Menjadi Creative Junkies

Judul buku : Oh My Goodness; Buku Pintar Seorang Creative Junkies
Penulis : Yoris Sebastian
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Maret 2010
Tebal : 201 halaman
Harga : Rp. 68.000,-
Peresensi : Akhmad Sekhu
http://www.surabayapost.co.id/

Kreatif. Sebuah kata yang terdengar too good to be true bagi sebagian orang. Banyak orang yang menganggap dirinya tidak kreatif. Kreativitas seakan menjadi barang langka yang hanya dimiliki mereka yang punya bakat kreatif.

Sesungguhnya setiap orang itu kreatif. Meski beberapa orang tampaknya lebih kreatif dibanding yang lain, namun semua orang pada dasarnya mampu melahirkan ide-ide kreatif. Kreativitas seseorang tidak tergantung IQ, tapi tergantung pada sejauh mana ia mampu membuka diri dan bersikap open minded terhadap apa yang ia lihat dan rasakan.

Demikian yang mengemuka dari buku berjudul Oh My Goodness; Buku Pintar Seorang Creative Junkies yang ditulis oleh Yoris Sebastian. Sebuah buku tentang tips praktis menjadi creative junkies dari seseorang yang jadi sosok kreatif di Indonesia.

Berbagai program signature dilahirkannya. Sebut saja, ?I Like Monday? dan ?Destination Nowhere?. Atau, konsep bisnis unik seperti ?Broadcast Bar? yang semuanya membuat orang bergumam, ?Oh my goodness?

Kita tentu tahu kalau Yoris, penulis buku ini, adalah orang yang benar-benar kreatif. Terbukti dengan kemenangannya pada ajang International Young Creative Entrepreneur (IYCE) di London, Inggris. Ia orang Indonesia pertama yang meraih penghargaan tersebut. Ajang internasional itu sangat berpengaruh pada wacana ?wirausahawan kreatif? dan ?industri kreatif? yang saat itu mulai muncul di Indonesia hingga sekarang, ketika Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang berhasil meraih lima penghargaan internasuoinal di ajang IYCE Awards.

***

Buku ini terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama, kita diingatkan, tentang IQ yang merupakan anugerah yang dimiliki seseorang sejak lahir sehingga bersifat tetap. Sedangkan kreativitas merupakan sebuah keterampilan atau skill yang dapat dilatih dan dimunculkan. Setiap orang pada dasarnya memiliki potensi untuk kreatif dalam dirinya. Bila potensi ini terus diasah melalui sebuah proses pembiasaan, maka kreativitas pun akan muncul, bahkan bisa melejit ke tingkat yang mungkin jauh lebih tinggi daripada yang dibayangkan.

Kemudian, dibahas tentang kemampuan otak yang terdiri dua bagian yaitu otak kiri dan otak kanan. Keduanya memiliki fungsi yang berlainan tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Jika kita ingin menjadi kreatif dan inovatif, kita harus mampu menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan. Kemampuan logika, analisis dan matematis yang menggunakan otak kiri, harus didukung dengan daya imajinasi yang kuat dengan otak kanan. Dengan begitu kreativitas akan muncul.

Setelah itu, pembahasan tentang kenapa kita harus kreatif karena kreativitas dapat membantu kita melakukan segala hal dengan lebih baik, baik hal-hal yang terkait dengan karir, bisnis, maupun kehidupan kita secara keseluruhan. Pertanyaan retoris pun muncul; kalau orang lain bisa kreatif, kenapa kita tidak? Caranya, mulai dengan creative habit, yaitu kita harus membiasakan diri untuk kreatif dalam setiap hal. Selalu thinking out of the box, berpikir di luar kebiasaan.

Pada bagian kedua, membahas tentang kreativitas yang sebaiknya dilakukan dari hal terkecil sesuai kapasitas yang kita miliki. Penulis termasuk orang yang percaya bahwa every big step strats with an inch (setiap langkah besar selalu dimulai dengan hal kecil). Hal ini terbukti dengan keberhasilannya saat ini sebagai pelaku industri kreatif merupakan hasil langkah demi langkah pencapaian, yang dimulai dari hal terkecil.

Untuk menjadi kreatif, kita memang harus banyak belajar. Sebagian orang berpendapat bahwa orang kreatif biasanya punya pemikiran tersendiri dan tidak mau menerima masukan dari orang lain. Penulis tidak setuju dengan pendapat itu. Orang yang kreatif justru harus mampu menyerap semua informasi di sekitarnya. Dia harus open mind. Orang yang kreatif adalah orang yang bersedia membuka diri untuk terus-menerus belajar baik dari lingkungan maupun dari orang-orang yang berpengalaman.

Penulis yakin semua orang sepakat bahwa pemikiran banyak orang lebih baik ketimbang pemikiran satu atau dua orang. Kreatif saja tidak cukup. Oleh karena itu kita harus bergabung dengan orang-orang kreatif yang lain sehingga kreativitas kita akan terpacu dan terus berkembang. Salah satunya dengan membangun sebuah tim bersama orang-orang kreatif dalam mengerjakan pekerjaan.

Terakhir, bagian ketiga, penulis mengingatkan untuk survive. Di zaman sekarang, kemampuan untuk berinovasi dan berpikir kreatif menjadi sebuah keharusan. Hal ini tidak hanya berlaku bagi individu tetapi juga perusahaan. Semakin cepatnya perkembangan teknologi, semakin beragamnya produk, dan semakin tingginya tingkat persaingan, maka perusahaan atau industri harus menempatkan kreativitas sebagai ujung tombak.

Menarik sekali kalau kita mempelajari bagaimana perusahaan-perusahaan besar berlomba dalam inovasi produk. Saat ini persaingan dan lomba kreativitas yang paling ketat bisa kita lihat pada perusahaan operator seluler dalam menawarkan produknya yang benar-benar kreatif. Walau bagaimana pun, persaingan yang ketat itu patut kita syukuri karena persaingan memunculkan kreativitas.

***

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman Yoris Sebastian saat mengerjakan proyek kreatif atau ketika menjadi konsultan sejumlah brand, langkah-langkah yang dipaparkan telah teruji serta dapat dipraktikkan dengan mudah. Selain teori-teori, buku ini dilengkapi kuesioner yang mengukur kadar kreativitas seseorang, soundtrack di tiap bab, dan ilustrasi menarik.

Tidak hanya itu, buku ini juga dilengkapi dengan augmented reality yang dapat menghubungkan pembaca langsung ke link facebook buku ini. Membuatnya menjadi buku pertama di Indonesia yang memakai teknologi quick response code. Sampul bukunya pun didesain unik dengan konsep bisa diwarnai sendiri oleh pembaca. Semua itu membuat buku ini memberikan pengalaman membaca yang kreatif dan oh my goodness! bagi pembaca untuk menjadi creative junkies.

Akhmad Sekhu, pengamat buku, tinggal di Jakarta dan Tegal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *