Lelaki yang Terperangkap dalam Prangko

Bamby Cahyadi
http://www.suarakarya-online.com/

Dengan perasaan yang tidak karu-karuan dan sangat hati-hati sambil duduk bersila di lantai, Balwadi menjepit sebuah prangko yang ditemukannya dalam kotak surat milik almarhum kakeknya. Menggunakan pincet yang terbuat dari logam tahan karat, ia menilik-nilik prangko dalam jepitan itu. Sungguh menyesal, karena ia tidak membekali dirinya dengan sebuah kaca pembesar.

Matanya menyipit menatap lekat prangko itu. Tentu matanya masihlah sangat awas, ia masih muda. Tapi ia terus menatap prangko dalam jepitan pincet itu dari jarak dekat. Bola matanya bergerak-gerak menelusuri lekuk-lekuk benda kecil itu dengan napas tertahan.

“Seharusnya aku menggunakan kaca pembesar. Agar mataku tak bekerja sekeras ini,” batinnya. Ia mulai menghitung jumlah lubang-lubang kecil yang terdapat di pinggiran prangko itu. “Satu, dua, tiga, empat”
“Perforasi yang sempurna!” gumamnya lega.

Ia menarik napas panjang dan membuangnya sangat lepas. Ia kembali mengingat-ingat informasi tentang perforasi yang terdapat di sebuah benda kecil bernama prangko.
***

“Perlu kau ketahui, Balwadi! Perforasi adalah lubang-lubang kecil, sebesar lubang jarum atau lebih kecil sedikit dari lubang kain nenekmu menyulam. Lubang kecil itu terdapat di antara prangko-prangko. Lubang-lubang kecil itu untuk memudahkan pengguna prangko atau petugas kantor pos menyobek atau memisahkan prangko satu dengan lainnya.” Begitulah sebuah pengetahuan lucu ia dapati dari seorang teman, penggila prangko di Jakarta.

Semula dengan remeh Balwadi menertawakan penjelasan tentang lubang-lubang kecil di pinggiran prangko. Semua orang pasti tahu, lubang-lubang itu dibuat agar memudahkan menyobeknya.
“Konyol sekali ya?” Balwadi tergelak.
“Tidak begitu kawan!” hardik si penggila prangko.
“Lalu apa?” tanya Balwadi masih mengulum tawa menahan kekeh.

“Dalam dunia filateli, perforasi itu diukur dengan menghitung jumlah lubang sepanjang 2 cm. Perforasi 12 x 11 B= mengandung arti, bagian atas dan bawah, tiap 2 cm mempunyai 12 lubang, sedangkan kiri dan kanan tiap 2 cm mempunyai 11 B= lubang, semua memiliki keunikan. Tidak seperti lubang-lubang kecil pada sobekan tiket!OOO lanjut si penggila prangko itu.
“Terus apa pentingnya?” Oloknya menanggapi penjelasan itu.

Maka, dengan sedikit penjelasan ilmiah si penggila prangko itu, menerangkan tentang seluk beluk dan tetek-bengek dunia prangko yang menjanjikan nilai materi yang berlimpah. Balwadi jadi antusias.

“Masalah perforasi ini penting bagi para filatelis, karena perbedaan perforasi menimbulkan harga yang sangat besar!” tandas si penggila prangko.
“Oh, begitu ya?” Balwadi terpukau.
“Ingat, prangko-prangko bekas yang tidak memenuhi syarat, misalnya sobek atau gigi-giginya tidak lengkap, sebaiknya tak perlu kau kumpulkan!” Kata-kata si penggila prangko terngiang-ngiang di kupingnya.
***

Balwadi menyisip selembar prangko dalam jepitan pincet ke sebuah album prangko. Album sisipan, namanya. Sebuah album dengan model agak unik, tidak seperti album foto kebanyakan. Album ini dilengkapi dengan lembaran-lembaran plastik yang tembus pandang dan tersusun sejajar. Maka dengan ketelitian penuh, Balwadi mengaduk-ngaduk isi kotak surat milik kakeknya. Ia mencari prangko-prangko yang mungkin masih menempel di amplop surat atau pun prangko yang belum terpakai.

Bau kertas yang apek menguar dari dalam kotak surat, ia bangkis akibat debu-debu tipis beterbangan mengenai bulu hidungnya. Kotak surat yang teronggok di atas lemari kayu neneknya ditimbuni debu dan sarang laba-laba.

Informasi tentang kotak surat kakeknya, ia ketahui dari ibunya. Menurut ibunya, sejak dulu, sebelum kemerdekaan kakeknya sudah terbiasa melakukan kegiatan surat menyurat. Bahkan, kakeknya memiliki prangko-prangko jaman Hindia Belanda. Sungguh beruntung apabila ia menemukan prangko peninggalan Hindia Belanda itu. Atas ijin neneknya yang masih hidup, Balwadi membuka kotak surat milik kakeknya itu.

“Hahaha, bisa kaya-raya aku!” Ia tergelak. Lantas ia memilih dan memilah surat-surat kakeknya yang bertumpuk dalam kotak surat kayu jati di dalam kamar neneknya.

Entah mengapa, saat Balwadi memilah-milah surat-surat kakeknya untuk mengambil prangko yang masih menempel di amplop yang rata-rata berwarna coklat atau yang tadinya putih kini sudah kecoklatan. Tiba-tiba perasaan Balwadi seperti hanyut, terseret ke terowongan waktu yang ia sendiri tak mengerti. Namun ia tahu dari sejarah.

Bulu-bulu di tenguknya pun meremang, setiap ia dengan lekat menatap prangko yang menempel di amplop surat. Setiap itu pula ia terkesiap. Sebuah surat yang di tujukan untuk kakeknya dari sahabat pena kakeknya di Yogya. Berprangko tahun 1945 berisikan gambar perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Kertas prangkonya sangat sederhana, terbuat dari kertas merang dengan lukisan sekadarnya. Sebuah gambar tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Seketika membuatnya terpental ke masa lalu.

Balwadi panik. Ia mencari tempat berlindung. Desing peluru sahut-menyahut menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Beberapa tentara pejuang Indonesia terus merangsek menembus barikade pertahanan tentara Belanda. Sesekali suara gempuran granat meledak di kanan-kiri. Ia menutup mata dan juga telinganya. Ia baru membuka mata dan telinganya ketika suasana peperangan mereda dan terdengar pekik: “Merdeka, merdeka, merdeka!” Indonesia menang perang.

Selaksa energi gaib menyedotnya kembali. Balwadi sedang terlongo-longo di depan surat berprangko seri perjuangan terbitan tahun 1945. Dan, ia masih di kamar neneknya. Bukan di arena peperangan.

“Menakjubkan! Apakah tadi aku bermimpi?” tanyanya terheran-heran sendiri.

Lalu dengan bergegas ia mengambil sebuah amplop surat lagi. Kini ia melihat surat berprangko dengan gambar Jenderal Ahmad Yani, prangko bertahun terbit 10 November 1966. Surat bersampul putih yang kini kecoklatan adalah surat dari kerabat kakeknya di Medan. Prangko seri pahlawan revolusi.

Seperti terhanyut dalam sebuah ruang maya tak bertepi. Balwadi menemukan dirinya berada di sebuah lapangan yang luas. Ia melihat beberapa laki-laki dan perempuan ditutup matanya dengan kain berwarna hitam dan merah. Di sisi lapangan yang lain, berdiri tegak beberapa tentara berwajah tegang dengan aroma kemarahan yang meruap siap mengokang senapan. Seorang dari mereka, komandan kesatuan tentara itu kemudian memberi aba-aba. Komando itu seperti fatwa yang tak terbantahkan. Takdir yang tak terelakkan. “Siaaap! Tembak!”

Dan, menyalaklah moncong senjata tentara yang marah itu. Dor-dor-dor! Laki-laki dan perempuan dengan mata tertutup kain berteriak meregang nyawa, ambruk dengan kepala atau dada berlubang. Darah terpercik di tanah. Lalu mereka dicampakan begitu saja dalam sebuah lubang yang menganga. Balwadi bergidik ngeri, ia cepat-cepat pergi sebelum komandan gerombolan tentara melihatnya dan berteriak. “Bunuh PKI yang lari itu!”

Balwadi terus berlari tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Kakinya mendadak lemas, ia berteriak-teriak histeris. Keringatnya mengucur deras. Seketika ia tersadar, ia tengah berada di dalam kamar neneknya yang kini meremang karena malam telah mendekat. Amplop dengan prangko seri pahlawan revolusi terjatuh dari tangannya.

“Mengerikan sekali,” gumamnya lirih, tangannya gemetaran. Ia masih berpeluh.

Ia semakin penasaran. Ia lantas seperti keranjingan menjelajahi dimensi ruang gambar dalam prangko.

Balwadi mengambil kesimpulan, bahwa prangko-prangko kakeknya adalah prangko ajaib. Atau semacam alat untuk menuju lorong waktu masa silam.

“Tidak salah! Kenapa si gila prangko itu mengatakan prangko mempunyai nilai jual dan materi yang sangat tinggi!” desisnya mangut-mangut mengerti.

Balwadi yang tengil, lalu tampak sumringah saat melihat sebuah prangko bertahun 1974. “Ah, itu tahun kelahiranku!” seru Balwadi. “Hai, prangko kakek yang ajaib, bawalah aku ke tahun 1974!” Teriak Balwadi lantang. Prangko bergambar mantan Presiden Soeharto tampak masih muda dengan senyum yang khas. Prangko Pak Harto ditatap lekat-lekat. Sesaat kemudian, tubuhnya hanyut dalam energi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, bagai di alam mimpi, tubuhnya serasa terbang, sangat ringan. Seketika melesat cepat. Wuuuusss!

Balwadi menyaksikan Presiden Soeharto tengah berpidato di hadapan anggota DPR/MPR. Pak Harto menyampaikan konsep pembangunan NKRI yang disebutnya sebagai Repelita sambil terus membaca teks pidato. Sesekali Pak Harto menyungging senyum ketika peserta sidang bertepuk tangan teratur dan sangat tertib. Tidak ada teriakan interupsi. Apalagi teriakan “huuuh” yang panjang. Repelita, Rencana Pembangunan Lima Tahun, sebuah konsep pembangunan yang spektakuler, sehingga Pak Harto beroleh gelar dari rakyatnya sebagai Bapak Pembangunan Nasional.

Pidato Pak Harto disertai dengan data-data dan fakta-fakta pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak ia menjabat presiden setelah lengsernya Soekarno. Repelita membawa Pak Harto memimpin Indonesia dan berkuasa selama 32 tahun lamanya. Balwadi menggerutu. “Huh, sayang Repelita-mu itu menjadi hal yang sia-sia!”

Balwadi kemudian berniat untuk ke luar dari ruang sidang MPR. Ia bermaksud pergi berkunjung ke rumah orangtuanya untuk melihat proses kelahirannya. Tetapi hal itu sangat mustahil terjadi, karena walaupun prangko bertahun terbit 1974, ia tidaklah bisa seenaknya melanglang di tahun itu sesukanya. Ia terkungkung dalam gambar yang tertera di atas prangko. Jadi hanya bagian itu saja yang bisa ia saksikan dan alami saat berada di dunia gambar prangko.

Balwadi lalu mencelat, terhenyak di ruang kamar neneknya yang sudah gelap. Ia tercenung, kembali ke alam nyata. Ia tampak sumringah.

Karena gelap, ia menyalakan tombol lampu. Cahaya lampu berpendar menerangi kamar neneknya. Cahaya lampu seterang rasa di hatinya yang bergelimun suka cita yang luar biasa. Pengalaman dengan prangko yang menakjubkan, membuka mata-hatinya pada suatu kesadaran tentang benda dan sejarah. Bukan hanya keuntungan uang dan materi semata.

Prangko-prangko peninggalan almarhum kakeknya kini tertata rapi di album prangko sisipan miliknya. Sebagian besar prangko adalah prangko bekas. Dan prangko-prangko itulah yang membawa Balwadi ke alam sejarah yang dipenuhi percikan darah, linangan air mata dan gemuruh tawa bahagia. Juga kesuksesan dan kegagalan.

Ia menutup album prangko dengan perasaan puas. Kini tak terlintas di benaknya untuk menjual koleksi prangko peninggalan kakeknya. Bukan karena prangko-prangko kakek, prangko ajaib. Bukan juga karena prangko-prangko itu bisa membawa dirinya melanglang buana di dalam gambar prangko tersebut. Bukan sama sekali.

Tapi Balwadi telah menyadari dengan kesadaran yang sepenuh-penuhnya, bahwa prangko adalah sejarah. Dan sejarah bukan untuk dijual. Apalagi direkayasa. Sejarah tetaplah sejarah, yang tak bisa dipelintir untuk dibelokkan ke kanan, ke kiri, ke atas ke bawah sesuai kehendak penguasa. Prangko tetap mencatat sejarah sebagaimana gambar yang terlukis di atas kertasnya.

Maka dengan kebulatan tekad yang sebundar-bundarnya, ia akan mempetahankan prangko-prangkonya itu, seharga-dirinya.

Entah kenapa, wajahnya jadi murung. Balwadi meraih sebuah prangko bergambar wajah presiden yang sedang berkuasa saat ini. Entah dari mana datangnya prangko itu. Ditatapnya lekat-lekat prangko yang masih baru itu.

Tubuhnya melesat, terseret ke lorong waktu. Lantas, tubuhnya menghujam padang lumpur yang terbentang luas. Di pinggiran padang lumpur, ia sempat melihat sekawanan cicak sedang bertarung melawan segerombolan buaya.

Namun tak ada yang peduli akan nasibnya. Ia megap-megap. ia tak berkutik, ketika lumpur itu menenggelamkan dirinya. Ia tak menyangka, dirinya tetap terkubur dalam kubangan lumpur hitam pekat. Kubangan lumpur itu, bernama Lapindo, di Sidoarjo.

Hingga kini, ia masih terperangkap dalam prangko.
***

* Jakarta, 24 Oktober 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *