Atas Nama Tugas

Intan Hs
http://www.hariansumutpos.com/

Hartono melihat ke lubang angin yang sedikit terbuka, tetapi tak ada siapa-siapa di sana yang dapat menolongnya. Mulut disekap, tangan dan kaki terikat. Dan belum lagi rindunya yang seperti meluap-luap di dadanya, istrinya Juli tengah hamil tua, tinggal menunggu hari saja untuk segera melahirkan anak pertama mereka dari perkawinannya.

Siang dua kali malam juga dua kali, berarti sudah sangat lama ia terkurung.
Kerap kali ia teringat dengan ucapan redakturnya, tiga hari yang lalu sebelum ia tertangkap, terkurung di sini.

?Hartono, ada tugas untukmu, mengungkap kasus penyelewengan dana pendidikan di Dinas Pendidikan. Abang harap kau berhasil membuat beritanya!?
?Ya?Bang, baiklah.?
?Tetapi, hati-hatilah dan tetap waspada, mereka itu pandai berkelit dalam suasana sempit, seperti tupai bermulut kancil.?

?Ya?saya akan hati-hati, Bang.?
?Selamat bertugas Ton! Sesuai moto koran kita, terdepan menegakkan kebenaran.?
?Pasti Bang, kebenaran harus tegak, kecurangan harus rebah.?

Saat itu mata redaktur dan mata Hartono-si wartawan itu saling menatap tajam, kukuh dalam pendirian. Negara ini sudah terlalu lama berkubang dalam kemiskinan, karena ulah sebagian oknum yang tidak bertanggung jawab. Inilah cara bergerilya menuju negara yang makmur, dengan menumpas habis oknum yang telah merugikan negara memperkaya diri sendiri, melahap separuh lebih dana APBN kekantongnya. Tetapi inikah buah kejujuran, terjebak demi sebuah kebenaran, adakah yang dapat menolong dirinya dari jerat perangkap di ruang ini?

Hartono berpikir sejenak, mengingat kembali akan cita-citanya yang dulu terbersit sejak menyelesaikan SMA, ingin menjadi seorang wartawan, seperti yang dibacanya tiap hari di koran, mereka itu sangat hebat. Sejak itulah, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi dengan mengambil jurusan ilmu Jurnalistik, dan pada akhirnya ia lulus dengan predikat memuaskan. Saat ini, ia telah diterima bekerja pada koran harian lokal setempat, bukan main girang dan senangnya ia kala itu, saat menerima gaji pertama setelah sebulan bekerja. Sungguh kehidupan menjadi indah, tetapi bulan-bulan berikutnya, semua agak pahit.

Dalam kehidupan yang bergelut dengan pemburuan berita, untuk penumpahan tinta bagi koran itulah, ia baru tersadar akan kebenaran dalam hidup ini, bahwa tak semua orang baik, hanya ada sedikit kejujuran dan lebih banyak kemunafikan, kekuasaan dan pangkat-jabatan bertahta diatas segalanya untuk berkorupsi berjamaah, pencurian kas negara. Ah?semua benar-benar busuk.

Ingin Hartono berteriak, memanggil semua yang bisa mendengar, agar ia bebas dari ruangan yang sepi ini. Tetapi, mulutnya nyata telah tersekap, dan dirinya tengah berada dalam tempat yang sangat asing. Sampai kapan ia di sini, dalam haus-dalam lapar. Apakah salahnya pada orang-orang yang telah menangkapnya?

Semua peristiwa yang dialaminya ini adalah atas nama berita, atas nama kebenaran yang terabaikan mata orang banyak. Hanya segelintir orang saja yang tahu akan hal ini, dan segelintir orang itu pula yang merasakan penderitaan yang mungkin tak akan pernah dialami orang lain.

Sebelum terkurung disini, ia telah membuat janji dengan Pak Yusi, Kepala Dinas Pendidikan di kotanya ini. Tetapi disini, ia sekarang terkurung, jauh dari keluarga, jauh dari kebisingan kota. Terasing sendiri.

Pak Yusi, seorang kepala dinas pendidikan yang telah terendus oleh media, telah menyelewengkan dana pendidikan untuk dirinya sendiri. Sudah dua kali periode ia terangkat menjadi kepala dinas, namun sejak tiga tahun yang lalu, ia telah memiliki sebuah rumah mewah seharga lima miliar, mobil mewah, sebuah villa termegah yang ada di kawasan puncak. Semua bisa diraihnya dengan begitu cepat, saat harga tanah yang tinggi, harga bahan-bahan bangunan naik, semua tak menjadi kendala baginya. Kekuasaan dan kedudukannya saat ini, tak sebanding dengan kemewahannya yang dimiliki. Pak Yusi hanyalah pegawai negeri biasa dengan golongan IV-B, dengan rincian gaji tiga juta per bulan. Harta kekayaannya begitu mencolok bagi mata orang awam, apalagi orang yang terpelajar di lingkungan masyarakat yang tak buta.

Memang, pernah juga ia berurusan di pengadilan dengan tuduhan melakukan tindakan korupsi, tetapi ia berhasil lolos. Dan untuk kali kedua ia pun tetap terjerat dengan kasus yang sama, namun hasilnya tetap sama, lolos dengan alasan tak cukup bukti. Dan kini pun, ia tetap bisa menghirup udara bebas.

Telah banyak kisah yang didengar maupun yang dibaca Hartono, tentang lenyapnya beberapa wartawan dari media, yang selalu bersinggung dengan kasus yang sama. Bahkan ada juga seorang wartawan yang mati tertembak karenanya, dan sampai sekarang belum ditemukan siapa pembunuhnya. Semua kisah itu karena bersinggung dengan kasus yang sama, yaitu kasus Pak Yusi. Dan sekarang ia telah bernasib sama, lenyap dari peredaran demi mengungkap sebuah kebenaran, membuka mata yang terbutakan, demi berita yaang menegakkan kebenaran, merebahkan ketidakberesan. Namun ia telah lenyap untuk sepotong kebenaran yang telah henyap di timbangan.

Juli-istrinya terkasih. Sudah dua hari tak dilihatnya, tak dipeluknya. Dan calon bayi, yang terus bergerak itu, tak lagi dirasakannya. Terasa pahit. Tak ada siksaan fisik di ruangan ini yang berat, selain tak makan-tak minum, namun siksaan batin yang tak terperih ini yang tak sanggup ditahankannya. Tubuhnya telah begitu lemas karena haus. Tak ada kekuatan karena tak ada makanan yang lalu dikerongkongannya, tercerna lambungnya. Air seni, ampas makanan, telah ditahannya dua hari ini. Sakit. Apa sebenarnya mau mereka? Setelah terkurung, tiada seorang pun yang datang. Benar-benar orang yang tidak bertanggung jawab.

Hanya cahaya pagi beriring aroma busuk yang terasa dalam tiap tarikan nafasnya. Entah ia ada dimana kini. Apakah ia akan mati tanpa nisan, dalam pengasingan, dalam pengurungan yang ia pun belum pasti entah siapa yang melakukan.

Kamera saku, alat perekam suara, hand phone, dompet semua hilang. Tinggal baju dan celana yang melekat di badan saja kepunyaannya sekarang. Entah bisa selamat atau tidak dari sini.

Dalam keheningan ini, ia teringat percakapan terakhir dengan istrinya. Kala itu masih pagi, dua hari yang lalu, sebelum ia hendak meliput, dan akan memenuhi janji pada redaktur untuk membuat segera beritanya, dengan menghadiri wawancara eksklusif bersama Pak Yusi pukul sepuluh di sebuah hotel. Hanya ia seorang saja tanpa ada wartawan dari media yang lain mana pun.

?Bang?perasaanku ini sangat tak enak. Baiknya abang batalkan saja janji dengan Pak Yusi itu, abang harus mewawancarai dia beramai-ramai dengan wartawan lain saja, biar agak lega hatiku ini!?
?Ah?tak bisa Jul, janji ini adalah janji istimewa, khusus untukku seorang katanya, tak mau ia diwawancarai oleh yang lain.?

?Tetapi Bang, aku ini sudah hamil tua. Anak kita ini sudah mau lahir. Kalau abang pergi juga, siapa yang membawaku ke rumah sakit??

?Juli, aku tidak lama. Pukul dua belas juga sudah selesai wawancaranya, ya?sayang, izinkanlahlah!?
?Bang, sebenarnya aku sangat takut dengan pekerjaan abang sekarang. Perasaanku selalu saja was-was tak karuan tiap abang pergi bekerja.?

?Was?was bagaimana? Dasar wanita. Juli?mengertilah ini sudah menjadi tugasku!?
?Tugas?tugas? selalu atas nama tugas. Bang, wartawan itu pekerjaan berbahaya! Sudah rumah kita sering dilempari orang, sepeda motor abang sudah berapa kali dirusak, diremuk. Dan yang paling kutakutkan adalah teror sms yang mengancam bunuh, penjara. Carilah pekerjaan lain saja Bang, untuk anak kita. Pekerjaan yang tak terlalu beresiko!?
?Juli?Juli?kau ini ada-ada saja.?

?Bang, turutilah aku, ini juga permintaan dari dalam, dari anak kita.?
?Oh begitu! Bagaimana kalau tak bisa??

?Bang?tolonglah! Abang harus bisa. Kita buka kedai saja di rumah, aku sudah mengumpulkan gaji abang tiap bulan untuk modal usaha ini, ya??

Saat itu Juli menangis, air matanya berderaian bagai salju di musim dingin. Hati Tono pun saat itu terenyuh, iba hati melihat tangis istrinya terkasih. Begitu ingin rupanya ia, agar suaminya berhenti dari pekerjaan ini. Pekerjaan yang terlalu beresiko, dan sering mengancam sewaktu-waktu. Ia pun sudah menyadari sepenuhnya tentang ini. Dalam keyakinan, permintaan itu dibalasnya dengan anggukan kecil. Seketika senyum istrinya mengembang. Senyum itu adalah senyum yang dilihatnya terakhir.

?Ya?Juli, tetapi izinkanlah aku pergi, ini adalah wawancaraku yang terakhir. Setelah berita kubuat, janjiku pun telah pula tunai pada redaktur, maka aku akan mengundurkan diri.?
Ia mengangguk, dan bergelayut dalam pelukan Hartono, pun terakhir kali.

Aku harus keluar dari sini. Demi Juli, demi anakku! Batinnya.
Tetapi seberapa kuat pun ia berusaha, semuanya terpatahkan. Tangan dan kakinya terikat pada rantai yang berpangkal pada tiang kokoh. Semuanya berat. Juli? rintihnya dengan pedih tak tertahankan.

***
Entah sudah berapa hari, ia terkurung di ruang dengan lubang angin yang sedikit terbuka ini. Mulut disekap, kaki dan tangan terikat. Sampai saat ini telah sekali dilihatnya cahaya purnama dari luar. Ia sudah tak kuat. lemah?kalah. Seandainya ia menurut saja segala perkataan istrinya dulu, perkataan anaknya melalui mulut ibunya, mungkin semua ini tak akan terjadi, mungkin saat ini ia telah menggendong buah hatinya yang sudah tiga tahun ini dinantikannya dengan sepenuh doa dan segenap usaha.

Benarlah naluri anaknya dalam janin, benar juga firasat istrinya, ada yang tak beres dengan maksud Pak Yusi dengan alasan wawancara eksklusif ini, yang ternyata hanya kedok. Di hotel sesuai janji, ia saat itu sedang menunggu di kamar sepuluh, ketika minuman datang, kebetulannya kerongkongannya telah haus, dan?saat sadar disinilah ia berada.

Berita ini, adakah sudah tersebar ke media? Berita tentang hilangnya seorang wartawan dalam tugas wawancara. Apakah pelakunya sudah tertangkap? Apakah sudah diendus motif penghilangan orang ini? Apakah kepala berita beberapa koran belakangan ini, masihkah sama saja dengan berita sepuluh tahun yang lalu, korupsi baik berjamaah atau juga per individu?

Ah?Hartono masih juga memikirkan media, sedangkan dirinya bertambah lemah setiap saat, mungkin juga ia tak bertahan sampai esok. Tetapi ada satu hal yang mengganjal dihatinya yang tampak mulai mengering, mengapa ia ditangkap seperti ini, apakah dasar penangkapan pada wartawan lapangan sepertinya? Dan apakah orang yang telah menangkapnya telah tertangkap, atau masih dengan amat leluasa menyedot udara bebas sepenuh kantong paru-parunya yang tak pernah penuh.

Mengapa ia tertangkap, padahal redakturnya telah mengingatkannya agar berhati-hati pada tupai bermulut kancil. Benar-benar Hartono telah lengah!

Sebelum ia tak ingat apa-apa lagi, ia terngiang juga perkataan dari redakturnya, ? ?Tetap hati-hati dan tetap waspada, mereka itu pandai berkelit dalam suasana sempit, seperti tupai bermulut kancil.?
Saat inilah ia baru tahu maksud tupai bermulut kancil. Ia masuk juga pada perangkap tupai tapi kancil. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *