Insan Berderajat Mulia (II)

Puji Santosa
http://www.facebook.com/pujies.9

Estetika Kasunyatan

Rama I. Kuntara Wiryamartna (1990) ketika menganalisis teks naskah kakawin Arjuna?wiwaha menemukan kaidah estetik rasa dan yoga. Estetika rasa dan yoga itulah yang menjadi dasar nilai-nilai keindahan, kebenaran, dan kebajikan teks naskah kakawin Arjunawiwaha dan seluruh teks turunannya. Sementara itu, Goenawan Mohamad (1993: 117?128; dan lihat Santosa, 2000) ketika berpidato dalam penerimaan Hadiah Sastra Prof. Dr. A. Teeuw, di Leiden, Negeri Belanda, 25 Mei 1992, mengangkat esetika pasemon. Dalam kebudayaan Jawa, khususnya sastra Jawa klasik, pasemon adalah suatu bentuk atau cara ekspresi yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai bentuk sindiran halus, pengibaratan, penginsanan, perlambangan, dan isyarat atau sugesti yang dapat menunjukkan suatu sikap pada suatu saat. Estetika pasemon itulah yang mejadi dasar kekuatan bahasa dan sastra Jawa. Demikian juga Sapardi Djoko Damono (1993:221?243), penyair dan guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, menemukan estetika bangesgresem (banyol, nges, greget, dan sem) dalam menelaah novel-novel Jawa tahun 1950-an. Sapardi Djoko Damono menggali dan menemukan estetika bangesgresem itu dari khazanah pedalangan gagrag Surakarta (lihat juga Santosa, 2000 dan 2003).

Segera timbul pertanyaan: Estetika macam apa yang termuat dan tersembunyi dalam teks Serat Warisan Langgeng? Setelah mengadakan pergulatan secara terus-menrus terhadap teks Serat Warisan Langgeng (dengan cara membaca berulang-ulang, mendengarkan kaset rekaman?nya, kadang ikut mendendangkan?nya, kemudian juga menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mengapresiasi, melaksanakan sedikit-demi sedikit, dan menelaahnya) saya menemukan kaidah estetika kasunyatan.

Kata kasunyatan itu sendiri berulang sebanyak empat kali dapat ditemukan dalam teks Serat Warisan Langgeng, yaitu dua kali dalam pupuh dhandhanggula (bait ke-7 ?lamun sira nggayuh Kasunyatan?, dan bait ke-9 ?dadalan Kasunyatan?) dan dua kali dalam pupuh mijil (bait 19 larik pertama ?Kasunyatan Papadhang Hyang Widhi?, dan larik 4 dalam bait yang sama ?kadi paran Kasunyatan Jati?). Selain itu, dalam ?Purwaka? (Kata Pengantar) teks Serat Warisan Langgeng itu dapat ditemukan kata kasunyatan sebanyak dua kali: ?Mugi-mugi pitedah ingkang kawrat ing serat punika nambahi dereng, sengsem, greget, tuwin kemajengan tumrap para warganing Pangestu sar?ta para marsudi ing Kasunyatan Jati anggenipun sami nggayuh ing kasunyatan.? (Semoga petun?juk yang termuat dalam serat ini dapat menambah dorongan, rasa senang, semangat, dan kema?juan bagi warga Pangestu serta para pencari Kasunyatan Jati dalam upayanya bersama-sama meraih kasunyatan). Atas dasar itulah perlu digali lebih lanjut tentang estetika kasunyatan sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang mengusung semangat Bhinneka Tunggal Ika yang disampai?kan melalui jalur pendidikan nonformal dan informal oleh Paguyuban Ngesti Tunggal.

Kata kasunyatan berasal dari kata nyata atau juga dapat dari kata sunya. Kata nyata ber?padanan dengan kata temen, sejati, temenan, pancen temenan ?sungguh?, ?sejati?, ?sesungguhnya?, ?memang sunguh-sungguh? (Sudaryanto, 2001:704). Sementara itu, kata sunya berpadanan dengan kata sonya (Sudaryanto, 2001:980) berarti ?suwung, sepi? (kosong, sunyi). Kemudian apa yang dimaksud dengan kasunyatan dalam Serat Warisan Langgeng? Tentu tidak sama artinya dengan ?kenyataan hidup sehari? atau ?realitas?. Pemahaman kata kasunyatan dalam Serat Warisan Lang?geng di sini adalah ?hakikat? (kenyataan yang sesungguhnya, kenyataan hakiki) atau ?hakiki? (benar, sebenar-benarnya). Adapun kata Kasunyatan-Jati dipahami sebagai ?kebenaran makrifat? atau ?kebenaran pengalaman spiritualnya menyaksikan mahligai Tuhan (di baitullah) di pusat sanubari hidup?. Pemahaman ini sesuai dengan sifat teks Serat Warisan Langgeng yang menyerupai atau sama dengan teks-teks naskah suluk, tasawuf, atau sufisme pada umumnya (lihat pula Suwarno Imam S., 2003).

Verdenius (dalam Teeuw, 1984:348) menyatakan bahwa dalam seni sejati berusaha meng?atasi dunia kenyataan, diusahakan menyaran pada sesuatu dunia yang lebih tinggi, tidak mengacu pada kenyataan hidup sehari-hari, melainkan pada Keindahan ideal. Konsep estetika ?Keindahan ideal? menurut Verdenius inilah yang sekiranya menjadi padanan kaidah estetika kasunyatan. Sebab, seni yang menyaran pada keindahan ideal ini menjadi dasar ajaran estetik bertahun-tahun lamanya. Keindahan itu dimiliki oleh manusia, diperuntukan dinikmati manusia, dan diciptakan (dirangkai, digubah) oleh manusia. Manusia diberi kemampuan Tuhan untuk mengetahui dan memahami norma-norma kebajikan, kebenaran, keluhuran, keutamaan, dan keindahan. Manusia menjadi pusat perhatian dan pusat keindahan, baik sebagai subjek maupun objek. Jadi, kaidah pertama estetika kasunyatan adalah antroposentris (berpusat pada diri manusia), bukan kosmoscentris (berpusat pada alam semesta).

Manusia adalah pelaku dalam nggayuh ?bercita-cita?, ?berkeinginan?, ?meraih? Kasunyatan untuk sampai pada Kasunyatan Jati. Manusia pulalah yang merasakan suka dukanya, bahkan hasil jerih payahnya dalam perjalanan mencapai Kasunyatan Jati. Manusia jualah yang dapat merasakan bahagia lahir batin memperoleh wahyu kemerdekaan jagad. Kutipan tembang berikut merupakan deskripsi keberhasilan manusia dalam mencapai Kasunyatan-Jati.

?Wruhanira janma kang wus manjing/ wiwaraning Pura Pamudharan/ rasa bagya ing batine/ ayem tentrem budyayu/ Ujwalane pasemon kengis/ sunaring tyas kawuryan/ ngumala ngunguwung/ pangucap weh sreping liyan/ mungkur marang krameyan mung mamalad sih/ sihing Suksma Kawekas.//

Dene kang wus malbeng jroning Puri/ Pamudharan ingkang sanyatanya/ sirna rasa-pangrasane/ mati kalawan hidup/ rasa bungah-susah sirnating/ ruwat sagung panandhang/ tatali wus putus/ kang nangsaya batinira/ tarlen saking megat katresnan-nireki/ marang kang para cidra.//

Pangrasane pan wus dadi siji/ lan sagung ingkang sipat gesang/ anglimputi sakabehe/ welas asih satuhu/ marang kabeh kang sipat urip/ adil apara marta/ ambeg budi luhur/ sasat sarira Suksmana/ wudhar saking ngger-angger tumimbal lahir/ winahyu mardhikeng rat.

(Mertowardojo, 1990: 6?7)

Lebih lanjut Pakde Narto dalam bukunya Bawa Raos Ing Salebeting Raos (1960) menje?las?kan keadaan perasaan batin seorang yang telah mencapai kasunyatan itu adalah sebagai berikut.

?Sesungguhnya, rasa-perasaan batin (hati) tidak dapat diterangkan dengan perkataan sebab luasnya tidak terbayangkan, bak samudera tak bertepi; samudera yang tidak berombak mengadakan alun, yaitu: cipta, nalar, dan angan-angannya tidak bekerja sehingga mengadakan rekaan, gambaran, dan bayang-bayangan yang menimbulkan rasa: senang, susah, waswas khawatir, ragu-ragu, murka, syak wasangka, iri hati, gentar ngeri, papa sengsara, hina luhur, masyhur, celaka un?tung, mudah sukar, dan sebagainya.

Indahnya rasa-perasaan melebihi keindahan alam yang tergelar ini. Andaikan bebauan, ia adalah rajanya harum yang merebak mewangi. Andaikan rasa manis, ia adalah rajanya manis yang legit wangi. Andaikan kejelitaan seorang putri, kejelitaannya adalah ratunya para bidadari. Andaikan intan permata, ia adalah mustika intan yang edipeni (indah permai). Andaikan cahaya, kemilaunya cahaya melebihi terangya sinar rembulan. Andaikan air, ia adalah mata air yang jernih suci murni.

Adapun rasa-perasaan yang dapat saya terangkan dengan kata-kata, yang senyata-nyatanya dirasakan adalah: tenang, tenteram, damai, puas, heneng-hening-eling, nikmat bermanfaat, bahagia, mulia, bijaksana, tetap berasa bertung?gal dengan Suksma, Sejatinya Hidup, yang menghidupi segenap sifat hidup. Oleh karena itu, ia berasa bertunggal dengan segenap yang bersifat hidup, meresap ke segenap wujud yang ada, yaitu meresap ke keadaan yang tergelar di dunia ini, tidak dibatasi oleh waktu dan ruang (tempat), jauh dan dekat, sempit dan sesak.

Demikian keadaan orang yang sudah sampai pada (mencapai) kesempur?naan bertunggal (kasunyatan jati) yang dapat saya terangkan sekadarnya. Adapun darmanya kepada dunia adalah: (1) memayu-hayuning bahawa kang sanyata (membuat sejahtera dunia dengan nyata) yang didasarkan pada kasih sayang, penuh cinta, dan keadilan yang disertai dengan pengorbanan; (2) memberi tuntutan dan suri teladan dengan tindakan yang nyata agar umat manusia hidup rukun, damai, saling pengertian, tertib, susila, berbakti kepada Tuhan sehingga dunia ini menjadi teratur, tenang, damai, tenteram, bahagia, dan sejahtera.?

(Mertowardojo, 1960:34?36)

Sebelum mencapai hasil yang demikian, dalam menempuh laku atau jalan itu manusia menghadapi berbagai kendala (gangguan, tantangan, hambatan), bahkan harus ada yang disingkiri, dijauhi, dihindari, dikendalikan, ditanggalkan, diserahkan, dan diikhlaskan miliknya kepada Tuhan. Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa manusia harus memutus atau membuat wudar tali-tali yang mengikat (membelenggu) batinnya. Caranya ialah dengan memisahkan (menanggalkan) kecintaannya terhadap barang-barang duniawi yang ingkar atau dusta. Jelas di sini manusia harus dapat melakukan distansi, pengambilan jarak, terhadap barang-barang duniawi yang rusak, ingkar, culas, pembohong (cidra). Jadi, kaidah kedua estetika kasunyatan adalah distansi.

Menurut de Jong (1976:17) distansi di sini bukan semata demi distansi itu sendiri, melainkan sebagai suatu tahapan jalan untuk sampai pada Kasunyatan Jati. Simuh (2002:28) pun menegaskan bahwa distansi itu merupakan pengambilan jarak antara dirinya dengan nafsu-nafsu yang berusaha menghamba dirinya, serta mengambil jarak dengan ikatan dunia?segala sesuatu selain Allah. Dalam Serat Warisan Langgeng ini yang perlu dilakukan distansi adalah: meraih kasunyatan dengan (1) membabi buta, (2) menebus dengan uang, (3) bertapa berata di pucuk gunung dengan meninggalkan tata aturan negara, (4) menjunjung kitab di sepanjang jalan sambil berkomat-kamit membaca mantra, (5) berpura-pura menjadi orang suci atau ulia (dhandhanggula bait 7), (6) memper?cayakan sesuatunya kepada orang yang buta pengetahuan (dhandhanggula bait 8), (7) memilih guru yang belum mencapai kasunyatan, tidak tahu hukum negara dan hukum Tuhan, masih memiliki pamrih terhadap barang-barang duniawi, badan tidak sehat, dan polah tingkah aneh-aneh (dhandhanggula bait 9), (8) mengumbar hawa nafsu yang menuju ke kejahatan (dhandhang?gula bait 11), (9) melanggar larangan Tuhan yang disebut Paliwara (kinanthi bait 4), (10) mem?biarkan godaan Iblis yang menuju ke jalan simpangan (dhandhanggula bait 14, kinanthi bait 6 dan 19), (11) kegemaran yang keliru, seperti angkara murka, jahat budinya, senang kerusakan, dengki, iri hati, tamak, loba, dan aniaya (kinanthi bait 20), (12) melekat kecintaanya terhadap barang-barang duniawi (mijil bait 2), (13) patah semangat dan sepi usaha (mijil bait 3), (14) mengharap-harap imbalan dan mencari kemasyhuran (mijil bait 8), (15) ragu-ragu dan tipis keimannya (mijil bait 10), dan (16) menggunakan kata-kata muluk, hapal mantra, sesaji, membakar kemenyan duduk samadi di atas kain kafan putih sambil berkomat-kamit membaca mantra (mijil bait 14). Itulah beberapa hal yang perlu dijauhi atau melakukan distansi.

Setelah melakukan distansi seperti itu, manusia berarti juga dapat melaksanakan, meng?amalkan, membabarkan, atau mewujudkan kesanggupan sucinya. Melaksanakan kesanggupan suci itu jelas merupakan kaidah estetika kasunyatan yang ketiga, yaitu representasi. Manusia harus dapat melaksanakan kesanggupan suci Ajaran Guru Sejati (dhandhanggula bait 10), yaitu Hastha Sila yang terdiri atas trisila (sadar, percaya, taat), dan disucikan oleh panca sila (rela, menerima, sabar, jujur, dan budi luhur). Selain itu, manusia harus melaksanakan budi darma untuk menyucikan hatinya, berupa kasih sayang terhadap sesama, dan mengorbankan rasa-perasaan (dhandhanggula bait 11). Untuk menyempurna?kan laku meraih jalan kasunyatan itu manusia harus melaksankan kesanggupan baktinya, yaitu Dasa Sila (25 bait tembang kinanthi). Dasa Sila yang terdiri atas sepuluh dasar aturan moral, yaitu:

(1) Berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa,

(2) Berbakti kepada Utusan Tuhan,

(3) Setia kepada Kalifatullah

(4) Berbakti kepada tanah air,

(5) Berbakti kepada orang tua,

(6) Berbakti kepada saudara tua,

(7) Berbakti kepada guru,

(8) Berbakti kepada pelajaran keutamaan,

(9) Kasih sayang kepada sesama hidup, dan

(10) menghormati semua agama.

Dasa Sila itu bila diringkas hanya berisi satu wejangan pokok, yaitu Sifat Cinta Kasih terhadap semua yang bersifat hidup. Oleh karena itu, Dasa Sila merupakan jalan keutamaan yang harus dilaksanakan hingga bertunggal dengan Hidup Sejati, yang sejati-jatinya kasunyatan (Mijil bait 1 dan 9).

Setelah melaksanakan kesanggupan atau kewajibannya itu, manusia yang ingin meraih Kasunyatan Jati harus melakukan konsentrasi diri. Konsentrasi diri ini merupakan kaidah estetika kasunyatan yang keempat. Cara konsentrasi yang terdapat dalam Serat Warisan Langgeng ini bukan ditujukan ke dunia luar, melainkan ditujukan untuk mengendapkan angan-angan, perasaan, dan nafsu-nafsu, bersama-sama dengan raga dan hatinya, memusatkan diri ke arah pusat sanubari menghadap Tuhan. Artinya, konsentrasi ini digunakan untuk bersembahyang dan zikir (eling) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Perhatikan petunjuk yang tertuang dalam kutipan berikut.

?Jroning meleng manembah mring Widhi/ dikarasa nembus ndoning rahsa/ telenging sanubarine/ ing kono unggyanipun/ kang manembah sinembah yekti/….

Lamun angger sira tekeng janji/ aywa pegat angger dhikirira/ ingkang sareh pranatane/ napas ngucap Allah Hu/ Hu binareng napas umanjing/ Allah napas umedal/ kang santosa tuhu/….

Rasanira kumpulna sawiji/ isi eling marang Allah-ira/ poma ywa mandheg tumoleh/ anyuwuna pitulung/ mring Panuntunira Sajati/ sinebut Nur Muhammad/ Utusan Hyang Agung/ muga karsa nuntun sira/ umareg ingayunan Hyang Maha Suci/ ywa wudhar elingira.//

Dhikin bekti mring Hyang Agung/ lire bekti iku kaki/ manembah ingkang sanyata/ pineleng jro sanubari/ kanthi sucining wardaya/ gumolong cipta kang wening.//

Nadyan sira perak lan Hyang Widhi/ nanging tan karaos/ datan weruh marang pasuryane/ marma yen sira arsa manunggil/ melenga sawiji/ rasa trenyuh gandrung.

Rasa bekti tumanem jro ati/ kang pracaya yektos/ pinesuwa lan tapa bratane/ amarsudi watak kang utami/ nalangsa prihatin/ kang sithik gunemmu.

Jroning meleng nenuwun ing Widhi/ mrih widada klakon/ Indonesia wlagang gelis gedhe/ ingayoman Pangeran Sajati/ mardika sayekti/ sirna kang reretu.

Berdasarkan kutipan tembang di atas, petunjuk melakukan konsentrasi di sini semata untuk dapat melakukan sembahyang, zikir, atau ketika menghadapi skaratul maut sebagai pelaksa?naan rasa berbakti, iman, dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Padanan kata konsentrasi dalam Serat Warisan Langgeng ini adalah meleng, kadang disebut pula melenga (konsentrasilah), atau pinelang (dikonsen?trasikan) yang diarahkan ke pusat hati sanubari (kholbu mukmin baitullah). Konsentrasi itu harus sampai kepada pusat rahsa, yaitu Rahsa Jati yang merupakan pintu Alam Sejati, singgasana Tuhan. Tujuan melakukan konsentrasi adalah mengumpulkan rasa-perasaan menjadi satu guna melindungi godaan iblis, dan memperoleh pepadang serta tuntunan Tuhan yang Maha Esa. Perhatikan kutipan berikut.

Wruhanira papadhanging Widhi/ sumorot jro batos/ kang sinuci jinem ngen-angene/ nalar cipta tan samya makarti/ rasa kang sajati/ woding Sabda Luhur.//

Tumetesing Sabdaning Hyang Widhi/ lir angin gumrojog/ nora milih papan lan wancine/ nadyan sira neng tengahing margi/ lagya nambut kardi/ lan pinuju sujud.//

Tumuruning hidayating Widhi/ lumantar kawios/ Nur Muhammad Sang Sabda asmane/ iya Sang Kristus, Suksma Sajati/ Panuntun Sajati/ nenggih jagad Guru.

Seseorang yang memperoleh pepadang dan tuntunan Tuhan seperti itu dalam bahasa tasawuf, kurang lebih disebut iluminasi (penerangan atau pencerahan jiwa). Iluminasi inilah yang menjadi dasar kaidah estetika kasunyatan yang kelima. Pepadang dan tuntunan Tuhan yang Maha Esa itu dapat berwujud sabda luhur dan abadi yang diwahyukan melalui utusan Tuhan yang abadi, disebut Nur Muhammad, Sang Kristus, Suksma Sejati, Sang Sabda, Penuntun Sejati, Guru Jagat, ataupun petunjuk melalui kalam ikhtibar atau kalam maujudiyah (tanda-tanda zaman). Manusia atau seseorang yang mendapat pencerahan seperti itu akan berwatak bijaksana, santun, penuh kasih sayang, adil, suci, dan berbudi luhur. Ia akan menjadi wakil Tuhan di dunia dengan membabarkan kasih sayangnya kepada semua umat.

Tujuan akhir dari upaya pencarian kasunyatan hidup ini adalah mencapai kesempurnaan total atau dalam bahasa tasawuf disebut insan kamil atau arifin. Kesempurnaan total ini menjadi kaidah estetika kasunyatan yang keenam atau terakhir. Dalam Serat Warisan Langgeng kesem?purnaan total ini disebut dengan istilah pamudharan (dhandhanggula bait 3, 4, dan 5) atau memper?oleh wahyu mardikeng rat, wudhar saking ngger-angger tumimbal lahir ?wahyu kemerdekaan dunia, lepas-bebas dari hukum kembali lahir?. Manusia yang telah mencapai tataran seperti itulah yang benar-benar dapat meraih Kasunyatan-Jati hidup bahagia di Taman Kemuliaan Abadi.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=451554269343

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *