lalu masyarakat pada zamannya dan bagaimana semangat zaman terungkap di sana, tetapi juga mengungkapkan alam pemikiran masyarakat pada masa tertentu. Lihat, Malcolm Bradbury, The Social Context of Modern English Literature. London: Basil Blackwell, 1972. Periksa juga, Terry Eagleton, Teori Kesusasteraan. Terj. Muhammad Hj.Salleh. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1988.

8 Norman Sheldon Grebstein (Ed.), Perspectives in Contemporary Criticism. New York: Harper & Row, Publishers, 1968.

9 Dikatakan juga Grebstein, bahwa pemahaman atas karya sastra hanya mungkin dapat dilakukan selengkapnya apabila teks sastra itu tidak dipisahkan dari faktor-faktor sosio-budaya yang melingkarinya. Dalam konteks itu, pemahaman bahwa sastra sesungguhnya merupakan ruh kebudayaan, didasarkan pada pandangan bahwa karya sastra dilahirkan seorang pengarang yang juga anggota masyarakat. Karena kebudayaan itu dibentuk oleh masyarakat, maka sebagai anggota masyarakat, ia tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh kehidupan sosial budayanya. Dengan begitu, karya sastra yang dihasilkannya juga tidak terlepas dari segala pengaruh itu. Oleh sebab itu, karya sastra dapat juga digunakan sebagai jembatan untuk memahami kebudayaan sebuah masyarakat.

10 Hakikat novel adalah cerita (narration) yang di dalamnya ada pencerita, masalah yang diceritakan, di mana, kapan dan dalam suasana apa masalah yang diceritakan itu terjadi, siapa saja pelaku ceritanya, dan bagaimana cerita itu disusun. Jadi, di sana ada manusia (tokoh) yang sedang berhadapan dengan sesuatu (tema), pada saat dan di tempat tertentu (latar), dan bagaimana rangkaian peristiwa itu terjadi (alur). Itulah sebabnya, novel dianggap paling dekat mewakili kehidupan manusia. Dalam puisi atau drama, hal itu tidak terjadi. Puisi lantaran mengandalkan citraan dan metafora, maka ekonomisasi bahasa menjadi sangat penting. Pembaca digiring untuk membayangkan sesuatu di luar teks, dan tidak diajak melakukan indentifikasi dengan persoalan yang diangkat di sana. Drama juga berhadapan dengan hal yang sama, karena drama disusun dengan mengandalkan model dialog, sementara petunjuk pemanggungan berfungsi untuk melengkapi latar dan pergerakan tokoh-tokohnya.

11 Ketika berbagai saluran ekspresi tersumbat, karena norma masyarakat, aturan agama, atau hukum penguasa, sastra dapat digunakan sebagai alternatif. Di dalam sastra, teks tidak dimaknai secara denotatif, melainkan konotatif. Maka, simbolisasi, metafora, dan pesan tersirat (implisit) menjadi hal yang penting dalam sastra.

12 Karya-karya adiluhung Jayabaya atau Ronggowarsito dianggap sebagai ramalan, bahwa suatu hari kelak pada satu zaman, bakal terjadinya suatu peristiwa tertentu dalam masyarakat. Oleh karena itu, karyanya dianggap sebagai ramalan tentang peristiwa yang bakal terjadi. Novel George Orwell, 1984 yang diterbitkan tahun 1948, pada awalnya juga dianggap sebagai ‘ramalan’ tentang bahaya yang akan melanda Inggris atau salah satu negara di Eropa ketika komunisme berkuasa di sana. Ternyata, pada tahun 1984 itu, tidak ada satu negara di Eropa yang mengalami peristiwa sebagaimana yang digambarkan novel itu. Bahkan belakangan, komunisme bubar lewat perestroika Gorbachev, tembok Berlin ambruk yang kemudian menyatukan kembali Jerman Barat dan Jerman Timur.

13 Senja di Jakarta pertama kali terbit dalam bahasa Indonesia tahun 1970 oleh penerbit Badan Penerbit Indonesia Raya. Cetakan kedua diterbitkan Dunia Pustaka Jaya (1981). Penerbit Yayasan Obor Indonesia kemudian menerbitkan tahun 1992 (293 halaman). Tahun 2009 diterbitkan kembali sebagai cetakan kedua (405 halaman). Semula novel ini berjudul Yang Terinjak dan Melawan, yang penulisannya dilakukan Mochtar Lubis ketika ia masih berstatus tahanan rumah. Ketika pertama kali novel ini terbit di London tahun 1963, hasil terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh Claire Holt, judulnya diganti menjadi Twilight in Jakarta. Setelah itu terbit edisi bahasa Belanda, berjudul Schemer over Djakarta, hasil terjemahan P.H. Fruithof dari edisi bahasa Inggris. Dua tahun kemudian (1965), penerbit Pustaka Antara di Kuala Lumpur menerbitkannya pula dalam bahasa Melayu dengan judul Sendja di Djakarta. Barulah pada tahun 1970, Sendja di Djakarta, terbit dalam edisi asli bahasa Indonesianya. Sebelum itu, Senja di Jakarta sudah pula terbit dalam bahasa Italia, Spanyol, dan Korea. Setelah terbit dalam edisi bahasa Indonesia, novel ini diterbitkan pula dalam edisi bahasa Jepang.

14 Ali Audah, Djalan Terbuka, Djakarta: Litera, 1971.

15 Mei 1956 sampai Januari 1957. Meskipun tarikh tahun tidak disebutkan di sana, kecuali kolofon yang menyebutkan keterangan: Jakarta, 7 Maret 1957. Di halaman belakang novel itu tertulis: ?Dalam novel Senja di Jakarta, Mochtar Lubis menyayat kehidupan politik dan sosial di Jakarta selama kurun waktu 1960-an. Tentu saja pernyataan itu patut dipertanyakan, karena peristiwa-peristiwa yang terungkap dalam novel itu lebih dekat pada peristiwa tahun 1956-1957. Tambahan lagi ada kolofon yang menyatakan tarikh 7 Maret 1957. Periksa kembali catatan kaki 13.

16 Dalam edisi pertama (1992) terdapat pada halaman 250.

17 Dalam edisi pertama (1992) terdapat pada halaman 177.

18 Surat Kepercayaan Gelanggang. Dokumen ini bertarikh 18 Februari 1950, tetapi baru dipublikasikan di majalah Siasat dalam ruangan yang bertajuk ‘Gelanggang’, 22 Oktober 1950.

19 Cermati Yahaya Ismail, Pertumbuhan, Perkembangan, dan Kejatuhan Lekra di Indonesia, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1972. Periksa juga Maman S Mahayana, Akar Melayu, Magelang: Indonesia Tera, 2001.

20 Dalam edisi pertama (1992) terdapat pada halaman 181-182.

21 Darsjaf Rahman, Antara Imajinasi dan Hukum. Jakarta: Gunung Agung, 1983, hlm. 246-247.

22 Ibid.

23 Dalam edisi pertama (1992) terdapat pada halaman 245.

24 Sebuah buku yang memuat guntingan-guntingan pers yang terjadi awal sampai pertengahan tahun 1960-an berhasil disusun D.S. Moeljanto dan Taufiq Ismail berjudul Prahara Budaya (Mizan, 1995) yang memperlihatkan hiruk-pikuk, caci-maki, intimidasi dan teror yang banyak mewarnai berbagai media massa waktu itu.

25 Di bagian depan novel itu ada pernyataan: ‘semua pelaku dan tokoh serta kejadian dalam cerita ini tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi sebenarnya’? Tentu saja sebagai pembaca, kita tak serta-merta harus mempercayainya, meskipun juga kita tetap harus memperlakukan novel itu sebagai karya imajinatif-fiksional. Dalam novel-novel peranakan Tionghoa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pernyataan pengarang justru mengarahkan pembaca agar mempercayai, bahwa peristiwa dalam novel itu benar-benar pernah terjadi. Maka, di bagian awal novel, kerap tertulis pernyataan: Cerita yang betul sudah kejadian di pulo Jawa dari halnya satu tuan tana dan pachter opium di Res. Benawan, bernama Lo Fen Koei (Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000, hlm. 89; Jilid 1); Cerita Oey Se, yaitu satu cerita yang amat endah dan lucu yang betul sudah kejadian di Jawa Tengah (hlm. 175); Tambahsia Suwatu Cerita yang Betul Sudah Kejadian di Betawi antara Tahun 1851-1856.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*