Membudayakan Sastra di Aceh

Thayeb Loh Angen *
http://blog.harian-aceh.com/

LOMBA menulis sastra seperti lomba menulis puisi, cerpen, naskah drama, naskah sandiwara atau lomba menulis novel penting dilaksanakan untuk membangkitkan gairah peminat sastra dan memajukan peradaban. Sebuah kawasan atau negara maju selalu diiringi kemajuan dunia seni khususnya sastra, bahkan sering dimulai dari maju sastra dulu baru maju negeri. Sastra adalah peradaban yang mengarah kepada budaya, dan jika menulis sastra sudah membudaya dalam suatu kawasan atau negeri, maka saat itulah negeri tersebut maju.

Dalam setiap perlombaan menulis yang jujur, selalu ditemukan penulis berbakat yang jika tanpa lomba tersebut karyanya lebih lama baru sempat kita kenal, atau bahkan tidak pernah kita kenal karena penulis sendiri tidak mempublisnya. Jika sering dilakukan, lomba menulis sastra, maka sastra di kawasan atau negeri tersebut menjadi sebuah kebiasaan sehingga membudaya. Andil para pemikir, pengusaha dan pemerintah besar dalam hal ini, kebersamaan selalu dibutuhkan dalam semua hal.

Aceh, tempat lahirnya Bapak Tokoh Utama Kesustraan Melayu Hamzah Fanshuri patut membuat sastra menjadi budayanya di masa kini. Ini menjadi penting apalagi pemerintah sekarang membangun semua kawasan berbasis budaya. Peradaban yang maju selalu bikin sebuah bangsa maju budayanya. Kemajuan sebuah bangsa selalu harus dimualai dari cara berpikir yang berani melangkahi sebuah budaya yang tidak berkembang, kecuali budaya yang menjunjung tinggi nilai intelektual dan manusiawinya.

Selain membangun kesusastraan baru menjadi budaya di Aceh, penting pula membangun artefak sastra yang telah ada menjadi khasanah penting yang dipelihara dan dikabarkan kepada orang, karya lama tersebut patut diulas kembali dan kita bandingkan dengan karya masa kini, baik yang dari Aceh maupun dari luar negeri. Kita perlu menganalisa tingkat kecerdasan sastra pendahulu agar kita tahu kita sudah melangkah sejauh mana, apa masih setaraf, masih di belakang mereka atau sudah jauh lebih maju.

Mengulas karya lama membuat Aceh sadar pada yang pernah ada. Siapa tahu karya orang Aceh di masa silam dapat kita jagokan sebagai karya sastra dunia setelah kita terjemahkan ke dalam bahasa internasional. Karya Yunani kuno dikenal sampai sekarang karena ada yang mengulasnya dan menterjemahkan karya tersebut ke dalam berbagai bahasa. Artinya, pomosi bangsa itu sendirilah yang paling menentukan karya anak bangsa itui dikenal.

Lihat, betapa hebatnya promosi film-film Amerika Serikat, betapa hebatnya promosi budaya beladiri Cina di film-film Hongkong, betapa hebatnya promosi budaya materialisme dan kejelekan orang Jakarta dipromosikan dalam sinetron-sinetron di televisi swasta, dan sebagainya, ya, cuma bedanya bangsa luar mempromosikan yang baik, kita mempromosikan yang jelek, budaya ini sebaiknya diubah, dan kita pun hanya mempromosikan budaya baik saja.

Kita perlu mengulas kembali hikayat-hikayat tempo dulu dan kita seminarkan sebagai perbandingan mutu karya zaman ini atau perbandingan mutu dengan karya dari luar yang ditulis sezaman. Hikayat Indra Budiman, Hikayat Malem Dagang, Hikayat Malem Diwa, Hikayat Prang Sabi, Prang Gompeni, dan lain-lain perlu diulas kembali. Pengulasan ini harus dilakukan oleh orang yang ahli perbandingan sastra, sehingga untuk memajukan dunia sastra di Aceh, kita perlu membangun fakultas sastra di universitas-universitas di Aceh.

Kembali pada lomba menulis sastra di Aceh untuk membangun peradaban, perlu dilakukan barang setahun atau dua tahun sekali, dan setiap karya pemenang patut diterbitkan atar jadi bahan referensi publik dan dokumentasi bangsa. Lomba menulis seperti ini, di Aceh pernah dilaksanakan oleh beberapa komunitas menulis, namun dari instansi pemerintah baru ada ide dari Pemda Pidie Jaya, berkerjasama dengan Lembaga Budaya Saman, berencana membuat lomba menulis sastra se Aceh seiring kegiatan besar lain untuk menyambut ulang tahunya pada Juni kali ini. Semoga saja itu terjadi sehingga sastra lebih cepat membudaya di Aceh sehingga peradaban maju.[]

*) Thayeb Loh Angen, pengurus Lembaga Budaya Saman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *