JIKA TERLALU MEMUJA DIRI

Judul: THE NARCISSISM EPIDEMIC: LIVING IN THE AGE OF ENTITLEMENT
Penulis: Jean M. Twenge & W. Keith Campbell
Penerbit: Free Press Tahun: 2009
Peresensi: Ignatius Haryanto
http://www.ruangbaca.com/

Minggu-minggu lalu banyak orang di Amerika dan dunia dihebohkan dengan kabar soal sebuah balon gas yang mengudara di kawasan Denver, dengan dugaan ada seorang anak berumur 4 tahun di dalamnya. Segera media menjadikannya liputan dengan nuansa human interest. Berjamjam liputan ditujukan pada nasib balon gas serta nasib si anak balita tadi. Ketika balon gas akhirnya mendarat, ternyata si anak tak ada di situ.

Muncul kepanikan baru, jangan- jangan si anak terjatuh dari angkasa. Kepanikan terjadi, spekulasi macam-macam muncul. Belakangan diketahui si anak bersembunyi di rumah temannya karena habis dimarahi ayahnya. Lebih mengagetkan lagi, rencana ini semua adalah sandiwara yang dilakukan ayahnya guna kontrak dalam sebuah program televisi reality show untuk drama tadi. Banyak orang kemudian marah-marah mengetahui akhir cerita ini.

Reality show adalah salah satu bagian dari proses bagaimana banyak orang di belahan dunia ikut terkena epidemi: epidemi narsisisme. Jean M. Twenge dan W. Keith Campbell, penulis buku ini yang juga adalah para psikolog, melihat bahwa di Amerika masalahnya makin terlihat bagaimana narsisisme makin menjadi- jadi. ?Bukan karena narsisisme adalah bagian dari budaya orang Amerika, tetapi orang biasa- biasa pun jadi tergoda untuk menonjolkan kekayaan mereka, penampilan fisik mereka, pengidolaan atas para selebriti, dan aneka kegiatan mencari perhatian.?

Twenge dan Campbell (keduanya associate professor psikologi dari dua universitas yang berbeda: San Diego State University, dan University of Georgia), menyebut narsisisme sebagai epidemi karena: ??penyakit ini menjangkiti sejumlah besar individu dalam masyarakat?. Untuk konteks Amerika, narsisisme ini adalah penyakit yang sama seriusnya dengan penyakit obesitas (kegemukan). Bahkan untuk narsisisme pun ada pengukuran saintifik yang disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD), di mana 1 dari 4 mahasiswa memenuhi symptom NPD itu. Atau jika penelitian diperluas: 1 dari 10 orang Amerika yang berusia 20-an tahun mengalami gejala itu, atau 1 dari 16 orang Amerika dari segala usia juga mengalami gejala yang sama.

Narsisisme sendiri adalah perilaku yang memuji diri sendiri, atau menjadikan diri sendiri sebagai pusat kegiatan. Menurut Twenge dan Campbell, narsisisme bukanlah soal self-esteem (kepercayaan diri) yang umumnya ditanamkan dan diacu untuk meningkatkan rasa nyaman diri seseorang. ?Narsisisme adalah sebentuk kepercayaan diri yang berlebihan? katanya. Narsisisme menjadi terutama dalam hal berhubungan dengan orang lain, di mana orang yang narsis akan kehilangan empati ataupun kepekaan saat berhadapan dengan orang lain. Yang lebih penting adalah dirinya terusmenerus dipuja.

Jika merujuk pada asal kata narsis, kita akan bertemu dengan sosok Narsisius, seorang pemuda tampan dari khasanah legenda Yunani, yang selalu menolak wanita-wanita cantik yang berupaya mendekatinya. Sampailah ketika ia duduk di pinggir danau dan menengok atas air yang tenang, ia menemukan wajah pemuda tampan yang sempurna. Narsisius tak sadar bahwa bayangan itu dirinya sendiri, dan ia hidup terus dengan kecintaan atas bayangan pada air danau itu.

Twenger dan Campbell sepakat untuk menyebut empat fenomena sebagai akar yang menghasilkan epidemi narsisisme: perlakuan orang tua yang berlebihan pada anak, fenomena para selebritas, serta media-media yang mentransmisikan narsisismenya, merebaknya dunia cyber dan kompetisi untuk mendapatkan perhatian, serta kemudahan fasilitas kartu kredit yang membuat orang tergiur untuk terus berbelanja dengan kartunya tanpa berpikir soal pembayarannya kelak.

Alarm yang dinyalakan oleh dua penulis ini sangat tepat, justru di saat ketika fenomena narsisisme menjadi makin menggila. Kita pasang Youtube (ingat semboyannya: ?broadcast yourself??), juga kita bisa memasang My Space (?My Space is your space ? express who you are?), atau juga Facebook, jejaring sosial yang makin populer di berbagai kalangan usia. Alarm ini penting untuk dinyalakan karena melihat betapa gejala narsisisme, sebagaimana dikatakan dua penulis ini, menekankan sifat manusia terutama dalam soal materialistis, keunikan diri, perilaku antisosial, masalah hubungan dengan orang lain, dan lain-lain.

Singkat kata, narsisisme bukanlah keutamaan (virtue), tapi malah ia menjadi gangguan. Percaya diri secukupnya penting, tapi jika ia berlebih, ia jadi suatu problem baru.

Buku ini penting untuk dibaca banyak pihak, dan mungkin baik juga untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, agar semakin banyak orang bisa memahami fenomena memuji diri sendiri yang terlalu berlebih itu. Narsisisme memang dekat dengan fenomena memoles citra terus-menerus dan menjadikannya makin lama makin jauh dari kenyataan sesungguhnya.

Para artis, orang biasa-biasa, politisi, para pejabat, tampil secara narsis. Paling utama terlihat pada masa-masa kampanye beberapa bulan silam semasa pemilihan umum. Kini kita pun masih sering menemukan tampilan narsis dari berbagai pejabat yang memasang billboard besar-besar di pinggir jalan dengan wajahnya serta aneka pesan ?pembangunan?-nya. Para motivator ataupun para ?marketer? yang laku di kalangan pebisnis harus menampilkan foto ketika mengiklankan suatu event.

Memang ini fenomena hyperrealitas sebagaimana sering disebut oleh Baudrillard. Orang senang dengan ?yang semu?, dan tak jemu untuk terus dibohongi. Citra mendahului kenyataan, dan yang penting adalah apa yang jadi kulit luar ketimbang apa yang jadi intisari masalah. Jadi, Anda masih mau narsis?

Ignatius Haryanto, peneliti di LSPP, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *