Gawat!

Agustinus ?Onoy? Wahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Dadaku belum berhenti berdebar tak teratur. Aliran darahku pun masih bergerak cepat. Napasku agak terengah-engah. Pikiranku terus terpampang berita di televisi tadi bercampur berita-berita beberapa hari lalu, dan telingaku seakan terngiang-ngiang obrolan politikus di televisi, rekan-rekan di kantor, tetangga, saudara-saudaraku, orang-orang di POM bensin, di mal, berinti: orang itu akhirnya jadi ketua pemuka rakyat, menyusul seorang presiden terpilih yang didukungnya.

Gawat! Setahuku, sewaktu kampanye-kampanye dulu, mereka meneriakkan janji-janji perubahan ini-itu, dan tindak pendisiplinan akan dimulai dari tingkat pimpinan karena pimpinanlah yang paling berpengaruhi dalam kinerja instansi. Seperti juga kampanye calon-calon lainnya, mereka mau memberantas korupsi sampai tuntas. Bedanya, mantan lawan-lawannya adalah pemain lama yang sekadar mengobral gombal, sedangkan kedua orang ini pemain baru. Dan, menurut cerita anakku yng kini sudah kuliah dan pernah ikut acara dialog kampanye tim suksesnya di sebuah hotel, ?pemain baru? ini pernah sekali membuktikan keseriusannya melawan korupsi, yakni ketika masa kampanye mereka memecat anak buah mereka yang ketahuan (setelah melalui tahap cross check) tidak menyalurkan dana dari seorang donatur kaya. Apakah ?pemain baru? ini akan konsisten?

Kutatap samar-samar plafon kamarku sambil memikirkan masa depan karierku sebagai salah satu pimpinan di jajaran dinas pemerintah daerah, keluargaku, anak-anakku, kekayaanku, juga bagaimana nasib ?simpananku? yang cantik. Di samping rebahku, istriku sudah pulas sejak dua jam lalu. Mungkin malah sudah bermimpi tamasya ke Singapura.

Aku menoleh pada jam dinding di atas meja rias istriku. Pukul 01.27. Lalu kuhitung waktu-waktu, mulai dari masuk kantor sampai adanya pemeriksaan dari tim aparatur pusat sejak pukul 09.00 nanti, dan ternyata kiprahku ter? Gawat!

Mendadak kepalaku terasa seperti ditusuk puluhan ombak. Gawat! Bisa-bisa darah tinggiku kumat! Untung diabetesku tidak ikut-ikutan minta perhatian!

Kuputuskan untuk beranjak, lalu nanti minum obat penenang dan sari mengkudu di ruang makan. Yap! Aku berjalan perlahan keluar kamar. Aku tidak mau istriku terbangun. Sebab, kalau terbangun, dia pasti akan menemaniku begadang, meski kemudian tergolek nyenyak di sofa. Sayangnya, istriku tidak memiliki kecerdasan (apalagi kecerdikan!) berpikir taktis untuk membantu mencari solusi jitu atas masalah kualami. Kalau ditanya soal harga mobil baru, rumah baru, perhiasan, ongkos plesir ke luar negeri, dan lain-lain, ooo? itu hal-hal termudah bagi istriku menjawabnya. Dan selalu tepat-akurat!
Ketika kakiku sudah menginjak karpet made in Persia di ruang keluarga yang hanya diterangi lampu dinding yang remang, tiba-tiba telepon berdering. Kriiiing! Segera kuraih, agar tidak membuat seisi rumahku terjaga. Suaraku pun agak lirih.

?Halo, selamat malam?,? kataku sambil menyalakan lampu meja.

?Selamat malam juga, Pak Oji!? sahut suara di ujung kabel yang kukenal.

?Lhoooo, kok belum tidur juga, Pak Miun ini??

?Nggak bisa tidur nih gara-gara mikirin nasib kita-kita, kawan-kawan kita.?

?Iya, gawat banget!?

Memang gawat. Aku dan Miun sama-sama menduduki jabatan pimpinan alias kepala di instansi kami. Sebagian masyarakat tahu bahwa instansi kami merupakan lahan basah nan subur. Dengan sedikit mengubah kata, angka dan data, pemerintah pusat segera mengucur dananya. Tidak menunggu sampai dua bulan sejak proposal terkirim. Realisasi proyeknya? Itu gampang diatur. Laporan pertanggungjawaban soal keuangannya? Sepele! Namun, bagaimana kelak jika kereta pemerintahan presiden baru dan ketua pemuka rakyat yang membawa angin perubahan itu sudah menggelinding?

?Tapi aku berdoa, mudah-mudahan pemerintah sekarang itu seperti yang sudah-sudah, Pak.?

?Maksud Pak Miun??

?Yaaa? omongnya aja besoar saat kampanye. Begitu menduduki kursi empuk, setali tiga uang. Nggak ada buktinya! Dulu, sewaktu gegernya Reformasi 1998, orang-orang bermimpi tentang pemberantasan korupsi. Buktinya? Sama sekali nggak menyentuh jajaran penting semacam kita-kita ini! Hehehehe? Masih ingat, kan dulu??

?Iya. Sampai detik ini kita di daerah masih leluasa dan merdeka bikin perda, bisnis kebijakan, dan sejenisnya, ya, Pak.?

Hatiku agak lega sewaktu teringat, masa-masa kampanye itu mereka tidak meladeni tantangan sebagian mahasiswa yang kritis untuk melakukan ?kontrak politik?. Bahkan, sebagian dari mahasiswa, yang terkenal idealisnya, yang pernah berteriak ?antimiliterisme? dan sekitarnya, ternyata di antara mereka kemudian ada yang mendukung calon presiden dari militer dan akhirnya si calon menang pemilu presiden. Apalagi orang-orang semacam aku yang sudah memikirkan isi perut, isi otak, isi saku keluargaku, dan lain-lain. Sedikit menyelewengkan kepentingan daerah ke kepentingan keluargaku, kupikir, wajar-wajar saja dalam sistem dan pergaulan lingkup instansi daerah kami.

?Nah itu. Sampai punya? ehm ehm? yang amis-amis tapi manis.?

?Sssst? Hati-hati lho ngomongin si amis-amis manis gitu. Ntar istrimu nguping, berabe kan. Istriku sih sudah dari tadi mimpi shopping ke Paris. Tinggal amis manisnya sekretarisku yang sekarang tiba-tiba hinggap lagi di??

?Hihihihihiiii? staf-stafku juga ternyata sedap-sedap lho, Pak Oji!?

?Eh, Pak Miun,? selaku karena aku belum bisa bebas berpikir seperti Miun. ?Ini berarti kita ibarat sedang berjudi? Apa nanti nggak lebih gawat??

?Benar! Nasib siapa yang tahu, Pak Oji. Tapi, menurutku, yang terpenting adalah tabungan kita di luar negeri, ratusan ribu dolar Amerika, dan para amis-amis manis simpanan kita tidak tercium oleh publik. Nah, beres!?

Benar juga ya, pikirku. Untung beberapa laporan pertanggungjawaban tentang keuangan atas penggunaan ini-itu sudah beres. Dan seingatku, berkas-berkas yang rawan, sudah ditata ulang oleh sekretaris tersayangku. Ah, seperti biasa, sekretaris cantikku itu cepat mengantisipasinya dengan menyulap berita acara serta angka-angka secara meyakinkan, terlebih bila itu menyinggung kepentingan dia dan aku (kami berdua).

Perasaanku berangsur tenang. Pikiranku pun tidak lagi diintimidasi oleh dugaan-dugaan gawat yang belum tentu terjadi, walaupun masih tersisa denyutan tajam. Aku berterima kasih juga pada rekanku itu. Aku tidak perlu terlalu mengkhawatirkan janji-janji kampanye orang-orang itu.

?Pak Oji, hanya orang tolol dan kurang pengalaman yang mau percaya segala akrobatik politik para pemain lidah dan ludah. Percaya, nggak??

Aku mengangguk-angguk dan mulai bisa tersenyum lagi. Aku juga bisa menghirup aroma wangi ruang keluarga rumahku. Istriku memang pandai memilih parfum ruangan. Pembantu-pembantuku pun mengerti kebersihan penting. Terbayang pula wajah jelita sekretarisku sekaligus rencana pergumulan birahi kami selanjutnya di sela makan siang nanti. Selamat tinggal Bapak-bapak gawat, gumamku.

Sambil terus berteleponan dengan Miun, ekor mataku menangkap sinar lain di ruang keluarga yang remang ini. Lantas aku memutar badan, menghadap sumber sinar. Alangkah kagetnya aku ketika kulihat istriku sudah duduk di sana sambil membaca majalah hiburan kesukaannya.***

Babarsariyogya, Oktober 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *