Meresapi Musik Sastra

Rahman Indra
http://www.koran-jakarta.com/

Musik sastra adalah istilah yang dipilihnya untuk mengganti term musik klasik yang dianggap salah kaprah.

Satu pianis, satu gitaris. Keduanya sama-sama mengusung musik klasik dan sebuah cerita. Menyampaikan lirih bunyi pentatonik Kebo Giro karya Paul Seelig dan Drupadi karya Ananda Sukarlan. Di atas pentas, pria berjas rapi itu diam sejenak.

Di hadapannya teronggok piano besar yang juga diam. Hening. Lalu jari-jari tangan itu lincah berpindah dari satu tuts ke tuts lainnya. Seolah menari membawakan melodi musik yang makin lama makin cepat.

Penuh harmoni. Sekilas denting piano itu terdengar seperti bunyi gamelan yang sangat kental. Bunyi itu naik turun memenuhi ruang.

?Kebo Giro dikompos oleh Paul Seelig karena terinspirasi dari tune gamelan Jawa bernama Kebo Giro, sampai sekarang kita masih mendengarnya saat upacara adat Jawa,? jelas sang pianis Elwin Hendrijanto. Selain Kebo Giro, pria berusia 24 tahun itu membawakan lima komposisi yang mengesankan.

Hampir semua komposisi menuntut olah kemampuan yang matang. Selain karya komposer yang pernah tinggal di Indonesia itu, ada karya Frederic Chopin, dan Nikolai Kapustin yang syahdu dan menghanyutkan.

Dan hampir di setiap karya yang dibawakannya, Elwin juga turut menyampaikan narasi pengantar. Yang menarik, di antaranya ada Ballade no 1 milik Chopin yang terkenal.

Komposisi yang kompleks serta tingkat kesulitan yang tinggi, dilalui dengan baik oleh Elwin. Jarijari serta pergelangan tangannya tampak bergerak luwes.

Mendengar denting Ballade no 1 opus 23 ini, Elwin seperti menggiring audiens pada sebuah narasi dan tema perjuangan yang gusar, emosional dan cepat.

Konon, Ballade ini dicipta Chopin yang terinspirasi dari sebuah puisi Polandia yang bercerita tentang nasionalisme dan perjuangan melawan penjajah.

Tak heran, di dalamnya terkandung semangat dan musik penuh emosi. Di akhir lagu, Elwin menurunkan tingkat nada menjadi lebih rendah. Namun dengan jenius dia menyambungnya kembali dengan harmoni yang penuh, sebelum mengakhiri permainan yang, kalau tidak berlebihan, memukau.

Membawakan Ballade no 1 Opus 23 karya Chopin ini bisa jadi penampilan terbaik Elwin sepanjang konser. Meski pada komposisi lainnya, tetap saja pianis muda berbakat ini tampil mencengangkan. Seperti saat membawakan karya Chopin, Nocturne in C sharp minor op.

posth. Komposisi romantis ini dipilih Elwin dengan alasan yang sangat menarik. Konon, di salah satu suratnya, komposer asal Jerman, Robert Schumann pernah mengungkapkan perihal persahabatannya bersama Chopin. Dimana mereka selalu berbagi karya, dan suatu kali, Chopin memberikan satu komposisi pada Schumann.

?Ini sangat jenius, saya sangat suka,? ujarnya. ?Saya senang sekali mendengarnya, karena ini lagu yang paling saya sayangi,? balas Chopin seperti dituturkan Elwin. Lagu itu adalah Nocturne in C sharp minor op.posth. Malam itu, Elwin menyajikannya dengan sangat pas dan menghanyutkan. Berkesan dan meresap.

Sebagai pemungkas, ada komposisi Nicolai Kapustin, berjudul Etude concert no 3; toccatina. Kali ini, Elwin menampilkan nuansa jazzy yang digabung dengan musik klasik. Karya ini menjadi penutup yang apik, dengan permainan piano yang cepat dan tangkas.

Malam itu, Rabu (14/7), di ruang Teater Kecil TIM Jakarta, Elwin bermain solo untuk pertama kalinya dalam konser seri Cumlaude yang digagas Yayasan Musik Sastra Indonesia.

Selain dia, ada gitaris John Paul yang membawakan tiga komposisi, milik komposer Frank Martin, Giulio Regondi, dan Ananda Sukarlan.

Gitaris muda ini di awal tampak asik sendiri. Empat nomor komposisi Frank Martin, yakni prelude, air, plainte, dan comme une gigue dibawakan dengan durasi yang pendek-pendek.

Keempatnya juga menimbulkan bunyi yang sunyi dan tidak memberi ruang untuk pertunjukan yang meriah. Audiens diajak memahami petikan melodi dan kunci yang sulit. Begitu juga pada karya komposer asal Italia, Regondi, berjudul Reveriee op.19.

John masih menampilkan suasana tenang dan sedikit suram. Ada kesan lagu lullaby menjelang tidur. Permainan gitar yang mudah diikuti baru tampil saat pria berambut panjang ini memainkan karya Ananda Sukarlan bertajuk The 5 lovers of Drupadi.

Bunyi ketukan gamelan tradisi Jawa amat kentara sepanjang komposisi yang dibagibagi atas beberapa bagian.

Bisa jadi, setiap bagian mengandung cerita tentang dewi yang menikahi lima orang Pandawa itu. Musik Tertulis Penampilan dua solois itu tidak hanya berbeda dari alat musik, tapi juga penampilan secara keseluruhan.

John dengan kalem dan konsentrasinya, tidak seatraktif Elwin yang sering menyapa dan memberi pengantar di setiap komposisi.

Begitu juga dengan pilihan lagu yang dibawakan. Elwin yang menamatkan masternya di bidang piano klasik di London tampak lebih tahu cara menghibur audiens. Meski membawakan sejumlah karya komponis klasik seperti Chopin ataupun Nicolai dia bisa mencairkan suasana.

Ananda, dari Yayasan Musik Sastra Indonesia mengungkapkan, kalau konser ini merupakan awal dari beberapa konser serupa yang akan ia gelar di masa mendatang. Tidak hanya ingin menonjolkan para musisi muda berbakat, tapi juga memasyarakatkan musik sastra.

Bagi Ananda, musik sastra adalah istilah yang dipilihnya untuk mengganti term musik klasik yang dianggap salah kaprah. Karena, dengan mendengar kata klasik, seringkali orang beranggapan itu jadul, komponisnya sudah tiada, atau merujuk pada rentang waktu tertentu.

Lalu, bagaimana bila komponisnya masih hidup dan karya itu bisa dibawakan dan dinterpretasi dengan baik oleh musisi lain. Seperti karya Ananda sendiri yang malam itu dibawakan oleh John Paul berjudul the 5 Lovers of Drupadi.

Pianis dan juga komposer ini berpendapat musik klasik atau musik sastra bisa diartikan sebagai musik tertulis, yang menjadi pembeda untuk musik lain, seperti pop atau folk. Di samping itu, musik tersebut juga bisa beranjak dari sebuah karya sastra, apakah itu berasal dari sajak atau cerita.

Sebagai contoh, Drupadi merupakan cerita yang diambil dari epik Mahabharata yang sudah sangat familiar dan dikenal publik. Dan lewat iringan musik, sastra itu mengalir. Tersampaikan lewat indra telinga, bukan mata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *