Kotak Manuskrip Kafka di Bank Swiss Dibuka

Iwank, Guardian
http://www.tempointeraktif.com/

Franz Kafka, pengarang novel Metamorfosis, ingin semua manuskripnya dibakar setelah dia wafat, tapi sahabatnya, Max Brod, menolak memenuhi wasiat itu. Hal ini memicu pertarungan hukum yang rumit mengenai nasib ratusan manuskrip yang memancing antusiasme peminat sasta dunia. Pertarungan hukum itu memasuki babak baru pada Senin lalu setelah empat kotak penyimpanan di bank Zurich, Swiss, yang memuat manuskrip itu dibuka.

Kotak-kotak itu diyakini memuat ratusan manuskrip karya Kafka dan Brod, termasuk surat-surat, catatan harian, sketsa, dan lukisan, yang sebagian di antaranya belum pernah dipublikasikan dan memberi pandangan kepada peneliti sastra mengenai salah satu dari pengarang besar di abad ke-20 itu.

Kejadian di Zurich itu diikuti langkah serupa di dua bank di Tel Aviv, Israel, yang diperintahkan oleh pengadilan Israel untuk mengeluarkan karya-karya Kafka dari gudangnya.

Dokumen-dokumen itu menjadi inti pertengkaran mengenai kepemilikannya antara negara Israel dan Hoffe bersaudari, yang mengaku mewarisi harta Kafka dari ibu mereka, Esther Hoffe, sekretaris Brod. Brod tak hanya mengabaikan wasiat Kafka tapi malah menerbitkan karyanya dan mewariskan yang asli kepada Esther Hoffe.

Namun, Israel mengklaim dokumen Kafka itu sebagai milik negara karena Brod bermigrasi ke Israel pada 1939.

Putri Esther, Eve Hoffe di Tel Aviv, akan hadir dalam pembukaan kotak penyimpanan itu, bersama wakil dari para pengacara yang ditunjuk oleh pengadilan. Dibantu oleh para ahli sastra Jerman dan seorang ahli manuskrip, mereka akan berkumpul di pengadilan untuk membahas isi kotak.

Hakim akan memutuskan apakah akan mengembalikan dokumen itu ke kotak atau mengirimnya ke arsip umum, untuk diterbitkan demi keuntungan bagi generasi mendatang.

Namun, pengadilan Israel juga akan memutuskan petisi Hoffe, yang meminta pembungkaman mengenai isi kotak itu. Surat kabar berpengaruh Israel, Haaretz, telah meminta pengadilan untuk mengizinkan dokumen itu dipublikasikan dengan alasan nilai sastra dan kepentingan umum.

Kafka meninggal karena tuberkulosis pada 1924 dan meninggalkan perintah untuk Brod: “Max tersayang, permintaan terakhirku: Segala yang aku tinggalkan harus dibakar tanpa dibaca.” Tapi, Brod malah mempublikasikan untuk pertama kalinya novel-novel Kafa, Pengadilan, Kastil dan Amerika.

Pada 1939 Brod kabur dari rumahnya di Praha ketika Nazi mendekat dan membawa satu kopor naskah-naskah Kafka ke Tel Aviv, tempat dia memulai hidup barunya. Dia kemudian menyumbangkan manuskrip Kastil dan Amerika ke Oxford University, tapi tetap menyimpan naskah asli Pengadilan.

Setelah istrinya wafat, Brod mulai menjalin hubungan dengan asistennya, Esther Hoffe. Kala meninggal pada 1968, Brod meninggalkan wasiat yang kini jadi keributan itu. Esther menjual dokumen-dokumen itu beberapa tahun kemudian dan ketika dia meninggal pada 2007 lalu, dia mewariuskan naskah-naskah yang tersisa kepada dua putrinya, Eva dan Ruti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *