Menikmati (Keragaman) Sepuluh Cerpen

Judul : Obituari bagi yang tak Mati
Penulis : Pemenang Lomba Cerpen Bali Post 2001
Penerbit : Pustaka Bali Post, 2002
Tebal : x + 96 hal
Peresensi: Nuryana Asmaudi SA
balipost.co.id

PENERBITAN sebuah buku kumpulan cerita pendek (cerpen) di Indonesia sekarang boleh dibilang sudah tidak terlalu mengkhawatirkan, terutama soal pemasarannya. Meskipun tujuan utama penerbitan buku cerpen tak selalu untuk mencari keuntungan dalam sisi finansial, tetapi tak bisa ditolak bahwa dengan diminati atau lakunya buku tersebut di pasaran menandakan adanya sambutan dan apreasiasi masyarakat terhadapnya, selain juga tentunya minimal hasil penjualannya bisa untuk menambal atau mengganti biaya produksi. Apa artinya sebuah buku dicetak-terbitkan jika tak diminati masyarakat?

Alasan tak terlalu mengkhawatirkannya lagi menerbitkan buku cerpen tersebut, karena untuk saat ini — sebagaimana telah sering disinggung oleh para pengamat sastra — minat masyarakat terhadap cerpen sudah mulai membaik. Dunia percerpenan di Indonesia juga sudah mengalami perkembangan dan kemajuan yang cukup menggembirakan, bahkan “mengagumkan” tidak saja dari segi kualitas nilai sastranya tetapi juga kuantitas penerbitan dan sosialisasinya. Para penerbit buku cerpen — karena takut tidak laku, kini rata-rata mengaku sudah bisa bernafas lega dan tak takut-takut lagi untuk menerbitkan kumpulan cerpen. Yang pasti, saat ini nasib cerpen dan dunia penertiban buku cerpen pada sisi sosialisasinya sedikit lebih baik, baik penerbitan buku cerpen di penerbit-penerbit besar di pusat dan kota-kota besar (berskala nasional) maupun penerbit penerbit lokal di daerah.

Pustaka Bali Post adalah salah satu penerbit besar di Bali yang punya perhatian dan kepedulian terhadap dunia percerpenan. Kali ini, diterbitkannya buku kumpulan cerpen terbaru bertajuk “Obituari bagi yang tak Mati” (10 Cerpen Terbaik Bali Post 2001). Sepuluh cerpen hasil seleksi dari lomba cerpen yang diadakan Bali Post pada 2001 yang dibukukan ini, sebelumnya juga sempat dimuat di Bali Post Minggu secara bergiliran, yang sebagian masyarakat tentu juga sudah membacanya. Tetapi, membaca karya sastra (cerpen) di koran dengan membaca cerpen yang sudah dibukukan tentu kesannya “lain”, meskipun cerpennya sama.

Keragaman Cerpen

Menikmati 10 cerpen “terbaik” dalam buku ini, orang memang merasakan beragam suguhan dan hidangan sastra genre cerpen yang cukup lezat dengan cita-rasa yang bervariasi — menarik dan beragam. Pembaca seperti diajak mengembara ke berbagai wilayah dan dunia kehidupan, mengenal berbagai karakter dan kultur kehidupan manusia (masyarakat), menengok atau mengintip nasib orang-orang di berbagai belahan daerah dengan segala pusparagam problem dan konflik kehidupan yang terjadi.

Dari buku ini, orang juga disuguhi beragam gaya penuturan dan penceritaan oleh para penulis cerpen yang tentu saja memang punya gaya yang berbeda karena latar belakang yang tak sama. Bagi penikmat cerpen, hal-hal seperti itu tentu penting untuk diperhatikan, sekaligus menjadi hiburan dan rekreasi tersendiri. Hal-hal seperti itu pula yang agaknya penting jadi pertimbangan penerbit buku kumpulan cerpen bersama, menyajikan keragaman dan variasi yang akan membuat daya tarik bagi pembaca. Dan, buku “Obituari…” ini memenuhi standar adanya keragaman tadi.

Sebagaimana ditulis Alit S Rini, Redaktur Pelaksana Bali Post, dalam sambutan pengantar saat peluncuran buku ini, meskipun hanya sepuluh cerpen, ternyata karya-karya di dalamnya (buku ini) cukup menghadirkan keragaman. “Kita tak hanya dapat mengikuti tema tentang aspek kehidupan manusia Bali, tetapi juga problematika batin manusia Minangkabau yang berkarakter perantau. Bukan hanya tentang cinta di sini, tetapi juga problematik yang dimunculkan oleh tradisi dan kepercayaan di masyarakat tradisional yang begitu kaku,” tulis Alit.

Ya, sepuluh cerpen yang tergabung dalam buku mungil ber-cover kuning-kunyit berseling coklat uda dengan ilustrasi gambar ikan paus raksasa-tua dan sosok-sosok manusia pelaut yang ilustratif ini memang cerpen-cerpen yang beragam dalam segala aspeknya. Baru dari sisi setting cerita saja misalnya, orang bisa menjelajah berpindah-pindah mulai dari negeri Jerman, Bali, Minangkabau, Jawa, Lombok, hingga Amerika.

Dalam cerpen “Andai Cinta Punya Mata” karya N. Marewo yang tampil dalam urutan pertama pada buku ini misalnya, orang bisa menengok “sisi buram” kehidupan di negara maju Jerman yang ternyata masih memelihara sikap rasialis. Konflik etnis dan sikap senang penduduk asli terhadap orang-orang pendatang (auslander) atau orang terkait dengannya, serta orang yang sikap-lakunya “tak sesuai” dengan budaya dan tradisi di situ, yang harus dimusuhi bahkan dibasmi. Nullah Marewo, cerpenis dari Penaragam, Bima-NTB, yang pernah lama tinggal di Jerman itu sangat fasih membagikan cerita sisi lain kehidupan sosial dan budaya di negeri modern itu.

Konflik kehidupan masyarakat yang terkait dengan adat dan tradisi atau bahkan mitologi sampai tahayul, nampak juga cukup banyak tergarap dalam cerpen-cerpen lain di buku ini, meski tentu saja memiliki latar dan sisi yang berbeda. Pada Pada cerpen “Dadong Nong” karya Riyanto Rabbah misalnya, dikisahkan tentang seorang perempuan tua (Dadong Nong), seorang pendatang di Dusun Gangsul yang hidup sebatang kara, tinggal di sebuah bukit. Meski pada awalnya disukai masyarakat, tetapi lama-lama keberadaannya dicurigai dan dipersoalkan sebagai biang keladi segala musibah dan bencana di desa itu. Karena masyarakat di situ “tidak mengenal” ibadah shalat, maka Dadong Nong yang rajin shalat tahajud itu dicurigai dan dituduh mengamalkan ritual ilmu sihir.

Pada cerpen “Festival Metajen” (Made Wianta) dan cerpen “Rambut” (Wayan Artika), konflik kehidupan sosial yang terkait langsung dengan adat dan tradisi, kepercayaan-mitologi-tahayul di suatu daerah (Bali) nampak lebih menonjol dan konkrit. Salah seorang warga banjar yang tak setuju bahkan menentang kegiatan metajen untuk membangun pura, akhirnya tak bisa berbuat apa-apa, bahkan malah sakit hati karena kalah suara dengan masyarakat di situ yang lebih banyak menggandrungi metajen. Ia harus menerima kekalahan dan tunduk pada adat dan tradisi di sekitarnya.

Tokoh Sudarma dalam cerpen “Rambut” juga menjadi salah seorang “korban” ambisi dan tahayul sebagai bagian dari pernik-pernik adat dan tradisi. Sudarma harus rela rambutnya tak dipotong selama hidupnya gara-gara kaul kakeknya — yang terkait dengan desa, gengsi, dan mitos — yang tak pernah terbayar. Sudarma harus menanggung risiko dan menjadi korban hal yang sesungguhnya dia sendiri tak mengetahuinya.

Cerpen “Obituari bagi yang tak Mati” karya Raudal Tanjung Banua yang sekaligus jadi judul buku ini, tentu saja adalah salah satu cerpen yang juga menawarkan kekayaan dan keragaman budaya, adat, dan tradisi. Di cerpen ini ada kultur dan karakter masyarakat Minangkabau, masyarakat pesisir Sumatra Barat yang memiliki tradisi nelayan-pelaut yang keras, ulet dan tangguh, dan juga perantau. Dikisahkan, seorang mantan pelaut yang dulu sangat disegani, yang sudah “uzur” dan “bertapa” di pulau pengasingan, terpaksa keluar lagi demi mencegah ambisi masyarakat yang hendak menghabisi ikan paus tua-raksasa yang terdampar di pantai dekat persebunyiannya. Tetapi apa yang dilakukan itulah uamg kemudian justru menjadi bencana bagi dirinya. Kesempatan itu digunakan orang (masyarakat) yang merasa leluhurnya dikalahkan dan dibunuh oleh lelaki tua itu untuk membalas dendam dan menyiksa batin mantan pelaut terkenal itu lewat ikan paus yang terdampar tersebut.

Di luar itu, ada cerpen lainnya yang tak kalah menarik. Seperti cerpen Ngurah Parsua yang berjudul “Penari Rajanata” yang ber-setting Bali-Jakarta-Amerika. Lalu cerpen “Nama” karya Yani Nur Syamsu) yang medok dengan kejawaan membeberkan sisi buruk dan borok orang yang terjun dalam dunia jabatan dengan ragam “bunga bangkai”-nya seperti perselingkungan dan lain-lain yang sudah “lazim” terjadi dan terdengar. Ada juga cerpen “Omong Kosong” (Imtihan Taufan), tentang satu warna sisi kehidupan di alam lain setelah matinya seseorang.

Juga cerpen “Menunggu” (Wayan Sunarta) yang mengisahkan konflik batin seorang lelaki muda yang sedang gelisah menunggu istrinya melahirkan anak pertama di rumah sakit, dengan hati-pikiran resah dan waswas, dengan setumpuk bayang-bayang ketakutan dan kekhawatiran pada istri dan calon bayinya. Cerpenis Wayan Suardika juga begitu fasih bercerita dan membagi pengalamannya dari dunia pelacuran dalam cerpen “Yang Datang dari Larut Malam” yang sekaligus menjadi cerpen penutup buku ini.

Tanpa Biodata

Yang jelas, buku kumpulan cerpen ini memang menarik dan layak untuk dibaca dan dikoleksi, terutama para pecinta cerpen, pengamat sastra, dan siapapun yang punya minat terhadap sastra (fiksi/cerpen).

Sayang — sebagaimana diakui penerbitnya, buku ini tidak dilengkapi dengan biodata para penulisannya yang mestinya juga penting untuk disertakan. Selain itu juga tidak dilengkapi dengan tulisan (catatan) pengantar cerpen dari seorang pengamat atau setidaknya catatan dari Dewan Juri sebagai semacam pertanggungjawaban yang tentu sangat penting dan berguna, apalagi ini adalah kumpulan cerpen hasil lomba.

Yang ada dalam buku ini cuma “Sepatah Kata” dari Redaksi yang lebih bersifat hanya sebagai pengantar penerbitan dan hal-hal yang terkait dengan cerpen-cerpen di Bali Post. Tentang masih adanya kesalahan-kesalahan kecil semacam salah cetak dan sejenisnya, yang memang sudah lazim dan sering terjadi dalam buku-buku cetakan di Bali, tentu masih bisa diperbaiki pada cetakan selanjutnya bila buku ini bernasib baik bisa dicetak ulang karena laku keras.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *